NovelToon NovelToon
Super Sistem Pekerjaan Impian

Super Sistem Pekerjaan Impian

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Suasana di dalam kedai kopi itu mendadak terasa sedikit canggung dan hening.

Beberapa pengunjung yang sedang duduk di dekat meja kasir mulai mencuri dengar percakapan mereka.

Bima masih berdiri dengan santai, menyandarkan sikunya di atas meja kasir kaca.

Dia menatap wajah Bella yang terlihat begitu angkuh dan puas bisa merendahkannya di depan umum.

"Kamu benar-benar tidak tahu malu ya, Bima," ucap Bella dengan nada mencemooh.

"Sudah jatuh miskin, dipecat dari pekerjaan, sekarang malah menguntitku sampai ke tempat elit seperti ini."

Bima menghela napas panjang mendengar tuduhan yang sangat tidak berdasar itu.

"Tingkat kepercayaan dirimu ini sepertinya butuh diperiksakan ke dokter jiwa, Bella," jawab Bima tenang.

"Aku bahkan tidak tahu kalau kamu ada di sini sampai kamu meneriakkan namaku seperti orang kesurupan."

Wajah Bella seketika memerah menahan marah mendengar balasan telak dari mantan pacarnya itu.

Pria berkemeja rapi yang berdiri di sebelah Bella langsung melangkah maju untuk membela kekasih barunya.

Dia menatap Bima dengan pandangan merendahkan dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Jaga nada bicaramu pada pacarku, gembel," ancam pria itu dengan suara berat yang dibuat-buat.

"Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."

Bima menoleh perlahan menatap pria yang sedari tadi merangkul pinggang Bella itu.

"Memangnya kamu ini siapa?" tanya Bima dengan wajah datar polos tanpa dosa.

"Satpam pribadi Bella?"

Beberapa pelanggan kedai kopi yang mendengar celetukan Bima itu tampak berusaha menahan tawa mereka.

Pria itu mendengus kasar, merasa harga dirinya baru saja disentil oleh seorang pengangguran lusuh.

"Kenalkan, namaku Dion."

Dion membusungkan dadanya dengan bangga sambil memamerkan jam tangan di pergelangan tangan kirinya.

"Aku adalah manajer operasional di PT Maju Bersama."

"Perusahaan penyuplai bahan baku terbesar untuk gedung-gedung perkantoran di pusat kota ini."

Bima mengangguk-anggukkan kepalanya pelan dengan ekspresi pura-pura kagum yang sangat kentara.

"Wah, manajer operasional rupanya."

"Pantas saja gaya bicaramu sudah seperti pemegang saham mayoritas di bursa efek."

Sindiran halus itu membuat Dion semakin geram karena merasa Bima sama sekali tidak terintimidasi oleh jabatannya.

Dion merogoh dompet kulit tebalnya dari saku belakang celana.

Dia menarik selembar uang seratus ribuan dan meletakkannya dengan kasar di atas meja kasir.

"Mbak, tolong buatkan kopi paling murah untuk pengemis ini," ucap Dion kepada barista perempuan yang sedari tadi diam ketakutan.

"Anggap saja ini sedekah dariku agar dia tidak kelaparan di jalanan hari ini."

Bella tertawa manja melihat aksi pamer kekayaan yang dilakukan oleh pacar barunya itu.

"Kamu baik sekali sih Sayang, mau repot-repot memberi makan pengangguran seperti dia."

Bella menyandarkan kepalanya ke bahu Dion sambil menatap sinis ke arah Bima.

"Sudahlah Bima, ambil saja uang itu dan cepat pergi dari sini sebelum kamu mempermalukan dirimu sendiri lebih jauh."

Bima melirik selembar uang merah di atas meja itu lalu menatap wajah Dion.

"Kalian ini pasangan yang sangat serasi, sungguh," puji Bima dengan senyum tipis di bibirnya.

"Sama-sama suka hidup dalam khayalan tinggi tapi modalnya cuma pas-pasan."

Dion mengerutkan keningnya tidak terima mendengar hinaan tersebut.

"Apa maksudmu modal pas-pasan, hah?"

