Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.
Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.
Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.
Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayara Salah Paham
Sinar matahari sore perlahan meredup, menyisakan pendar cahaya keemasan yang menembus menembus celah gorden kamar utama keluarga Maximilian. Suasana di dalam kamar megah itu kini terasa begitu damai dan menenangkan, berbanding terbalik 180 derajat dengan kericuhan dan adu mulut sengit yang terjadi antara ayah dan anak siang tadi.
Di atas ranjang berukuran king-size yang empuk, sebuah pemandangan manis tersuguh, sukses membuat hati siapa pun yang melihatnya akan terasa menghangat. Gabriel, bocah kecil yang siang tadi bersikeras mengusir papanya sendiri, kini justru tertidur lelap dengan posisi yang begitu menggemaskan. Wajah polosnya tampak damai, sementara kedua lengan mungilnya memeluk erat pinggang papanya.
Di sebelahnya, Guzelar terbaring menyamping menghadap sang putra. Pria bertubuh tegap yang biasanya ditakuti oleh rekan-rekan bisnisnya itu kini tampak begitu lembut. Tangan besarnya dengan sabar dan penuh kasih sayang mengelus punggung Gabriel secara teratur, memberikan kenyamanan ekstra agar putranya itu tidak terbangun dari tidur sorenya.
Ayara yang duduk bersandar di kepala ranjang hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat interaksi dua laki-laki di hadapannya ini. Walaupun tadi siang keduanya beradu argumen layaknya musuh bebuyutan yang pantang mengalah, tetap saja pada akhirnya ayah dan anak itu akan terlihat lengket seperti perangko. Darah memang lebih kental daripada air, dan ikatan batin di antara keduanya tidak bisa dibohongi.
Merasakan tatapan istrinya, Guzelar perlahan mendongak. Ia menghentikan elusannya di punggung Gabriel sejenak, lalu menatap Ayara dengan sorot mata yang memancarkan kekhawatiran yang belum sepenuhnya pudar.
"Sayang..." panggil Guzelar dengan suara baritonnya yang pelan dan sangat lembut, takut membangunkan malaikat kecil di pelukannya.
"Apa kamu benar-benar sudah merasa baikan sore ini? Apa kepalamu masih pusing atau ada bagian tubuhmu yang terasa sakit?"
Ayara menatap manik mata suaminya lekat-lekat, lalu mengangguk pelan. "Hmm... aku sudah merasa jauh lebih baik. Aku baik-baik saja sekarang, sungguh," jawab Ayara meyakinkan, nada suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Namun, jawaban yakin dari Ayara rupanya tidak serta merta membuat rasa bersalah di dada Guzelar menguap begitu saja. Pria itu justru menghela napas panjang, merendahkan pandangannya dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Kemarin-kemarin, kamu juga selalu bilang begitu padaku. Kamu bilang kamu baik-baik saja, tapi pada akhirnya... kamu tetap sering kambuh secara tiba-tiba," ucap Guzelar lirih, nada suaranya bergetar menahan kesedihan yang mendalam.
"Melihatmu kesakitan dan ketakutan seperti semalam membuatku merasa gagal. Aku merasa sangat gagal sebagai seorang suami yang seharusnya melindungimu. Terkadang, pekerjaan menuntutku harus meninggalkanmu dan Gabriel ke luar kota. Di saat-saat seperti itu, trauma masa lalumu menyerang dan aku tidak ada di sampingmu untuk menenangkanmu. Maafkan aku, Sayang... sungguh, maafkan aku."
Mendengar rentetan kalimat penuh penyesalan dan keputusasaan dari bibir Guzelar, Ayara mendadak merasa sangat canggung dan tidak nyaman.
Di dalam benaknya, Ayara kembali memutar ingatan masa lalunya saat mereka masih kuliah. Ingatan itu masih sangat segar di kepalanya seolah baru terjadi kemarin. Guzelar yang ia kenal di masa lalu adalah pria yang sangat arogan, dingin, dan bermulut pedas. Ya Tuhan, lidah Guzelar kala itu jauh lebih tajam daripada silet! Pria itu sering sekali mengkritiknya tanpa ampun, bahkan pernah dengan terang-terangan mengatai Ayara sebagai wanita yang tidak benar karena hobi gonta-ganti pasangan.
