NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Pagi itu, Jingga tiba di rumah sakit dengan membawa beberapa berkas persiapan kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis. Ia baru saja meletakkan tas di ruang perawat ketika Maya menghampirinya sambil tersenyum lebar.

“Jingga, kau bisa membantu Dokter Samudera memeriksa perlengkapan kegiatan hari ini? Katanya ada beberapa barang yang perlu dipastikan sebelum dikirim ke lokasi.”

Jingga menoleh. “Kenapa harus aku?”

“Karena kau perwakilan perawat, dan Dokter Samudera bertanggung jawab atas tim medis.” Maya menyenggol lengannya. “Lagi pula, kalian cocok bekerja bersama.”

“Maya, jangan mulai.”

“Aku bahkan belum mengatakan apa-apa!”

“Wajahmu sudah mengatakan semuanya.”

Maya tertawa puas. “Baiklah, aku diam. Tapi kalau nanti kau pulang sambil tersenyum-senyum sendiri, jangan salahkan aku.”

Jingga menggeleng sambil mengambil mapnya. Ia sudah terbiasa dengan godaan Maya, tetapi diam-diam ia menyadari bahwa akhir-akhir ini nama Samudera memang lebih sering muncul dalam pikirannya.

Bukan semata-mata karena pria itu seorang dokter yang baik. Ada sesuatu dalam sikap Samudera yang membuat Jingga merasa nyaman, seolah-olah ia tidak perlu selalu berpura-pura kuat ketika berada di dekatnya.

Menjelang siang, Jingga dipanggil ke ruang logistik untuk memeriksa perlengkapan kegiatan akhir pekan. Samudera sudah berada di sana bersama dua orang staf.

“Kamu datang tepat waktu,” katanya ketika melihat Jingga.

“Bukankah Dokter yang meminta saya datang?”

“Benar. Jadi, saya tidak perlu mencarimu ke ruang perawat.”

Jingga tersenyum tipis. “Sepertinya Dokter mulai memahami betapa sibuknya saya.”

“Saya sudah memahaminya sejak lama. Hanya saja, kamu sering terlalu sibuk sampai lupa memperhatikan diri sendiri.”

Jingga terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana Samudera pernah membelikannya makan siang ketika ia melewatkan waktu istirahat.

Sebelum ia sempat membalas, Samudera menyerahkan daftar perlengkapan kepadanya. “Mari kita periksa semuanya. Saya ingin memastikan tidak ada alat yang tertinggal.”

Mereka mulai bekerja. Jingga mencocokkan daftar dengan isi kotak, sedangkan Samudera memeriksa kondisi peralatan medis. Sesekali mereka berdiskusi tentang kebutuhan pasien, terutama lansia dan anak-anak yang akan mengikuti pemeriksaan.

Ketika menemukan jumlah alat pengukur tekanan darah yang tidak sesuai, Jingga segera memberi tahu Samudera.

“Jumlahnya kurang dua, Dokter.”

Samudera memeriksa daftar di tangannya, kemudian mengangguk. “Kamu benar. Sepertinya dua alat itu masih berada di ruang pemeriksaan.”

“Saya akan mengambilnya.”

“Tunggu. Saya ikut.”

“Tidak perlu, Dokter. Saya bisa sendiri.”

“Saya tahu kamu bisa sendiri.” Samudera menutup kotak perlengkapan. “Tetapi saya juga perlu memeriksa alatnya.”

Jingga menatapnya, lalu tertawa kecil. “Dokter selalu punya alasan.”

“Setidaknya alasan saya kali ini berkaitan dengan pekerjaan.”

Mereka pun berjalan bersama menuju ruang pemeriksaan.

Pekerjaan sederhana itu terasa menyenangkan bagi Jingga. Ia tidak perlu memikirkan persoalan rumah tangganya yang telah berakhir atau mengkhawatirkan apa yang akan dikatakan Rangga tentang kehidupannya. Untuk sementara, ia hanya menjadi dirinya sendiri, seorang perawat yang menjalankan tugas bersama rekan kerja yang membuatnya nyaman.

