NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. Melepaskan Jabatan Ratu

Di dekatnya, seorang kasim menggendong seorang bayi laki-laki yang dibalut kain sutra kuning pucat. Putra Lan Zifey.

Bayi itu baru berusia beberapa bulan, tetapi keberadaannya telah menjadi pusat pembicaraan para pejabat. Dalam istana yang dipenuhi persaingan antar keturunan, seorang anak laki-laki dari garis keluarga kerajaan bukan hanya anggota keluarga baru.

Ratu Wang Laoyin menikah dengan raja sudah delapan tahun sejak dia berumur 16 tahun dan di nobatkankan sebagai ratu Weiyang sejak itu Tetapi sekian lama sejak sang ratu keguguran di tahun kedua pernikahannya, dia tak pernah hamil lagi.

Raja Han Quan mengambil beberapa selir pada beberapa tahun terakhir dari beberapa klan penting yang menjadi bangsawan pendukung kerajaan, termasuk Lan Zifey. Dan setelah sekian lama menunggu, bahkan sempat beredar pergunjingan di belakang tembok istana, raja kemungkinan mandul.

Dan Kehamilan Lan Zifey, tentu saja sebuah kabar yang menghebohkan istana, kabar bahagia itu membantah semua rumor selama ini. Dan kehadiran anak selir ini tentu saja tak membahagiakan semua orang terutama selir-selir yang lain termasuk mungkin sang ratu, tetapi selama ini tak pernah sekalipun Wang Laoyin menunjukkan kecemburuannya meski mungkin kelahiran anak itu mengancam posisi garis keturunan raja lewat dirinya.

Ya, bayi itu adalah kemungkinan masa depan negara Weiyang.

Ia bisa alasan untuk membentuk aliansi, mengubah keputusan, dan menggulingkan orang-orang yang dianggap menghalangi jalan menuju takhta.

Lan Zifey memandang bayinya dengan ekspresi penuh kasih. Tidak ada seorang pun yang dapat membaca pikirannya dari wajah itu. Ia tampak seperti seorang ibu yang hanya ingin memastikan masa depan putranya aman. Dan justru itulah yang membuatnya begitu berbahaya.

Ketika Wang Laoyin memasuki aula, seluruh pandangan tertuju kepadanya.

Beberapa pejabat menundukkan kepala.

Sebagian lainnya mengamati mahkota phoenix yang masih ia kenakan.

Lan Zifey pun menoleh.

Tatapan kedua perempuan itu bertemu dari kejauhan.

Senyum Lan Zifey tidak berubah. Ia bahkan membungkuk sedikit, menunjukkan penghormatan yang tampak sempurna.

Kemenangan?

Bukan kemenangan yang dirayakan dengan sorak-sorai, melainkan kemenangan yang dinikmati dalam kesunyian, ketika musuh telah berdiri di hadapan takhta tanpa mengetahui bahwa segala jalan keluar telah ditutup.

Wang Laoyin tidak membalas senyum tersebut.

Ia berjalan menuju tempat yang telah ditentukan, lalu berdiri di tengah aula.

Raja Han Quan duduk di singgasana dengan wajah dingin.

Di tangannya terdapat gulungan titah yang diikat pita merah dan disegel dengan lilin kerajaan.

Ketika lonceng kecil dibunyikan, seluruh aula serentak berlutut.

“Titah Raja!” seru kepala kasim.

Keheningan jatuh.

Bahkan suara angin yang menyentuh tirai sutra seolah-olah menghilang.

Kepala kasim membuka gulungan itu dan mulai membacakan isinya.

“Atas nama Langit, berdasarkan kewenangan Raja Han Quan, demi menjaga ketertiban istana, kehormatan keluarga kerajaan, serta kestabilan pemerintahan Weiyang, dengan ini diumumkan bahwa kedudukan Permaisuri Wang Laoyin ditangguhkan dan gelar Permaisurinya dicabut sampai batas waktu yang tidak ditentukan.”

Kata-kata itu bergema di seluruh aula.

Wang Laoyin tidak bergerak, wajahnya beku seperti es kutub Utara, nyaris tak berkedip.

“Seluruh hak istana, wewenang atas kediaman dalam, akses terhadap dokumen kerajaan, dan kewenangan untuk memimpin istana Harem sebagai ratu dinyatakan berakhir sejak titah ini dibacakan.” Lanjut sang Kasim lagi.

Seorang pejabat membungkuk semakin rendah.

Pejabat lain memejamkan mata.

Tak seorang pun berani mengangkat kepala.

“Wang Laoyin diperintahkan menyerahkan mahkota phoenix, segel ratu serta seluruh lambang kebesaran kerajaan. Selanjutnya, ia akan ditempatkan dalam pengawasan istana sampai keputusan berikutnya ditetapkan. Dan kedudukan ratu kosong hingga semua kasus yang berkaitan dengan permaisuri Wang Laoyin selesai."

Kepala kasim menggulung kembali titah itu.

“Titah selesai dibacakan!”

Suara terakhirnya menggema di antara pilar-pilar merah.

Namun, tidak ada sorak-sorai. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada tanda kemenangan yang berani diperlihatkan secara terbuka.

Hanya keheningan yang sangat panjang.

Wang Laoyin berdiri di tengah aula, seolah-olah seluruh dunia sedang menunggunya runtuh.

Tetapi ia tidak runtuh.

Ia hanya mengangkat wajah, menatap singgasana, dan memandang Raja Han Quan dengan mata yang tidak lagi memohon.

“Apakah ini keputusan akhir Yang Mulia?”

Raja Han Quan menjawab tanpa ragu, “Benar.”

“Apakah penyelidikan atas kematian Shen Rui telah selesai?”

“Belum.”

