"Bukan aku pelakunya!"
Demi biaya berobat ibunya, Aeris Calythea mengantar ratusan kue ke sebuah rumah mewah. Namun, bukannya uang, ia justru menemukan istri pria kaya tergeletak berlumuran darah. Niat tulus Aeris menolong justru menjebaknya. Sidik jarinya tertinggal, menjadikannya tersangka utama.
Dunia Aeris runtuh saat ibunya meninggal akibat terlambat ditangani. Hilang arah, Aeris bersimpuh pasrah.
"Bunuh aku sekarang! Tujuanku tetap hidup sudah tiada!"
Namun Kaizel Vardan, suami korban yang dibakar dendam, menolak. "Mati terlalu mudah untukmu. Kau harus menggantikan posisi istriku dan menjadi ibu untuk anak kembarku! Tebus dosamu, Aeris!"
Bagaimana nasib Aeris? Di tuduh dan terpaksa menjadi istri serta ibu tiri dari 2 anak kembar? Terlebih dia baru tahu, jika 2 anak kembar Vardan bahkan disiksa di rumah ayahnya sendiri.
"Jangan pukul, kami nda nakal hiks ...,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Kaizel
Suara pintu kayu mahoni berukir tebal itu terhempas rapat, menyisakan dentum berat yang memutus seluruh akses suara dari luar. Ruang kerja Kaizel terasa begitu dingin, bukan hanya karena pendingin udara yang berembus konstan, melainkan karena aura permusuhan yang menyelimuti setiap sudut ruangan.
Aeris berdiri tegak di tengah ruangan, membiarkan sepasang matanya menyapu sekeliling. Lemari buku menjulang tinggi, meja kerja rapi bertatahkan ukiran mahal, serta aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang samar-samar tercium. Di belakang meja megah itu, Kaizel berdiri memunggungi dirinya. Pria itu menyugar rambut hitamnya yang tebal ke belakang, lalu berbalik dengan gerakan lambat namun sarat akan ancaman mematikan.
"Kemari," panggil Kaizel. Suaranya rendah, parau, dan amat menekan.
Aeris melangkah tanpa ragu. Setiap ketukan sepatu hak tingginya di atas lantai granit bergema stabil. Ia berhenti tepat dua langkah di hadapan meja kerja Kaizel, menatap pria yang kini menjadi suaminya secara hukum, sekaligus monster yang siap mencabik-cabiknya.
"Ada apa, Tuan Vardan? Mengapa mengundangku ke ruangan megahmu ini hanya untuk menatapku seolah ingin membunuhku?" tanya Aeris santai, meski jari-jemarinya di balik lipatan tangan bersedekap saling mencengkeram erat.
Kaizel menyunggingkan senyum sinis. Sebuah senyuman dingin yang sama sekali tidak menyentuh matanya yang memerah pekat oleh lahar dendam.
"Kau berakting sangat luar biasa di bawah sana, Aeris," desis Kaizel, melangkah memutari meja hingga posisinya kini berdiri sangat dekat dengan Aeris.
"Memainkan peran sebagai ibu tiri pembela keadilan, mengambil hati dua anak kecil yang polos, lalu berpura-pura menjadi pahlawan di rumah yang bahkan bukan milikmu. Sangat mengagumkan."
Aeris terkekeh pelan, menyipitkan matanya. "Berakting? Jika menyelamatkan dua putri kecil yang diterlantarkan dan disiksa oleh keluarga iblis pilihanmu disebut berakting, maka aku akan dengan senang hati memainkan peran itu setiap hari."
Sret!
Dengan kecepatan yang tak terduga, tangan kokoh Kaizel terulur, mencengkeram dagu Aeris dengan sangat kuat. Ibu jarinya menekan tulang pipi Aeris, memaksa wanita itu mendongak menatap lurus ke dalam iris matanya yang dipenuhi binar kebencian mutlak.
Aeris meringis pelan, rasa sakit menjalar di rahangnya, namun ia menolak memejamkan mata. Ia membalas tatapan membunuh itu dengan sorot tajam yang sama mengerasnya.
