"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Panggilan
"Abang Reyhan mau dimandikan sama Ibu?" tanya Aluna pada Reyhan yang sudah bangun dari tidurnya. Bahkan Reyhan juga yang membangunkan Aluna.
"Enggak, Abang udah bisa mandi sendiri." ucap Reyhan dengan kedua pipi yang memerah. Pasalnya baru kali ini ada seseorang yang menawarkan diri untuk memandikannya. Dari dulu, Reyhan akan langsung dimandikan Omanya atau mandi sendiri tanpa ditanya. Reyhan belum terbiasa dengan perhatian ini.
"Ya sudah, Abang masuk kamar terus mandi ya. Maaf Ibu belum bisa menyiapkan seragam, takut salah ambil." ucap Aluna merasa tak enak hati.
"Tidak apa, Ibu. Reyhan bisa kok. Ibu lanjut istirahat saja biar punggungnya segera sembuh. Hari ini kan mau konsultasi dan periksa mata juga," ucap Reyhan sambil mengelus punggung tangan Aluna.
Reyhan memaklumi Aluna yang tidak bisa mengambilkan seragam sekolah. Jika hanya baju main atau sekedar kaos, mungkin dia bisa mengambilkan. Untuk seragam, tidak bisa asal ambil. Reyhan pun segera keluar dari kamar kedua orangtuanya. Elova dan Bian masih tertidur dengan posisi berpelukan. Semalam Bian juga tidur di atas kasur yang sama samping Elova. Ini adalah pertama kalinya mereka tidur berempat.
"Mas Bian, bangun. Tolong siapkan seragam dan cek bukunya Reyhan. Kemarin kan kita terlalu sore pulangnya. Aku khawatir kalau buku pelajarannya belum siap," Aluna menggoyangkan lengan tangan Bian agar segera bangun tidur. Seperti kata Mama Mila, jika Bian memang jarang memperhatikan anaknya. Terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Ini lah yang menjadi tugas Aluna untuk mendekatkan mereka.
"Biasanya juga Reyhan menyiapkan semuanya sendiri, Aluna. Dia sudah besar dan mandiri," ucap Bian tanpa membuka matanya.
"Setidaknya cek buku pelajaran Reyhan sesuai atau tidak dengan jadwal hari ini. Kalau aku bisa melihat, pasti Aluna sudah melakukannya sendiri." ucap Aluna dengan lembut. Walaupun suaranya terdengar lembut, tapi mengandung sebuah kepiluan yang tengah diutarakan.
"Baik lah. Sebentar lagi kamu akan bisa melihat lagi. Jadi jangan sedih lagi," Bian akhirnya langsung membuka matanya saat mendengar ucapan bernada pilu itu.
"Walaupun Reyhan sudah besar dan mandiri, setidaknya tetap kasih perhatian sama anak. Jangan sampai anak malah jauh sama kita. Apalagi kalau kita sampai tak tahu apa-apa tentang anak," ucap Aluna memberi pesan.
Bian menganggukkan kepalanya kemudian mencium singkat dahi istrinya. Bian segera keluar dari kamar setelah mencuci wajahnya. Aluna menggoyangkan badan Elova agar ikut bangun dan sarapan bersama. Walaupun punggungnya masih terasa nyeri, tapi Aluna ingin sarapan bersama di ruang makan. Bukannya bangun, Elova malah memeluk perut Aluna.
"Bangun dong. Ayo sarapan bersama lalu antar Abang Reyhan sekolah. Kasiannya Abang Reyhan yang selalu diantar sama Mang Jono," ucap Aluna sambil terkekeh pelan.
"Bial Papa saja yang antal Abang ke sekolah, Ibu. Kan Ibu masih sakit itu punggungnya. Lopa bagian jaga Ibu, telus Papa antal Abang." ucap Elova membuat Aluna tersenyum haru.
"Manis banget sih omongannya lobak ini. Jadi bikin Ibu diabetes ini nanti," ucap Aluna sambil terkekeh pelan.
"Tapi tetap saja kamu harus bangun, mandi, dan sarapan. Nanti kamu kurus kalau telat makan," lanjutnya tanpa bisa dibujuk.
"Mak..."
Surat apa ini, Reyhan?