"Uang di dompetku ini lebih banyak dari gajimu selama setahun bekerja menjadi kuli."

Bima tidak langsung menjawab, matanya justru tertuju pada pergelangan tangan kiri Dion.

"Manajer operasional yang sukses seharusnya punya selera yang lebih bagus dalam memilih barang, Mas Dion."

Bima menunjuk ke arah jam tangan logam berwarna perak yang melingkar di tangan pria itu.

"Jam tangan Rolex Daytona itu memang terlihat keren dari kejauhan."

"Tapi sayangnya, jarum detik jam tangan Rolex asli tidak pernah bergerak patah-patah seperti jam dinding murahan."

Wajah Dion seketika berubah pucat pasi mendengar analisis tajam Bima.

Dia buru-buru menarik tangannya dan menyembunyikannya ke belakang punggung.

"Sembarangan kamu!" bantah Dion dengan suara yang mulai terdengar panik.

"Ini barang asli, harganya seratus juta lebih, dasar orang miskin mana tahu barang bermerek!"

Bella yang berdiri di sebelahnya mulai menatap Dion dengan tatapan sedikit curiga.

Namun Bella menepis kecurigaannya sendiri karena tidak ingin terlihat bodoh di depan mantan pacarnya.

"Kamu jangan asal bicara, Bima."

"Dion ini orang kaya beneran, tidak sepertimu yang cuma bisa bermimpi punya barang semahal itu."

Bima tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya melihat kebutaan Bella pada harta.

"Rolex asli terbuat dari baja tahan karat 904L yang sangat mengkilap."

"Sedangkan jam tangan pacarmu itu warnanya sudah memudar dan menghitam di bagian sela-sela rantainya."

Bima menatap mata Dion dengan tajam, sebuah tatapan yang menelanjangi semua kebohongan pria itu.

"Beli di pasar loak pinggir jalan mana jam itu, Mas Manajer?"

Beberapa pengunjung kedai kini terang-terangan berbisik sambil menatap ke arah Dion.

Dion merasa wajahnya memanas seperti sedang dibakar di atas bara api.

Rasa malunya benar-benar sudah mencapai ubun-ubun karena rahasianya dibongkar oleh pria berkemeja lusuh.

"Tutup mulutmu, bajingan!"

Dion mengangkat tangannya hendak mencengkeram kerah kemeja Bima karena kehilangan kesabaran.

Namun sebelum tangan Dion berhasil menyentuh Bima, sebuah suara dingin yang sangat tegas memecah keributan itu.

"Apa yang sedang terjadi di sini?"

Semua orang di kedai kopi itu refleks menoleh ke arah pintu masuk.

Nadhira berdiri di sana dengan postur tubuh yang sangat anggun dan mendominasi.

Aura kepemimpinan dari seorang direktur utama wanita sukses memancar kuat dari setiap inci penampilannya.

Blazer biru dongker dan tatapan matanya yang sedingin es membuat siapa saja segan untuk menatapnya berlama-lama.

Bima tersenyum tipis melihat kedatangan wanita tersebut.

"Penyelamatku akhirnya datang juga," ucap Bima dalam hati dengan nada santai.

Nadhira melangkah masuk mendekati meja kasir dengan suara hak sepatu yang bergema pelan.

Dion yang melihat wajah Nadhira dari dekat mendadak membelalakkan matanya lebar-lebar.

Sikap garangnya tadi langsung lenyap seketika tak berbekas.

Tubuh Dion bahkan sedikit membungkuk secara refleks seolah sedang berhadapan dengan presiden.

"B-Bu Nadhira?" sapa Dion dengan suara bergetar dan gugup.

"Kebetulan sekali bisa bertemu dengan Ibu di tempat ini."

Nadhira berhenti melangkah dan menatap Dion dengan kening berkerut.

"Anda siapa?" tanya Nadhira dengan nada datar tanpa ekspresi.

Dion tersenyum canggung sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya mencari muka.

"Saya Dion, Bu, dari PT Maju Bersama."

"Perusahaan kami yang mensuplai seluruh kebutuhan alat tulis dan kertas untuk kantor Ibu."

