Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Kira mendengus,
"Arti nama mu itu pembawa berkah, mana biasa?"
Setelah mendengar ucapan Kira, Tony pun menjadi bersemangat.
"Habis dengar ucapan Kak Kira, aku Jadi merasa namaku sudah berbeda. Kayak Jadi lebih berkelas! Kak Kira memang berwawasan luas. Makasih!"
Biasanya, pemilik tubuh sebelumnya selalu naik kereta sapi untuk pergi ke ibu kota provinsi. Dia tidak pernah berjalan sejauh 10 kilometer.
Belum sampai setengah jalan, Kira sudah tidak sanggup berjalan lagi. Dia mau tak mau harus duduk di atas gerobak.
Namun, Basan, Danu dan Doddy masih berjalan dengan lincah. Bahkan Tony juga masih terlihat energik. Energi mereka benar-benar di luar jangkauan orang dari era teknologi.
Setelah beberapa saat, mereka berlima pun tiba di ibu kota provinsi. Tembok kota mengelilingi sebuah menara yang tingginya sekitar tiga meter. Di atas menara, berdiri para prajurit yang bersenjata.
Di luar dan dalam tembok kota, terdapat dua baris prajurit yang bersenjata dan dua penjaga yang duduk di balik meja.
Danu, Doddy dan Tony memandang ke arah menara dengan wajah terkejut, sedangkan Basan malah tidak menunjukkan reaksi apa pun.
"Gerobak menjual ikan harus bayar 100 rupiah untuk masuk ke kota!"
kata prajurit penjaga pintu setelah memeriksa gerobak mereka. Kira pun membayar uang dengan terpaksa.
Pemilik tubuh sebelumnya sering datang ke ibu kota provinsi. Jadi, dia tahu harus membayar uang masuk apabila mau berjualan di kota. Biaya yang harus dibayar tergantung pada barang apa yang mereka bawa.
Dulu, membawa masuk segerobak ikan hanya perlu membayar 50 rupiah.
Bulan lalu, pemimpin kabupaten baru diganti. Biaya masuk kota pun meningkat hingga dua kali lipat. Setelah menerima bayaran dari Kira, prajurit penjaga baru membiarkan mereka masuk.
Di dalam kota, ada beberapa rumah bertingkat dua yang terbuat dari batu bata.
Setelah melihatnya, Kira sedikit kecewa. Situasi di dalam kota bahkan lebih buruk dari desa di kehidupan lampau nya.
Namun, para penduduk kota memakai pakaian yang jauh lebih bagus dan bercorak dari pada penduduk Dusun Samadi. Danu, Doddy dan Tony terlihat bersemangat, seolah-olah sudah memasuki dunia baru.
Ada banyak penduduk dusun yang mungkin tidak pernah keluar dari dusun seumur hidup mereka.
Jangankan ibu kota provinsi, mereka mungkin juga jarang pergi ke pusat desa atau kota kecil. Jadi, orang yang pernah datang ke ibu kota provinsi selalu merasa sangat bangga.
Kelima orang itu mendorong gerobak mereka ke pasar daging yang berada di sebelah timur kota.
Setelah sampai di depan pasar, Basan berkata,
"Aku nggak tahu harga pasaran ikan. Harus pergi cari tahu dulu nih."
Kira menatap ke arah Danu, Doddy dan Tony. Doddy menggaruk kepalanya dengan kebingungan, sedangkan Danu juga terlihat sedikit takut, Tony pun maju dengan percaya diri,
"Serahkan hal ini padaku."
Tidak lama kemudian, Tony kembali dan menjelaskan tentang pajak penjualan dan harga ikan dengan jelas.
Harga pajak penjualan nya sepuluh persen. Seekor ikan kecil yang beratnya di bawah 500 gram harganya 20 rupiah, yang beratnya sekitar sekilo harganya 30 rupiah. Ikan yang beratnya di atas 1,5 kilogram bisa dijual 40 rupiah, yang beratnya 1,5-4 kilogram bisa dijual 50 rupiah, sedangkan yang beratnya di atas 4 kilogram bisa dijual 60 rupiah.
Namun, itu adalah harga ikan yang sudah mati. Jika ikannya masih hidup, harganya bisa ditambah 20 rupiah dari harga sebelumnya.