Tiba-tiba saja suara teriakan Bian dari kamar Reyhan menggema sampai terdengar oleh Aluna dan Elova. Hal itu membuat Aluna merasa khawatir ada masalah serius. Elova langsung membuka matanya dan menegakkan badannya. Aluna segera turun pelan dibantu oleh Elova. Keduanya berjalan menuju kamar milik Reyhan. Bahkan di depan kamar Reyhan sudah ada Bibi Sita dan Bibi Tari. Keduanya sama terkejutnya dengan Aluna dan Elova hingga memilih mencari tahu.
"Sur..."
"Surat apa?" sentak Bian karena tidak mendapatkan penjelasan dari Reyhan. Bahkan Reyhan masih menggunakan handuk dengan rambutnya yang basah karena dia baru keluar dari kamar mandi.
"Surat panggilan orangtua atau wali murid, Pa." jawab Reyhan sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu berbuat ulah apa di sekolah? Sampai dapat surat begini, ha?" teriak Bian dengan wajah memerah.
"Bolos kelas, Pa." jawab Reyhan dengan lirih.
"Ma..."
Berhenti dulu, Mas. Biarkan Reyhan berpakaian,
Tak tega mendengar suara Reyhan yang terdengar pelan, Aluna pun langsung masuk dibantu oleh Elova. Padahal Elova tadinya akan digendong oleh Bibi Tari agar menjauh. Namun Elova menolaknya. Bibi Tari segera membisikkan tentang Reyhan yang badannya menggigil kedinginan karena masih memakai handuk pada Aluna. Sehingga Aluna meminta Bian berhenti mengomelinya dulu agar Reyhan bisa berganti baju.
Bian meraup wajahnya dengan kasar. Dia tidak menyangka kalau anaknya akan berbuat ulah di sekolah. Membolos? Padahal setahunya, Mang Jono selalu antar jemput sesuai jamnya. Tadi saat Aluna meminta Bian memeriksa buku pelajaran di dalam tas Reyhan, laki-laki itu menemukan beberapa amplop berisi surat panggilan dari sekolah. Surat panggilan untuk orangtua itu membuat Bian kesal. Apalagi setelah mendengar pengakuan dari Reyhan.
"Abang, ganti baju dulu." suruh Aluna yang membuat Reyhan segera mengambil pakaiannya di dalam lemari.
"Lobak, dekatkan Ibu sama Papamu." suruhnya pada Elova.
"Jangan, Ibu. Muka Papa selam sekali. Melah melona kaya habis makan cabe selatus kilo. Takutnya nanti waktu Papa ngomong, kelual api dali mulutnya. Ngeli sekali," ucap Elova takkan membiarkan Aluna terluka karena semburan api.
"Di sini aja, ndak usah dekat-dekat." lanjutnya.
"Ibu mau tenangkan Papamu biar nggak ngomel sama Abang Reyhan," ucap Aluna dengan berbisik.
"Yakin bisa? Papa tuh kalau malah udah kaya olang kesetanan lho, Bu." tanya Elova dengan hati-hati.
Aluna terkekeh pelan mendengar ucapan dari Elova. Namun Elova tetap mengantarkan Aluna mendekat ke arah Bian. Pasalnya Aluna berusaha meraba sekitarnya, membuat Elova kasihan. Ternyata Bian duduk di kasur milik Reyhan. Aluna mengelus punggung Bian untuk meredakan emosinya. Jika semua diselesaikan dengan emosi, malah akan bertambah runyam.
"Lobak mending sama Bibi Tari aja. Minta makan," suruh Aluna pada anak bungsunya itu.
"Ndak mau, Ibu. Lopa mau jaga Ibu dali telkaman macan yang lagi malah," ucap Elova yang kemudian duduk di antara Aluna dan Bian. Bahkan Aluna sampai menggeser duduknya agar Elova bisa masuk di selanya.
"Papa bukan macan," ucap Bian sambil mendengus sebal.
"Olang Lopa ndak bilang kalau Papa itu macan kok. Kalau ngelasa, ya bagus deh." ceplos Elova membuat Bian mendengus sebal.
"Jangan marah-marah sama anaknya dulu. Tanya dan beri Abang Reyhan kesempatan untuk menjelaskan. Bolos kelas apakah ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman atau bagaimana? Kita bisa cari solusi agar masalah ini dapat teratasi," ucap Aluna dengan lembut.
Benal itu. Malah-malah mulu, dalah tinggi kumat lho nanti.
Siapa tahu Abang kena bully di kelas? Makanya bolos. Lopa juga gitu, mending bolos dalipada ndak nyaman.
Heh...
🙏💪😍