Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
datang sendiri, pulang tak sendirian
"Aku pergi sendirian. Itu satu-satunya cara Damar keluar hidup-hidup."
Sinta mengucapkannya sambil menutup resleting jaket. Ponsel masih di telinganya, dan di seberang, napas Reza terdengar kasar seperti orang yang baru berlari jauh.
"Mbak, itu jebakan. Mereka pasti sudah..."
"Aku tahu itu jebakan, Mas Reza. Makanya aku butuh kamu."
Hening sebentar. "Butuh aku?"
"Kamu kenal pelabuhan itu. Pak Tohir akan membukakan pagar belakang jam sembilan lewat. Kamu masuk lewat sana, jangan lewat gerbang depan. Cari ruang bawah tanah di gudang es."
"Dan kalau ada penjaga?"
"Kamu montir. Kamu pasti tahu cara membuat sesuatu mati mendadak."
Reza menghela napas panjang yang terdengar seperti separuh tawa dan separuh pasrah. "Mbak ini nekat."
"Aku sudah terlalu lama sopan."
Sinta mematikan telepon dan berbalik. Di belakangnya, semua orang sudah berdiri. Bu Retno, Tari, Melia dengan mata sembap, bahkan Rini yang sejak tadi hanya diam.
"Kamu tidak boleh pergi sendirian," kata Bu Retno.
"Saya tidak akan sendirian. Saya cuma akan *tampak* sendirian."
"Itu bunuh diri."
"Kalau saya tidak datang, itu pembunuhan. Mas Damar yang mati." Sinta menatapnya lurus. "Ibu pilih mana?"
Bu Retno membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Rahangnya mengeras, dan untuk sekali ini, perempuan tua itu mengalah tanpa bicara.
"Tari," lanjut Sinta. "Salin semua rekaman hari ini ke dua tempat. Satu ke emailmu, satu ke kakak sepupumu yang wartawan itu. Atur kirim otomatis jam sepuluh lewat tiga puluh. Kalau sampai aku tidak keluar, semuanya terbit."
"Termasuk rekaman Bu Retno bicara soal suntikan?"
Semua menoleh pada Bu Retno. Perempuan itu terdiam beberapa detik, lalu mengangguk sekali, kaku, seperti orang yang menandatangani vonisnya sendiri.
"Termasuk itu."
"Bu..." Rini berbisik.
"Diam, Rini. Sudah cukup lama keluarga ini hidup dari kebohongan."
---
Pukul sembilan lewat dua puluh, Sinta turun dari ojek di ujung jalan menuju pelabuhan kecil itu. Bau amis ikan dan solar menyergap hidungnya. Lampu jalan hanya menyala setengah, sisanya mati atau dilempari batu anak-anak. Di kejauhan, bangunan pabrik es berdiri hitam di bawah langit tanpa bintang, jendelanya pecah, dindingnya penuh coretan.
Ia berjalan lurus ke gerbang depan. Tidak sembunyi, tidak mengendap. Jaketnya sengaja ia biarkan terbuka, tangan kosong terangkat di sisi tubuh.
Satu senter menyala dari balik pagar. "Berhenti."
"Aku Sinta. Pak Wiryo menyuruhku datang."
Dua lelaki muncul dari bayangan, satu berbadan gempal bertato di leher, satunya kurus berambut cepak. Yang gempal menggeledahnya kasar, tangannya meraba pinggang, saku, kaus kaki, bahkan rambutnya. Ponsel di saku jaket disita, begitu juga dompet.
"Cuma ini?"
"Aku disuruh bawa semua yang kupunya. Itu semua yang kupunya."
"Foto-foto?"
"Di dalam ponsel. Kalian sudah ambil."
Si kurus mengutak-atik layar ponsel itu, mengernyit, lalu menyerahkannya pada temannya. "Isinya cuma foto resep sama kontak."
Sinta menahan senyum. Ponsel itu memang ponsel lama Tari yang sengaja ia bawa sebagai umpan. Yang asli, bersama salinan rekaman dan potongan surat ayahnya, ada di dalam kaus kaki kiri, terselip di balik kain tebal yang tak terpikir untuk diraba.
