Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Misi Penaklukan
"Kalau boleh tahu..." Nabila sedikit ragu dan curiga sebelum melanjutkan. "Kenapa Kak Yuda mau nyewain kamar?"
Yuda terdiam sejenak.
Ia tahu alasan Nabila bertanya.
Sebagai orang kaya dan pemilik vila semewah ini, sebenarnya tidak masuk akal jika ia menyewakan kamar hanya dengan harga 5 juta per bulan.
Kurang lebih, maksud pertanyaan Nabila adalah, Kak Yuda kan orang kaya, memangnya butuh uang sewa 5 juta?
Wajar jika Nabila merasa curiga dan bertanya-tanya apakah ada alasan lain di balik keputusannya.
Untungnya, Yuda sudah memikirkan hal itu.
Ia menatap wajah Nabila beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum lemah.
"Karena aku kesepian di sini..."
Nabila langsung menunjukkan ekspresi bingung.
"Kesepian? Maksudnya?"
"Ya, aku kesepian tinggal di sini sendirian." Yuda menjawab sambil melihat sekeliling ruangan yang luas.
Ekspresinya berubah memelas.
"Bayangkan saja, vila seluas ini, hanya aku seorang yang tinggal. Betapa bosannya diriku. Jadi, alasan aku menyewakan kamar itu karena..."
Yuda berhenti sejenak. "Aku butuh teman ngobrol, agar tidak kesepian."
Ia kemudian menghela napas.
Nabila terdiam.
"...."
Alasannya terdengar masuk akal sekaligus tidak masuk akal.
Masuk akalnya adalah soal rasa kesepian.
Ia sendiri tahu bagaimana rasanya ketika tidak memiliki teman untuk diajak berbicara.
Namun yang membuatnya bingung adalah...
Jika Yuda memang tidak suka tinggal sendirian, kenapa membeli vila sebesar ini?
Nabila menyentuh dagunya sambil memikirkan jawaban tersebut.
Beberapa saat kemudian, ia mengangkat kepalanya.
Karena tinggi badan Yuda lebih tinggi hampir satu kepala darinya, Nabila harus sedikit mendongak untuk melihat wajahnya.
"Emangnya Kak Yuda tidak punya keluarga? Atau pacar?"
Yuda menggeleng.
"Keluargaku di kampung, dan aku tidak punya pacar, jadi..." Ia menggantung kalimatnya sambil tersenyum tipis. "Kamu tahu sendiri."
Nabila terdiam beberapa saat.
Dalam hatinya juga sedikit terkejut, dengan tampilan tampan Yuda dan kekayaannya, apa mungkin ga ada gadis yang mendekatinya?
Meski bingung, namun jawaban Yuda membuatnya sedikit lega.
Setidaknya, alasannya terdengar cukup masuk akal.
Meskipun masih ada sedikit rasa penasaran, ia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh.
Kalau Yuda memang memiliki niat buruk terhadapnya, dengan kondisi dan latar belakangnya, sebenarnya akan mudah baginya untuk melakukan sesuatu yang buruk padanya.
Namun sejak mereka bertemu, Yuda tidak pernah menunjukkan gelagat aneh atau mencoba mendekatinya secara berlebihan.
Bahkan sekarang, ia justru terus terang mengatakan bahwa dirinya hanya ingin memiliki teman untuk diajak berbicara.
"Jadi Kak Yuda cuma ingin ada orang lain yang tinggal di sini?" tanyanya memastikan.
Yuda mengangguk serius. "Kurang lebih begitu."
Nabila kembali melihat sekeliling vila yang luas.
Ia bisa memahami kenapa seseorang bisa merasa kesepian tinggal di tempat sebesar ini.
"Kalau begitu..." Nabila mengangguk kecil. "Aku rasa nggak masalah."
Ekspresi Yuda langsung berubah menjadi senyuman. "Jadi, kamu mau sewa kamar di sini?"
