Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08.
Ancaman pelanggan untuk membawa masalah tersebut ke meja hijau membuat Pak Ikhsan akhirnya mengambil keputusan besar. Beliau menjual sebidang tanah miliknya untuk membayar seluruh ganti rugi yang dituntut pelanggan.
Awalnya Alfa menolak keras. Dia tidak ingin karena perbuatan Ammar dan Davina, membuat kedua orangtuanya ikut menanggung akibatnya.
Namun, Pak Ikhsan menggeleng tegas. “Kamu jangan menolak bantuan kami, Alfa. Semua pelanggan sudah menuntut uang mereka kembali. Ayah tidak mau masalah ini semakin besar.”
“Tapi tanah itu milik Ayah.” Alfa masih merasa keberatan.
“Dan kamu anak Ayah. Apa kamu pikir ayah akan membiarkan masa depanmu hancur karena ulah orang lain?” balas Pak Ikhsan.
Melihat keteguhan sang ayah, Alfa tak mampu berkata-kata. Dirinya sadar tidak ada gunanya terus menolak.
***
Hingga beberapa hari kemudian, seluruh tuntutan ganti rugi akhirnya berhasil diselesaikan. Tidak ada lagi ancaman membawa perkara tersebut ke pengadilan.
Kini, Alfa tinggal memikirkan langkah berikutnya. Usahanya sudah tidak mungkin dilanjutkan karena tidak memiliki modal. Dia pun tidak lagi mempunyai sumber penghasilan.
"Aku tidak bisa begini terus," gumamnya pelan. "Aku tidak mungkin selalu merepotkan Ayah dan Ibu. Aku harus melakukan sesuatu."
Setelah mempertimbangkan semuanya, Alfa memutuskan untuk mencari pekerjaan dan memulai hidupnya dari awal. Dia pun mencari lowongan kerja di internet, lalu mengirimkan CV nya ke beberapa perusahaan tersebut. Tak ingin hanya berdiam diri sambil menunggu pengumuman, pagi itu, dia berniat melamar kerja secara langsung. Dengan mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam sederhana, Alfa keluar dari dalam rumah. Sebuah tas ransel berisi surat lamaran tersandang di punggungnya.
“Yah, Bu, aku berangkat nyari kerja, ya. Doakan aku semoga hari ini dapat pekerjaan,” ucap Alfa, menghampiri kedua orangtuanya yang sedang bercengkerama di teras depan
Bu Mala menoleh ke arah putranya. “Kamu sudah punya tujuan, mau melamar kerja di mana, Nak?” tanyanya.
“Belum, Bu. Aku mau keliling dulu, siapa tahu ada salah satu pabrik atau toko yang membutuhkan tenaga kerja.”
Pak Ikhsan mengangguk. “Kalau belum dapat hari ini, jangan berkecil hati. Besok bisa mencoba lagi.”
“Iya, Yah,” balas Alfa.
Bu Mala kemudian mengambil sedikit uang dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Alfa. “Bawa ini, buat ongkos dan makan.”
Alfa langsung menggeleng. “Aku masih punya sedikit uang, Bu.”
“Ambil saja. Kamu belum tahu berapa lama mencari pekerjaan,” paksa sang ibu.
Alfa akhirnya menerima uang tersebut. “Terima kasih, Bu.”
“Jangan pilih-pilih pekerjaan, yang penting halal dan kamu bisa menjalaninya dengan baik,” pesan Pak Ikhsan seraya menepuk pundak anaknya.
Alfa mengangguk dan tersenyum. “Aku akan ingat pesan Ayah."
Dia kemudian mencium tangan kedua orangtuanya, lalu berpamitan. “Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumussalam. Hati-hati, Nak,” jawab Bu Mala.
Alfa kembali mengangguk, lalu meninggalkan rumah dengan mengendarai motor butut miliknya.
***
Hari pertamanya mencari pekerjaan dimulai. Dia menyusuri jalanan, mendatangi beberapa toko atau restoran untuk menanyakan lowongan. Namun, dari semua tempat tersebut belum ada satu pun yang membutuhkan karyawan.
Hingga saat melewati sebuah toko bangunan yang terlihat cukup ramai, Alfa memperlambat laju motornya kemudian menghentikannya di depan toko itu lalu masuk untuk bertanya,
“Permisi, Pak. Apa di sini sedang membutuhkan karyawan?”