Nadhira hanya merespons perkenalan itu dengan deheman pelan yang sangat meremehkan.

"Oh, vendor kecil."

Dua kata itu meluncur begitu saja dari mulut Nadhira, membuat harga diri Dion hancur berkeping-keping.

Bella yang berdiri di sana mulai merasa ada yang tidak beres dengan situasi ini.

Mengapa pacar barunya yang sombong itu tiba-tiba bersikap seperti pelayan rendahan di depan wanita ini?

Nadhira tidak mempedulikan Dion lagi dan langsung mengalihkan pandangannya pada Bima.

Tatapan dinginnya mendadak berubah menjadi jauh lebih hangat dan bersahabat.

"Bima, kamu belum memesan kopinya?" tanya Nadhira lembut.

"Rapatku selesai lebih cepat karena para investor tua itu terlalu membosankan."

Mulut Dion dan Bella kompak terbuka lebar mendengar nada bicara Nadhira pada Bima.

Bagaimana bisa direktur utama dari salah satu perusahaan raksasa di kota ini berbicara begitu akrab dengan seorang pengangguran?

"Baru saja mau pesan, tapi meja kasirnya keburu dikuasai oleh manajer sukses ini," jawab Bima santai sambil menunjuk Dion dengan dagunya.

Nadhira melirik sinis ke arah Dion.

"Dia mengganggumu, Bima?"

"Kalau iya, aku bisa menelepon divisi pengadaan barang sekarang juga untuk memutus kontrak dengan perusahaannya."

Ancaman dingin itu membuat lutut Dion mendadak lemas seketika.

PT Maju Bersama sangat bergantung pada kontrak dari perusahaan Nadhira untuk bertahan hidup.

Jika kontrak itu diputus, Dion bukan hanya akan dipecat, dia mungkin akan dituntut oleh bosnya sendiri.

"T-tidak Bu Nadhira, ini semua hanya salah paham!" seru Dion panik dengan wajah pucat pasi.

Dion buru-buru menarik lengan Bella agar wanita itu menyingkir dari hadapan Bima.

"Kami baru saja mau pergi dari sini, permisi Bu, silakan lanjutkan obrolan kalian."

Dion bahkan tidak berani menatap mata Bima lagi karena rasa takut yang teramat sangat.

"Tunggu sebentar, Mas Manajer."

Suara Bima menghentikan langkah tergesa-gesa Dion dan Bella di dekat pintu.

Bima mengambil uang seratus ribu milik Dion yang masih tergeletak di atas meja kasir.

Dia berjalan mendekat dan menyelipkan uang itu ke dalam saku kemeja rapi milik Dion.

"Ambil kembali sedekahmu ini."

"Kamu pasti butuh uang ini untuk membeli baterai baru agar jam tangan palsumu itu bisa berjalan normal lagi."

Dion hanya bisa menundukkan wajahnya menahan rasa malu yang tidak tertahankan.

Bella pun sama, wajahnya merah padam karena tidak pernah menyangka Bima bisa memiliki koneksi sehebat Nadhira.

Dion dan Bella akhirnya bergegas keluar dari kedai kopi itu seperti anjing yang ketakutan.

1
Naga Hitam
wahh tidak ada truk tronton
YUI: tidak perlu ketabrak truk dulu🤣🤣
total 1 replies
Yuliana Tunru
bodoh dan arogan x kau vina ..tak sabar mau tau gmn reaksi x saat tau siapa bima 🤣🤣 makin seruuu dan yg pasti up x benar2 bikin puasss 👍👍
Oarashi
gas
Yuliana Tunru
cuma bisa bilang wooow bima ..cslon pacar udaman tuh siska 🤭🤭
Kasma Wati
.🤣🤣🤣🤣🤣
Heri Susanto8246
bodoh
Yuliana Tunru
up x ndk kaleng3 ..ma kasih thorr 💪💪 trs ya 👍👍
aldo
lanjut author semangat terus 🙏🙏🙏🙏
Yuliana Tunru
cerita yg bagus thorr wuka gaya bima yg tenang tp cerdik..bonus vote buat kisah mu
YUI: terimakasih kak☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!