Nabila mengangguk.
"Lagian 5 juta per bulan untuk kamar seperti ini..." Ia melihat kembali kamar di hadapannya. "Kalau aku menolaknya, yang rugi malah aku sendiri."
Yuda mengangguk paham. "Itu bagus, kalau kamu merasa cocok, tinggal saja."
Nabila tersenyum kecil. "Kalau begitu aku mau lihat kamar yang lain dulu. Siapa tahu ada yang lebih cocok."
"Boleh." Yuda kemudian mengajaknya melihat beberapa kamar kosong lainnya di lantai dua.
Setelah melihat beberapa pilihan, Nabila akhirnya lebih tertarik dengan salah satu kamar di lantai dua.
Kamar itu luas, memiliki kamar mandi pribadi, serta balkon yang menghadap ke taman.
"Yang ini aku suka."
Yuda melihat kamar tersebut lalu mengangguk. "Kalau begitu, yang ini buat kamu."
Nabila tersenyum puas. "Deal."
Mereka kemudian membicarakan beberapa hal sederhana mengenai sewa kamar, mulai dari harga, pembayaran, hingga privasi masing-masing.
Yuda juga memastikan Nabila tetap bebas keluar masuk vila selama mengikuti aturan keamanan NavaPark.
Tidak butuh waktu lama sampai keduanya mencapai kesepakatan.
"Kalau begitu aku pindah besok, gimana?" tanya Nabila.
"Besok juga boleh." Yuda mengangguk santai.
"Kalau barangmu banyak, nanti aku bantu angkut."
Nabila tersenyum kecil. "Terima kasih, Kak Yuda."
Beberapa waktu pun berlalu, matahari di atas langit terlihat mulai turun.
13:55 WIB.
Setelah semuanya selesai, Nabila berpamitan kepada Yuda.
Karena barang-barangnya baru akan dibawa besok, ia meminta Yuda mengantarnya kembali ke asrama kampus.
Sebagai ojek, Yuda tentu saja tidak keberatan.
Tidak lama kemudian, keduanya sudah kembali menaiki motor Beat.
Nabila duduk di belakang, masih merasa sedikit aneh.
Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja menyepakati sewa kamar di sebuah vila mewah di Botanic Villa.
Namun sekarang, pemilik vila tersebut justru kembali mengendarai Honda Beat untuk mengantarnya ke kampus.
Lebih anehnya lagi, Yuda masih menjalankan pekerjaannya sebagai pengemudi ojek seperti biasa.
Sesekali ia bahkan melihat HPnya di holder motor untuk memastikan apakah ada pesanan baru.
Nabila menahan senyum.
Kalau bukan karena ia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, ia mungkin tidak akan percaya.
Pria yang tinggal di vila semewah itu ternyata menjadi pengemudi ojek.
Dan kendaraan yang digunakannya bahkan masih Honda Beat.
Nabila akhirnya tertawa kecil.
"Kenapa?" Yuda dari depan bingung.
"Nggak apa-apa." Nabila menggeleng sambil tersenyum.
Hanya saja, semakin mengenal Yuda, semakin banyak hal aneh yang ia temukan dari pria tersebut.
Dalam perjalanan ke kampus Prasmul, keduanya berbincang singkat tentang verifikasi gerbang masuk ke kawasan NavaPark.
Yuda menjawabnya kalau ia sendiri akan mendaftarkan kartu akses khusus untuknya agar bisa masuk dengan lancar.
Sesampainya di depan gerbang kampus, Nabila memilih turun di sini.
Yuda mengangguk, saat hendak tancap gas dan pergi, ia teringat keduanya belum tukar kontak.
Beberapa saat setelah tukar kontak, Yuda kembali ke pangkalan ojek sembari menunggu orderan.
...----------------...
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat.
18:43 WIB.
Botanic Villa, NavaPark BSD City.