Lalu, bagaimana bisa sebuah lompatan waktu ke masa depan mengubah monster menyebalkan itu menjadi sosok suami yang begitu lemah lembut, penuh kasih, dan rapuh seperti ini? Perubahan drastis ini benar-benar membuat Ayara kelimpungan. Bagaimanapun juga, mental Ayara masih belum sepenuhnya siap menerima versi Guzelar yang terlalu bucin dan penyayang ini.
"Sudahlah, Guzelar. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri," balas Ayara akhirnya, berusaha menetralkan kecanggungannya.
"Lagipula, aku memang baik-baik saja sekarang. Ini semua bukan salahmu, sungguh. Mungkin... memang nasibku saja yang buruk karena harus memiliki masa lalu seperti itu."
Guzelar menatap istrinya dalam-dalam. "Tidak, Sayang. Jangan pernah menyalahkan nasibmu. Kamu berhak bahagia," ucap Guzelar tegas namun tetap dengan intonasi lembut.
Hening sejenak menyelimuti ketiganya, hanya terdengar suara napas teratur dari Gabriel yang masih terlelap. Guzelar tampak merapikan selimut yang menutupi tubuh putranya, sebelum kembali menatap Ayara dengan raut wajah yang lebih serius namun sangat berhati-hati.
"Sayang... mengenai saran dari Dokter Josh tadi malam, apakah kamu sudah memikirkannya?" tanya Guzelar pelan, seolah sedang berjalan di atas lapisan es tipis yang bisa retak kapan saja.
Ayara mengernyitkan dahinya bingung. "Saran Dokter Josh? Maksudnya apa? Memangnya dokter itu bilang apa semalam?" tanya Ayara polos, benar-benar tidak ingat atau lebih tepatnya tidak tahu karena saat itu ia sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Guzelar menarik napas pelan, merangkai kata demi kata di kepalanya agar tidak salah berucap.
"Begini... kamu kan sudah cukup lama berhenti melakukan sesi konsultasi pada dokter spesialis kejiwaan dan psikolog. Jadi... apa sebaiknya mulai minggu depan kita ke sana lagi untuk melakukan pengecekan? Bagaimana menurutmu, Sayang?" tanya Guzelar sangat berhati-hati, matanya memancarkan ketakutan jika istrinya akan berpikir negatif dan kembali marah.
Dan benar saja, kecurigaan Guzelar terjadi. Mata Ayara membulat sempurna. Gadis dengan kepolosan dan ketajaman lidahnya itu langsung menatap Guzelar dengan tatapan menuduh.
"Tunggu dulu... maksud ucapanmu barusan apa? Kamu mau bilang kalau aku ini orang gila, begitu?!" tembak Ayara tajam, suaranya naik satu oktaf karena merasa tersinggung.
"Astaga! Tidak, Sayang! Tentu saja bukan begitu maksudku! Ya Tuhan, tentu saja kamu sama sekali tidak gila!" panik Guzelar seketika. Pria itu buru-buru bangkit dari posisinya yang berbaring, duduk tegak menghadap Ayara sambil mengibaskan kedua tangannya dengan wajah memucat.
"Terus, kalau aku tidak gila, kenapa kamu tiba-tiba menyuruhku pergi konsultasi ke dokter kejiwaan, hah?!" tuntut Ayara kesal, bibirnya mengerucut sebal. Ia merasa harga dirinya sedikit terluka.
Guzelar tersenyum penuh kesabaran, meraih sebelah tangan Ayara lalu mengusap punggung tangan istrinya itu dengan ibu jarinya.
"Sayang, dengarkan aku baik-baik," ucap Guzelar dengan nada selembut sutra, berusaha memberikan pengertian pada istrinya yang sedang mode polos dan emosional ini.
"Konsultasi ini tujuannya murni untuk pengobatan trauma masa lalumu, Sayang. Untuk menyembuhkan luka batinmu akibat kejadian malam itu. Lagipula, kamu harus tahu, orang-orang yang datang berkunjung ke dokter psikolog atau psikiater itu bukan berarti mereka adalah orang gila," jelas Guzelar memberikan pemahaman secara perlahan.
"Banyak orang datang ke sana karena mereka hanya butuh tempat yang aman untuk bercerita, untuk mengurai beban pikiran, atau karena mereka sedang stres akibat tekanan hidup. Dokter spesialis kejiwaan ada untuk membantu menata kembali emosi dan mental kita yang mungkin sedang tidak stabil karena kejadian traumatis, bukan sekadar mengurusi orang yang kehilangan akal sehat. Kamu mengerti kan, Sayang?" pungkas Guzelar menatap Ayara dengan penuh harap.
Mendengar penjelasan yang begitu masuk akal dan sabar dari suaminya, Ayara seketika tersadar. Pikirannya terbuka. Benar juga apa yang diucapkan Guzelar barusan. Pergi ke psikolog atau dokter kejiwaan tidak selalu identik dengan Rumah Sakit Jiwa. Orang normal pun butuh tempat rehabilitasi mental jika memiliki trauma atau stres berat.
Entah kenapa, hawa panas mendadak menjalar ke kedua pipi Ayara. Ia merasa sangat malu saat ini. Kenapa juga ia tiba-tiba menjadi sangat defensif dan sensitif seperti ini? Padahal niat Guzelar sangat baik, murni karena pria itu mengkhawatirkan kesehatannya.
Ayara berdehem pelan, memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. "Ooh... jadi begitu ya maksudnya. Ya sudah, kalau memang menurutmu itu yang terbaik. Bagaimana bagusnya saja deh, aku ikut saja," ucap Ayara pada akhirnya dengan nada sedikit canggung.
Mendengar jawaban persetujuan yang keluar dari bibir Ayara, seulas senyum lega yang luar biasa lebar langsung merekah di wajah tampan Guzelar. Ya Tuhan, jika saja Ayara tahu betapa bersyukurnya Guzelar saat ini!
Pasalnya, sejak mereka berdua pulang dari masa rehabilitasi sekaligus bulan madu panjang di Kanada beberapa tahun silam, Ayara berubah menjadi sangat keras kepala. Istrinya itu tidak pernah mau lagi diajak melakukan konsultasi lanjutan ataupun meminum obat penenangnya.
Alasan Ayara kala itu sangat masuk akal bagi seorang ibu, saat itu ia sedang mengandung Gabriel. Ayara sangat ketakutan jika efek samping obat penenang atau anti-depresan berdosisi tinggi yang ia konsumsi akan masuk ke dalam aliran darah dan merusak perkembangan janin di dalam kandungannya.
Padahal kenyataannya, Ayara hanya merasa sangat lelah. Ia lelah secara fisik dan mental karena terus-menerus bergantung pada obat-obatan kimia, dan terkadang merasa putus asa dengan dirinya sendiri yang seolah tidak bisa sembuh total dari bayang-bayang trauma kelam tersebut.
Sebagai suami yang sangat memuja istrinya, Guzelar tidak kehabisan akal. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Ayara, Guzelar kerap mendatangkan dokter dan melakukan terapi khusus secara tertutup setiap kali istrinya itu jatuh pingsan akibat serangan panik. Segala cara Guzelar tempuh demi menjaga kewarasan dan kebahagiaan wanita yang paling dicintainya ini.
Guzelar kembali menatap Ayara, matanya memancarkan ketulusan dan cinta yang begitu dalam, seolah Ayara adalah satu-satunya pusat semestanya. Ia menggenggam tangan Ayara semakin erat.
"Nanti... kita pergi ke sana bersama-sama ya, Sayang," ucap Guzelar lembut, memastikan istrinya tahu bahwa ia tidak akan pernah dibiarkan berjuang sendirian.
"Aku akan terus berada di sampingmu, menggenggam tanganmu selama sesi terapi berlangsung. Aku yakin seyakin-yakinnya, kita pasti bisa melalui semua ini bersama. Traumamu akan sembuh, Sayang."
Mendengar janji tulus yang diucapkan dengan penuh keyakinan itu, entah kenapa hati Ayara mendadak terasa begitu hangat. Ada desir aneh yang menggelitik perutnya. Ucapan Guzelar yang dipenuhi dengan afirmasi positif itu sukses membuat jiwa Ayara merasa sangat aman, terlindungi, dan... tenang.
Bersambung...
Di sekeliling kalian ada yang konsumsi obat penenang nggak? Kadang author suka sedih melihat orang-orang yang konsumsi obat ini, dan sulit akan lepas.🥺
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣
nanti suaminya marah besar itu istri kesayangan nya main ditarik ajaa🫣🫣🤣
seenggaknya dia inget akyu
eh ..kok cyiin nya kebawa lagi thor🤣🤣
biar trauma nya terputus
anak pertama mereka??🥹🥹🥹
meminta pertolongan adalah langkah pertama kita mau sembuh
jadi ga usah takut dan malu...
ayo kita sembuh bersama