Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 8
Nadia melangkah masuk kedalam rumah setelah keluar dari mobil Rara. Rumah terasa sepi. Ternyata sesepi ini rasanya ditinggal suaminya keluar kota.
Baru pertama kali ini ia merelakan Rio pergi keluar kota. Sebelumnya, setiap suaminya pergi, ia selalu diajak. Namun, kondisi yang dialami suaminya saat ini berbeda. Semuanya serba mendadak. Suaminya itu pergi pagi tadi tepat sehabis subuh.
Ia ikhlas untuk ditinggal sementara waktu oleh Rio. Ia tahu kalau ini resiko jadi istri seorang dokter. Kemampuan suaminya di butuhkan oleh orang banyak, yang sangat berharap bisa kembali sehat dan bahagia dalam hidup.
Suasana mulai semakin gelap. Matahari sudah tenggelam dan bulan perlahan merangkak naik. Lampu luar rumah sudah dinyalakan Nadia, begitu juga yang ada didalam, kecuali lampu dilantai 2 dan didalam kamarnya.
Lantai 2 jika terlihat dari luar tampak gelap. Ia memang sengaja tidak menghidupkan lampu disana. Lantai 2 terdapat 2 kamar tidur. Kamar yang tidak ada pemiliknya. Demi menghemat listrik, akhirnya ia memutuskan tidak menyalakan lampunya.
Jam dinding menunjukkan pukul 7 malam. Beberapa menit yang lalu ia baru saja selesai makan. Kini ia berada di ruang tamu, duduk di sofa ditemani tontonan berita ditelevisi. Sesekali ia juga memindah channel ke sebuah tontonan drama.
Seketika ia teringat untuk mengabari 2 karyawan toko kuenya, bahwa mulai besok toko kembali dibuka setelah sehari kemarin, ia berduka dengan meninggalnya ibunya. Ia lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di meja depannya. Mencari nomer karyawannya dan segera menghubunginya. Setelah pesannya tersampaikan ia letakkan kembali ponselnya.
Beberapa menit kemudian ponselnya berdering. Sebuah nama tampak dilayarnya yang seketika menyala dan bergetar bebarengan. Ternyata panggilan itu dari suaminya, Rio. Ia pun segera mengangkat panggilan itu.
Selamat malam, sayang
"selamat malam juga, mas," jawab Nadia.
Aku ganti ke video call aja ya
"iya mas boleh," jawab Nadia lembut.
Yang tadinya panggilan suara kini berubah jadi panggilan video. Wajah suaminya tampak dilayar ponsel.
Gimana kamu baik-baik aja kan aku tinggal ?
"aku nggak apa-apa. Tapi rumah jadi sepi," kata Nadia.
Yah mau gimana lagi. Sekali lagi aku mintaaa maaf. Semua harus serba mendadak. Ngomong-ngomong kenapa kamu nggak ajak adik kamu ke rumah. Buat nemenin kamu.
"dia nggak mau. Dia maunya tinggal di apartemen aja," jawab Nadia.
Oh gitu. Tahan sebentar ya kangennya. Aku janji, setelah aku pulang kita jalan-jalan berdua.
Rio memberikan senyuman tulus. Hal itu memancing Nadia untuk membalas senyumnya.
Ia kembali teringat satu obrolannya dengan Rara didalam mobil, saat ia diantarkan pulang. Adiknya bertanya, apa bisa tinggal bersama dirinya dirumah ini.
"eh mas, tadi Rara tanya. Boleh nggak dia tinggal dirumah kita ?," tanya Nadia menatap Rio.
memang kenapa adikmu tanya begitu ?
"katanya, Rara mau pindah ke apartemen yang harga sewanya lebih murah, jadi untuk sementara waktu dia mau tinggal bersama kita," jawab Nadia.
Lalu nasib rumah peninggalan papa sama mama kamu gimana ? Jadi dijual ?
"Keputusannya jadi. Aku tadi sudah diskusi sama Rara. Kita sepakat rumah itu dijual dan nanti uangnya kita simpan sebagai dana darurat," jawab Nadia.
oh gitu. Kalau kamu sendiri, keberatan nggak adik kamu tinggal serumah dengan kita ?
"kalau aku terbuka aja mas. Aku nggak keberatan. Soalnya kan dia adik aku, nggak bagus kalau aku nolak dia tinggal serumah," jawab Nadia
"kamu kan juga tahu mas kalau aku sama Rara agak renggang. Harapan aku setelah kita tinggal bareng, aku bisa kembali akrab dan nggak debat terus," tambahnya setelah menghela napas sebelumnya.
"menurutmu gimana mas ? Kamu keberatan Rara tinggal disini ?" tanya Nadia berharap ada keputusan pasti.
Kalau memang kamu nggak keberatan, aku juga nggak masalah kalau adik kamu tinggal bareng kita. Aku juga berharap yang sama. Kamu bisa memperbaiki hubunganmu dengan adik kamu. Semoga tidak ada lagi debat seperti tadi malam.
"terima kasih ya mas, udah pengertian sama kondisi aku," jawab Rara dengan senyuman.
Mulai kapan dia pindahnya ?
"besok tergantung dia. Bisa pagi, siang, sore, bisa juga malam. Habis ini nanti aku kabarin dia," jawab Nadia.
Nadia kemudian bertanya pada suaminya. Pertanyaan yang ingin ia tanyakan diawal namun terasa tertahan dan belum sempat ia ucapkan. Ia bertanya dimana suaminya melakukan panggilan video, setelah sedari awal ia melihat Rio menggunakan jas putih bersih dan di ruangan yang tampak bersinar terang.
Kini topik pembicaraan telah berubah. Mereka tak lagi membicarakan adiknya yang ingin tinggal bersama. Namun, bergeser ke apa yang sedang dilakukan suaminya di rumah sakit luar kota.
Tepat pukul 20.30, Nadia mengakhiri panggilan dengan suaminya tersayang. Setelah itu ia menelpon Rara. Nadia memberikan kabar ke adiknya, kalau ia boleh tinggal bersama di rumah ini. Kapan pindahnya tergantung adiknya, Nadia tidak memaksa untuk segera pindah.