"Jangan pernah berani menyebut nama anak-anakku dari bibir kotor itu!" geram Kaizel, suaranya bergetar menahan amarah yang hampir meledak. "Kau pikir aku tidak tahu apa rencanamu? Kau memanfaatkan Zara dan Mira agar kau mendapatkan simpati di rumah ini. Kau membodohi mereka agar mereka melupakan siapa yang membuat mereka kehilangan ibu kandungnya!"
Aeris membelalak. Rasa amarah dan ketidakadilan meluap seketika di dalam dadanya. "Ibu kandung mereka? Nayvera?!" Aeris menyentak wajahnya kasar, mencoba melepaskan cengkeraman Kaizel, namun pria itu justru mempererat rahang tangannya.
"Berapa kali harus kubilang padamu, Kaizel! Aku tidak membunuh istri pertamamu! Aku tidak pernah menyentuh pisau itu! Aku hanya korban jebakan!"
"DIAM!" bentak Kaizel, suaranya menggelegar menghantam dinding-dinding ruang kerja.
Pria itu menarik kasar tubuh Aeris mendekat ke arah meja. Dengan tangan satunya, Kaizel menyambar amplop cokelat berstempel kepolisian yang tadi ia bawa, lalu menghantamkannya tepat ke dada Aeris hingga dokumen-dokumen di dalamnya berhamburan ke atas meja dan lantai.
"Masih mau mengelak, Aeris Calythea?!" desis Kaizel di depan wajah Aeris. "Buka matamu dan baca lembar-lembar itu! Itu adalah hasil resmi forensik dan autopsi mendiang istriku!"
Aeris menahan napas. Matanya secara refleks bergulir menatap lembaran kertas putih berstempel merah yang tersebar di atas meja. Jemarinya yang gemetaran terulur meraih salah satu lembar dokumen, membaca baris demi baris kesimpulan medis yang tertera di sana.
Residu darah dan sidik jari yang ditemukan pada senjata tajam serta pakaian korban SANGAT COCOK dengan profil DNA Aeris Calythea.
Waktu kematian bertepatan saat pelaku berada di lokasi kejadian
Tubuh Aeris membeku seketika. Darah di dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir. Napasnya tercekat di tenggorokan saat membaca kalimat yang tertulis hitam di atas putih itu.
"T-tidak ... Ini tidak mungkin ...," cicit Aeris penuh syok. Suaranya bergetar hebat. "Ini bohong! Aku memang memegang tubuh Nayvera saat dia terkulai berdarah untuk menolongnya, tapi aku tidak pernah memegang pisau itu! Sidik jariku tidak mungkin ada di senjata pembunuhan!"
"Masih berniat menyangkal bukti ini, hah?!" sentak Kaizel kasar. Ia mencengkeram kedua bahu Aeris, menggoncang tubuh wanita itu dengan emosi yang meluap. "Darah istriku ada di tanganmu! Sidik jarimu tercetak jelas di gagang pisau yang merenggut nyawanya! Apa lagi yang ingin kau katakan, penjahat?!"
Aeris mendongak, matanya yang basah oleh genangan air mata menatap Kaizel dengan perpaduan rasa sakit dan kemurkaan. "Seseorang telah memalsukan bukti ini! Seseorang di luar sana yang membunuh Nayvera telah menjebakku, dan kau ... kau pria bodoh yang dibutakan oleh dendam sampai tidak bisa melihat kebenaran!"
Brugh!
Cengkeraman Kaizel terlepas saat ia mendorong Aeris hingga punggung wanita itu menghantam tepi meja kayu jati. Aeris meringis menahan sakit di pinggangnya, namun ia tetap menegakkan kepalanya, enggan meneteskan air mata di hadapan pria yang memandangnya seperti binatang hina.
"Aku dibutakan oleh dendam?"
ras terkuat dibumi kamu lawang yang keok lah kamu😂😂😂