"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Ashura vs Kaira
Kemampuan Ashura membuat empat Tetua Ignis terkejut. Kemampuan itu setara dengan orang-orang yang dirasuki roh sihir yang dikenal dengan Aura Sihir Kekacauan, Astral.
"Aku tidak bisa membayangkan jika bocah Flameheart itu juga lepas kendali. Kita akan kembali menyaksikan kerajaan ini terbakar dan membeku disaat yang sama." Tetua Burn berkata.
"Kemampuan bocah itu sangat berbahaya, tetapi kita bisa memanfaatkannya menjadi senjata sihir untuk melawan kerajaan lain. Aku rasa tidak ada salahnya kita menerimanya disini." sahut Tetua Lumiya Scale.
Tetua Eter pun menghela nafas panjang dan memberikan pendapatnya, "Senjata sihir? Aku merasa kasihan dengan anak itu. Aku rasa dia tidak memiliki niat jahat terhadap kerajaan ini ataupun ke Earthborn. Aku juga sudah mendengar apa yang terjad di Xyrus, nasibnya sangat tragis."
"Tergantung dengan situasi yang terjadi, aku rasa aku akan mengawasinya di Aeterna. Anak itu dan keturunan Vengeance memiliki kemampuan menjadi pasukan bayangan kerajaan." ujar Tetua Vipera.
"Jika anak itu terbukti menjadi dalang dibalik semua ini. Aku sendiri yang akan membunuhnya." Tetua Vipera melanjutkan.
"Ashura adalah anak yang diselamatkan Kakakku. Dia masih polos dan tidak akan berpikir untuk mengkhianatku." ujar Kaira kepada empat Tetua Ignis.
"Orang terdekatku sudah menemukan beberapa bukti jika ada lingkaran sihir teleportasi dibeberapa tempat kerajaan ini. Lingkaran sihir dengan bentuk pola yang sama dengan bekas penelitian Serpens."
Kemudian Kaira mengeluarkan Batu Penglihatan dan mengalirkan mana pada batu tersebut.
"Lingkaran sihir ini..." Tetua Eter terlihat terkejut saat melihat lingkaran sihir yang dimaksud Kaira.
"Kita pernah melihat itu setelah mengetahui Serpens menculik anak-anak di Flameheart. Aku merasakan firasat buruk tentang ini." ucap Tetua Burn.
"Kaira, orang terdekat yang dimaksud itu siapa?" Sementara yang lain terkejut, Tetua Vipera bertanya kepada Kaira.
Kaira pun memberitahu Vipera, jika pasukan penjaga kerajaan yang hanya dapat diberi perintah oleh Raja Sihir Kerajaan Flameheart yang menemukan lingkaran sihir teleportasi tersebut.
Pasukan paling elit dan konon merupakan para penyihir bayangan raja yang dikenal sebagai Nightmare.
Mendengar nama itu, Tetua Vipera mengerutkan keningnya dan langsung memejamkan matanya.
"Ada hal yang menggangguku daritadi."
Tetua Vipera menatap penjaga dibelakang Tetua Eter dan tak lain adalah Ashura.
"Lepaskan penutup kepalamu itu!" ujar Tetua Eter kepada Ashura.
"Hahaha, sepertinya akan menarik jika mengajak anak ini kemari! Bukan begitu, Tetua Vipera?"
Tetua Eter dan yang lainnya pun menatap tajam Ashura yang melepas penutup kepalanya.
"Penyamaranmu mudah ditebak, Ashura. Aliran manamu itu, aku bisa mendenganya. Kau marah padaku bukan?." ujar Kaira sambil tersenyum hangat.
Ashura yang sudah ketahuan menyusup, langsung menatap tajam Kaira dan melepaskan hawa dingin yang membekukan meja pertemuan.
"Kaira, bertarunglah denganku! Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu!" ujar Ashura yang dipenuhi kemarahan.
"Sepertinya kau mendapatkan ingatanmu kembali." Kaira pun bangkit dan memberi isyarat pada Ashura untuk mendekat padanya.
"Sebaiknya kita bertarung ditempat lain..."
Kaira melepaskan mana yang sangat besar dan membuat empat Tetua Ignis dan Ashura masuk kedalam ilusi yang diciptakannya.
"Void Step!"
Sihir spasial tingkat tinggi yang memaksa lawan masuk kedalam ruang dimensi itu terlihat menakjubkan.
Sihir ini menciptakan ruang pertempuran terisolasi, meminimalisir kerusakan didunia nyata.
Tujuan dari sihir ini sebenarnya adalah mengurung musuh dan melarikan diri dari bahaya, namun Kaira dapat menggunakan sihir ini untuk melindungi orang atau menghabisi lawannya.
"Kau membawa kami semua kemari, Yang Mulia. Ini mengingatkanku pada, Kaisar Api." Tetua Burn sedikit terkejut karena tidak menyangka Kaira Leywin berkembang sejauh ini.
