NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Seorang kenalan

Tiga puluh keping perak berpindah tangan di atas meja kayu yang kasar.

Ye Chan menatap pedagang itu dengan tenang. Ia tidak berniat menawar lebih jauh untuk sisa taring monster yang baru saja ia jual.

"Ini harga pas. Aku tidak ingin membuang waktu dengan pembeli yang pelit," sahut pedagang itu sambil menggeser koin ke arah Ye Chan.

Ye Chan mengangguk singkat. Ia memasukkan uang itu ke dalam kantong kain yang menggantung di pinggangnya.

Ia berbalik, melangkah menjauh dari kerumunan pasar menuju kedai teh di ujung jalan.

Udara siang itu terasa lembap dan berbau debu jalanan. Ye Chan menyelinap di antara para kultivator yang sedang memadati kios obat.

Sayup-sayup, ia mendengar pembicaraan dua orang di dekat kios senjata.

"Sekte Awan Putih sedang kacau. Banyak murid senior yang keluar sejak Shi Zhong mengambil alih kuasa."

"Bukan hanya itu, kudengar ada seorang murid senior dari Sekte Awan Putih bernama Yuen Fang yang berkeliling kota mencari seseorang."

Ye Chan menghentikan langkahnya sejenak. Bahunya menegang tipis.

'Yuen Fang? Sudah lama aku tidak mendengar nama itu.' pikirnya dalam diam.

Ia menarik napas panjang, menetralkan detak jantungnya agar tidak terlihat mencolok di tengah keramaian.

Ia memutuskan untuk tidak peduli dan segera mempercepat langkah menuju kedai teh.

***

Tepat saat matahari mencapai puncak, Ye Chan telah duduk di kursi pojok kedai teh yang redup.

Uap panas dari cangkir porselennya menyelinap ke udara, membawa aroma melati yang menenangkan indra penciumannya.

Ia sedang menatap daftar misi yang tertera pada selembar kertas tua di atas meja kayu.

Pintu depan kedai berderit terbuka, memecah kesunyian ruangan.

Seorang pemuda dengan pakaian murid sekte yang terlihat kusam melangkah masuk ke dalam kedai.

Pemuda itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan tatapan tajam dan penuh waspada.

Pandangannya tertuju pada Ye Chan.

Ia tidak langsung menghampiri, melainkan mengamati gerak-gerik pria di pojok itu dari balik tiang penyangga.

Ye Chan menyadari keberadaan pemuda itu, namun ia tetap bersikap acuh tak acuh.

Ia mengetuk permukaan meja sebanyak dua kali dengan irama yang sangat khas.

Pemuda itu membeku.

Napasnya tertahan sesaat.

Ia berjalan mendekat dengan langkah ragu, lalu duduk tepat di depan Ye Chan tanpa diundang.

"Tetua?" bisiknya dengan suara gemetar.

Ye Chan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata pemuda itu.

"Kau masih mengingat kebiasaan sekecil itu?" tanya Ye Chan dengan nada datar.

Yuen Fang menghela napas panjang, bahunya merosot turun seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.

"Aku selalu tahu Tetua masih hidup," sahut Yuen Fang dengan senyum tipis yang tulus.

Ye Chan menyesap tehnya, membiarkan kehangatan cairan itu meresap ke tenggorokannya.

"Rumor mengatakan aku berkhianat. Mengapa kau masih di sini?" tanya Ye Chan.

Yuen Fang mencondongkan tubuhnya ke depan, menurunkan suara agar tidak terdengar oleh pengunjung lain.

"Karena aku melihat bagaimana Tetua memperlakukanku dulu. Orang sepertimu tidak mungkin melakukan tindakan rendah seperti itu."

Ye Chan terdiam.

Ia meletakkan cangkirnya dengan sangat pelan di atas piring kecil.

'Anak ini... Dia tidak tahu bahaya apa yang datang jika ia bertemu denganku seperti ini,' pikirnya.

Mereka pun beranjak menuju ruang pribadi di lantai dua kedai agar percakapan lebih leluasa.

Ruangan itu pengap, namun setidaknya mereka terhindar dari telinga-telinga yang ingin tahu.

Yuen Fang mulai menceritakan kondisi sekte yang kini telah berubah drastis.

Banyak murid senior telah pergi, meninggalkan sekte yang kini dikuasai oleh ambisi Shi Zhong.

"Shi Zhong berkembang terlalu cepat. Kekuatannya sudah mencapai tahap yang tidak wajar," lanjut Yuen Fang dengan nada gusar.

Ye Chan tetap diam, membiarkan Yuen Fang terus mengeluarkan semua kegelisahan yang selama ini ia pendam sendiri.

"Hanya segelintir orang yang tersisa di pihakmu. Master Zhan Ya adalah salah satunya," bisik Yuen Fang kemudian.

Nama itu membuat napas Ye Chan tertahan satu ketukan.

"Tetua Zhan Ya?" ulang Ye Chan pelan.

Yuen Fang mengangguk mantap.

"Master tidak pernah percaya rumor itu. Dia bahkan terus mencari jejakmu ke mana pun dia pergi."

Ye Chan mengalihkan pandangannya ke jendela yang menghadap ke arah atap-atap rumah penduduk.

"Apakah dia tidak takut dengan risikonya," ujar Ye Chan dengan suara serak.

"Master tidak peduli dengan itu," balas Yuen Fang cepat.

Ye Chan tidak menanggapi lagi.

Ia membiarkan hening menyelimuti ruangan kecil itu untuk beberapa saat.

Yuen Fang akhirnya pamit setelah memberikan secarik catatan kecil berisi petunjuk pergerakan Shi Zhong.

Ye Chan sendirian kembali di dalam kamarnya saat hari mulai beranjak petang.

Ia naik ke atap penginapan, duduk di tepi sambil menatap gemerlap kota yang perlahan tenggelam dalam kegelapan.

Angin sore menerpa wajahnya, terasa dingin namun menyegarkan pikiran yang sejak tadi penuh dengan teka-teki.

Yuen Fang benar.

Ada hal-hal yang ternyata jauh lebih sulit dilupakan daripada yang selama ini ia kira.

Ye Chan mengusap permukaan cincin penyimpanannya yang melingkar di jari telunjuk.

'Mungkin aku memang tidak bisa terus bersembunyi,' bisiknya dalam batin.

Ia turun kembali ke dalam kamar, menyalakan lampu minyak dengan satu gerakan tangan yang cepat.

Kertas kecil pemberian Yuen Fang tergeletak di atas meja, tertimpa oleh bayangan lampu.

Ye Chan mengambilnya.

Ia membaca nama Zhan Ya sekali lagi, meresapi setiap goresan tinta yang ada di sana.

Shi Zhong masih menjadi ancaman utama yang harus ia hadapi suatu saat nanti.

Namun, sekarang ada alasan lain yang membuatnya enggan untuk benar-benar menghilang.

Ia melipat kertas itu dengan rapi, lalu menyimpannya bersama catatan perjalanan yang ia miliki.

Ye Chan memutuskan untuk bertahan di kota ini lebih lama dari rencana awal.

Ia akan menunggu.

Jika memang Zhan Ya sedang mencari, ia akan membiarkan dirinya ditemukan tanpa harus memicu peringatan sekte.

Ia mulai bermeditasi di atas ranjang kayu yang keras.

Sirkulasi Qi dalam tubuhnya mengalir tenang, berpadu dengan ritme Giok Kehampaan yang berdenyut selaras.

Tidak ada lagi keraguan yang mengganjal di dalam pikirannya.

Yang ada hanyalah ketenangan sebelum badai berikutnya datang menghampiri.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!