Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Hari-hari berikutnya berjalan dalam bayang-bayang kesunyian yang mencekam di dalam mansion Allegra. Bella menghabiskan seluruh waktunya terkunci di dalam kamar, terjebak dalam pusaran rasa frustrasi, patah hati, dan kebencian yang mendalam terhadap Vero. Uang jajan harian sebesar seratus ribu rupiah yang diberikan Christian sudah habis terserap untuk kebutuhan mendesak, sementara tabungannya benar-benar ludes tanpa sisa akibat ulah pria brengsek itu.
Namun, di tengah keputusasaannya yang memuncak pada suatu sore, ponsel yang selama ini membisu tiba-tiba berdering nyaring.
Bella mendadak tersentak dari lamunannya. Nama Vero terpampang di layar. Tanpa membuang waktu sedetik pun, jari-jarinya langsung menggesek tombol hijau dengan tangan gemetar.
"Vero?!" seru Bella penuh harap bercampur kekesalan yang tertahan. "Kamu ke mana aja selama ini?! Kenapa baru hubungin aku sekarang?!"
"Bell, sorry banget, aku sibuk banget ngurusin bisnis," suara Vero terdengar di ujung telepon, bernada terburu-buru dan terkesan mendesak. "Aku kangen banget sama kamu. Malam ini temuin aku di Club Neon, ya? Aku tunggu sekarang, jangan telat."
"Tapi, Ver—"
Tut. Tut.
Sambungan diputus begitu saja sebelum Bella sempat melayangkan protes. Kerinduan yang membuncah hebat serta rasa penasaran yang teramat sangat membuat Bella mengabaikan segala logika dan peringatan pamannya. Ia merasa harus menemui Vero malam ini juga untuk meminta penjelasan atas pengabaian pria itu.
*
Namun, sebuah masalah besar langsung menghadang di depan mata: ia tidak punya uang sepeser pun untuk biaya transportasi, apalagi untuk masuk ke tempat hiburan malam. Uang jajannya sudah lama ludes.
Dengan jantung yang berdegup kencang karena rasa takut tertangkap basah, Bella mengendap-endap keluar dari kamarnya, meniti lantai atas menuju area kamar pribadi Christian. Sesampainya di sana, ia mendengar suara gemercik air yang mengalir deras dari dalam kamar mandi. Pria itu rupanya sedang mandi.
Langkah kaki Bella membawanya masuk dengan sangat hati-hati. Di atas meja nakas samping tempat tidur, dompet kulit hitam milik Christian tergeletak begitu saja. Tanpa pikir panjang dan didorong oleh kepanikan yang mendesak, Bella menyambar dompet itu, membuka lipatannya, dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribu rupiah dengan tangan yang gemetar hebat. Setelah menyembunyikannya di dalam saku jaket hoodie-nya, ia bergegas kabur keluar dari rumah besar itu.
.............
Dentuman musik bass yang menggelegar dan memekakkan telinga langsung menyambut Bella begitu ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang temaram, sesak, dan dipenuhi kepulan asap rokok. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, hingga akhirnya menemukan sosok Vero melambaikan tangan dari sebuah meja tinggi di area VIP.
Namun, Vero tidak sendirian. Di sebelah pria itu duduk seorang pria bertubuh gempal dengan tato memenuhi leher dan bahunya, menatap Bella dengan seringai lebar yang membuat bulu kuduknya meremang seketika.
"Bella! Sini, Sayang!" panggil Vero riang, langsung berdiri dan merangkul pinggang Bella begitu gadis itu mendekat. "Kenalin, ini Om Broto, partner bisnis aku yang baru."
"Halo, manis. Vero sering banget cerita tentang pacarnya yang cantik ini," sapa Broto dengan suara serak yang menjijikkan, tatapannya menyapu seluruh lekuk tubuh Bella dari atas ke bawah dengan cara yang sangat tidak sopan.
Bella merasa risih luar biasa, namun ia menepis rasa itu dan menatap tajam ke arah Vero. "Kamu ke mana aja, Ver? Kenapa pesan aku nggak pernah dibalas selama ini?"
"Udah, jangan bahas itu dulu. Malam ini kita seneng-seneng aja ya," potong Vero cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia mendorong sebuah gelas berisikan cairan berwarna amber ke hadapan Bella. "Nih, minum dulu biar rileks."
Bella menggeleng tegas, mundur setengah langkah. "Aku nggak mau minum alkohol lagi, Ver. Kejadian kemarin udah cukup buat aku kapok."
Wajah Vero seketika berubah dingin. Senyuman manis di bibirnya lenyap, berganti dengan ancaman halus yang menusuk. "Kalau kamu nggak mau minum sama aku dan Om Broto, berarti malam ini kita sudahi saja hubungan kita, Bella. Buat apa pacaran kalau nggak sefrekuensi dan nggak bisa nurut sama pasangan?"
