NovelToon NovelToon
Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ziziyuuu

Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".

Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

​Hari pertama magang dimulai dengan degup kencang di dada Kila. Pagi-pagi sekali ia sudah bersiap, mengenakan kemeja putih bersih yang semalam ia setrika dengan sangat rapi, dipadukan dengan rok span hitam selutut dan sepatu flat yang sedikit kebesaran di kakinya. Di tempat baru ini, tugasnya tergolong sederhana namun menuntut ketelitian: memfotokopi tumpukan dokumen, menyusun arsip berkas, dan duduk manis di dekat meja resepsionis lobi utama lantai satu.

​Hingga pukul dua siang, suasana lobi PT Nusantara Infrastruktur berlangsung tenang. Namun, ketenangan itu mendadak pecah ketika rapat besar di lantai dua usai.

​Pintu lift terbuka lebar, meloloskan rombongan pria berjas rapi yang berjalan beriringan. Mereka membawa map-map tebal, berbincang dengan nada suara serius sewaktu melangkah menuju pintu keluar utama gedung.

​Di antara jajaran petinggi tersebut, tampak seorang pria paruh baya berusia sekitar lima puluh lima tahun. Langkahnya lambat dan tertatih. Keriput di sekitar pelipisnya terlihat jelas, memancarkan keletihan yang teramat sangat. Satu tangannya mencengkeram dada kirinya dengan amat kuat, seolah ada rasa sakit luar biasa yang tengah menusuk di sana. Pria itu adalah Pak Mahendra, yang baru saja menyelesaikan diskusi rapat kerja sama yang begitu alot dan menyita energi.

​Pada saat yang bersamaan, Kila baru saja keluar dari ruang fotokopi sambil memeluk tumpukan berkas arsip setinggi dadanya. Tanpa disengaja, posisi berdirinya persis berada di jalur melangkah pria paruh baya tersebut.

​Tiba-tiba, langkah Pak Mahendra terhenti kaku di tengah lobi yang dingin. Napasnya terdengar memburu, tersengal-sengal, dan tak beraturan. Tangan beruratnya yang bergetar hebat berusaha mencengkeram pilar marmer terdekat, menjadikannya satu-satunya tumpuan agar tubuhnya tidak ambruk ke lantai.

​"Pak? Bapak tidak apa-apa?" tanya seorang petugas satpam yang sigap berlari menghampiri.

​Pria itu sama sekali tak sanggup bersuara. Pandangannya mengabur, berkunang-kunang, dan bulir keringat dingin mulai membasahi pelipis serta dahinya.

​Lalu—

​BRUK!

​Tubuh gagah itu akhirnya runtuh. Bukan jatuh berdebam keras, melainkan meluruh lunglai, terduduk tak berdaya di atas lantai marmer lobi yang dingin.

​"ASTAGA! PAK MAHENDRA!"

​"PAK MAHENDRA PINGSAN! CEPAT PANGGIL AMBULANS!"

​Kepanikan seketika pecah di seantero lobi. Para pegawai yang semula lalu-lalang mendadak berkerumun, saling berbisik cemas namun tak satu pun yang berani menyentuh tubuh pria yang terkapar itu.

​Kila, yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian, bertindak tanpa berpikir panjang. Tanpa memedulikan berkas di tangannya, ia langsung melepas pelukannya. SRRAAAGH! Lembaran-lembaran kertas arsip berhamburan liar di lantai.

​"Om! Om! Bangun, Om!" Suara Kila bergetar hebat. Ia berlutut di sebelah Pak Mahendra, memegang bahunya dan menepuk pelan pipi pria itu. Jemarinya sigap memeriksa hembusan napas di hidung; masih ada, meski sangat tipis dan tersendat.

​Di detik-detik terakhir sebelum kesadarannya benar-benar lenyap, Pak Mahendra membuka matanya sedikit. Dengan tatapan layu, ia berbisik sangat lirih, suaranya hampir tenggelam oleh bising sekitar, "...to... tolong..."

​Bisikan itu menghantam dada Kila seperti pukulan keras. Rasa takutnya berganti menjadi keberanian mendesak. Dengan jemari yang gemetar hebat namun suara yang diusahakannya tetap tenang dan jernih, Kila merogoh ponsel di saku skirt-nya dan menekan nomor darurat.

​"Halo, ambulans! Ada seorang pria tidak sadarkan diri di lobi PT Nusantara, Jalan Merdeka Nomor 12! Ya, beliau mengalami sesak napas berat, sepertinya serangan jantung! Tolong cepat, Pak!"

​Sambil menunggu bantuan datang, Kila menyambar botol air mineral dari atas meja resepsionis, membasahi sapu tangan miliknya, lalu dengan hati-hati mengompres tengkuk Pak Mahendra untuk memberikan rasa sejuk.

​"Tolong jangan dikerumuni dulu, Pak, Bu! Kasih ruang udara!" seru Kila tegas kepada kerumunan orang di sekitarnya.

​Beberapa menit berlalu terasa seperti berjam-jam hingga akhirnya tim medis internal tiba membawakan tandu darurat. Pak Mahendra harus segera dilarikan ke rumah sakit rujukan terdekat.

