Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di dalam ruang kelas 11 IPS 3, suasana tampak begitu hening dan mencekam. Bukan karena ada ujian mendadak, melainkan karena saat ini tengah berlangsung kegiatan Belajar Mengajar (KBM) mata pelajaran Matematika.
Bagi sebagian besar siswa, Matematika adalah momok yang lebih menakutkan daripada film horor mana pun. Bagaimana tidak? Terkadang satu soal sederhana bisa membutuhkan jawaban sepanjang satu lembar kertas penuh dengan rumus-rumus yang memusingkan kepala.
Ziva tampak duduk di bangkunya, mencoba sekuat tenaga untuk tetap fokus pada penjelasan Bu Ina, guru pengganti yang sedang menuliskan deretan angka di papan tulis. Namun, fokus Ziva terusik. Ia bergerak gelisah, sesekali menggeser posisi duduknya dan meremas ujung seragamnya. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Perubahan gerak-gerik Ziva tidak luput dari perhatian Karlota. Sahabat setianya itu mengangkat sebelah alisnya, memberikan tatapan bertanya tanpa suara. Ziva hanya menggeleng pelan, mencoba tersenyum meski bibirnya tampak sedikit pucat.
"Sstt..." Sebuah rintihan kecil yang menyakitkan akhirnya lolos dari mulut Ziva. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, tangan kirinya kini menekan perut dengan kuat.
Karlota langsung mendekat, berbisik dengan nada penuh kekhawatiran. "Kenapa, Ziv? Lo sakit?"
"Perut gue sakit banget, Kar. Kayaknya mules, gue perlu ke kamar mandi sekarang," gumam Ziva dengan suara yang bergetar. Rasa melilit di perutnya benar-benar tidak tertahankan, seolah ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk dari dalam.
"Ayo, gue anter ke UKS aja, Ziv. Muka lo pucat banget," ucap Karlota yang sudah bersiap untuk berdiri dan meminta izin.
Namun, tangan Ziva dengan cepat menahan lengan Karlota. "Nggak usah, Kar. Gue cuma mau ke toilet sebentar. Lo tetap di sini aja, jangan sampai ketinggalan materi. Gue nggak papa sendiri."
"Tapi, Ziv—"
"Gue nggak papa," potong Ziva halus, meski ia harus menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.
Ziva kemudian mengangkat tangannya dengan lemah. "Bu..."
Bu Ina menoleh. "Iya, Ziva? Ada yang kurang jelas dari materi tadi?"
"Maaf, Bu... saya boleh izin ke toilet sebentar?" tanya Ziva. Suaranya terdengar sangat rendah, menunjukkan betapa payahnya kondisinya saat ini. Wajahnya yang semula cerah kini sudah berubah putih pucat pasi.
"Oh, iya, silakan Ziva. Kamu kelihatan kurang sehat, apa perlu ditemani?" tanya Bu Ina prihatin.
"Terima kasih, Bu. Tidak usah," jawab Ziva singkat. Ia segera bangkit berdiri dan melenggang pergi meninggalkan kelas dengan langkah yang sedikit gontai.
Sepeninggal Ziva, Bu Ina menatap Karlota. "Ziva kenapa, Karlota? Biasanya kalian tidak terpisahkan."
"Saya juga kurang tahu, Bu. Tadi Ziva cuma bilang perutnya sakit sekali," jawab Karlota. Hatinya merasa tidak tenang. Ada firasat buruk yang mulai menyelinap di benaknya saat melihat punggung Ziva menghilang di balik pintu kelas.
Ziva berjalan menyusuri koridor sekolah yang sepi karena semua kelas sedang aktif belajar. Setiap langkah terasa seperti beban yang amat berat. Perutnya semakin melilit, memaksa Ziva untuk berkali-kali berhenti dan bersandar pada tembok guna mengatur napas.
"Argh, sakit banget... toiletnya mana sih, kok jauh banget rasanya," rintih Ziva. Ia meremas perutnya, berusaha mengalihkan rasa sakit yang kini mulai menjalar hingga ke punggungnya.
Tap... tap... tap...
Suara langkah kaki yang angkuh terdengar mendekat. Ziva mendongakkan wajahnya yang sudah basah oleh keringat dingin. Di depannya, berdiri tiga orang gadis dengan senyum meremehkan yang sangat ia kenali.
"Eh, ada anak haram nih. Apa kabar, anak yang nggak dianggap?"
Ziva menghela napas berat. Orang itu adalah Sanya Aulia, saudara tirinya yang selalu merasa paling berkuasa sejak masuk ke dalam kehidupan ayahnya. Di belakang Sanya, berdiri dua "babu" setianya, Rini dan Jesi.
"Kenapa lagi?" tanya Ziva dingin, meski tubuhnya gemetar menahan sakit.
"Ck, songong banget lo! Masih bisa berlagak jagoan padahal muka udah kayak mayat," cibir Sanya.
Rini mendekat ke arah Sanya. "Kasih pelajaran nggak sih, San? Lumayan buat peregangan otot, mumpung koridor lagi sepi banget."
"Bener banget, San. Gue udah lama nggak olahraga tangan," timpal Jesi dengan senyum licik.