Mendengar ancaman putus itu, rasa takut langsung menghantam dada Bella telak. Ia merasa tidak sanggup jika harus kehilangan Vero setelah semua pengorbanan dan uang yang telah ia berikan. Dengan tangan yang masih gemetar, Bella mengambil gelas tersebut dan meneguk isinya sekaligus hingga tandas.
Cairan itu terasa membakar tenggorokannya. Namun anehnya, selang beberapa menit kemudian, rasa panas itu mendadak berubah menjadi sensasi melayang yang aneh dan menyenangkan. Kepalanya mendadak pening, denyut nadinya berpacu menggila, dan kesadarannya mulai kabur. Tanpa Bella sadari, minuman yang ia teguk ternyata telah dicampur dengan zat terlarang oleh Broto dan Vero.
"Wah, anak pintar!" puji Broto sambil tertawa terbahak-bahak melihat perubahan drastis pada diri Bella yang mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Pengaruh obat bius dan alkohol membuat pertahanan diri Bella runtuh total. Senyuman bodoh dan hampa terbit di bibirnya. Ia tertawa tanpa alasan yang jelas, lalu bangkit dari kursi dan berjalan sempoyongan menuju ke tengah kerumunan orang-orang yang berdansa di lantai dansa.
Di bawah pendar lampu sorot warna-warni, Bella mulai berdansa liar tanpa arah. Ia menggeliat mengikuti irama bass yang menghentak, melepaskan jaket hoodie-nya dan membuangnya begitu saja ke lantai, menyisakan tanktop ketat berpotongan rendah dan celana pendek yang melekat erat di tubuhnya.
Melihat pemandangan itu, beberapa pria asing di lantai dansa langsung mengerubunginya, menatap penuh birahi serta meraba pinggang dan tangan Bella tanpa izin.
Alih-alih melindungi kekasihnya dari pelecehan tersebut, Vero justru tersenyum menyeringai penuh kemenangan ke arah Broto.
"Dia liar juga ya, Ver," kata Broto sambil meletakkan segepok uang tunai pecahan besar di atas meja. "Kalau aku mau bawa dia semalaman ke kamar hotel, berapa harganya?"
Vero melirik segepok uang tunai tersebut dengan mata yang berbinar penuh keserakahan. Harga diri dan kehormatan Bella seolah tak ada artinya lagi di mata pria bajingan itu. Ia berdiri dari kursinya, lalu berbicara lantang dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh orang-orang di sekitar meja VIP dan lantai dansa.
"Dengar semuanya! Gadis ini masih murni, masih polos, dan harganya tentu sangat mahal!" seru Vero tanpa secercil rasa bersalah, melambaikan tangan menunjuk ke arah Bella yang sedang berjoget di tengah kerumunan. "Bagaimana kalau kita lelang saja malam ini? Siapa yang bayar paling mahal, dia yang berhak membawanya!"
Ucapan gila itu kontan menarik perhatian puluhan pria hidung belang di sekitar area VIP. Sorak-sorai riuh dan siulan nakal langsung menggema.
"Wah, seru nih! Aku tawar sepuluh juta tunai sekarang!" teriak seorang pria berjas acak-acakan dari meja sebelah.
"Dua belas juta dari saya!" sahut pria bertubuh kekar tak mau kalah, mengangkat gepokan uang dari dompetnya.
"Empat belas juta!" timpal yang lain dengan mata menyala-nyala penuh nafsu.
Broto tertawa terbahak-bahak melihat antusiasme para pengunjung yang berebut menawar kekasih temannya sendiri. Sementara itu, di tengah kerumunan yang riuh rendah, Bella terus meliukkan tubuhnya dengan liar, benar-benar tidak sadar bahwa dirinya tengah dilelang bagaikan barang murahan oleh kekasih yang sangat dicintainya.
Namun, di tengah hiruk-pikuk dan teriakan penawaran harga yang semakin menggila, sesosok pria berbadan tegap dengan napas memburu mendadak menerobos kerumunan orang-orang yang berdesakan.
Sorot mata pria itu memancarkan amarah yang luar biasa membara saat melihat adiknya sendiri—Arabella—dipermalukan, setengah telanjang, dan dijadikan objek lelang murahan di hadapan para pria hidung belang.
Pria itu adalah Nathan—kakak Bella yang baru saja tiba kembali di Jakarta setelah menyelesaikan dinas luar kotanya.
"Vero!" bentak Nathan dengan suara menggelegar penuh amarah yang sanggup menembus kebisingan musik club.
Vero yang menoleh dan mendapati kehadiran Nathan seketika memucat pasi. Darahnya seolah berhenti mengalir. Tanpa pikir panjang dan diliputi rasa takut setengah mati akan dibunuh oleh kemurkaan keluarga besar Allegra, Vero langsung berbalik dan berlari kencang menerobos kerumunan orang, meninggalkan Bella yang masih tertawa-tawa kehilangan kesadaran di tengah lantai dansa.
Nathan langsung menyambar tubuh adiknya, melepaskan jaket tebal yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Bella yang setengah telanjang, lalu menyeret gadis itu keluar meninggalkan tempat terkutuk tersebut dengan amarah yang siap meledak kapan saja.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang