NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Acara Sekolah (1)

**

​Setiap pekerjaan apapun itu, pasti tidak lepas dari dunia persaingan, iri, dengki ataupun saling menjatuhkan sesama rekan, atasan maupun bawahan. 

​Felisa juga merasakan itu. Terbiasa hidup dalam sangkar emas merasakan langsung polemik ini, bahkan saat dirinya baru keluar dari sangkarnya. 

​"Mereka ngapain lagi? Jatuhin minuman di baju lo?" tanya Meri yang duduk di samping Felisa dengan baju yang sudah basah oleh jus. 

​"Seperti biasa," jawab Felisa malas. 

​Jika ini terjadi dua tahun yang lalu, mungkin dia akan menangis diperlakukan seperti ini. Tapi sekarang, rasanya sudah biasa. Mungkin, Felisa sudah terlalu kebal menjadi manusia yang selalu menjadi objek di-irikan oleh orang lain. 

​"Sampah-sampah ini, rasa irinya makin menjadi," omel Meri tak habis pikir. 

​"Karena mereka sampah, buat apa kita peduli. Kita ini pencari berlian, bukan sampah." 

​Meri asistennya tertawa. "Gak salah, gue pilih lo buat diasistenin." 

​"Iya, lah." Felisa menatap malas Meri. "Yang lo lihat waktu itu karena gue cantik dan body goals, asem!" 

​Meri malah tertawa. Memang benar, hal pertama yang dia lihat dari Felisa dua tahun yang lalu adalah parasnya yang cantik, tubuhnya yang langsing serta aura bintang yang langsung membuat meri terpukau. Bahkan, setelahnya ternyata memang benar Felisa mempunyai bakat alami saat bergaya di depan kamera, yang membuat jepretannya seolah terlihat hidup. Tak salah, banyak sesama rekannya yang selalu iri dan berbuat hal jahat terhadap gadis ini. 

​"Nanti malam, mau datang ke acara ultah Angel?" tanya Meri menyerahkan undangan ke Felisa. "Tadi, dia nitip undangan ini buat lo."

 

​"Tumben, ngundang?" Felisa mengamati undangan itu, karena ini memang pertama kalinya makhluk sejenis Angel mau mengundangnya. Yah, makhluk itu memang salah satu makhluk yang paling iri dengan Felisa. 

​"Datang aja, gue temenin. Kita lihat ada apa aja di sana. Lumayan, ini di club elit. Sekali-kali, kapan lagi datang ke tempat seperti ini gratis." 

​"Ok, deh." 

​"Lihat deh, yang ultah si Angel tapi tetep yang jadi pusat perhatian itu lo!" Meri menunjuk sekitar, dimana banyak sekali para lelaki yang melihat ke arah Felisa. 

​"Gak penting. Boleh mabuk, gak?" 

​"Gak inget terakhir mabok kaya gimana?" Meri sudah memolototi Felisa. 

​Felisa mendengus. "Terus ngapain kalau ke sini, tapi gak mabuk?" 

​"Nikmati pestanya, cuci mata lihat cowok hot!" 

​"Menyebalkan!" 

​Felisa suka party, dia bukan anak rumahan yang tidak tahu tentang dunia malam. Dia pernah minum tapi bukan pecandu, dia suka hidup bebas tapi tidak pergaulan bebas, Felisa belum sejauh itu. Felisa sering berpacaran, skinship sebagai pelukan dan ciuman pernah dilakukan, tapi untuk sex dia tidak mau meakukannya sebelum menikah. Itu hadiah untuk suaminya kelak. 

​Jika pergi ke pesta dengan Meri, sudah bisa dipastikan menjadi pesta paling membosankan! Tidak ada minuman, menari, membosankan! 

​"Sebentar yah, para asisten di suruh meeting dadakan sama ketua manager di atas." 

​Meri yang sudah berdiri, kembali menoleh ke arah Felisa. "Tidak ada mabuk ok, sampai gue kembali!" ancam Meri yang hanya ditanggapi anggukan malas oleh Felisa. 

​Felisa mendengus, perasaan tidak seburuk itu dia jika minum. Felisa cuma selalu lepas kendali menari heboh, memeluk orang random, bahkan pernah mencium orang random. 

​"Ok, memang lebih baik gak ada mabuk!" 

​Felisa tiba-tiba terbayang ingatan ngeri, saat dirinya hampir berciuman dengan om tua. 

​"Cupu banget sih, gak minum," cibir Angel dengan gaya angkuhnya. 

​Disampingnya ada Maria dengan sama tatapan angkuhnya. Mereka berdua adalah dua orang yang paling terang-terangan menunjukkan rasa iri terhadap Felisa. 

​"Nih!" Angel menyerahkan segelas minuman ke arah Felisa. "Setidaknya, hargai pesta orang yang udah ngundang lo ke sini." 

​"Sorry ... gue tetep gak bisa." Felisa berusaha menolak sehalus mungkin. Selama ini, Felisa memang tidak pernah suka keributan, lebih memilih mendiamkan ulah orang-orang yang iri. 

​Di sini, dia ingin hidup damai. Cukup di keluarga, hidupnya tidak tenang dan selalu penuh konflik. Setidaknya, dia ingin menikmati kebebasan ini tanpa adanya masalah yang tak penting. 

​"Kalau gitu, ayo gabung! Di sana anak-anak udah kumpul, ngapain sendiri di sini?" ajak Maria. 

​"Setidaknya, lo harus hargai ajakan yang punya pesta, dong," cibir Angel lagi. 

​"Ok!" Felisa memilih setuju, dari pada menjadi ribut nanti. Tidak ada masalah bukan, jika gabung dengan mereka sembari menunggu Meri? 

​Felisa tidak tahu bagaimana caranya, dia bisa duduk dengan orang-orang yang kata Meri paling banci dengan kehadiran dirinya alias yang paling iri. Ingin pergi, tapi sekali lagi dia tidak suka keributan. 

​Perlakuan mereka memang terasa baik, tapi entah kenapa terasa ada yang aneh, seperti sebuah kepura-puraan. 

​Felisa bahkan akhirnya tidak bisa menolak, saat berkali-kali mereka menyodorkan minuman yang sering ia tolak, tapi akhirnya Felisa menyerah untuk menerimanya.

Kepala dia sudah pusing, entah ini sudah gelas ke berapa. Kenapa sekarang perasaan dia menjadi tidak enak, yah? 

​Semuanya terasa berputar, sampai akhirnya kegelapan menyerang dirinya. 

​"Sekarang hidup lo, bakal hancur di sini!" 

​Angel tersenyum, memandangi tubuh seorang wanita yang sangat ia benci, sekarang tengah berbaring tidak berdaya di atas ranjang hotel. 

​"Dav, cowok itu mana?" 

​Lelaki di sampingnya, yang merupakan orang yang membawa Felisa ke sini melirik jam di pergelangan tangan. "Kayaknya, masih diperjalanan. Tadi bilang udah berangkat, sih." 

​"Udah dibayar, kan?" 

​"Udah, sayang." Dava merangkul bahu Angel. "Bagaimana, jika kita nikmati malam ini juga?" 

​Angel tersenyum, mengecup pipi Dava gebetannya. "Ok, sayang. Gue juga udah kangen." 

​Sebelum keluar, Angel melirik Felisa dengan tersenyum puas. "By ... jalang!" 

​Angel juga sudah menyuruh Maria untuk menyampaikan jika Felisa sudah pamit pulang duluan, jika nanti bertemu asistennya. 

​Langkahnya terhenti, saat melihat seorang lelaki tengah terduduk di samping lif. Angel ingat, jika warna baju lelaki bayaran itu katanya memakai kemeja biru. Dia menghampiri lelaki itu, setelah yakin jika itu orangnya, langsung menyuruh Dava membawa lelaki itu ke kamar Felisa. 

​Semuanya pasti akan berjalan sesuai rencananya. Pasti itu! 

**

​

​"Semoga gak ketemu Alexa." 

​Sepanjang perjalanan, Rafa terus merapalkan mantra itu, walau besar kemungkinan itu pasti akan terjadi. 

​"Daddy, ayo!" teriak Elvan kesal. Mungkin saking geregetannya melihat langkah Rafa yang selalu tertinggal di belakang, Elvan kembali berlari ke belakang, menggandeng Rafa agar berjalan di sisinya. 

​"Pelan-pelan sayang, jalannya. Nanti, jatuh!" seru Felisa yang juga mengimbangi jalan di samping, yang akhirnya juga digandeng Elvan.

​Sekilas, jika orang melihat, mereka sudah terlihat seperti keluarga harmonis yang mampu membuat siapapun yang melihat iri. Terbukti, setiap mereka lewat pasti menjadi sorotan orang-orang di sekitarnya.

​"Harus, banget, yah pakai kaos couple bertiga gini?" protes Rafa yang untuk kesekian dari apartemen sampai sekarang.

​"Susah banget yah, nurutin mau anak dan bahagiakan anak?" cibir Felisa kesal.

​"Yah, tapi gak gini juga, dong!" Rafa tahu protesnya hanya akan menjadi angin lalu. Mana bisa dia menolak, jika Elvan sekarang terlihat sangat bahagia menggandeng mereka berdua.

​Hari ini TK Elvan, mengadakan family day. Dimana semua orang tua hadir untuk mengikuti semua perlombaan keluarga bersama para anak. Tadinya, Rafa tidak mau datang, tapi saat melihat Elvan sedih karena katanya anak itu juga biasanya selalu datang dengan mama saja, dia juga mau datang bersama papanya juga seperti teman-temannya yang lain. Mana bisa kan, Rafa menolak?

​Tapi masalah kembali datang, saat Elvan juga meminta untuk memakai baju couple seperti teman-teman keluarganya. Saat Rafa kembali menolak, jawaban Elvan kembali membuatnya sedih, serta merasa bersalah.