"Butuh energi sihir yang besar untuk membawa satu orang ke dimensi lain, tetapi dia membawa enam orang sekaligus termasuk dirinya. Perkembangannya sangat mengerikan." Tetua Vipera berkata dalam hati.
"Bocah Ashura, mengamuklah sesukamu disini dan lepaskan semua kekuatanmu!" ujar Tetua Lumiya kepada Ashura dibawah sana.
Ashura menatap empat Tetua Ignis yang melayang di udara mengamatinya dari atas.
"Jadi kau hanya ingin memanfaatkan kekuatanku saja, Kaira? Kau sama seperti yang lainnya! Aku akan membunuhmu!"
Ashura merentangkan tangannya dan udara disekitarnya menjadi dingin. Hawa dingin muncul di telapak tangannya, dengan cepat Ashura melepaskan mana dalam jumlah besar yang membekukan arena pertarungan.
Kaira tersenyum tipis melihat kemampuan Ashura yang mungkin setara dengan Penyihir Tingkat Emperor.
"Jika kau menang melawanku, aku akan memberitahu alasan mengapa diriku bersedia merawatmu disini!" ujar Kaira yang membuat Ashura marah.
"Akan kupaksa kau berbicara!"
Saat partikel es di udara membentuk tombak es dalam jumlah yang banyak, Kaira pun merespon namun ia tidak menggunakan sihir api untuk membakarnya, melainkan ia menghentakkan kakinya ke tanah, mengirimkan gelombang panas yang merayap di tanah.
Ashura yang melihat tanah yang membeku hancur dan mengeluarkan uap panas, segera melompat ke belakang dan mengayunkan tangannya menciptakan mana yang memadat dan membentuk bola es yang terbang dengan kecepatan tinggi ke arah Kaira.
"Dia memiliki kemampuan yang melebihi seorang jenius!" Kaira tersenyum dan memusatkan mana pada telapak tangannya.
Aliran mana yang padat pada kedua tangan Kaira dapat menghancurkan bola es yang dilepaskan Ashura, dalam satu pukulan yang bertenaga.
Api merah muncul mengelilingi tubuhnya, Kaira melompat ke udara dan melayangkan pukulan dari jarak jauh ke arah Ashura.
"Terimalah seranganku ini, Ashura!" teriak Kaira dan membuat empat Tetua Ignis terkejut.
Serangan yang dilakukan Kaira merupakan sihir tingkat tinggi, mereka mengamati bagaimana Ashura menghalau serangan tersebut tanpa terluka sedikitpun.
Setiap pukulan api yang mengarah padanya, selalu dihalau es yang melindungi dirinya.
Kaira pun memilih mendekat, begitu juga dengan Ashura yang berlari menuju Kaira dengan kecepatan tinggi.
Saat Kaira melayangkan pukulan pada perut Ashura, tubuh Ashura hancur menjadi serpihan es.
"Luar biasa, Ashura!"
Kaira tersenyum, sebelum menoleh keatas melihat Ashura yang melompat dan mengarahkan ratusan pedang es kearahnya.
"Sepertinya aku tidak bisa menahan diri..." Kaira menyadari resiko jika ia menahan diri melawan Ashura.
"Sebenarnya berapa besar energi sihir milikmu, Ashura?!"
Berbeda dengan Kaira yang takjub, Ashura hanya fokus untuk melancarkan serangannya kepada Kaira. Serangan yang mengarah pada Kaira itu tiba-tiba dihalau oleh hujan panah api yang dilepaskan Kaira.
Ashura berdecak kesal karena tidak dapat mendaratkan serangannya pada Kaira.
"Aku akan menghancurkanmu, Kaira-" Ashura berteriak lemas dan terkejut karena merasakan aliran mana dalam tubuhnya melemah.
Tubuh Ashura tiba-tiba jatuh ketanah dan kesadarannya menghilang secara perlahan. Ashura telah menggunakan mana yang besar dan ia tidak dapat mengontrolnya.
"Aku tidak boleh kalah..." Ashura mencoba mempertahankan kesadarannya.
"Ashura, kau telah membuang-buang mana dalam jumlah besar, kau harus belajar kembali di akademi untuk mengontrol manamu." ujar Kaira saat Ashura akan kehilangan kesadarannya.
Kemampuan yang dimiliki Ashura membuat empat Tetua Ignis terkejut. Mereka menyadari jika Ashura akan menjadi aset yang sangat berharga, sebaliknya Ashura bisa menjadi orang yang sangat berbahaya jika tidak dapat mengendalikan kekuatannya.
Berbeda dengan pandangan empat Tetua Ignis, Kaira memandang hangat Ashura yang telah pingsan. Kaira hanya ingin menolong Ashura, karena dimasa lalu Kakaknya telah diselamatkan oleh penyihir bernama Laura Trost yang tidak lain adalah Ibu dari Ashura.