​Kak Dinda, senior pembimbing magang Kila, mendekat dengan wajah pucat pasi. "Kil, kamu ikut naik ke ambulans ya! Kamu yang paling tahu kronologi kejadian dari awal! Nanti kamu yang jelaskan ke pihak keluarganya!"

​Kila mengangguk kaku. Tanpa sempat memikirkan hal lain, ia langsung memanjat masuk ke dalam ambulans yang sirinenya mulai meraung-raung memecah kemacetan jalanan siang.

​Di depan ruang IGD Rumah Sakit Harapan, Pak Mahendra langsung didorong cepat masuk ke ruang tindakan penanganan utama. Pintu kaca tertutup rapat, menyisakan Kila seorang diri di koridor steril yang berbau tajam cairan antiseptik.

​Seorang perawat menghampiri dan menahan Kila di depan meja pendaftaran.

​"Mbak, yang mengantar Bapak tadi, ya? Tolong bantu isi formulir data pengantar dulu," ujar perawat tersebut sembari menyodorkan selembar kertas dan pulpen.

​Dengan jari-jari tangan yang masih dingin dan gemetar, Kila menggoreskan tulisan di atas lembaran itu:

​Aqeela Mahardika - Pegawai Magang PT Nusantara Infrastruktur.

​Usai menyerahkan formulir, Kila melirik jam dinding koridor. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Ia menyadari harus segera kembali ke kantor untuk melakukan absensi kepulangan agar tidak kena sanksi di hari pertamanya.

​"Sus, saya izin kembali ke kantor dulu, ya. Nanti kalau pihak keluarganya sudah datang, tolong sampaikan kalau saya yang mengantar tadi. Nama saya Kila," pesannya.

​Ia meletakkan formulir tersebut di atas meja resepsionis IGD lalu bergegas pergi menaiki ojek online. Kila meninggalkan rumah sakit dengan kemeja putihnya yang kini kusut dan agak basah oleh keringat.

​Sayangnya, lembaran formulir yang ditinggalkan Kila itu terselip dan tertumpuk di bawah tumpukan map pasien lain sebelum sempat dibaca atau dirapikan oleh perawat jaga.

​Dua puluh menit setelah kepergian Kila.

​Pintu kaca IGD terbuka keras akibat dorongan kuat. Seorang wanita berpenampilan elegan dengan mata sembab kemerahan masuk tergesa-gesa bersama seorang pria bertubuh tinggi. Pria itu berwajah kaku dan dingin, dengan napas tersengal memburu seolah habis berlari kencang dari area parkiran. Mereka adalah Ibu Cantika dan Rhaegar.

​"Suami saya! Pak Mahendra! Di mana suami saya, Sus?" tanya Ibu Cantika dengan suara gemetar menahan tangis.

​Perawat yang bertugas langsung berdiri merespons, "Sudah di dalam ruang tindakan, Bu. Kondisi beliau sempat drop saat datang."

​Belum sempat perawat itu menjelaskan siapa pihak yang membawa Pak Mahendra, dan sebelum formulir pengantar di meja sempat terlihat, pintu ruang tindakan terbuka. Seorang dokter keluar dengan raut wajah amat serius, langsung memotong pembicaraan.

​"Ibu, saya dokter jaga yang menangani. Pak Mahendra harus segera kami pindahkan ke ruang perawatan intensif. Keadaannya cukup kritis akibat serangan jantung koroner. Kami harus melakukan observasi ketat sepanjang malam ini."

​Kalimat dokter itu seketika meruntuhkan pertahanan Ibu Cantika. Lututnya lemas, jemarinya meremas dada sendiri saat tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.

​Rhaegar berdiri kaku menopang tubuh Mamanya. Rahangnya mengeras rapat, berusaha keras mengendalikan kepanikan yang membakar dadanya. Wajah yang biasanya dingin bak es itu kini retak, menyisakan kecemasan dan ketakutan mendalam. Seluruh pikiran dan fokus Rhaegar saat ini sepenuhnya tertuju pada keselamatan Papanya di dalam sana.

​Mereka bergegas mengikuti brankar yang mendorong Pak Mahendra menuju ruang ICU. Tak ada satu pun dari mereka yang sempat bertanya, apalagi melihat selembar formulir kecil yang tergeletak terabaikan di meja resepsionis.

​Di luar sana, di atas sepeda motor ojek online yang merambat pelan di tengah kemacetan sore, Kila sama sekali tidak menyangka bahwa pria tua yang baru saja ia selamatkan dengan segenap keberaniannya adalah ayah kandung dari dosen pembimbingnya sendiri.

​Dan Rhaegar pun tidak pernah tahu, bahwa gadis yang baru saja menyelamatkan nyawa Papanya tidak lain adalah mahasiswi bimbingannya sendiri—Aqeela Mahardika.

1
Rini Hanindya Salma Nurazizah
bagus
Linda Natalia
lanjut kak,crita nya bagus
Rian Moontero
mampiiirr😍👍
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru...
ayok ada dibaca🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!