NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:810.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 - Hitung-Hitungan

Keputusan Ratna menggugat cerai membuat rumah itu tidak lagi tidur.

Malam berganti pagi, tetapi setiap orang seperti membawa sisa kalimat di kepala masing-masing. Bambang tidak keluar dari kamar belakang sampai matahari tinggi. Melati pulang dengan mata bengkak. Dimas menginap di sofa ruang tengah, katanya untuk berjaga-jaga kalau Bambang membuat keributan. Raka tidur di lantai depan kamar ibunya, hanya beralas tikar.

Ratna bangun sebelum subuh seperti biasa.

Ia membuat air panas, menanak nasi, lalu berhenti di depan kompor.

Untuk siapa ia memasak?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat tangannya diam cukup lama.

Selama puluhan tahun, jawabannya selalu jelas. Untuk Bambang. Untuk anak-anak. Untuk cucu yang datang. Untuk siapa pun yang mampir. Ratna memasak karena rumah harus hidup, dan rumah hidup karena ia bergerak.

Pagi itu, ia hanya membuat bubur untuk dirinya sendiri.

Raka masuk ke dapur, rambutnya acak-acakan.

"Bu, aku bisa beli sarapan."

"Tidak perlu. Bubur cukup."

"Bapak?"

Ratna mengaduk bubur. "Kalau lapar, dia tahu warung."

Raka terdiam, lalu tersenyum kecil.

"Aku suka Ibu versi ini."

Ratna meliriknya. "Jangan terlalu suka. Ibu juga masih belajar."

Raka mendekat dan mencium punggung tangan ibunya. "Belajarnya telat tidak apa-apa."

Ratna hampir menangis, tetapi menahan.

Setelah sarapan, Dimas membuka pembicaraan serius. Ia membawa map baru, buku catatan, dan daftar dokumen yang menurutnya perlu disiapkan.

"Bu, kalau mau menggugat cerai, kita perlu akta nikah asli, KTP, KK, bukti-bukti perselingkuhan, bukti transfer, dokumen rumah, sertifikat tanah, rekening, dan kalau mau sekalian gugat harta bersama, harus lebih rapi."

Ratna duduk di ruang tengah, mendengarkan.

Raka menyandarkan punggung ke kursi. "Gugat semua."

Dimas menggeleng. "Tidak sesederhana itu. Kalau semua dimasukkan, proses bisa lebih panjang. Kadang lebih baik cerai dulu, harta bersama kemudian."

"Bapak nanti keburu pindahkan aset."

"Makanya kita amankan dokumen."

Ratna bertanya, "Rumah untuk Sari?"

Dimas membuka lembar catatan. "Aku sudah cari tahu dari nomor agen yang ada di fotokopi. Statusnya masih pembayaran uang muka dan cicilan awal. Belum balik nama. Kita bisa minta dibatalkan, tapi uang muka mungkin dipotong."

Raka berkata, "Potong dari bagian Bapak."

Dimas menatapnya. "Itu bisa jadi argumen."

"Bukan argumen. Harus."

Ratna mendengarkan kedua anaknya seperti mendengar orang membahas pasien rumit. Ada diagnosis, ada pilihan tindakan, ada risiko.

Hidupnya berubah menjadi perkara yang harus dihitung.

Ia tidak menyukai itu.

Tetapi ia tahu perhitungan diperlukan. Bertahun-tahun ia menghindari konflik karena mengira kebaikan akan cukup. Ternyata kebaikan tanpa batas membuat orang lain mudah mengambil.

Bambang keluar dari kamar belakang saat Dimas sedang menyebut sertifikat rumah.

"Kalian sudah seperti calo tanah."

Dimas menutup buku catatannya. "Kami sedang memastikan hak Ibu."

"Hak ibumu tidak akan aku makan."

Raka tertawa. "Rumah Sari dibayar pakai daun?"

Bambang menatap Raka penuh benci. "Kamu jangan ikut campur."

"Aku anak Ibu."

"Kamu juga anakku."

"Maka aku malu dua kali."

Bambang hendak membalas, tetapi Ratna berkata, "Duduk. Kita memang harus bicara soal harta."

Bambang menatapnya tajam. "Jadi ini akhirnya? Uang?"

Ratna menggeleng. "Tidak. Ini akibat."

"Kamu mau menguras aku?"

"Apa yang bisa kukuras darimu, Bang? Sebagian besar yang ada di rumah ini justru berasal dari kerja kita bersama. Bahkan seringnya dari kerjaku."

Bambang tertawa sinis. "Sekarang kamu merasa paling berjasa."

"Aku tidak merasa. Aku mengingat."

Dimas membuka kembali catatan. "Pak, rumah ini dibangun setelah menikah. Sertifikat atas nama Bapak, tapi termasuk harta bersama. Klinik juga berdiri di lahan rumah. Tabungan selama pernikahan termasuk harta bersama. Kalau Bapak memakai uang itu untuk Bu Sari, Ibu berhak meminta penggantian."

"Kamu pengacara?"

"Bukan. Tapi aku bisa membaca."

Raka menambahkan, "Dan kalau perlu, kita pakai pengacara sungguhan."