Namun, ketenangan itu sedikit berubah ketika ponsel Samudera berdering. Pria itu segera mengangkatnya setelah melihat nama pengasuh Arka di layar.

“Ya, ada apa?”

Jingga tidak berniat menguping, tetapi ia bisa mendengar suara perempuan dari seberang telepon yang terdengar kebingungan.

“Tuan, Den Arka sejak tadi menolak makan. Dia hanya mau memeluk beruang kesayangannya.”

Samudera mengerutkan kening. “Dia demam?”

“Tidak, Tuan. Suhu tubuhnya normal. Sepertinya Den Arkan sedang rewel dan terus menanyakan kapan Anda pulang.”

Samudera menghela napas pelan. “Baik. Tolong jangan memaksanya makan. Saya akan pulang setelah pekerjaan selesai.”

Setelah panggilan berakhir, ia menyimpan ponselnya. Namun, Jingga melihat kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang dari wajah pria itu.

“Arka kenapa?” tanyanya.

“Tidak ada yang serius, dia hanya sedang sulit makan.”

“Usianya masih dua tahun, bukan? Mungkin dia sedang ingin ditemani ayahnya.”

Samudera tersenyum tipis, meski kekhawatiran masih terlihat di matanya. “Bisa jadi. Sejak istri saya meninggal, saya berusaha memastikan semua kebutuhannya terpenuhi. Tetapi kadang-kadang saya masih kesulitan memahami apa yang sebenarnya dia inginkan.”

Jingga tahu Samudera adalah seorang duda yang membesarkan putranya seorang diri. Namun, mendengar pria itu mengakui kesulitannya sebagai seorang ayah membuatnya memahami sisi Samudera yang jarang terlihat di rumah sakit.

“Dokter tidak harus selalu tahu semua jawabannya,” ujar Jingga lembut. “Anak-anak juga membutuhkan waktu untuk menunjukkan apa yang mereka rasakan.”

“Menurutmu, apa yang harus saya lakukan?”

“Coba tanyakan apa yang ingin dia makan. Berikan pilihan sederhana. Kalau dia menolak, jangan langsung menganggap dia sedang sulit diatur. Bisa jadi dia hanya ingin merasa dilibatkan.”

Samudera mengangguk perlahan. “Sepertinya saya membutuhkan seorang konsultan khusus untuk menghadapi pasien kecil saya.”

Jingga tertawa kecil. “Sayangnya, saya tidak menerima konsultasi di luar jam kerja.”

“Kalau begitu, saya harus mencari cara lain untuk mendapatkan bantuanmu.”

Jingga mengangkat alis. “Dokter sedang merencanakan sesuatu?”

“Belum. Saya masih mempertimbangkannya.”

Ucapan pria itu membuat Jingga tersenyum sebelum kembali memeriksa perlengkapan.

Sore harinya, pekerjaan Jingga akhirnya selesai. Ia baru saja hendak meninggalkan ruang perawat ketika Samudera datang menghampirinya.

“Jingga, apa kamu sudah punya rencana malam ini?”

Jingga sedikit terkejut. “Belum. Memangnya ada apa, Dokter?”

Samudera tampak berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Arka masih menanyakan kapan saya pulang. Saya juga belum sempat menyiapkan makan malam untuknya.” Ia berhenti sebentar. “Kalau kamu tidak keberatan, maukah kamu ikut ke rumah saya?”

Jingga membelalakkan mata. “Ke rumah Dokter?”

“Ya. Saya ingat kamu punya beberapa saran untuk menghadapi Arka. Saya ingin mencoba menerapkannya, tetapi sepertinya akan lebih mudah jika kamu membantu saya.”

Jingga terdiam, tidak langsung menjawab. Ia belum pernah datang ke rumah Samudera. Selama ini, hubungan mereka hanya berlangsung di rumah sakit atau sesekali melalui pesan singkat. Ajakan itu terasa seperti langkah baru, sesuatu yang membuatnya gugup sekaligus penasaran.

“Kalau kamu merasa tidak nyaman, tidak apa-apa. Saya tidak ingin membuatmu merasa harus menerima ajakan ini.”