Selesai mandi, Yuda duduk di pinggir kasur sambil menggosok rambutnya yang masih basah menggunakan handuk kecil.
Pandangannya kemudian tertuju pada Huawei Mate XT hitamnya yang tergeletak di atas meja.
Ia Mengambil ponselnya, membuka layar, lalu masuk ke aplikasi pesan.
Jarinya berhenti pada satu nama.
Risa.
Yuda terdiam sejenak.
Pada saat ia hendak mengirim pesan, HPnya berdering.
Ketika melihat nama penelpon di layar, 'Risa' Ia mengangkat alisnya.
"Kebetulan sekali, baru aja aku mau menghubunginya."
Ia segera mengangkat telepon itu. "Halo?"
"Halo Yuda, malam ini kamu sibuk tidak?" Suara lembut Risa terdengar jernih di seberang telepon.
"Nggak, emang kenapa Mbak?"
Di seberang, Risa tersenyum lembut. “Ini... setelan pakaian pesanan kamu semuanya sudah selesai digarap. Barang-barangnya sekarang ada di gudang dekat rumah ku. Mau cek setelannya?”
Yuda mengangguk pelan.
Lalu ia teringat bahwa Risa tinggal terpisah dari orang tuanya yang menetap di kawasan elit PIK.
Risa memilih tinggal di rumah pribadinya di dekat BSD yang tersambung langsung dengan gudang penyimpanan tokonya.
Sebagai kurir langganan yang dulu sering mengambil paket di sana, Yuda sangat menguasai rutenya.
“Oh, sudah jadi? Boleh banget, Mbak. Kebetulan aku juga ada hal yang mau diomongin,” ucap Yuda sambil menegakkan punggung.
“Bagus deh. Kalau gitu kamu langsung ke rumahku aja ya sekarang?”
Yuda menyeringai kecil. “Sip, Mbak Risa. aku meluncur ke sana.”
Usai menutup telepon, Yuda turun menaiki lift lalu melangkah ke garasi.
Tatapannya melewati deretan kendaraan mewah selain beatnya, sebelum akhirnya berhenti pada sosok monster jalanan garang bercorak M-Sport: BMW M 1000 RR.
"Sekarang giliran kamu." Ia mengangkat sudut mulutnya.
Brummm!
Raungan Knalpot Titanium Akrapovič milik BMW M 1000 RR bergemuruh di dalam garasi, sebelum akhirnya Yuda memacunya membelah jalanan malam BSD City.
Selang beberapa menit, derum mesin khas superbike itu bergema halus di halaman rumah Risa.
Risa berdiri di teras mengenakan pakaian rumahan, aura wanita dewasa yang anggun dan menawan terpancar secara alami dari dirinya.
Blouse tipis berwarna krem yang dikenakannya jatuh dengan pas di kulit mulusnya, secara halus mempertegas garis pinggang yang ramping serta lekuk dadanya yang berisi proporsional.
Dipadukan dengan rok pendek gelap, sepasang kakinya yang jenjang dan mulus terpampang begitu indah setiap kali angin malam bertiup lembut mengibarkan ujung roknya.
Ia berdiri sembari menyilangkan kedua tangan di dada besarnya—sebuah gestur sederhana yang tanpa sadar kian menonjolkan bentuk tubuhnya yang molek dan terawat.
Beberapa helai rambut panjangnya yang terurai jatuh berantakan di bahu, menari-nari ditiup angin malam dan menyebarkan aroma wangi yang menenangkan.
Begitu melihat Yuda datang dengan BMW M 1000 RR, Risa langsung menoleh.
Ia sedikit terpana melihat sesosok pria berpakaian kasual mengenakan helm full-face hitam turun dari atas motor supersport.
Ketika kaca helm terangkat dan memperlihatkan paras tampan Yuda, Risa terkekeh pelan sambil melangkah mendekat. “Yuda?! Motor baru kamu?”
Risa memperhatikan bodi aerodinamis motor tersebut.
