Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJADI PANITIA AGUSTUSAN
Vallery tampak menimbang-nimbang penawaran yang Mila dan Baruna berikan kepadanya. Sebelum ia memberikan jawaban, nenek Gendhis yang baru pulang dari acara pengajian sore lebih dulu bersuara.
“Sudah, terima aja nduk. Lagian kamu kan berencana tinggal lama disini, Jika ikut kegiatan karang taruna, selain agar kamu nggak bosan juga bisa menambah teman”, celetuk nenek Gendhis.
“Iya, Vall. Aku jamin, acara Agustusan tahun ini bakal sangat seru. Kamu belum pernah kan lihat lomba-lomba Agustus yang aku sebutin tadi”, ucap Mila memprovokasi.
Sebagai orang kota yang sibuk, Mila sangat yakin jika Vallery belum pernah ikut lomba Agustusan seperti yang ia sebutkan tadi. Melihat Vallery mulai goyah, Mila pun semakin memprovokasinya dengan berbagai macam cerita mengenai keseruan merayakan Agustusan dikampung.
Mendengar semua cerita Mila, hati Vallery pun menjadi goyah. “Ok, kalau begitu. Aku mau gabung jadi panitia”, jawab Vallery yang membuat senyum Baruna dan Mila semakin lebar.
Nenek Gendhis yang mendengar keputusan cucunya pun merasa ikut senang karena pada akhirnya Vallery mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya agar tidak terbelenggu oleh kesibukan pekerjaan yang seolah tiada akhirnya itu.
“Arun, nanti kirim ke aku ya file proposal pengajuan kegiatannya, biar aku lihat jadi besok pas rapat aku bisa ngasih masukan”, ucap Vallery santai.
Baruna yang dipanggil “Arun”, sedikit terkejut, tapi ia juga merasa senang karena tak menyangka di pertemuan pertama ia sudah mendapatkan panggilan kesayangan dari Vallery.
“Arun, panggilan itu tak buruk, justru terdengar manis”, batin Baruna senang.
Mila yang melihat gelagat Baruna, berbisik lirih. “udah, jangan ke gr an karena kalau jatuh, rasanya sakit”.
Baruna mengacuhkan sindiran Mila. Baginya, selama Vallery masih sendiri, siapa saja bebas mengejarnya, termasuk juga dirinya.
Setelah adzan magrib berkumandang, karena semua hal sudah disampaikan, keduanya pun pamit undur diri.
“Besok jam sembilan aku jemput kamu untuk rapat dirumahnya Ayu”, ucap Baruna sebelum pergi dan Vallery hanya memberikan kode Ok kepada Baruna yang langsung melajukan motornya dengan hati riang.
Malam harinya, setelah mendapatkan file proposal pengajuan kegiatan Agustusan, Vallery membacanya sebentar dan memberikan beberapa koreksi serta melakukan revisi.
Besok rencananya ia akan membawa laptop beserta printer mini miliknya agar setelah direvisi, proposal bisa langsung dicetak.
Setelah selesai merevisi proposal dan menyiapkan semua yang akan ia bawa pada rapat besok pagi serta membalas pesan dari Baruna, Mila dan beberapa temannya yang ada di ibukota, Vallery pun langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal.
Sementara itu di rumah mewah bergaya minimalis dua lantai, Dirga tengah memijit celah diantara pelipisnya karena kepalanya kembali nyut-nyutan.
“Kenapa lagi aku ini?”, guman Dirga pelan.
Semula ia merasa jika mungkin tensi darah dan kolesterolnya tinggi mengingat beberapa hari terakhir ia sering makan makanan yang tidak sehat.
Tetapi setelah dicek dan dokter yang memeriksanya mengatakan jika ia baik-baik saja, semuanya normal, justru membuat Dirga menjadi semakin bingung.
Jika semuanya normal, lalu apa yang sebenarnya terjadi denganku?
Dirga masih belum sadar jika ia tengah di serang penyakit mala rindu tropi kangen karena tak berjumpa dengan sang pujaan hati selama beberapa hari tanpa tahu jika gadis cantik itu sengaja menghindar darinya ketika terpaksa keluar dari rumah karena masih takut dengan ekspresi yang ia berikan di pertemuan terakhir mereka.
.
.
.
Keesokan harinya, sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, Baruna lah yang bertugas menjemput Vallery untuk diajak rapat di rumah Ayu.
Demi bisa mendapatkan perhatian dari Vallery, Baruna tampil all out pagi ini.
Vallery yang sejak kecil tinggal di ibukota dan tumbuh di lingkungan keluarga kaya disana pada saat melihat penampilan Baruna yang sangat rapi dan necis, tak membuatnya terkejut.