Jingga memperhatikan wajah sang dokter, tak ada paksaan dalam nada suara pria itu. Samudera benar-benar memberinya pilihan. Setelah mempertimbangkan beberapa saat, Jingga akhirnya tersenyum.

“Baiklah. Saya ikut, tetapi saya tidak menjamin bisa membuat Arka langsung mau makan.”

Samudera membalas senyumnya. “Saya tidak meminta keajaiban, kehadiranmu saja sudah cukup membantu.”

Kata-kata sederhana pria itu membuat pipi Jingga terasa hangat. Ia segera mengambil tasnya agar Samudera tidak menyadari perubahan ekspresinya.

Rumah Samudera terletak di kawasan perumahan yang tenang. Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi terlihat nyaman dengan taman kecil di bagian depan.

Begitu mobil berhenti, Samudera turun dan membukakan pintu untuk Jingga.

“Maaf kalau rumah saya agak berantakan. Arka sedang senang mengeluarkan semua mainannya.”

“Tidak apa-apa, Dokter. Rumah dengan anak kecil memang biasanya seperti itu.”

Samudera tersenyum mendengar jawabannya, lalu mengajak Jingga masuk.

Di ruang keluarga, beberapa mainan berserakan di atas karpet. Ada balok warna-warni, buku bergambar, dan sebuah beruang cokelat yang tergeletak di dekat sofa.

Seorang perempuan yang bertugas mengasuh Arka muncul dari arah dapur. “Tuan sudah pulang, dari tadi Arka menunggu di kamar.”

“Terima kasih sudah menjaganya. Saya akan menemuinya.”

Samudera menoleh kepada Jingga. “Silakan duduk dulu. Saya akan memanggil Arka.”

Namun, belum sempat ia melangkah jauh, terdengar suara langkah kecil dari arah lorong. Seorang anak laki-laki berusia dua tahun muncul sambil memeluk bantal kecil. Begitu melihat ayahnya, wajahnya langsung cerah.

“Papa!”

Samudera berjongkok dan merentangkan kedua tangannya. Arka segera berlari kecil menghampirinya.

“Kenapa belum tidur, Nak?”

Arka memeluk leher ayahnya erat-erat.

Samudera mengusap punggung putranya dengan lembut. “Papa sudah pulang, maaf membuatmu menunggu.”

Jingga memperhatikan mereka dalam diam. Ada kehangatan yang terasa begitu nyata dalam pemandangan sederhana itu. Samudera mungkin tidak selalu bisa berada di rumah sepanjang hari, tetapi dari cara Arka memeluknya, Jingga tahu anak itu merasa aman bersama ayahnya.

Beberapa saat kemudian, Arka mengangkat kepala dan menyadari kehadiran Jingga. Anak itu menatap Jingga dengan rasa ingin tahu, kemudian menyembunyikan wajah di bahu Samudera.

“Arka, ingat Suster Jingga?” tanya Samudera lembut. “Yang pernah membantu memperbaiki beruangmu di rumah sakit?”

Arka mengintip dari balik bahu ayahnya.

Jingga tersenyum dan melambaikan tangan kecil.

“Halo, Arka. Beruangmu bagaimana? Sudah tidak rusak lagi?” tanya Jingga seraya tersenyum lembut.

Arka mengangguk pelan.

“Bawa sini kalau mau, Tante ingin melihatnya.”

Anak itu ragu sejenak sebelum turun dari pelukan ayahnya. Ia berlari mengambil beruang cokelat yang tergeletak di dekat sofa, kemudian kembali dengan langkah kecil.

Jingga duduk di atas karpet agar sejajar dengannya. “Wah, beruangnya masih tampan, ya.”

Arka memandang beruangnya, lalu menatap Jingga. Bibir kecilnya bergerak pelan. “Beruang.”

“Iya, beruang. Namanya siapa?”

Arka menggeleng.

“Belum punya nama?” Jingga berpura-pura berpikir keras. “Kalau begitu, kita cari nama yang bagus.”

Anak itu duduk di samping Jingga.