Bambang memandang Ratna. "Kamu biarkan anak-anakmu mempermalukan aku?"

Ratna menjawab, "Aku membiarkan mereka membelaku. Rasanya baru kali ini."

Dimas menunduk, tersentuh sekaligus malu.

Bambang menggenggam sandaran kursi. "Baik. Kalau mau hitung-hitungan, kita hitung. Rumah ini atas namaku. Tanah juga atas namaku. Kamu mau cerai, silakan keluar. Nanti hakim yang putuskan."

Raka langsung berdiri. "Pak!"

Ratna mengangkat tangan. Ia menatap Bambang.

"Jadi begitu?"

Bambang terlanjur bicara, gengsinya tidak memberi jalan mundur. "Iya. Jangan pikir aku takut."

"Kamu ingin aku keluar dari rumah yang kubangun?"

"Kamu yang mau cerai."

Ratna mengangguk pelan.

Ia tidak tampak hancur. Justru ketenangannya membuat Bambang gelisah.

"Baik."

Dimas panik. "Bu, jangan langsung..."

"Tidak apa-apa." Ratna berdiri. "Aku akan pindah ke kamar klinik hari ini."

Raka langsung berkata, "Aku ikut bantu."

"Tidak perlu banyak barang. Baju beberapa stel, dokumen, obat-obatan pribadi."

Dimas berkata, "Bu, ini rumah Ibu juga. Jangan pergi seolah Ibu yang salah."

"Aku tidak pergi karena salah. Aku pergi agar bisa bernapas."

Bambang tampak kaget. Ia mungkin mengira Ratna akan memohon, akan menangis, akan berkata rumah itu miliknya juga. Ratna memang tahu rumah itu miliknya juga. Tetapi untuk saat ini, dinding-dinding rumah itu terlalu penuh dengan suara Bambang.

Ia butuh ruang kecil yang bersih dari kebohongan.

Melati datang tepat saat Ratna mengeluarkan koper kecil dari kamar.

"Bu, Ibu mau ke mana?"

"Ke klinik."

"Jangan, Bu." Melati langsung menangis. "Nanti tetangga tahu."

Ratna menatap putrinya. "Mereka akan tahu."

"Tapi kalau Ibu tinggal di klinik, orang akan bilang Bapak mengusir Ibu."

Bambang dari ruang tengah berkata keras, "Aku tidak mengusir!"

Raka menyahut, "Barusan Bapak bilang kalau Ibu mau cerai, Ibu keluar."

Melati menatap ayahnya, kecewa. "Pak..."

Bambang membuang muka.

Yuni datang membawa beberapa kantong kain. "Bu, baju-baju yang sering dipakai sudah saya lipat. Obat tekanan darah juga saya masukkan. Buku tabungan ada di tas cokelat."

Ratna menatap menantunya. "Terima kasih, Yun."

Yuni mengangguk, matanya merah. "Kalau butuh makan, saya antar."

"Tidak perlu. Klinik dekat warung."

Dimas membantu mengangkat koper. Raka mengambil map dokumen dan kotak kecil berisi perhiasan Ratna. Melati berdiri di tengah rumah, bingung harus membantu atau menahan.

Ketika Ratna berjalan menuju pintu, Bambang tiba-tiba berkata, "Ratna."

Ia berhenti.

Bambang tampak ingin mengatakan sesuatu. Mungkin minta maaf. Mungkin melarang. Mungkin menyalahkan lagi.

Yang keluar hanya, "Kamu benar-benar mau mempermalukan aku?"

Ratna menatapnya lama.

"Kamu masih mengira ini tentang kamu."

Ia berbalik dan keluar.

Di depan rumah, beberapa tetangga pura-pura menyiram tanaman, membeli sayur, atau menyapu halaman. Mata mereka mengikuti koper kecil di tangan Dimas, map di tangan Raka, dan Ratna yang berjalan tegak menuju klinik di samping rumah.

Bu Rini dari warung berdiri di ujung gang, mulutnya terbuka sedikit.

"Bu Dokter..." panggilnya pelan.

Ratna menoleh dan tersenyum.

"Klinik buka agak siang, Bu."

Bu Rini tampak ingin bertanya, tetapi tidak berani.

Ratna membuka pintu klinik. Ruangan kecil itu berbau antiseptik dan minyak kayu putih. Ada satu kamar sempit di belakang, biasa dipakai untuk istirahat jika pasien sepi. Tempat tidurnya kecil, lemari plastiknya tua, jendelanya menghadap tembok.

Raka meletakkan barang di lantai, wajahnya keras menahan emosi.

"Bu, ini tidak layak."

Ratna melihat kamar itu.

Sempit. Sederhana. Sepi.

Tetapi tidak ada foto Bambang dan Sari di sana.

"Untuk sementara cukup."

Dimas berdiri di ambang pintu, suaranya berat. "Aku akan cari pengacara."

Ratna duduk di tepi tempat tidur kecil.

"Cari yang mengerti Pengadilan Agama dan harta bersama. Aku tidak mau ribut kosong. Kalau harus selesai, selesaikan dengan benar."

Raka mengangguk. "Siap, Bu."

