Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Menemani
Jam dua siang di kantor itu, suasana masih sepi.
Safa masih bersandar di bahu Arga di sofa. Matanya sudah setengah terpejam lagi setelah cium kening tadi. Safa kekenyangan dan AC yang dingin membuatnya mengantuk lagi.
Arga tidak membangunkan. Dia membiarkan Safa bersandar, satu tangannya masih mengelus kepala Safa dengan pelan, tangan satunya memegang ponsel dan membalas chat pekerjaan.
Di luar, Rani menjaga pintu rapat-rapat. Tidak ada satu pun berkas atau tamu yang diperbolehkan masuk dijam itu. Ada tulisan kecil yang ditempel Rani di pintu kaca: _Meeting Penting, Jangan Ganggu._
Padahal di dalam tidak ada meeting sama sekali. Hanya ada sang CEO dan istrinya yang sedang tidur siang di sofa.
Sekitar jam setengah tiga, Safa terbangun. Dia mengerjap pelan.
"Mas..." suaranya kecil.
"Iya? Kamu sudah bangun?" Arga langsung menoleh.
Safa duduk dan merapikan hijabnya yang agak miring. "Aku ketiduran lagi ya? Maaf, jadi ganggu kerja Mas."
"Tidak mengganggu sama sekali," jawab Arga. Dia mengambilkan botol air mineral yang sudah dia buka dari tadi. "Minum dulu." titahnya.
Safa menerima botol itu. "Mas tidak bosan aku di sini terus? Aku cuma tidur sama makan. Ini kan Mahendra Grup, kantor yang besar dan semua yang ada disini orang penting."
Mendengar nama kantornya disebut, Arga meletakkan ponselnya. Dia bergeser duduk menghadap Safa.
"Safa, lihat saya," katanya lembut.
Safa mengangkat kepala.
"Sejak saya memimpin Mahendra Grup lima tahun lalu, baru hari ini ruangan ini terasa enak ditempati. Biasanya dingin, sepi, cuma ada suara AC dan keyboard. Hari ini ada kamu. Ada suara kamu yang tertawa, berceloteh dan kehbohan kamu waktu makan ayam geprek tadi. Ada kamu yang tidur di sofa saya. Jadi jangan katakan lagi kalau kamu mengganggu. Justru kamu yang membuat saya betah di sini."
Safa terdiam. Pipinya mulai memerah. Setiap kata yang diucapkan Arga terdengar sederhana namun begitu mengena di hati Safa.
"Mas serius?" tanya Safa seolah masih tak percaya.
Arga mengangguk. "Serius."
Safa tersenyum, senyumnya merekah.
"Kalau begitu aku boleh di sini sampai Mas pulang?" tanyanya lagi.
"Boleh. Sampai kapan pun boleh," jawab Arga.
Jam tiga sore, Arga harus melanjutkan meeting terakhir lewat video call dengan klien dari Singapura. Meeting penting untuk Mahendra Grup.
"Aku diam saja di sini ya, tidak bersuara," bisik Safa sambil mengambil bantal kecil untuk dipeluk.
Arga mengangguk dan memakai headset.
Meeting dimulai. Arga kembali menjadi Arga yang dingin, tegas, dan profesional. Bahasa Inggrisnya terdengar lancar dan faseh wajahnya serius.
Safa duduk di sofa memeluk bantal, melihat Arga dari jauh. Dia baru pertama kali melihat Arga bekerja seperti itu. Terlihat sangat berwibawa, sangat berbeda dengan Arga yang tadi menyelimuti dirinya dengan pelan.
Ada rasa bangga tiba-tiba muncul di hati Safa. Bangga karena laki-laki hebat itu adalah suaminya.
Di tengah meeting, klien di layar bertanya sesuatu yang membuat Arga sedikit terdiam dan menoleh ke arah Safa.
Klien itu bertanya dalam bahasa Inggris, "Who is that beautiful lady behind you, Mr. Arga?"
Arga tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali dia tunjukkan di depan klien.
"No," jawab Arga dengan tenang. "She is my wife."
Klien di layar langsung tertawa ramah. "Oh, your wife! You are a lucky man, Mr. Arga."
