NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Menjadi Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

Transmigrasi: Menjadi Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.

Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.

Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tidak Peduli Pada Anak Itu!

Malam itu, dapur mansion yang biasanya tenang justru terasa sangat dingin. Jeslyn sedang berdiri di meja dapur, fokus memotong apel dengan pisau kecil di tangannya. Suasana hatinya sebenarnya sedang cukup baik setelah momen mengharukan bersama Lucian tadi sore. Namun, keheningan itu mendadak terusik.

​Tap. Tap. Tap.

​Suara langkah kaki yang anggun dan ritmis terdengar di lantai marmer. Jeslyn menoleh, dan dunianya seolah berhenti berputar sejenak. Di sana, berdiri seorang wanita yang kecantikannya mampu membuat siapa pun menahan napas. Wajahnya halus, auranya sangat anggun, namun sorot matanya sedingin es. Itu Vivian, ibu kandung Lucian.

​Kedua wanita itu terdiam cukup lama, saling menatap dalam keheningan yang mencekam. Vivian tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia melangkah menuju dispenser, menuangkan air ke dalam gelas dengan gerakan yang sangat elegan, lalu meminumnya tanpa sedikit pun melirik ke arah Jeslyn.

​Jeslyn tertegun. "Kapan dia datang? Apakah saat aku sedang di kamar tadi?"

​Vivian memutar tubuhnya, bersiap pergi tanpa mengucapkan satu kata pun, seolah Jeslyn hanyalah perabotan dapur yang tidak bernyawa. Jeslyn sebenarnya sudah meniatkan diri untuk diam, tapi mulutnya yang terkadang bekerja lebih cepat daripada otaknya tidak bisa menahan diri.

​"Lucian sakit," celetuk Jeslyn, suaranya memecah kesunyian malam itu.

​Langkah kaki Vivian terhenti. Ia tidak langsung berbalik, ia hanya berdiri diam sejenak di sana. Kemudian, dengan gerakan yang perlahan namun penuh intimidasi, Vivian memutar tubuhnya. Tatapan matanya yang tajam menghujam Jeslyn, seolah melihat seekor hama yang mengganggu kenyamanannya.

​"Lantas?" tanya Vivian datar. Suaranya terdengar begitu ringan, seolah ia sedang membicarakan cuaca atau hal sepele lainnya.

"Jika dia sakit, aku harus apa?"

​Jeslyn merasakan dadanya sesak. Ia mematung mendengar respons tersebut. "Harus apa? Dia anakmu, Vivian. Dia putramu. Dia baru saja mengalami masa sulit, dia sakit karena stres dan pola makan yang buruk. Sebagai seorang ibu, bukankah seharusnya kamu peduli?"

​Vivian menatap Jeslyn dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan merendahkan. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip ejekan daripada keramahan.

​"Menarik," desis Vivian.

"Sejak kapan kamu menjadi seorang ibu yang begitu peduli? Atau ini hanya sandiwara untuk mengambil simpati Keith? Kamu tahu, Jeslyn, kamu tidak perlu repot-repot memerankan peran protagonis di rumah ini. Itu tidak cocok denganmu."

​"Ini bukan sandiwara!" balas Jeslyn, suaranya sedikit meninggi.

"Lucian adalah manusia. Dia butuh kasih sayang. Bayangkan kalau dia mendengar kamu bicara seperti ini, anak mana yang tidak akan sedih jika ibu kandungnya sendiri menganggap rasa sakitnya sebagai hal yang tidak penting?"

​Vivian tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat jernih sekaligus mengerikan di telinga Jeslyn. Ia melangkah mendekati Jeslyn, berhenti tepat di depan wanita itu hingga aroma parfum mahalnya yang menusuk tercium oleh Jeslyn.

​"Anak itu..." Vivian berbisik, namun nadanya tetap sedingin es.

"Dia adalah pengingat akan masa lalu yang ingin aku lupakan. Dia adalah bukti kegagalan rencanaku di masa muda. Peduli? Aku tidak pernah punya waktu untuk memikirkan perasaan seorang anak yang bahkan tidak pernah kuinginkan kehadirannya."

​Jeslyn benar-benar kehilangan kata-kata. Ia menatap wanita di depannya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa bicara sekejam itu?.

​"Kamu... kamu benar-benar tidak punya hati," ucap Jeslyn dengan suara bergetar karena emosi.

​Vivian tidak menjawab. Ia hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh, seolah ia baru saja mendengar lelucon yang tidak lucu.

"Terserah apa yang kamu pikirkan. Kamu bisa memanjakannya sesuka hatimu, Jeslyn. Jadilah ibu yang baik untuknya jika itu membuatmu merasa lebih hebat. Tapi jangan pernah bawa-bawa namaku ke dalam drama murahan ini lagi."

​Setelah mengucapkan kalimat itu, Vivian berbalik dan melenggang pergi dengan langkah yang sangat anggun, meninggalkan Jeslyn yang berdiri mematung di dapur.