Di luar, suara tetangga mulai berbisik.

Ratna mendengarnya samar.

Ia tahu mulai hari ini hidupnya akan menjadi bahan pembicaraan.

Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa wajib menghentikan orang bicara.

Biarlah mereka bicara.

Ia juga akhirnya bicara.

Di meja periksa, ia menyusun dokumen satu per satu: KTP, KK, buku nikah, sertifikat, bukti transfer, dan foto-foto lama. Semua diberi label kecil dengan tulisan tangannya sendiri.

Ratna pernah mengatur obat pasien agar tidak tertukar. Sekarang ia mengatur bukti agar hidupnya tidak lagi diputarbalikkan.

1
Meysha Azzaliyah
betul jd gak sinkron, pdhl cara penulisannya sudah bagus tertata rapi, mudah dimengerti, tp knp alur jd berantakan, klo di klinik wajar ada bu rini dan Mahmud, tp ini di rumah sewa yg jaraknya 15 menit, klo tokoh bu rini harus muncul, harusnya ada cerita sebelum nya misal bu rini kesana ingin memberikan sesuatu dan tdk sengaja melihat kejadian itu
Lala lala
saya emak2 jg..feelnya dapat ini 🤭😄
Lala lala
Aku cmn heran sm hp yg ketinggalan d rumah..koq bambang bs kirim pesan, sari pun berbalas pesan di hp yg ketinggalan, bambang pake hp lain kah waktu minta ambilin paket..hp nya ada 2 atau gmn nih .
soalnya tdk dijelaskan hp ketinggalan dgn hp yg kirim peaan ambilin paket..bambang msh di t4 lain soalnya
Lala lala
jangan salah paham ya..usia 60 masih banyak koq perempuan yg molek dan kencang krna gaya fashion masa kini membuat lansia terlihat segar dlm artian yg fisiknya mmg diberkati dgn wajah awet dan tubuh ideal loh ya..(bkn emak2 gembrot ga merawat wajah dan tubuh dan fashion jadul..)
sodaraku usia 58 nikah sm sejawatnya sama2 awet muda skrg usia 60 msh kenceng bodynya..wajah awet muda jg.
Zahraputri Putri
🤣🤣🤣 bu rini
Zahraputri Putri
bu rini ikut pindah kah?🤣🤣
Suyati
adakah seperti Pak arman dlm kehidupan nyata?
Suyati
kemaren kemana aja pak bambang
Suyati
tenang banget bu Ratna y
Suyati
bu Ratna cakep sikapmu
Betty Sulasmono
berkerudung atau bersanggul?
vinn17
ayo guys boleh di baca 👍🏻
vinn17
author, buku ini bagus sekali. hangat dan mudah di baca, aku baca dalam 1 hari. Ada beberapa bagian yang menyentil sedikit, ada juga bberapa yg buat terharu sampai menangis. Ku tunggu karya selanjutnya, sukses selalu👍
Mr. AgusFy
masyaallah salut dengan kisahya meski saya loncat baca banyak hikmah yg disematkan disetiap episode tetap 💪ya thor ditunggu karya ² selanjutnya🙏🙏🙏
Anonim
cerita ini menarik krn baru kali ini ada cerita lansia kembali dilamar mikyarder biasa nya cerita ttg cantik2 yg wajah msh mulus, fresh, kenceng kulit nya tp ini cerita ttg lansia tp sayang nya komunikasi nya kaku jd terkesan semua pake bahasa yg baku dan tidak natural seperti kata2 dannkalimat nya terjemahan dari bhs asing… jd pembaca kurang rileks membacanya kaku dan tidak natural dlm kehidupan…, tegas boleh, judes jg boleh tp bukan kaku dg bhs yg baku…
Anonim
awal cerita masih masuk nalar, tp mulai ketemu Arman dan Sari selalu tau gerak gerik Ratna, cerita mulai agak aneh…, setiap ada kejadian pd Ratna, Arman sll ada begitu jg dg Sari sll tau apa gerak gerik Ratna kaya pd punya CCTV sendiri…😂
Nur Aini: namanya juga dunia halu kak
total 1 replies
Anonim
kok Sari bisa langsung tau sih ? katanya Sari tinggal nya di kampung sebelah, kok semua tentang Ratna si Sari langsung tau ya ? aneeh….
Anonim
diusia 60 thn adlh usia pensiun, dari kerja kantoran (kecuali dokter, pengacara) krn diusia itu fisik kita jg sdh tdk muda lg, tinggal menikmati hsl kerja dan menikmati hari tua dg bahagia, tp seperti dr Ratna kasus nya beda, masa tua bersama pasangan (suami) yg sehrs nya menikmati kebahagiaan, malah menjd masa tua yg menyakitkan, lbh ikhlas ditinggal mati pasangan drpd ditinggal krn perselingkuhan dan perceraian 😢
Tien Tien
merasakan rasaaanya .masuk banget ..kita ditinggal atw juta meninggalkan .semoga yg tersisa kebaikan. dan tidak ada penyesalan .
dwi sulastri
episode sebelumnya bu ratna pakai jilbab, ini kok disanggul ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!