NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.

Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.

Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.

Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

"Wah, mahal banget! Lima puluh miliar!" seru Karin, lalu ia membalikkan guci itu dan mengintip ke bagian dasarnya. "Tapi, Bibi... Mbak Vanessa..."

"Ada apa?" tanya Vanessa, tersenyum sombong. "Kau tidak akan mengerti nilainya, Kak Karin."

"Bukan soal nilai, Mbak," ucap Karin dengan wajah polos yang sangat menyebalkan. "Tapi kalau ini guci Dinasti Ming, kenapa di bawahnya ada tulisan Microwave Safe dan Dishwasher Safe pakai huruf latin? Apakah orang Dinasti Ming dulu sudah punya microwave dan mesin pencuci piring? Atau ini guci milik Doraemon yang waktu itu nyasar?"

Ruangan itu mendadak senyap. Saking senyapnya, suara jam dinding berdetak pun terdengar.

Bibi Ratna langsung membalikkan guci itu. Matanya membelalak horor saat melihat tulisan kecil yang tercetak di bagian bawah: Microwave Safe - Made in Yiwu.

Wajah Vanessa seketika pucat pasi, kehilangan semua rona merahnya. "I-Itu... itu pasti salah cetak! Pengrajinnya salah..."

"Salah cetak? Di guci lima puluh miliar?" Bibi Ratna menatap Vanessa dengan tatapan yang bisa membunuh. "Vanessa, kau berani memberiku barang palsu?!"

"Aku... aku ditipu, Bibi! Aku beli di toko antik terpercaya!" Vanessa panik, air mata palsu yang biasanya ia gunakan mulai menggenang, tapi kali ini tidak ada yang simpati.

Arlan, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu dan mengamati semuanya, akhirnya melangkah masuk. Ia menatap Vanessa dengan tatapan dingin yang menusuk, lalu menatap Karin yang sedang pura-pura mengagumi motif bunga di guci palsu itu.

"Karin," panggil Arlan, suaranya terdengar sangat lembut, kontras dengan tatapan matanya yang tajam ke arah Vanessa. "Bagaimana kau tahu cara memeriksa keaslian barang antik?"

Karin mendongak, memasang wajah paling bodoh yang bisa ia buat. "Hah? Memeriksa? Aku cuma baca tulisan di bawahnya, Kak. Kan hurufnya gede banget. Masa orang Dinasti Ming tahu cara pakai microwave? Nanti gucinya meledak, lho, Kak!"

Arlan menatap istrinya. Sudut bibirnya berkedut, menahan senyum yang sangat puas. Ia menoleh ke arah Vanessa yang kini gemetar.

"Keluarkan Vanessa dari rumahku," perintah Arlan dingin pada keamanan. "Dan Vanessa, pastikan pengacaramu menghubungiku besok pagi soal penipuan ini."

Saat Vanessa diseret keluar dengan menangis histeris, Karin bersorak di dalam hati. Langkah ketujuh berhasil! Pelakor berhasil diusir, dan aku tetap terlihat seperti idiot yang cuma bisa baca huruf! Arlan, kau pikir aku jenius? Tidak, Kak. Aku cuma pembaca novel yang tahu jalan ceritanya!

Namun, saat Arlan berjalan mendekat dan menepuk kepala Karin pelan, pria itu berbisik pelan, "Kau benar-benar... mengejutkanku hari ini, Nyonya Dirgantara."

Karin menelan ludah. Tunggu. Kenapa nada suaranya terdengar seperti dia tahu semuanya?

Bisikan Arlan di akhir Bab ini terus menghantui pikiran Karin semalaman.

Kalimat itu terdengar seperti pujian, tapi bagi Karin yang tahu plot novel, itu adalah kode merah. Arlan Dirgantara tidak suka kejutan. Ia suka kendali. Jika istrinya yang "idiot" mulai menunjukkan kejutan, itu berarti kendalinya terancam.

Karin berguling-guling di atas kasur king size yang empuk, memeluk guling sutra. Tenang, Karin. Dia cuma bercanda. CEO dingin itu pasti cuma sedang sarkas. Ya, pasti sarkas. Besok pagi semuanya akan baik-baik saja.

Namun, pagi harinya, kenyataan menyambutnya dengan cara yang sangat berbeda.

Saat Karin turun ke ruang makan dengan gaun tidur beruangnya yang lucu, ia tidak menemukan Arlan sedang membaca tablet seperti biasa. Meja makan marmer yang panjang itu telah disingkirkan piring sarapannya. Sebagai gantinya, di tengah meja terdapat sebuah papan catur kayu mahoni yang elegan.

Yang lebih aneh, bidak-bidak catur itu tidak terbuat dari kayu atau batu. Mereka terbuat dari cokelat. Bidak putih dari cokelat susu, dan bidak hitam dari cokelat *dark* premium.

Arlan duduk di ujung meja, menatap Karin dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Duduk," ucapnya datar.

Karin menelan ludah, menarik kursi dan duduk dengan hati-hati. "Pagi, Kak Arlan. Wah, sarapan pagi ini temanya cokelat ya? Enak banget!"

"Ini hadiah dari klien di Swiss," jawab Arlan, matanya tidak lepas dari wajah Karin. "Dan pagi ini, kita tidak akan sarapan sebelum kau bermain catur denganku."

Jantung Karin nyaris berhenti. Catur?! Di dunia sebelumnya, kakeknya adalah seorang juara catur lokal, dan Karin kecil sering diajari bermain. Ia tahu aturan dasar, tahu cara membuka permainan, dan tahu cara membuat fork atau pin. Tapi ia bukan grandmaster.

Jika ia bermain dengan serius dan berhasil menahan Arlan, Arlan akan langsung tahu ada yang aneh. Istri yang kemarin bertanya apakah silet bisa dimakan, tiba-tiba jago catur? Game over.

"Tapi Kak Arlan, aku nggak bisa main catur," protes Karin, memasang wajah merengek. "Bidak-bidaknya nanti saling pukul. Kasihan."

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Susi Nugroho
Lanjut
ALEXIS A.😇
up kak
Susi Nugroho
Lanjut
Kucingku Hitam
seruu😍
lanjut kn thor💪
Susi Nugroho
,Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!