Meski ia tahu Yuda bukan pria biasa, melihatnya mengendarai superbike yang terlihat gagah didepannya, secara langsung tetap memberi kejutan visual yang memikat.
Yuda melepas helm “Iya, Mbak Risa. Nyoba jalan-jalan dengan motor ini.”
“Gagah banget... Cocok sama kamu,” Ia mengangkat kepalanya, menatap Yuda dan motor bergantian.
“Ya sudah, ayok pergi ke gudang sebelah dulu.” Risa berbalik, melangkah ke samping rumah.
Yuda mengangguk, mengikuti dari belakang.
Di dalam gudang, rak besi berjajar rapi.
Isinya berbagai stok pakaian, seperti kemeja, celana chinos, dan isinya kebanyakan didominasi oleh celana panjang model untuk perempuan.
Ruangan ini seluas lapangan badminton, sedikit lebih luas.
Lampu putih terang. Lantai bersih.
Yuda berjalan mendekati tumpukan setelan yang sudah selesai diproduksi.
Ia memperhatikan beberapa pakaian yang berada paling atas.
Modelnya terlihat seragam.
Ada ukuran untuk anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Meski ukurannya berbeda, desain dibuat hampir sama, kecuali warnanya ada beberapa pilihan.
Yuda mengangkat alis.
"Ini... pesanan yang dibatalkan pelanggan itu awalnya untuk acara besarkah?"
Risa yang berdiri di sampingnya menoleh. "Hm?"
Yuda mengambil salah satu setelan anak-anak, lalu melihat setelan dewasa yang berada di sebelahnya.
"Modelnya sama dari anak-anak sampai dewasa. Kelihatannya seperti seragam satu keluarga besar."
"Oh, itu memang begitu." Risa mengangguk. "Pesanannya memang untuk acara keluarga."
"Acara pernikahan?"
"Iya. Pernikahan anak sulung."
Yuda kembali melihat tumpukan pakaian di depannya. "Sampai sebanyak ini? Berapa keluarga tuh?"
"Nggak tau," Risa menggelengkan kepalanya. "Katanya sih untuk keluarga inti, saudara, sepupu, sampai kerabat mereka."
Yuda mengangguk pelan. "Pantas saja banyak, berarti memang keluarga besar."
"Banget." Risa tersenyum tipis, kemudian ekspresinya kembali sedikit masam ketika mengingat masalah tersebut.
"Makanya waktu mereka pesan sebanyak ini, aku pikir ini bakal jadi pesanan besar yang menguntungkan."
Ia menyentuh salah satu setelan di atas meja. "Tapi ternyata setelah hampir semuanya selesai diproduksi, mereka malah membatalkan pesanan ditengah."
"Aku yang terlalu naif ternyata," Risa menundukkan, raut wajahnya berubah sedih.
Yuda bisa merasakan kekecewaan dan celaan untuk dirinya sendiri dari nada suaranya.
Ia kembali teringat curhatan Risa beberapa hari yang lalu di restoran membahas dirinya di tipu.
Ia sangat ingin menghiburnya, tapi tidak tahu harus gimana.
Maklum sudah menjomblo bertahun-tahun dan tidak kenal banyak wanita.
Kenalnya kebanyakan ibu-ibu rumah tangga penerima paket yang selalu ingin menjodohkan anaknya ke dirinya.
Di tengah kebingungannya, sebuah suara mekanis terdengar dibenaknya.
[Ding!]
[Misi Penaklukan Aktif!]
Target: Risa Aprilia
Misi: Hibur Target
•Buat Risa melupakan kejadian yang membuatnya menyalahkan diri sendiri.
•Gantikan pengalaman pahit itu dengan pengalaman romantis yang membuatnya tidak bisa melupakannya.
Suara mekanis sistem terdengar seperti suara malaikat baginya di tengah kebingungannya.
Bab Berakhir.