NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Duda
Popularitas:45.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.

Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Nadia berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman depan, memegang ponselnya yang bergetar. Nama sang ibu, Mayang, tertera di layar.

Nadia menarik napas panjang lalu mengangkat telepon itu.

"Halo, Bu," sapa Nadia pelan.

"Nadia! Mobilnya kapan dibelikan?" suara Mayang langsung menyambar dari seberang telepon.

Nadia memejamkan mata sejenak, memegang erat ponselnya. "Kapan Nadia bilang setuju? Aku nggak akan minta mobil sama Mas Arvin. Di rumah kan masih ada motor yang aku belikan buat Ibu? Pakai itu aja dulu, masih bagus kan?"

"Aduh, Nadia! Kamu kok malah perhitungan sama Ibu sendiri?" sahut Mayang dengan nada tinggi. "Masa ibumu cuma disuruh naik motor, padahal suamimu orang kaya? Tinggal minta aja apa susahnya sih!"

Nadia menahan emosi yang mulai naik. "Kalau Ibu memang mau banget mobil, ya Ibu aja yang minta langsung sama Mas Arvin," ucap Nadia tegas. "Aku nggak mau dan nggak akan pernah minta-minta begitu."

"Nadia! Kamu durhaka ya?!" bentak Mayang. "Masa nyuruh Ibu mengemis sama menantu? Kamu kan istrinya, tinggal ngomong sedikit pasti dikasih!"

"Aku bukan penurut semua kemauan Ibu," potong Nadia pelan tapi menohok. "Kalau Ibu nggak malu, silakan omong sendiri sama Mas Arvin."

Nadia langsung mematikan telepon. Ia memejamkan mata dan memeluk dirinya sendiri, berusaha menenangkan dadanya yang terasa makin sesak.

Belum sempat emosinya reda, suara langkah kaki terdengar mendekat dari belakang.

Arvin sudah berdiri di sampingnya dengan kemeja rapi dan selembar dasi di tangan.

"Tolong pasangkan dasi saya, Nadia," ujar Arvin menyodorkan dasinya.

Nadia mengalihkan pandangan. "Aku nggak bisa pasang dasi, Mas."

"Saya ajari," balas Arvin tenang.

Nadia berniat bergeser untuk pergi, tapi dengan sigap Arvin maju melangkah, mengunci posisi Nadia di depan jendela.

Mau tidak mau, Nadia mengambil dasi itu. Tangannya perlahan merapikan kain di kerah kemeja Arvin, mengikuti petunjuk pelan yang dibisikkan pria itu dari jarak yang begitu dekat.

Suasana sempat hening sejenak, sampai Arvin akhirnya bersuara.

"Ibu minta apa tadi?" tanya Arvin menatap lurus mata Nadia.

Nadia tersentak. Tangannya terhenti di simpul dasi, lalu mendongak menatap Arvin.

"Mas menguping?"

Arvin menggeleng pelan dengan raut wajah tenang. "Saya tidak menguping, Nadia. Tapi suara telepon kamu tadi lumayan keras, dan ekspresi muka kamu tidak bisa bohong kalau kamu sedang tertekan. Kalau ada masalah dengan Ibu, cerita sama saya. Jangan dipendam sendiri."

Nadia menunduk sedikit, merasa canggung. "Itu cuma masalah kecil, Mas... aku nggak mau bebani kamu."

"Kamu istri saya, Nadia. Masalah kamu itu urusan saya juga," potong Arvin lembut. Ia lalu memegang jemari Nadia yang terhenti di kemejanya. "Ternyata kamu cantik juga kalau tidak pakai jilbab."

"Baru nyadar?" sahut Nadia refleks.

Arvin tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. Tangannya terangkat, mengelus rambut Nadia lalu menyelipkannya ke belakang telinga, hingga jemarinya tak sengaja menyentuh pelan leher jenjang Nadia.

Kaget karena sentuhan mendadak itu, Nadia refleks menarik dasi Arvin dengan kencang!