​Jeslyn mencengkeram pisau di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya benar-benar sakit. Ia membayangkan Lucian yang mungkin suatu saat akan mendengar kebenaran ini langsung dari mulut ibunya. Betapa hancurnya pemuda itu nanti?.

​Bagaimana mungkin dia bisa sekejam itu? pikir Jeslyn. Vivian benar-benar monster dengan bungkus malaikat.

​Jeslyn meletakkan pisau itu dengan kasar di atas meja. Pikirannya berantakan. Ia merasa bingung pada dirinya sendiri mengapa ia begitu peduli? Mengapa amarahnya meluap begitu hebat padahal ia baru saja menjadi bagian dari keluarga ini beberapa minggu?.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar kembali. Kali ini langkah kaki yang berat, bukan langkah yang anggun. Jeslyn menoleh ke arah koridor. Ia melihat siluet seseorang berdiri di sana, di balik bayangan pintu dapur yang sedikit terbuka.

​Itu Lucian.

​Jeslyn merasa jantungnya berhenti berdetak. Apakah dia mendengar semuanya?.

​Lucian berdiri di sana dengan pakaian tidurnya, wajahnya yang tadi sore terlihat sedikit lebih tenang kini tampak kosong kembali. Matanya yang biru laut menatap kosong ke arah lantai, lalu perlahan beralih ke arah Jeslyn. Tidak ada emosi di sana, hanya kekosongan yang sangat dalam.

​"Lucian..." panggil Jeslyn dengan suara gemetar, takut kalau anaknya itu baru saja mendengar perdebatan sadis tadi.

​Lucian tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, mematung di sana dengan tangan yang mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia tidak menangis, tidak berteriak, ia hanya menatap Jeslyn dengan tatapan yang membuat hati Jeslyn hancur berkeping-keping.

​"Apakah... apakah dia baru saja datang?" tanya Lucian, suaranya begitu datar dan tanpa intonasi.

​Jeslyn tidak tahu harus menjawab apa. Ia menatap Lucian dengan tatapan sedih yang mendalam. "Lucian, dengerin Mami..."

​"Tidak perlu," potong Lucian singkat. Ia kemudian berbalik tanpa sepatah kata pun dan berjalan kembali menuju kamarnya dengan langkah yang tertatih-tatih.

​Jeslyn merasa seperti ditampar oleh kenyataan yang sangat kejam. Vivian baru saja menanamkan luka baru di hati putranya, luka yang mungkin akan jauh lebih dalam daripada lebam fisik yang ia dapatkan di sekolah kemarin.

​Jeslyn membiarkan air matanya jatuh. Ia sadar, tugasnya di sini bukan hanya sekadar menjaga Lucian dari perkelahian atau memberikan perhatian kecil. Tugasnya adalah menyembuhkan jiwa pemuda ini dari racun yang selama bertahun-tahun disuntikkan oleh ibu kandungnya sendiri.

​Malam itu, Jeslyn tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang tengah, menatap televisi yang masih menyala, pikirannya terus berputar pada kata-kata Vivian. Ia sadar, ia tidak bisa membiarkan ini berlanjut. Jika Vivian berani mengganggu ketenangan dan harga diri Lucian lagi, maka Jeslyn siap untuk membalasnya dengan cara yang paling tidak terduga. Karena baginya, saat ini, Lucian bukan lagi sekadar anak tiri di dalam cerita novel. Dia adalah anaknya, dan dia akan melindungi anaknya sampai akhir.

Bersambung...

Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.

1
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 33 sampai bab 37
Potatoes 🥔
Bagus Banget,/Kiss/
Fajar Fathur rizky
cepat bikin mcnya bongkar kebusukan hera
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 29 dan bab 33 thor
It's me Ri🥕: Udah ya tunggu beberapa menit lagi, selamat membaca
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
jangan bikin lu cian cinta thor bikin perasaan itu seperti anak yang tidak mau ibunya lebih perhatian kepada ayahnya
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 25 sampai bab 30
It's me Ri🥕: Sebentar ya kak, lagi di cek dan edit lagii🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 16 sampai bab 20
It's me Ri🥕: Sudah di up ya, tunggu sebentar lagi🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
It's me Ri🥕: Aawww🥺 Semoga suka ya kak😘
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bikin adegan Lucian menganggap mcnya seperti ibu kandungnya sendiri
Fajar Fathur rizky
nanti pas lahiran bikin mcnya jadi model yang terkenal dan cantik bikin banyak yang suka bikin suaminya cemburu
Fajar Fathur rizky
cepat update thor bab 7 sampai bab 11 thor ceritanya seru
It's me Ri🥕: Kak😭 Ini udah di up kok, semoga suka yaa/Kiss/
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
besok bikin 5 bab thor ceritanya seru bikin pas mcnya selesai lahiran bikin dia jadi model yang terkenal dan cantik
Fajar Fathur rizky: biar suaminya cemburu thor mcnya banyak yang naksir hahaha
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!