NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUNJUNGAN MENDADAK ORANG TUA HAIKAL.

“Pak, ini gila.”

Roni menatap dokumen kepemilikan gedung di tangannya dengan mata membelalak. Jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Baru satu jam yang lalu, Haikal meneleponnya dengan nada santai meminta dicarikan hunian layak untuk karyawan lajang. Sekarang, Haikal sudah memegang sertifikat sebuah gedung apartemen mewah berlantai lima di pusat kota tak begitu jauh dari perusahaannya.

“Bukan gila, Roni. Ini efisiensi,” jawab Haikal sambil menandatangani dokumen terakhir. Ia melemparkan pulpen emasnya ke atas meja. “Saya tidak mau karyawan saya lelah di jalan karena macet. Dan saya tidak mau mereka tinggal di tempat yang... kurang layak.”

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan penekanan khusus. Haikal teringat gang kumuh semalam. Hatinya masih terasa sesak melihat Ardiah masuk ke tempat seperti itu. Dia tidak bisa memaksa Ardiah pindah, tapi dia bisa menyediakan opsi yang lebih baik. Sebagai bos, tentu saja. Bukan karena alasan pribadi. Sama sekali bukan.

“Siapkan satu unit di lantai paling atas. Unit pojok. Paling aman,” perintah Haikal. “Dan berikan kuncinya pada saya.”

Roni mengangguk bingung, namun segera melaksanakan perintah. Dalam waktu tiga puluh menit, kunci apartemen mewah itu sudah berada di tangan Haikal. Haikal menggenggam kunci itu erat-erat, lalu berdiri dan berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat menuju divisi desain interior.

Ardiah sedang fokus mengerjakan sketsa digital ketika bayangan Haikal menutupi layarnya. Wanita itu mendongak, alisnya berkerut.

“Ada apa lagi, Pak? Apakah pizza kemarin belum cukup menjadi pelajaran?” tanya Ardiah sarkastik.

Haikal tersenyum tipis, mengabaikan sindiran itu. Ia meletakkan sebuah amplop elegan di atas meja Ardiah. “Ini untukmu.”

Ardiah membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat sebuah kunci kartu akses mewah dan surat penawaran hunian. Matanya membesar saat membaca isi surat tersebut. Apartemen gratis? Fasilitas lengkap? Dekat kantor?

“Ini lelucon apa?” tanya Ardiah, mengembalikan amplop itu. “Saya tidak menerima suap, Pak Haikal.”

“Itu bukan suap. Itu fasilitas perusahaan,” bantah Haikal cepat. Wajahnya datar, berusaha terlihat profesional meski jantungnya berdegup kencang. “Kami baru saja mengakuisisi gedung itu sebagai asrama karyawan. Khusus untuk staf berprestasi yang masih lajang dan butuh kedekatan dengan kantor. Kamu dipilih karena kinerjamu minggu ini sangat baik.”

Ardiah menatap Haikal curiga. “Hanya saya? Tidak ada karyawan lain?”

“Belum. Kamu yang pertama. Anggap saja... uji coba,” alasan Haikal gugup. Dia berharap Ardiah tidak bertanya lebih jauh. Dia tidak bisa mengatakan bahwa dia membeli gedung itu hanya karena khawatir Ardiah kelelahan pulang pergi dari kosan kumuhnya.

Ardiah menghela napas. Dia memang lelah. Perjalanan dari kosannya ke kantor memakan waktu dua jam sekali jalan. Tapi menerima hadiah sebesar ini dari bosnya terasa tidak etis.

“Saya tidak bisa menerimanya, Pak. Terlalu banyak.”

Haikal mendekat, suaranya turun menjadi bisikan serius. “Dengar, Ardiah. Saya tahu kamu ingin mandiri. Saya menghargai itu. Tapi bekerja dengan baik juga berarti menjaga kondisi fisik. Jika kamu sakit karena kelelahan, itu kerugian bagi perusahaan. Anggap ini investasi. Saya investasikan kenyamananmu, kamu balaskan dengan desain terbaikmu. Deal?”

Ardiah terdiam. Argumen Haikal masuk akal. Dan jujur saja, godaan untuk tinggal di tempat yang nyaman dan dekat kantor sangat besar. Akhirnya, ia mengambil kunci itu.

“Baik. Saya akan mencobanya. Tapi saya akan membayar sewa separuhnya,” tegas Ardiah.

Haikal tersenyum lega. “Terserah kamu. Yang penting, kamu pindah minggu ini.”

Sebelum Ardiah bisa bertanya lebih lanjut, suara riuh rendah terdengar dari depan pintu lift. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian mewah dan tatapan tajam memasuki ruangan khusus karyawan, diikuti oleh seorang gadis muda yang sangat cantik dengan tubuh langsing dan wajah sempurna.

Wajah Haikal langsung pucat pasi. “Oh tidak,” gumamnya panik.

“Siapa mereka?” tanya Ardiah, merasakan ketegangan tiba-tiba.

“Ibuku. Dan... calon korban perjodohan,” bisik Haikal cepat. Sebelum Ardiah bisa bereaksi, Haikal menarik lengan Ardiah kasar dan menyeretnya ke arah lobi.

“Mama!” seru Haikal dengan suara yang dipaksakan ceria.

Ibu Haikal menoleh, matanya menyipit melihat Ardiah yang ditarik putranya. “Haikal? Siapa gadis ini? Dan kenapa kamu menarik-nariknya seperti pencuri?”