Srett!

"Agh....uhuk!" Arvin tersedak keras, matanya melebar karena simpul dasi di lehernya mendadak terikat sangat kuat.

"Eh! Mas Arvin! Maaf, Mas! Maaf!" Nadia panik setengah mati, buru-buru melonggarkan ikatan dasi itu.

"Mas baik-baik saja? Maaf banget, Mas, aku nggak sengaja!" tanya Nadia cemas, raut wajahnya panik.

Arvin mengusap lehernya perlahan, lalu menatap Nadia dengan seulas senyum tipis. "Saya tidak apa-apa, Nadia. Cuma kaget saja... refleks kamu kuat juga ya."

Nadia menggigit bibir bawahnya, memalingkan wajah canggung. "Lagian Mas Arvin sih, ngapain mendadak pegang-pegang leher... kan aku kaget."

Arvin terkekeh pelan. "Iya, maaf. Saya yang salah. Tapi terima kasih ya, sudah dipasangkan dasinya."

Arvin mengambil langkah hendak pergi ke pintu utama, namun ia mendadak menghentikan langkahnya. Pria itu berbalik menatap Nadia.

"Can I get a morning kiss?" tanya Arvin santai.

Nadia seketika melotot lebar, kaget bukan main. "Mas... ini masih pagi, ya! Nanti kamu terlambat!"

"Bukannya kita mau memperbaiki pernikahan ini?" balas Arvin santai seraya melipat tangan di dada. "Kita sudah menikah tiga minggu, tapi satu kiss saja saya belum pernah dapat."

Nadia yang malu tak mau menuruti permintaan itu dan berniat segera pergi membalikkan badan. Namun dengan cepat, Arvin menahan tangan Nadia lalu menariknya hingga jatuh ke atas kasur. Tanpa memberi jeda, Arvin mencondongkan tubuhnya dan mencium bibir Nadia.

Nadia terbelalak kaget, terhenyak dalam dekapan hangat suaminya.

Klek!

Pintu kamar mendadak terbuka lebar. Kenzo berdiri di ambang pintu dengan tas sekolah di punggungnya.

"Bunda... kok lama banget turunnya? Kenzo udah..." Kalimat Kenzo terhenti seketika.

Melihat ayahnya berada di atas ibunya di kasur, Kenzo berpikir ibunya sedang disakiti. Wajah kecilnya langsung merah padam karena marah. Ia berlari cepat menghampiri kasur dan memukul-mukul kaki Arvin dengan tangan mungilnya!

"Papa jangan apain Bunda! Lepasin Bunda! Papa nakal!" teriak Kenzo kesal sambil menarik-narik baju Arvin.

Arvin tersentak dan buru-buru menarik diri, terduduk canggung di tepi kasur sambil mengusap tengkuknya. Sementara Nadia dengan panik merapikan baju dan rambutnya dengan wajah merah padam.

"Kenzo... sayang, ini bukan seperti yang Kenzo pikirkan..." ujar Nadia gugup, berusaha menenangkan putranya.

Arvin terbatuk canggung, mencoba bersikap seolah tak terjadi apa-apa meski wajah kaku yang biasanya dingin kini menampakkan rona tipis.

Melihat Arvin seluwes ini mencairkan suasana, dada Nadia berdesir aneh. Rasanya sukar dipercaya. Baru dua hari lalu mereka bertengkar hebat hingga Nadia berteriak histeris dan menuntut cerai di ruangan ini. Namun pagi ini, Arvin seolah menjadi pria berbeda.

"Kenzo, Papa tidak apa-apakan Bunda. Papa cuma..." Arvin menggantung kalimatnya, bingung mencari alasan untuk anak TK seperti Kenzo.

"Bohong! Orang Papa nindih Bunda gitu!" potong Kenzo galak, merentangkan tangan di depan Nadia. "Bunda tadi sampai kaget! Papa nakal, Kenzo aduin Bang Damian sama Bang Jovan nih!"

