NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Reruntuhan Kuil

Bab 23 — Reruntuhan Kuil

Reruntuhan kuil tua itu berdiri di tengah hutan kecil, batu-batu purbanya ditumbuhi lumut tebal, sisa-sisa ukiran dewa-dewa lama masih samar terlihat di beberapa pilar yang masih berdiri. Cahaya obor yang dibawa rombongan menari-nari di antara bayangan reruntuhan, menciptakan suasana yang terasa jauh lebih tua dari apa pun yang pernah Rania lihat di Wanunggalih.

Mereka turun dari kuda beberapa meter dari reruntuhan, berjalan perlahan dengan kewaspadaan penuh. Aryasatya memberi isyarat pada pengawalnya untuk menyebar, mengepung area tanpa terlihat mencolok.

"Hati-hati," bisik Aryasatya pada Rania. "Kita tidak tahu apa dia sendirian atau tidak."

Rania mengangguk, mengikuti langkahnya yang hati-hati menyusuri reruntuhan. Di tengah bangunan tua itu, cahaya obor kecil terlihat berkedip—sumbernya dari sosok yang duduk sendirian di atas batu altar yang sudah rusak.

Nyonya Ratih.

Wanita itu tidak lagi terlihat seanggun yang Rania ingat. Gaunnya lusuh, rambutnya yang biasa tertata rapi kini kusut, namun matanya tetap tajam, menatap mereka begitu langkah mereka terdengar mendekat.

"Aku sudah menduga kalian akan datang," katanya, suaranya lebih lelah dari yang pernah Rania dengar.

"Nyonya Ratih," Aryasatya melangkah maju, pedangnya tetap siaga meski tidak terangkat penuh. "Kami butuh jawaban."

"Aku tahu," Ratih tersenyum tipis, senyum yang penuh kepahitan. "Itu kenapa aku menunggu di sini, bukannya terus kabur."

Rania mendekat perlahan, berdiri di samping Aryasatya. "Kenapa Bibi nggak lari aja terus? Kenapa justru nunggu di sini?"

Ratih menatapnya lama, matanya berkaca-kaca di bawah cahaya obor. "Karena aku lelah berlari, Wening. Aku sudah berlari dari kebenaran ini selama lebih dari sepuluh tahun."

"Kebenaran apa?" tanya Rania.

Ratih menghela napas panjang, menatap ke arah reruntuhan di sekelilingnya seolah mencari kekuatan dari batu-batu kuno itu.

"Kau pikir aku membantu Mukti menggelapkan muatan kapal itu karena keserakahan," katanya pelan. "Itu tidak sepenuhnya salah. Tapi bukan itu seluruh kebenarannya."

"Lalu apa?" Aryasatya mendesak, suaranya masih waspada namun sedikit melunak.

Ratih menatap mereka berdua bergantian, lalu mulai bercerita dengan suara yang bergetar menahan emosi bertahun-tahun.

"Setelah suami dan putraku meninggal dalam kebakaran itu, aku hancur. Aku kehilangan segalanya—tempat tinggal, penghasilan, bahkan alasan untuk hidup. Saat itulah seseorang mendekatiku, menawarkan bantuan."

"Siapa?" tanya Rania cepat.

"Seorang pejabat senior istana," jawab Ratih. "Dia bilang kebakaran itu bukan kecelakaan, dan dia tahu siapa dalangnya. Tapi dia hanya akan memberitahuku kebenaran itu kalau aku bersedia membantunya dengan satu hal."

"Menggelapkan muatan kapal," gumam Aryasatya.

Ratih mengangguk pelan. "Dia butuh seseorang dengan akses ke jalur perdagangan laut, seseorang yang tidak akan dicurigai. Aku, dalam keputusasaanku, setuju. Bukan demi uang—aku tidak peduli soal itu. Tapi demi mengetahui siapa yang membakar rumahku, membunuh keluargaku."

Rania merasakan dadanya sesak. "Dan Mukti?"