Sanya tersenyum miring, matanya menatap tajam ke arah Ziva yang tampak tak berdaya. "Kalian bener juga. Seret dia ke kamar mandi sekarang!"
Rini dan Jesi langsung maju. Mereka mencengkeram tangan Ziva dengan kasar.
"Lepasin gue, sialan!" Ziva mencoba memberontak, namun tenaganya saat ini benar-benar terkuras habis. Penyakit perutnya dan kondisi fisiknya yang melemah membuat perlawanannya sia-sia. Mereka menyeret Ziva secara paksa menuju kamar mandi di ujung lorong.
Brak!
Pintu kamar mandi ditutup dengan keras. Rini dan Jesi mendorong tubuh Ziva hingga ia tersungkur di lantai keramik yang dingin.
"Enaknya kita apain nih anak, guys?" tanya Sanya sambil melipat tangan di dada.
"Langsung hajar aja! Gue udah gatal banget pengen nampar muka sok cantiknya ini," ucap Rini sambil menggerakkan telapak tangannya.
Jesi pun ikut maju.
"Gue bantu pegangin, San, biar lo puas."
"Mau apa kalian?!" gertak Ziva, mencoba berdiri namun kakinya terasa lemas.
"Gue mau lo mati, Ziva! Biar warisan Ayah jatuh seutuhnya ke tangan gue dan ibu gue!" ucap Sanya dengan penuh penekanan, matanya memancarkan kebencian yang mendalam.
Ziva terkekeh getir meski perih. "Itu hak gue, bukan hak lo. Lo cuma anak angkat yang kebetulan numpang di rumah gue!"
"Sialan!"
Plak!
Sanya melayangkan tamparan keras ke pipi kiri Ziva. Kekuatan tamparan itu membuat kepala Ziva terlempar ke samping, dan bibir bawahnya robek kecil, mengeluarkan darah segar.
"Segitu doang? Lemah lo!" tantang Ziva dengan tatapan menantang, meski sudut bibirnya terasa panas.
"Nantangin lo, hah?!"
Plak!
Plak!
Bugh!
Sanya tidak berhenti. Ia menjambak rambut Ziva dengan kuat, memaksa Ziva untuk mendongak ke atas dengan rasa sakit yang luar biasa di kulit kepalanya.
"Gue nggak akan berhenti sampai lo pergi dari rumah itu!" bisik Sanya penuh dendam.
Ziva sudah tidak mampu lagi melawan. Rasa mulas di perutnya kini bercampur dengan rasa sakit akibat pukulan Sanya. Rini dan Jesi pun tidak mau kalah, mereka ikut melayangkan tamparan dan dorongan.
"Sentuhan terakhir biar gue aja," ucap Jesi. Ia mendorong tubuh Ziva dengan kasar ke belakang.
Dug!
Kepala bagian belakang Ziva membentur tembok kamar mandi dengan sangat keras. Pandangan Ziva seketika berkunang-kunang. Kesadarannya mulai menipis.
"Yuk kabur, biarin aja dia di sini," ajak Sanya. Ketiganya pergi begitu saja, meninggalkan Ziva yang tergeletak lemah di lantai kamar mandi tanpa sedikit pun rasa kemanusiaan.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Ziva merangkak bangun. Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang sangat memprihatinkan. Rambutnya berantakan, wajahnya lebam, dan ada lelehan darah di sudut bibir serta pelipisnya.
Ziva membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia harus sampai ke UKS. Dengan langkah tertatih dan satu tangan terus memegangi tembok koridor, ia mencoba berjalan.
Pandangan Ziva mulai kabur. Lorong sekolah tampak berputar di matanya. Rasa sakit di perutnya kini berubah menjadi rasa mual yang luar biasa, sementara kepalanya terasa sangat berat akibat benturan tadi.
"Tolong..." bisiknya lirih, namun suaranya hanya tertelan keheningan koridor.
Saat tubuhnya limbung dan hampir mencium lantai yang dingin, tiba-tiba sepasang tangan yang kuat menangkap pinggangnya. Ziva merasa tubuhnya ditarik ke dalam dekapan seseorang yang hangat. Aroma parfum maskulin yang khas menyeruak ke indra penciumannya.
Ziva mendongak sedikit, melihat siluet seorang laki-laki dengan tatapan mata yang tajam namun terlihat sangat khawatir.
"Terima kasih..." bisik Ziva pelan sebelum akhirnya kegelapan benar-benar menyelimuti kesadarannya. Ia pingsan di pelukan laki-laki itu.
Sosok itu tak lain adalah Mahendra. Tanpa membuang waktu, Mahendra langsung menggendong tubuh mungil Ziva ala bridal style. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak mengeras, rahangnya terkatup rapat. Ada amarah yang tertahan di matanya saat melihat kondisi Ziva yang penuh luka.
Mahendra membawa Ziva berlari menuju UKS. Ia tidak peduli jika ia harus membolos pelajaran, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah keselamatan gadis mungil yang ada di dekapannya. Perlindungan posesif yang selama ini ia rasakan secara samar, kini meledak menjadi sebuah dorongan untuk tidak membiarkan siapa pun menyentuh milik-nya lagi.