Pemilik toko itu menggeleng. “Belum ada, Mas. Saat ini semua posisi masih terisi.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Alfa keluar dari toko, lalu kembali ke motornya. Dia melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan sambil mencari tempat lain yang mungkin sedang membutuhkan tenaga kerja.
Sayangnya, hingga menjelang sore hari, belum ada satu pun tempat yang menerimanya. Ada yang mengatakan tidak sedang membuka lowongan. Ada pula yang meminta Alfa meninggalkan nomor telepon dan menunggu kabar.
Alfa akhirnya kembali ke rumah. Wajahnya tampak lelah. Bu Mala yang melihatnya masuk ke rumah, langsung menghampiri.
“Bagaimana, Nak?” tanyanya.
Alfa meletakkan tasnya di kursi, lalu menggeleng. “Belum dapat, Bu.”
Bu Mala mengusap lengannya. “Tidak apa-apa. Cari kerja jaman sekarang memang tidak mudah. Yang penting jangan menyerah."
Alfa mengangguk. “Iya, Bu. Aku tidak akan menyerah cuma karena hari pertama belum berhasil.”
Pak Ikhsan yang sejak tadi mendengar percakapan mereka ikut menyela, “Itu baru benar. Selama kamu mau berusaha, pasti ada jalan.”
***
Malam harinya, Alfa duduk di teras rumah sambil menatap layar ponselnya. Seharian tadi dia sudah berusaha, tetapi belum menemukan pekerjaan yang bisa dijadikan pegangan.
Tiba-tiba dia teringat seorang teman lama. Akan tetapi, ada keraguan ketika ingin menghubunginya mengingat selama ini dia tidak pernah berkomunikasi, tetapi sekalinya menelpon justru meminta bantuan pekerjaan.
Namun, setelah beberapa saat berpikir, Alfa akhirnya membuka daftar kontak dan menekan tombol panggil.
“Halo, Fa? Tumben telepon malam-malam,” sapa temannya begitu panggilan tersambung.
“Halo, Bro, aku mau tanya sesuatu,” jawab Alfa setelah basa-basi bertanya kabar.
“Tanya apa?”
“Ada lowongan kerja di tempatmu, nggak?”
“Lho, bukannya kamu sudah punya usaha sendiri? Kok, sekarang malah tanya kerjaan?” tanya temannya heran.
“Panjang ceritanya, Bro. Mungkin lain waktu aku akan menceritakannya sama kamu,” jawab Alfa.
“Memangnya ada masalah besar?” tanyanya penasaran.
“Begitulah, tapi itu tidak penting. Sebab yang aku butuhkan sekarang adalah pekerjaan.”
“Terus kamu mau kerja apa?”
“Apa saja nggak masalah. Aku nggak pilih-pilih, yang penting halal dan aku bisa mendapatkan penghasilan.”
Hening beberapa saat, hingga kemudian temannya kembali bersuara, “Tapi aku cuma pekerja bangunan, Fa. Emangnya kamu mau?”
Alfa justru tersenyum mendengarnya. “Mau. Kenapa tidak?”
“Serius?" Temannya memastikan. "Kerja bangunan itu berat, lho. Kadang harus angkat material, panas-panasan, dan kerja seharian penuh.”
“Tidak apa-apa,” jawab Alfa tenang. “Asal aku sanggup, pasti akan kulakukan."
Terdengar temannya tertawa. “Baiklah kalau begitu. Di proyek tempatku bekerja memang sedang membutuhkan beberapa orang pekerja. Nanti aku coba tanyakan ke mandor-ku, siapa tahu kamu diterima."
“Benarkah?” Alfa langsung menegakkan tubuhnya.
“Iya, tapi aku belum bisa memastikan."
“Tak masalah. Yang penting tolong tanyakan, ya.”
“Siap. Kalau mandor setuju, besok pagi aku kabari.”
Alfa mengangguk meski temannya tidak dapat melihat. “Terima kasih, Bro. Aku sangat terbantu.”
“Tenang saja. Mudah-mudahan ada kabar baik besok.”
“Aamiin.”
Panggilan berakhir. Alfa meletakkan ponselnya di atas meja kecil di samping kursi. Dia tersenyum, meski sadar jalan di depannya tidak akan mudah. Setidaknya, kini dia memiliki satu peluang yang bisa dicoba.
Dan setelah semua yang terjadi, dia mulai belajar satu hal, bahwa tidak semua yang hilang harus membuatnya berhenti. Kadang, seseorang memang harus jatuh sampai ke titik paling bawah untuk menemukan kekuatan membangun hidupnya kembali.