Samudera yang berdiri tidak jauh dari mereka memperhatikan dengan senyum samar. Ia jarang melihat Arka mendekati orang lain secepat itu. Biasanya, putranya membutuhkan waktu lebih lama sebelum merasa nyaman dengan seseorang yang belum dikenalnya dengan baik.

Namun, Jingga tidak berusaha menarik perhatian Arka secara berlebihan. Ia membiarkan anak itu menentukan jaraknya sendiri, mengajaknya berbicara dengan suara lembut, dan menunggu ketika Arka belum ingin menjawab.

Perlahan, Arka mulai menunjukkan mainan-mainan kesayangannya. Jingga menanggapi setiap benda yang diperlihatkan dengan antusias, seolah-olah balok kecil dan mobil-mobilan itu merupakan hal paling menarik di dunia.

Tidak lama kemudian, Arka bahkan menarik ujung lengan Jingga sambil menunjuk sebuah buku bergambar di atas meja.

“Mau baca?” tanya Jingga.

Arka mengangguk.

“Baiklah. Ayo kita baca bersama.”

Samudera memalingkan wajah sejenak, menyembunyikan senyum yang semakin lebar. Rumahnya yang biasanya terasa sepi setelah ia pulang bekerja kini dipenuhi suara Jingga yang membacakan cerita dan celoteh kecil Arka yang sesekali menyela.

Kini setelah sekian lama, ia merasa suasana rumahnya sedikit berbeda. Dan ia menyukai perasaan itu.

1
Cicih Sophiana
bagus Jingga semangat... libas si Rangga biar dia menyesal nanti..
Cicih Sophiana
nah gitu Jingga... aq suka perempuan yg tegas jgn bisa nya cuma nangis...
Cicih Sophiana
jgn mundur Jingga walau di ancam... Rangga tdk mencerai mu hanya karena nama baik kluarga nya bukan krn mencintai mu
Cicih Sophiana
punya suami lebih perhatian samacuma ipar nya😭😭
Cicih Sophiana
mampir thor... seperti nya seru nih cerita nya
Mundri Astuti
ni nih modelan org egois...dah punya anak, dah punya keluarga masih ngerecokkin rmh tangga ipar ...dpt karma masih ga sadar...masih nyalahin org
Mundri Astuti
nah iya knapa kamu yg berantakan rangga😄
Mundri Astuti
bapaknya Dira arogan juga...anaknya sendiri juga salah lo...dah main belakang sama Rangga disaat Rangga masih terikat dng pernikahan ..
awalnya ta kira Dira yatim piatu ...jadi nyari perhatian terus dari keluarga Rangga dng dalih kehilangan suami...lah taunya masih ada ortu...janggal jadinya
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
si serangga ini mmg ringan tangan yh serem deh😒
Mundri Astuti
ya ngga akan bahagia lah endingnya...kalian mulainya salah
Mundri Astuti
nah kan was" suamimu di deketin perempuan lain, mikir ngga jingga kamu gituin juga...
bahagia ngga kamu skrg ..
Mundri Astuti
mudah"an ga ada yg rusuh lagi ... akhirnya jingga menemukan bahagianya
Mundri Astuti
kirim org ke buat ngawasin keluarga mendiang istrimu sam...
Mundri Astuti
oiiiii Dira ....ga usah pake nyalahin org ..dah tau lagi berkendara suamimu ...malah ngajak ribut lagi...

denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita
Agunk Setyawan
karma
Sarmini Isang
rasain rangga,dl km mensia siakan anak dan istrimu,sekarangpun Allah ambil anakmu dan bahkan tidak diberikan kesempatan memiliki anak lg selama ber istrikan dira,nikmat kan hasilnya kerena dl menyakiti anak dan istri
Mundri Astuti
nah nikmatin dah hasil mengkhianati dan menyakiti istri sah mu...walau kalian akhirnya bersatu ..kebahagian tdk serta merta mengikuti kalian
Mundri Astuti
ayo samudra ....segera selidiki...keluarga mantanmu ga beres euyyy
Heni Setiyaningsih
preet telat 😂
𝓡𝓡: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Sri Widiyarti
ampun deh keluarga benalu ga tau diri jangan sampe jingga terjebak Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!