"Mukti hanya perantara," jawab Ratih. "Dia muda, ambisius, dan mudah dimanfaatkan oleh pejabat itu juga. Kami berdua sama-sama dimanfaatkan, meski dengan alasan berbeda."

"Siapa pejabat itu?" Aryasatya mendesak, suaranya kini lebih tajam. "Namanya, Nyonya Ratih."

Ratih menatap mereka lama, keraguan jelas terlihat di wajahnya.

"Kalau aku beri tahu," katanya pelan, "dia akan tahu aku yang membocorkannya. Dan kalian tidak akan paham seberapa berbahaya orang ini sebenarnya."

"Kami sudah hadapi Mukti," kata Rania, mencoba meyakinkan. "Kami bisa hadapi ini juga."

Ratih menggeleng pelan, matanya menatap ke arah hutan gelap di sekeliling reruntuhan, seolah mengawasi sesuatu yang tidak bisa mereka lihat.

"Mukti hanya bidak," katanya, suaranya merendah hingga nyaris berbisik. "Orang yang sebenarnya mengendalikan semua ini jauh lebih licik, jauh lebih sabar. Dia sudah menunggu bertahun-tahun untuk rencananya matang."

"Rencana apa?" tanya Aryasatya, nada suaranya kini benar-benar serius.

Sebelum Ratih sempat menjawab, suara gemerisik terdengar dari balik reruntuhan di sisi lain kuil. Semua orang langsung waspada, pengawal Arkapura segera mengarahkan obor dan senjata ke arah suara itu.

Namun yang keluar dari balik bayangan bukan musuh yang mereka duga.

Seorang pria tua berjubah kebesaran, dengan lencana kecil berlambang istana Wanunggalih tersemat di dadanya, melangkah keluar dengan tenang, seolah kedatangannya sudah direncanakan dengan sempurna.

Rania membeku mengenali wajah itu.

Paman Surya.

"Maaf mengganggu percakapan kalian," katanya, suaranya tetap ramah seperti biasa, namun kini terdengar jauh lebih dingin di telinga Rania. "Tapi sepertinya Nyonya Ratih mulai bicara terlalu banyak."

Ratih menatapnya dengan campuran ketakutan dan kemarahan lama yang akhirnya meluap. "Kau," desisnya, "kau yang selama ini—"

"Sudahlah, Ratih," Paman Surya memotong dengan nada yang masih tenang, hampir terdengar seperti seorang kakek yang menasihati cucunya. "Kita berdua tahu ini akan berakhir seperti ini cepat atau lambat."

Rania menatap pria tua itu dengan rasa tidak percaya yang menyesakkan dada. Penasihat kerajaan yang selama ini terlihat begitu bijaksana, yang bahkan sempat memberinya peringatan lewat surat misterius—ternyata dalang sesungguhnya di balik semua kekacauan ini.

"Paman Surya," suara Rania bergetar, "kau yang bakar gudang itu? Kau yang bunuh keluarga Nyonya Ratih?"

Paman Surya menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak Rania mengenalnya, senyum ramah di wajahnya benar-benar menghilang, digantikan ekspresi dingin yang mengerikan.

"Putri Wening," katanya pelan, "atau haruskah aku memanggilmu dengan nama lain—siapa pun kau yang sebenarnya menempati tubuh itu sekarang?"

Rania merasakan darahnya membeku.

Paman Surya tahu.

 

Aku jadikan bab ini titik balik besar kedua—reveal bahwa Mukti dan Ratih sama-sama cuma pion dari dalang yang jauh lebih berbahaya (Paman Surya, orang yang justru sempat terlihat membantu Rania lewat surat misterius di Bab 18-19, sekarang terbongkar sebagai manipulator utama). Aku tutup dengan cliffhanger paling tajam sejauh ini: Paman Surya ternyata tahu rahasia terbesar Rania soal pergantian identitasnya sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia percayakan ke semua orang di dunia Wanunggalih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!