Kelima orang itu pun masuk ke Pasar Timur, lalu hendak mencari kios dan mulai berjualan.
Sebelum mereka sempat berjualan, empat orang yang terlihat galak tiba-tiba mengerumuni gerobak mereka.
Salah seorang dari mereka yang berbadan kekar dan berwajah galak menyilangkan tangannya lalu mencibir,
"Sudah sampai Pasar Timur bukan nya beri hormat ke pemilik tanah dulu sebelum berjualan. Berani banget kalian!"
"Beri hormat ke pemilik tanah?"
Setelah melihat postur sekelompok orang ini, Kira baru tersadar,
"Kalian datang buat minta biaya perlindungan?"
Danu dan Doddy mengepalkan tangannya dengan marah. Basan yang berdiri di belakang Kira juga mengerutkan keningnya
.
Tony buru-buru berbisik pada Kira,
"Kak Kira, aku lupa kasih tahu. Dia itu bos ikan Pasar Timur, namanya Iwan Parjo. Dia punya julukan 'si Perusuh'.Anak buahnya kira-kira ada sekitar belasan orang. Dia selalu ambil keuntungan 20% dari siapa pun yang mau jual ikan di Pasar Timur."
"Dua puluh persen?" Kira langsung naik pitam.
“Kalian ambil keuntungan yang lebih banyak daripada pemerintah?"
Mereka sudah bersusah payah untuk menangkap ikan selama dua hari dan harus berjalan kaki ke ibu kota provinsi untuk menjual ikan. Pemerintah hanya meminta keuntungan 10%, tetapi preman-preman ini malah minta 20%?
Setelah mendengarnya, Doddy langsung marah Bahkan Danu yang biasanya sangat tenang juga mengepalkan tangannya erat-erat. Preman-preman ini bahkan lebih kejam dari pada pemerintah.
Melihat reaksi kedua putranya, Basan langsung memelototi mereka dan menggeleng,
"Kalau mau jualan ikan di Pasar Timur, kalian harus kasih aku keuntungan 20%. Ini adalah aturan yang ku buat. Kalau nggak mau, silakan tinggalkan ikan nya dan pergi!"
Ujar Iwan sambil melambaikan tangan nya dengan galak.
Delapan pria yang terlihat seperti berandalan langsung berjalan maju, Ada yang mengepalkan tangan, ada yang memegang tongkat kayu, ada juga yang bermain dengan belati di tangan mereka, Tatapan mereka semua terlihat sangat garang
Kira mempertimbangkan baik baik situasinya saat ini. Kelompok Iwan total nya ada sembilan orang, Mereka juga mempunyai senjata dan terlihat seperti preman yang sudah sering berkelahi.
Selain Basan yang merupakan pensiunan tentara, mereka berempat hanyalah petani. Apalagi Kira, dia sama sekali tidak mungkin bisa menang dalam berkelahi.
Iwan juga merupakan penguasa lokal Pasar Timur. Kalau mereka benar-benar berkelahi, dia mungkin bisa mendapatkan bala bantuan.
Namun, Kira juga tidak rela menyerahkan 20% keuntungan penjualannya.
“Kita juga nggak bakal berpangku tangan kok!"
Iwan melambaikan tangannya, lalu seorang bawahannya mendekat dengan membawa sebuah timbangan,
"Waktu kalian jual ikan, kami bakal bantu timbang beratnya. Jadi kalian nggak perlu terlalu capek"
"Membantu?" dengus Kira.
Kira tahu maksud Iwan. Mereka akan menimbang ikannya dan menyimpan uang lebih dari pembeli.
Pembeli yang merasa tertipu akan melapor ke pengadilan daerah. Kemudian, preman-preman ini akan mengatakan bahwa mereka menerima komisi untuk melakukannya.
"Setuju apa nggak? Aku nggak mau buang-buang waktu sama kalían!"
Begitu Iwan menjentikkan jarinya, delapan orang preman langsung maju, Danu dan Doddy mengepalkan tinju mereka, tetapi Basan memelototi mereka dan menggeleng lagi.
Akal sehat Kira menyuruhnya untuk tunduk pada sekelompok Preman ini, tetapi mulutnya malah berkata,
"Aku nggak takut sama kamu!"