Haikal melepaskan tangan Ardiah, lalu dengan cepat merangkul bahu Ardiah, menarik wanita itu agar berdiri dekat dengannya. Ardiah kaget, tubuhnya kaku.

“Mah, perkenalkan. Ini Ardiah. Calon istri yang sedang saya kejar-kejar,” ucap Haikal lancar, meski keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Ardiah hampir tersedak ludahnya sendiri. Matanya melotot ke arah Haikal, seolah ia mengatakan. Apa-apaan ini?

Ibu Haikal mengangkat alis, meneliti Ardiah dari atas ke bawah. Tatapannya tajam, membuat Ardiah merasa kecil. Gadis cantik di samping Ibu Haikal tampak cemberut, jelas tidak senang.

“Calon istri?” tanya Ibu Haikal skeptis. “Dia memakai hijab. Kamu tahu kan, keluarga kita...”

“Saya tahu, Mah,” potong Haikal cepat. “Tapi Ardiah berbeda. Dia sopan, pintar, dan... dia satu-satunya wanita yang bisa mengendalikan saya.”

Ardiah menepuk dahi. Ini semakin kacau. Dia harus ikut bermain sandiwara ini atau reputasinya hancur. Dengan napas dalam, Ardiah tersenyum tipis pada Ibu Haikal.

“Selamat siang, Tante. Maaf jika Haikal agak... bersemangat. Kami memang baru saja bertemu di tempat sampah.”

Hening.

Haikal menatap Ardiah ngeri. “Tempat sampah?”

“Iya,” lanjut Ardiah tenang, improvisasi otaknya bekerja keras. “Maksud saya, tempat pembuangan limbah ide kreatif. Kami berdua sering membuang konsep gagal di sana. Jadi, kami bertemu di sana. Romantis, kan?”

Ibu Haikal tertawa renyah, tampaknya terkesan dengan keluguan dan kejujuran Ardiah. “Lucu sekali kamu, Nak. Haikal, gadis ini menarik. Tidak seperti model-model plastik ini,” katanya sambil melirik gadis cantik di sebelahnya dengan sinis.

Gadis itu mendengus kesal. Haikal menghela napas lega, meski tangannya masih gemetar di bahu Ardiah. Sandiwara ini berhasil, setidaknya untuk saat ini. Tapi dia tahu, Ardiah akan membunuhnya nanti. Dan Haikal siap menerima hukuman itu, asalkan ibunya pergi tanpa membawa pulang calon menantu pilihan.

“Mari kita ngobrol di ruang rapat,” ajak Haikal, pada ibunya, sambil menarik Ardiah lagi. “Ardiah punya banyak cerita tentang... limbah ide kami.”

Ardiah mengikuti dengan langkah gontai, hatinya campur aduk antara marah, malu, dan sedikit geli melihat Haikal yang ketakutan setengah mati pada ibunya sendiri.

1
Lia siti marlia
nah kan kelimpungan jadinya 🤭maka kalau mau apa apa di obrolin dulu ...ngasih kejutan yang mengancan kesejahteraan rumah tangga kamu kal kal🤭🤭🤭
Eliermswati
smngat kal smga bs mndpt maaf dr istri mu dan bs segera d bwa plng😂😂smngt thor up nya
Nana Biella
semangat kal
Wardah Saiful
baguus critanya
Lia siti marlia
benar kamu mamah mu ikal kamu terlalu terburu buru 🥺🥺🥺ternyata aku swlah menilaimu kamu terlalu gegabah ikal ...sekara terima akibat nya diah petgi kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohan mu 🥺🥺😭😭
Suren
ini mantap Diah suami mu ini
Alim
mantap
Jaya Fandi
suami yg luar biasa,,jgn disia" kn Diah,,
Mira Hastati
bagus
Lia siti marlia
nah itu baru suami bijak 😍😍mantap kal kamu hebat menerima kekurangan dengan cara memperbaiki💪💪💪
Rima R P
aku baru nemu novel mu ka selama ini penggemar noveltoon langsung suka sama karya yg ceo bujang lapuk.. kenapa ga di lanjutin ka padahal cerita nya bagus banget please ka lanjutin aja aku yakin banyak yg suka ko kalo udah tau dan baca🥺
Hikari_민윤기
di tunggu crezy upnya..
udah tak kasih kopi buat temen begadang...
sunaryati jarum
Nah,kan hati Diah mulai leleh,jadi perjanjian kontrak nanti dijadikan abu saja,Nak Ikal
sunaryati jarum
Buat Diah lupa niatnya untuk pisah darimu.Buat Diah terikat kuat di dalam hatinya hanya kamu.
Lia siti marlia
pandangan tentang suami mulai berubah entar entar mulai ada benih beni cinta dong diah😍😍😍😍
Suren
gercep Haikal..jgn biar kan Diah sampai minta cerai. buat dia hanyut dlm keromantisan yg kamu buat..good jobb👍
Lia siti marlia
sedikit sedikit yah ikal menggoda perasaan ardiah terus dikit dikit kecup kening entar kecup yang lainnn🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Jaya Fandi
ya ampuunn biang kerok ,,
Lia siti marlia
kalau orang kaya beneran sayang nya sayang bangetttttt cintanya cinta bangettttt gak kaya OKB 🤣🤣🤣
Lia siti marlia
hais siapa lagi tub yang manggil jangan jangan c ferdi lagi🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!