Arga menoleh ke Safa dan menatapnya. "Yes, I am. Very lucky."
Safa yang mendengar itu, meski tidak terlalu mengerti bahasa Inggris sepenuhnya, menangkap kata _wife_ dan _lucky_. Wajahnya langsung memerah sampai ke telinga. Dia menunduk dan menutupi wajahnya dengan bantal kecil.
Meeting selesai jam empat sore. Arga melepas headsetnya dan menghela napas panjang. Pekerjaannya hari itu selesai.
Dia berjalan ke sofa dan duduk di samping Safa yang masih menutupi wajahnya dengan bantal.
"Sudah selesai ngumpetnya?" tanya Arga sambil menarik pelan bantal itu.
Safa mengintip dari balik bantal. "Mas bilang apa tadi ke orang bule itu?"
"Dia bilang saya laki-laki yang beruntung karena punya istri secantik kamu," jawab Arga apa adanya.
Safa langsung memukul lengan Arga pelan. "Mas bohong!"
"Tidak bohong. Mau saya telepon lagi orangnya?"
"Jangan!" Safa panik. Lalu dia tertawa kecil.
Jam setengah lima sore, waktunya pulang. Biasanya Arga pulang jam tujuh atau delapan malam dari Mahendra Grup. Hari ini jam setengah lima dia sudah mematikan semua lampu ruangannya.
"Pulang yuk," ajaknya sambil merapikan meja kerjanya dengan satu tangan, tangan satunya masih menggandeng Safa.
Mereka keluar dari ruangan. Semua staf di lantai 42 masih bekerja dan langsung berdiri ketika melihat mereka keluar bersama.
Rani tersenyum dari meja depan. "Sudah mau pulang, Pak, Bu?"
"Sudah, Rani. Hari ini saya pulang cepat. Kalau ada yang cari saya, bilang besok saja," jawab Arga.
Di lift, Safa berbisik, "Mas pulang cepat karena aku ya?"
Arga menatapnya, lalu mengangguk pelan tanpa malu-malu lagi. "Iya."
Sampai di basement, mobil Alphard hitam sudah menunggu.
Di dalam mobil, Safa bersandar di jendela, melihat jalanan Jakarta yang macet sore itu. Arga duduk di sampingnya, membuka jasnya dan melonggarkan dasinya. Tangan kirinya masih menggenggam tangan kanan Safa di atas jok tengah, Arga tidak melepasnya bahkan saat mobil bergoyang karena macet.
Sampai di penthouse jam enam sore. Begitu pintu dibuka, harum masakan langsung tercium.
Safa dan Arga saling tatap karena yshkaget.
"Nenek?" panggil Safa.
Dari dapur, Nenek Ratna keluar dengan celemek bunga-bunga dan membawa panci. "Eh, sudah pulang kalian! Nenek sudah dari jam tiga di sini! Tadi Rani kasih kunci cadangan! Katanya kalian seharian berduaan saja di Mahendra Grup, jadi Nenek langsung ke sini!"
Safa langsung berlari memeluk Nenek.
Malam itu, mereka makan malam bertiga. Di atas nakas kamar utama, kotak beludru merah berisi gelang bayi itu masih ada.
Setelah makan malam Nenek tidur di kamar tamu, Safa dan Arga kembali ke kamar mereka.
Safa duduk di tepi ranjang sambil melepas hijabnya. "Mas, hari aku senang banget."
Arga duduk di sampingnya. "Saya juga."
"Besok boleh ikut lagi ke Mahendra Grup?" tanya Safa dengan mata berbinar.
Arga menatapnya lama, lalu mengangguk. "Boleh. Setiap hari juga boleh. Sofa itu sudah jadi milik kamu sekarang."
Safa tersenyum lebar, lalu dengan keberaniannya sendiri, dia bersandar di dada Arga dan berbisik, "Kalau begitu, ritualnya masih berlaku ya malam ini?"
Arga tidak perlu ditanya dua kali. Dia menunduk dan mengecup kening Safa dengan lembut, lebih lama dari biasanya.
Safa tersenyum penuh kemenangan dan dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Arga.
Entah mengapa Safa merasa dada itu sekarang membuatnya candu.
Bersambung