Nadia yang masih berlutut di atas kasur tak sanggup menahan malu. Wajahnya memerah bagai kepiting rebus. Ia mengusap lembut bahu Kenzo.

"Kenzo, Sayang... dengerin Bunda dulu," bujuk Nadia halus, menarik lembut tangan Kenzo.

"Papa nggak jahat. Tadi Papa cuma mau pamit berangkat kerja, terus Bunda kepeleset makanya dibantu Papa."

Kenzo mendongak, menatap Nadia curiga. "Beneran kepeleset? Kok mukanya Bunda merah banget?"

Arvin berdeham pelan, lalu berlutut menyamakan tinggi dengan Kenzo.

"Papa minta maaf ya kalau bikin Kenzo kaget," ujar Arvin.

"Papa tidak pernah ada niat menyakiti Bunda. Papa sayang sama Bunda, sama seperti Kenzo sayang sama Bunda."

Kenzo menatap ayahnya lama. Perlahan, pertahanan bocah TK itu melunak, walau bibirnya masih cemberut.

"Beneran sayang? Papa janji nggak bikin Bunda takut lagi?" tuntut Kenzo menyorongkan jari kelingkingnya.

Arvin tersenyum tipis, Arvin menyambut kelingking Kenzo. "Papa janji."

"Ya udah. Sekarang Bunda ikut Kenzo turun, sarapan!" tegas Kenzo menarik jemari Nadia, masih melirik protektif ke arah ayahnya.

Nadia tertawa kecil menutupi canggung, lalu berdiri merapikan pakaiannya. Sebelum keluar kamar, Nadia sempat menoleh ke arah Arvin.

Pandangan mereka bertemu. Arvin mengulas senyum tipis seraya berbisik tanpa suara, "Hutang ciumannya belum lunas."

Nadia mendelik pelan, lalu bergegas menuntun Kenzo keluar kamar untuk menghindari jantungnya yang kembali berdebar.

1
Sri Supriatin
Deg2an taunya mimpi🤭cepet sembuh Nadia n tks upnya thor👍👍😍😍😍
Ariany Sudjana
semoga Nadia lekas sembuh
utama
semoga Nadia cepat sembuh seperti sediakala🤲
lanjut up kak
Ariany Sudjana
semoga Nadia mendapatkan penanganan terbaik dan lekas sembuh
Ariany Sudjana
kalau Kenzo ikut, bukan honey moon namanya 🤣🤣🤭🤭
English Lesson
next kk😍😍😍
Fitri Yah
oh .. ferdunan beda agama toh
Fitri Yah
lanjutt lagi kaaa ... terima kasih sdh up banyak
utama
yang sabar Kenzo, bentar lagi adek kamu mau otw🤭
lanjut up kak
utama
lanjut up kak
vita
makasih kak buat ceritanya d tunggu kelanjutannya 💪💪💪
Fitri Yah
iya ajaklah nadya honeymoon, jg anak2mu mas arvin sekalian libur keluarga , pasti anak2 senang .. liburan bareng bunda sama ayahnya 😍
utama
terimakasih sudah up kak🥰
English Lesson
😍😍😍
English Lesson
next kk😍😍😍
Sri Supriatin
Nadia balik n Hana dapat baba😍😍😍🙏🙏🙏
vita
penasaran sm sikap damian nantinya sm nadia, pasti ada rasa takut ya
utama
Alhamdulillah akhirnya Nadia balik lagi kerumah,
sudahlah Ajeng mengalah saja demi si princess Hanna🤭
lanjut up kak
Iffanaya 😽
jgn² Ajeng jodoh nya Ferdinand 🤭
Fitri Yah
dah plg nad ... kasian anak2 di rumah sm suamai kamu. kan dr rumah hanya 1 jam ke rumah ajeng. next main2 lg ke rumah ajeng ajan kenzo jg kl bosen dirumah ya nad hehe .. pasti suamimu ngizinin ko hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!