Tapi hal itu tak berlaku terhadap anggota karang taruna lainnya yang pagi ini hadir dalam formasi lengkap setelah kabar jika cucu nenek Gendhis yang dikabarkan sangat cantik itu masuk kedalam susunan kepanitiaan kegiatan Agustusan dan akan datang rapat pagi ini.
Begitu motor matic Baruna tiba di depan rumah Ayu, semua orang menoleh secara serentak.
“ck, benar-benar ayu koyo bidadari turun dari kayangan”, celetuk Lutfi yang direspon anggukan dari semua orang.
“Kok onok arek wedok ayu kinyis-kinyis koyo ngene Yo…”, timpal Rohim disebelah Lutfi.
“Bener kan kataku, Vallery iku ayune Jannn…ora njamak”, ucap Idris dengan ekspresi bangga karena berkat usulan dari dirinya lah Vallery pada akhirnya bisa masuk kedalam susunan kepanitiaan kegiatan Agustusan di Desa Maju Bersama tahun ini.
Semua orang tampak terpesona oleh kecantikan Vallery, baik itu lelaki dan perempuan. Padahal hari ini Vallery hanya menggunakan celana kain berwarna coklat susu dengan blouse putih yang sedikit longgar dengan rambut diikat ekor kuda tanpa riasan hanya menggunakan bedak tipis dan lipstik tipis sudah membuat mata semua orang hampir keluar akibat terpesona.
Ayu yang merasa krisis akibat kecantikan Vallery pun segera bertepuk tangan untuk menyadarkan semua orang. “prok prok…ayo fokus, supaya rapate ndang bisa di mulai”, ucapnya.
Setelah perkenalan singkat, Vallery pun segera mengeluarkan laptopnya dan segera menunjukkan hasil revisi dari proposal penawaran menurut versinya untuk di tunjukkan secara langsung kepada semua anggota karang taruna agar bisa menghadirkan diskusi.
Vallery tak menyangka ketika diskusi dimulai, semua orang berubah menjadi serius tak seperti sebelumnya yang bersikap sangat santai, penuh dengan canda tawa.
“Jadi fix kita menggunakan proposal yang ini ya. Jika sudah fix akan segera aku cetak”, Vallery berkata sambil mengeluarkan printer mini bluetooth dan juga kertas ukuran A4 untuk mencetak proposal yang baru selesai didiskusikan.
“Apa ini printer?”, tanya Mila sambil menatap takjub benda berwarna putih didepannya.
“Ya, printer mini bluetooth. Mudah dibawa-bawa dan sangat praktis”, jawab Vallery sambil mulai mengeprint proposal yang akan diajukan pagi ini.
“Printer seperti ini pasti mahal ya?”, ucap Ayu sambil menata kertas A4 yang selesai di print untuk di jilid agar rapi.
“Murah kok, hanya satu jutaan aja”, Vallery berkata dengan sangat santai karena baginya uang sejuta itu tak berarti apa-apa karena uang jajannya saja sehari bisa lebih dari satu juta tanpa tahu semua orang hanya bisa melotot tak percaya mendengar printer harga sejuta dianggap murah oleh Vallery yang bagi banyak orang didesa, uang satu juga bisa dibuat biaya hidup satu bulan bagi keluarga biasa seperti mereka.
Vallery yang fokus pada laptopnya tak memperhatikan ekspresi semua orang yang terkejut akan ucapannya. Begitu semua data sudah di print, ia segera mengeluarkan steples besar dan juga plastik bening ukuran A4 dan juga solasi hitam yang biasanya digunakan untuk menjilid.
Melihat peralatan lengkap yang dibawa Vallery, mereka kembali terkejut karena tak menyangka jika gadis cantik itu sudah mempersiapkan semuanya.
“Lengkap sekali peralatanmu”, celetuk Idris terkejut.
“Sudah biasa, jadi kalau ada tugas mendadak nggak sampai repot cari tempat fotocopian hanya untuk nyetak data dan ngejilid”, Vallery kembali berkata dengan santai sambil memasukkan semua peralatan yang baru saja ia gunakan kedalam tas laptop miliknya dan segera menatap kearah Baruna, “Ayo berangkat”, ucapnya.
Merasa hari sudah sedikit siang, Baruna yang ingin proposal pengajuan kegiatan ini segera di acc pun segera bangkit dari duduknya dan mulai naik keatas motornya, “Ayo naik, keburu siang”, ucapnya, dan Baruna langsung menjalankan motor matic nya begitu Vallery sudah naik keatas boncengan motornya.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA