"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Tidak Mengenal Persis
"Dasar pria arogan," kata Lily dengan begitu geram akan menendang Lucas yang jalan di depannya.
"Jangan Nyonya," kata bodyguard mencegah Lily bahkan memegang kaki Lily yang hampir mengenai Lucas.
"Ihhhhhh," sebal Lily.
"Kami permisi Tuan, Nyonya," kata beberapa bodyguard setelah menaruh semua barang-barang yang tadi Lily beli di atas meja.
"Om, ini minuman untuk Om," kata Lily yang sedang membuka belanjaannya lalu mengantarkan 3 kaleng minuman untuk bodyguard itu.
"Terima kasih, Nyonya," kata bodyguard itu menerima dan segera keluar.
Lucas duduk bersandar ke sandaran sofa lalu mengeluarkan sebotol wine dari laci dan menuangkannya ke gelas.
"Lily, aku ingin bicara serius dengan kamu, duduk di sini," kata Lucas pada Lily yang masih sibuk unboxing barang-barang yang dibelinya.
"Apa Kak?" tanya Lily berjalan sambil memakan sebungkus snack yang dipegangnya.
Lucas membuka dompetnya dan menaruh satu kartu di atas meja, tepat di hadapan Lily.
"Di dalam kartu itu ada 3 Triliun," kata Lucas.
"Wahhhh, terima kasih Kak," kata Lily mengambil dengan sangat senang sampai meronta-ronta.
Ada senyum tipis di bibir Lucas melihat Lily yang sangat kesenangan memegang kartu itu dan akan kembali berjalan ke dapur untuk menata barang-barang yang tadi dibelinya.
"Kamu baru bisa memakainya di umur 21 tahun," sambungan ucapan Lucas membuat Lily langsung berbalik kembali menghampiri Lucas.
"Lah kok gitu, masa baru bisa digunakan 1 tahun lagi," kata Lily karena umurnya baru 20 tahun.
"Anak di bawah umur seperti kamu sangat labil dalam menggunakan uang, jadi tunggu usia kamu cukup," kata Lucas.
"Om Lucas, anak di bawah umur itu di bawah 18 tahun Bu...." ucapan Lily langsung dipotong Lucas.
"Kalau aku bilang 21 tahun kenapa?" tanya Lucas seenaknya.
"Mmmmh, terus Lily jajan pakai apa?" tanya Lily dengan kaki melemas.
"Itu uang mahar yang kamu minta, untuk uang jajan akan aku kasih," kata Lucas.
"Ooooo, beda," kata Lily langsung full senyum.
"Jika tidak patuh, kamu tidak akan dapat uang jajan," kata Lucas berjalan menuju ruang kerjanya.
"Mmmmh, kalau Kak Lucas pelit aku minta Daddy aja," kata Lily dengan gampangnya kembali merapikan belanjaannya.
"Daddy sudah membekukan semua kartu kamu, jadi sumber uang kamu cuma aku," kata Lucas yang berjalan semakin cepat begitu Lily mengejarnya.
"Hwaaaa, nggak bisa gitu dong," komplain Lily berdiri di hadapan Lucas agar pria itu berhenti berjalan.
"Kenapa tidak bisa, apa setelah punya suami kamu masih meminta Daddy menafkahi kamu?" tanya Lucas.
"Tentu saja, aku kan putrinya, cuma satu lagi, kalau bukan aku yang menghabiskan uangnya siapa lagi," kata Lily memangku kedua tangannya.
"Ooooo, jadi ini alasan kamu selalu foya-foya?" tanya Lucas bersandar ke dinding memandang Lily.
"Tentu saja," kata Lily dengan gampangnya.
"Kak Lucas kalau nggak sanggup biayain hidup aku, bilang aja sama Daddy untuk aktifkan kartu aku lagi," kata Lily yang kalau belanja memang tidak bisa sedikit.
"Jika aku tidak mampu, aku tidak akan menikahi kamu, paham," ucap Lucas dengan senyum kecutnya.
"Mmmmh, biaya hidup nggak seberapa pakai nanya aku sanggup apa tidak? Untuk menghidupi kamu dengan segala kebiasaan foya-foya kamu itu tidak mengurangi secuil hartaku," kata Lucas dengan begitu arogan kembali berjalan melewati Lily.
"Ihhhhh, dasar sombong," teriak Lily melepas sandalnya dan melempar Lucas.
.....
"Lucas itu benar-benar pria sombong, dingin dan mulutnya sangat kurang ajar bahkan pedas seperti cabai," Lily yang sedang menyusun minuman kaleng ke kulkas terus mengumpat pada Lucas.
"Bisa-bisanya dia bilang biaya hidup Lily nggak seberapa, Lily bakal habisin uang dia sampai pria arogan itu miskin," semakin lama semakin kesal Lily mengingat setiap perkataan Lucas yang menyakitkan.
"Aku juga heran sama Daddy, padahal dia tahu kami tidak akur sejak dulu tapi kenapa malah menjodohkan kami, kan banyak anak temannya yang lain," ucap Lily yang jujur saja benar-benar tidak tahu persis orang seperti apa Lucas itu.
Setelah 14 tahun berlalu mereka baru bertemu sekarang, itu pun langsung dinikahkan tanpa punya banyak waktu untuk saling mengenal.
"Kira-kira pernikahan ini bakalan bertahan berapa lama ya?" tanya Lily yang merasa pernikahan mereka tidak jelas arah dan tujuannya selain memenuhi keinginan orang tua yang menjodohkan mereka.
.......
Hampir jam 7 malam Lily mengetuk pintu ruang kerja Lucas, karena pria itu sejak masuk siang tadi belum keluar sampai sekarang.
"Masuklah," ucap Lucas yang masih sibuk mengetik di laptopnya.
"Kak, ayo makan Lily sudah pesan makanan," kata Lily.
"Kamu memesan makanan?" tanya Lucas mengalihkan tatapannya dari laptop pada Lily yang berdiri dengan kedua tangan ke belakang itu.
"Iya, kalau masak sendiri kan nggak bisa," ucap Lily.
"Jadi apa yang kamu bisa, menghabiskan uang?" tanya Lucas menyimpan data lalu menutup laptopnya.
"Tentu saja, emang kayak Kakak kerja dari pagi sampai malam tapi untuk menikmati hidup saja tidak bisa," kata Lily berjalan keluar beriringan dengan Lucas.
"Jika tidak punya uang, lalu apa yang akan aku nikmati? Kamu," ucap Lucas yang sudah duduk di meja makan mengangkat sebelah alisnya.
Plakkkk
"Kakak, diam-diam mesum juga," ketus Lily yang berdiri menuang sup ke mangkok itu langsung menampar lengan Lucas.
"Salah aku tertarik pada wanita?" tanya Lucas yang membuat Lily langsung merinding.
Bukan mengapa, Lucas terkenal sebagai pria yang arogan dan dingin pada wanita, apa nggak merinding tiba-tiba dia mengatakan tertarik pada wanita.
"Kakak tertarik pada wanita soal yang mana, untuk disiksa atau mutilasi?" kata Lily menatap Lucas dengan tatapan ngeri.
"Aku ingin eksekusi Lily," kata Lucas.
"Akkkkh," teriak Lily langsung lari begitu Lucas akan menyentuh tangannya.
"Hehhhh, berikan sendoknya, aku ingin mencicipi kuah bakso," kata Lucas pada Lily yang berdiri di sudut ruangan memegang sendok makan.
"Masih kecil, pikiran negatif banget," ucap Lucas mengetuk-ngetuk pelipis Lily dengan telunjuk lalu segera mengambil sendok yang dipegangnya.
Setelahnya mereka makan dalam diam, namun sangat menikmati makanannya.
"Kalau di luar negeri Kak Lucas juga tinggal sendiri di apartemen?" tanya Lily yang selama ini tidak pernah tahu kabar Lucas.
"Aku tinggal di rumah bersama beberapa pelayan dan asistenku," jawab Lucas apa adanya.
"Sekarang, seluruh aset dan perusahaanku di luar negeri sedang dalam tahap pemindahan ke ibu kota, mungkin butuh waktu sebulan," sambung Lucas.
"Mmmm, jadi Kak Lucas nggak bakalan balik tinggal di luar negeri lagi ya?" tanya Lily dengan polos.
"Memangnya kamu mau aku tinggal, kita LDR-an?" tanya Lucas.