"Jalan."
Mereka menggiringnya melewati halaman berumput liar, masuk ke bangunan utama yang gelap dan berbau amoniak lama. Lantai beton retak, tiang-tiang berkarat, mesin pendingin raksasa tergeletak mati seperti bangkai binatang purba. Di ujung ruangan, sebuah pintu besi terbuka, memperlihatkan tangga menurun ke bawah tanah dengan cahaya kuning samar di dasarnya.
"Turun."
Sinta menuruni tangga itu satu per satu, setiap langkah bergema di dinding lembap. Udara semakin dingin. Dan di dasar tangga, di balik pintu terakhir, ia melihat pemandangan yang membuat seluruh tubuhnya menegang.
Ruangan berdinding bata tanpa jendela, diterangi lampu pijar tunggal. Di tengahnya, Damar terikat di kursi kayu, kemeja robek di bahu, bibir pecah, satu mata bengkak membiru. Ia mengangkat kepala begitu mendengar langkah, dan matanya yang masih bisa terbuka melebar ketakutan.
"Sin... jangan..."
"Diam," bentak Pak Wiryo dari pojok, bersandar di meja logam dengan tangan bersedekap. Wajahnya datar, tak lagi menunjukkan sisa kegugupan pagi tadi.
Dan di balik meja itu, di kursi putar yang tampak terlalu mewah untuk ruang bawah tanah kumuh itu, Pak Hendra duduk dengan secangkir teh panas di tangan. Jasnya masih rapi, dasinya lurus, rambutnya tersisir sempurna. Ia tersenyum seperti tuan rumah menyambut tamu.
"Sinta. Tepat waktu. Aku selalu menghargai orang yang disiplin."
"Lepaskan suami saya."
"Duduk dulu. Ada tehnya."
"Lepaskan dia."
"Sinta." Pak Hendra meletakkan cangkirnya dengan bunyi *tik* pelan. "Kamu perempuan cerdas, jadi aku akan hemat waktu kita berdua. Kamu punya dua hal yang kuinginkan. Pertama, salinan semua foto dan rekaman yang kamu kumpulkan seminggu ini. Kedua, potongan surat bapakmu yang dibawa Melia."
"Melia sudah di tangan polisi."
"Bohong." Ia tersenyum tipis. "Melia tidak sanggup menghadapi polisi. Dia masih di rumah kosong di pinggir kota. Rumah paman temanmu, kalau aku tidak salah."
Perut Sinta mencelos. Tapi wajahnya tak berubah.
"Kamu mengikuti kami."
"Aku tidak perlu mengikuti. Wiryo tahu semua rumah kosong di kota ini."
Pak Wiryo menyeringai tipis. Di sudut ruangan, Damar mengerang pelan dan menggeleng, memberi isyarat samar yang tak bisa dibaca Sinta.
"Apa yang Bapak mau sebenarnya?" tanya Sinta, melangkah maju sampai berdiri tepat di depan meja. "Bukan cuma dokumen. Kalau cuma dokumen, Bapak tidak perlu repot menculik anak Bu Retno."
"Pintar." Pak Hendra bersandar. "Aku mau kamu menghilang. Bukan mati, aku bukan orang kasar. Hanya pergi. Pindah kota, ganti nama, mulai hidup baru. Aku bahkan akan membayarnya. Dua ratus juta, cukup untuk hidup nyaman bertahun-tahun."
"Dan Damar?"
"Pulang. Sehat. Menikah dengan Melia dua minggu lagi, seperti rencana."
"Dan anak di perut Melia?"
"Menjadi cucu keluarga Wiryawan." Senyumnya melebar. "Semua senang. Tidak ada yang rugi."
"Kecuali bapak saya."
Senyum itu berhenti di tengah jalan.
"Pak Darmawan sudah meninggal."
"Karena obat gratis dari Anda."
Hening.