​"Kata Bu guru, jika Elvan gak nakal nanti kemauan aku akan terwujud. Seminggu ini aku gak nakal, gak ikutin Cio umpetin sepatu teman-teman, gak ikut Cio umpetin buku teman-teman juga. Aku cuman mau pergi ke sekolah bareng Papa sama Mama, kaya teman-teman aku dulu. Biar kali ini, aku gak dibilang anak haram lagi. Memang anak haram apa, yah? Kenapa dulu mereka bilang gitu?"

​Rafa melihat Elvan sendu. Elvan tidak pernah salah, dia hanya harus terlahir di tengah-tengah orang tua yang dalam keadaan salah. Kenapa Rafa bisa melupakan fakta itu? Kondisi Elvan yang selama ini menjadi gunjingan orang-orang karena kondisi mereka.

​"Hi Bret! Aku juga punya Papa sama Mama! Aku juga datang bareng mereka!" teriak Elvan senang, saat bertemu salah satu temannya yang juga tengah menggandeng orang tuanya.

​Rafa dan Felisa hanya saling tersenyum, saat beradu pandang dengan orang tua teman Elvan yang dipanggil Bret itu.

​"Namaku Brandon bukan Bret!" protes anak kecil itu yang membuat Elvan terbahak.

​Dasar anak ini! Yang malu akhirnya Rafa dan Felisa karena anak itu memanggil nama orang sembarangan, untungnya orang tua anak itu mengerti karena namanya juga anak-anak, katanya.

​"Pipit, lihat nih! Aku juga datang bareng Mama dan Papa!" teriak Elvan lagi, saat bertemu dengan anak perempuan.

​"Namaku Putri, bukan Pipit!"

​"Rorod, lihat aku juga datang bareng Papa dan Mama!"

​"Namaku Lonal!"

​"Gusgus, lihat nih, Papa dan Mama aku!"

​"Bilang Gusti!"

​"Dadam, lihat nih, orang tua aku!"

​"Namaku Adam, Elvan!"

​Kali ini Rafa dan Felisa tidak mau protes, tentang anak itu yang selalu salah atau mengganti nama teman-temannya. Fokus utama mereka satu hal, betapa senangnya Elvan yang mengenalkan mereka berdua sebagai orang tuanya. Senyum selalu terbit di wajah Elvan, bocah itu bahkan seolah bangga bisa datang ke sekolah dengan menggandeng tangan kedua orang tuanya.

​"Dulu, Elvan selalu berjalan menunduk setiap ketemu teman-temannya. Dia selalu bertanya di mana kamu? Karena teman-temannya selalu datang bersama mama-papanya, tapi kenapa dia enggak? Kenapa cuman dia yang datang sendiri bareng saya? Di mana kamu? Apa dia punya ayah? Kalau diingat-ingat lagi, kegagalan terbesar saya itu dalam menjaga senyum Elvan supaya tidak sedih adalah kehadiran kamu. Seberapa keras, saya membahagiakan Elvan dengan kasih sayang dan menuruti mau anak itu, tetap saja satu hal tentang kamu, selalu jadi hal yang buat anak itu mau. Melihat senyum Elvan yang bahagia sekarang memperkenalkan kita dengan bangga, menyadarkan saya jika kamu penting buat Elvan," kata Felisa tiba-tiba.

​Rafa melirik ke arah Felisa, hatinya itu bersedih mendengarnya. "Terus, kamu selalu jawab apa, setiap dia tanya saya di mana?"

​Felisa balik melirik Rafa. "Papa lagi di tempat jauh, nanti dia bakal pulang bawa Elvan pergi beli mainan yang banyak."

​Rafa tidak mampu menjawab apapun, sama seperti Felisa tidak mampu meneruskan berkata hal yang menyakitkan di dalam perasaan mereka. Pandangan mereka, sama-sama terfokus ke Elvan.

​Sekali lagi, Elvan tidak pernah salah. Bukan anak haram, bukan bocah berdosa yang harus selalu tersakiti dengan julukan itu. Kesalahan ada pada mereka berdua. Tentang mereka yang tak mampu menahan diri malam itu. Enggak! Mereka tidak pernah menyesali kehadiran Elvan, tapi waktu dan keadaan saja yang salah saat itu. Satu hal lagi yang mereka sesali, karena ada waktu saat pernah menolak kehadiran Elvan, padahal anak itu tidak pernah meminta hadir di tengah mereka.

​"Ayo buat mimpi Elvan, hari ini terwujud!" seru Rafa yang langsung diangguki Felisa. "Kita ganti, waktu terlewat Elvan tanpa kita."

​Felisa kembali mengangguk, tersenyum kecil. "Iya."

​Felisa tidak tahu maksud Rafa, apa tentang waktu hari ini, apa waktu-waktu setelah hari ini? Kondisi mereka yang tak terikat apapun, pasti akan berpengaruh pada Elvan. Bersyukur, hari ini tidak harus ada dokumen-dokumen seperti itu. Tapi kedepannya, apa bisa terlewat dengan mudah seperti ini?

​"Cio, lihat nih, Papa sama Mama aku!"

​"Om Rafa!"

​"Kak Rafa!"

​"Alexa!"

​"Hai, Kak Raf!"

​Mereka semua akhirnya hanya saling berpandangan dalam keadaan bingung.

##

1
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!