“Apakah surat yang dituduhkan sebagai bukti hubungan terlarang telah terbukti ditulis oleh hamba?”

Raja terdiam sejenak.

“Belum ada kesimpulan akhir.”

“Apakah kedua kesaksian yang saling bertentangan telah dijelaskan?”

Beberapa pejabat saling berpandangan.

Raja Han Quan mengeraskan wajahnya.

“Wang Laoyin, ini bukan waktunya untuk memperdebatkan setiap keputusan.”

“Namun, ini adalah waktu yang tepat untuk menjatuhkan hukuman kepada seseorang yang belum terbukti bersalah?”

Suara Wang Laoyin tidak keras.

Akan tetapi, setiap katanya terdengar jelas hingga ke ujung aula.

Raja Han Quan mencondongkan tubuh ke depan.

“Jangan memaksaku mengulangi titah.”

Wang Laoyin menatapnya lama. Lelaki itu tak menunjukkan perasaan iba sedikitpun pada dirinya.

Kemudian Laoyin tersenyum tipis, sebuah senyum yang begitu menyedihkan hingga beberapa pelayan tidak sanggup memandangnya.

“Tidak, Yang Mulia. Hamba tidak akan meminta Yang Mulia mengulangi sesuatu yang sudah hamba pahami.”

Ia menundukkan kepala sedikit.

“Hamba hanya ingin mengetahui apakah di dalam keputusan ini masih ada tempat bagi kebenaran.”

Raja Han Quan tidak menjawab.

Dan diamnya menjadi jawaban yang paling menyakitkan.

Kepala kasim melangkah maju membawa sebuah nampan berlapis kain sutra kuning. Di atasnya terletak kotak kayu cendana yang terbuka, menunggu mahkota phoenix yang selama bertahun-tahun menjadi lambang kedudukan Wang Laoyin.

“Permaisuri,” katanya dengan suara bergetar, “mohon menyerahkan mahkota kebesaran.”

Wang Laoyin menatap benda itu.

Mahkota tersebut bukan sekadar perhiasan. Setiap ukiran phoenix, setiap batu giok, dan setiap helai benang emas di atasnya menyimpan kenangan tentang upacara pernikahan kerajaan, perayaan musim semi, serta hari-hari ketika ia berdiri di samping Raja Han Quan menerima penghormatan dari para pejabat.

Ia ingat bagaimana mahkota itu pertama kali diletakkan di kepalanya.

Saat itu, Raja Han Quan pernah berbisik bahwa selama ia mengenakannya, tidak seorang pun akan meragukan kedudukannya.

Betapa indahnya janji yang diucapkan ketika dunia masih berpihak kepada mereka.

Dan betapa mudahnya janji itu dilupakan ketika kebohongan mulai berkuasa.

Wang Laoyin mengangkat kedua tangannya.

Jemarinya menyentuh sisi mahkota.

Untuk sesaat, ia berhenti.

Di hadapannya terbentang ratusan pasang mata. Para pejabat menunggu, para pelayan menahan napas, dan Selir Lan Zifey berdiri dengan wajah yang tampak penuh belas kasih.

Wang Laoyin dapat saja menolak.

Ia dapat menjatuhkan mahkota itu ke lantai marmer dan menuntut keadilan dengan suara lantang. Ia dapat menuduh mereka semua sebagai pengecut yang lebih mencintai kedudukan daripada kebenaran.

Namun, ia tahu bahwa kemarahan yang meledak pada saat itu hanya akan digunakan untuk membenarkan keputusan Raja.

Maka ia memilih sesuatu yang jauh lebih sulit.

Ia melepaskan mahkota itu dengan tangannya sendiri.

Perlahan-lahan, ia mengangkatnya dari kepala. Rambut hitamnya jatuh sedikit di sisi wajah, dan cahaya lentera memantul pada batu rubi yang menghiasi bagian depan mahkota.

Ketika ia meletakkannya di atas nampan, terdengar bunyi kecil dari logam yang bersentuhan dengan kayu.

Bunyi itu sederhana.

Namun, di dalam hati Wang Laoyin, bunyi tersebut terasa seperti runtuhnya sebuah istana.

Kepala kasim segera menerima nampan itu dengan kedua tangan.

“Segel Permaisuri,” katanya kemudian, hampir tidak berani menatap wajah Wang Laoyin.

Sebuah kotak kecil dibawa maju. Di dalamnya terdapat segel batu giok yang selama ini digunakan untuk mengesahkan dokumen kediaman dalam. Ukirannya berbentuk burung phoenix dengan sayap terbentang.

Wang Laoyin mengambil segel itu untuk terakhir kalinya.

Ia memandangnya sejenak, lalu meletakkannya di samping mahkota.

“Semoga orang yang memegangnya kelak memahami bahwa kekuasaan bukanlah izin untuk melakukan ketidakadilan,” ucapnya.

Kepala kasim menunduk dalam-dalam.

Wang Laoyin kemudian melepaskan gelang giok, tusuk konde emas, dan lambang kebesaran lain yang diminta oleh petugas istana. Satu demi satu benda itu diletakkan di atas nampan, hingga tidak ada lagi yang tersisa selain jubah merah phoenix yang masih membungkus tubuhnya.

(Bersambung lagi😄 terimakasih tetap mengikuti kisah ini🥰 lap yu readers)

1
Eka Burjo
oke lanjut
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Suesant SW: siap lanjutttt
total 1 replies
Eka Burjo
lanjut
Eka Burjo
akhirnya selesai juga maratonku🤭
Suesant SW: mkasih bnyak dah marathon😄😄😄
total 1 replies
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
ˡᵃⁿᵃ✰͜͡𝐯𐝃
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Rara
sediiih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!