Pak Hendra menatapnya, lama, tanpa berkedip. Di balik lensa kacamatanya, matanya berubah, bukan marah, tapi lebih dingin, lebih tua, lebih berhati-hati. Seperti ular yang menyadari mangsanya bukan tikus biasa.
"Siapa yang bilang?"
"Bapak saya sendiri." Sinta merogoh kaus kakinya perlahan, dan Pak Wiryo langsung menegang, tangan menyambar pinggang. "Pelan, Pak. Saya cuma mengambil sesuatu."
Ia mengeluarkan potongan kertas menguning itu dan membukanya di atas meja, tepat di depan cangkir teh Pak Hendra. Tulisan tangan ayahnya tampak jelas di bawah cahaya lampu pijar.
"Orang yang menolongku di rumah sakit itu, Sin, bukan penolong," bacanya pelan, dengan suara yang tak bergetar sedikit pun. "Dia membunuh seorang pasien, dan menyalahkanku. Kalau suatu hari dia datang menawarkan bantuan, jangan terima."
Wajah Pak Hendra tak berubah. Tapi jari-jarinya yang memegang cangkir mengepal sedikit lebih erat.
"Itu tulisan orang sakit," ujarnya datar.
"Itu tulisan orang yang tahu dia akan mati."
"Kamu tidak bisa membuktikan..."
"Saya tidak perlu membuktikan di sini." Sinta menatapnya, dan senyum kecil muncul di sudut bibirnya, senyum dingin yang tak pernah dilihat siapa pun di rumah Wiryawan. "Karena di atas sana, di ruang tamu rumah paman Tari, ada satu rekaman video, Pak. Bu Retno mengakui semuanya. Suntikan terakhir Haryo. Visum palsu. Pemerasan tiga puluh tahun. Dan semua itu terkirim ke tiga alamat berbeda jam sepuluh lewat tiga puluh."
Pak Hendra melirik jam dinding. Pukul sembilan lima puluh. Tiga puluh menit lagi.
"Kamu menggertak."
"Coba saja."
"WIRYO!" bentaknya, kini tanpa topeng. "Ambil ponselnya, cari tahu siapa yang punya salinan!"
Pak Wiryo melangkah maju, tapi saat tangannya hampir menyentuh bahu Sinta, terdengar bunyi logam jatuh dari lantai atas. Lalu bunyi kedua. Lalu teriakan pendek yang terputus.
"Apa itu?" Pak Hendra berdiri.
Lampu pijar di langit-langit berkedip, mati, lalu menyala lagi, dan di antara kedipan itu Sinta melihat Damar mengangkat kepala dengan senyum samar di bibirnya yang berdarah. Ia berbisik tanpa suara: *Reza.*
Langkah kaki berat menggema di tangga. Bukan satu orang, tapi beberapa. Pak Wiryo menarik sesuatu dari pinggangnya dan mengarahkannya ke pintu. Pak Hendra mundur selangkah, wajahnya pucat.
Pintu besi terbuka lebar.
Yang pertama masuk bukan Reza, bukan polisi, bukan Bu Retno. Seorang lelaki tinggi berkacamata gelap, map hitam di bawah lengan, jas abu-abu tanpa noda. Lelaki yang tadi sore turun dari sedan hitam bersama Pak Hendra. Di belakangnya, dua lelaki bertubuh besar berseragam yang sama sekali bukan penjaga Pak Wiryo.
Lelaki itu melepas kacamatanya perlahan, memperlihatkan sepasang mata yang tajam dan sangat tenang.
"Selamat malam, Hendra," ucapnya datar. "Dua puluh tahun, ya? Kamu pikir aku sudah mati?"
Wajah Pak Hendra berubah dari putih menjadi kelabu. Bibirnya bergetar, dan satu nama keluar dari mulutnya dalam bisikan yang hampir tak terdengar.
"Dokter Bimo..."
"Tanda tangan di visum palsu Haryo Wiryawan itu, Hendra." Lelaki itu mengangkat map hitamnya. "Kamu memalsukan tanda tanganku. Dan malam ini, aku bawa yang asli."