NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Taruh kardus berbau minyak telon itu di luar, Naura. Atau saya sendiri yang akan memanggil sekuriti untuk membuangnya ke tempat sampah."

Arkan Mahendra berdiri tegak di tengah ruang tamu dengan melipat kedua lengan di depan dada. Kaus putih polosnya melekat sempurna pada tubuh tegap berototnya, serasi dengan celana kain abu-abu premium yang membungkus kaki jenjangnya. Bahkan dalam balutan pakaian santai di rumah, pria ini tetap memancarkan aura diktator yang siap memecat siapa saja dalam sekali jentikan jari.

"Ini bukan minyak telon, Pak Bos Iblis. Ini minyak kayu putih asli Ambon," aku mendengus keras, menurunkan kardus ketiga dari pundakku hingga menghantam lantai marmer putih bersih dengan bunyi *debuk* yang mantap. "Dan ini esensial untuk kelangsungan hidupku. Kamu tidak tahu rasanya masuk angin karena AC sentral apartemenmu ini disetel setara dengan suhu kulkas penyimpanan daging."

Aku menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tinggal baruku untuk satu tahun ke depan.

Monokrom. Hitam, putih, dan abu-abu. Tidak ada foto keluarga yang hangat, tidak ada pajangan meja yang fungsional, bahkan tidak ada satu pun hiasan dinding yang berwarna selain lukisan abstrak garis-garis hitam yang tampak sangat suram di dekat televisi. Tempat ini lebih mirip galeri seni modern yang mati daripada sebuah hunian manusia yang memiliki detak jantung.

Aku membuka kardus teratas, mengeluarkan guling kesayanganku yang bermotif stroberi pudar—benda keramat yang menemaniku sejak zaman kuliah.

Mata elang Arkan langsung melebar sempurna. Kedua alis tebalnya bertaut rapat, menatap benda di tanganku seolah-olah aku baru saja mengeluarkan limbah medis berbahaya dari dalam kardus. "Benda kumal dan mengerikan apa itu? Buang."

"Sembarangan! Ini 'Si Pipi', guling keberuntunganku. Tanpa ini, aku bisa mengalami amnesia kreatif dan tidak akan bisa menulis naskah iklan lagi!" Aku mendekap Si Pipi erat-erat ke dadaku, menantang tatapan matanya yang menuntut kepatuhan mutlak.

Arkan tidak melanjutkan perdebatan bodoh itu. Sebagai gantinya, dia melangkah menuju meja bar dapur bersih yang dilapisi granit hitam, mengambil sebuah iPad Pro, lalu menggesernya dengan satu sentakan mulus ke arahku. Benda tipis itu mendarat tepat di depan ujung kakiku.

"Baca. Pahami. Patuhi," perintahnya singkat, dingin, tanpa bantahan.

Aku menurunkan Si Pipi ke atas sofa abu-abu besarnya—sengaja agar sofa mahalnya itu terkontaminasi—lalu memungut iPad tersebut. Di layar, terpampang sebuah dokumen Microsoft Excel yang disusun dengan tingkat kerapian yang sangat intimidatif. Judulnya tertulis tebal dengan huruf kapital: **STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) & PROTOKOL DOMESTIK KEDIAMAN MAHENDRA**.

"Kamu bercanda, kan?" Aku menatapnya dengan rahang yang hampir jatuh ke lantai. "Kamu membuat spreadsheet Excel untuk kehidupan pernikahan?"

"Ini pernikahan kontrak, Naura. Manajemen risiko adalah kunci keberhasilan sebuah proyek agar tidak terjadi tumpang tindih kepentingan," sahut Arkan tenang, wajahnya sedatar papan tulis. "Buka tab pertama. Pembagian wilayah kekuasaan."

Aku mengetuk layar dengan kasar.

> * **Zona Merdeka (Privat):** Kamar tidur utama merupakan hak milik mutlak Arkan Mahendra. Kamar tidur tamu sebelah kiri adalah Hak Guna Pakai untuk Naura Azzahra. Masing-masing pihak dilarang keras melintasi batas ambang pintu tanpa izin tertulis atau urgensi medis tingkat satu.

> * **Zona Bersama:** Ruang tamu, dapur bersih, dan balkon. Penggunaan dapur untuk memasak harus dijadwalkan agar tidak mengganggu waktu makan malam saya yang presisi pada pukul tujuh malam.

>

Aku berdecak remeh, lalu menggeser layar ke tab berikutnya yang berjudul: **JADWAL, KEBERSIHAN, & BATAS KEBISINGAN**.

> * **Pukul 06.00 - 06.30:** Penggunaan kamar mandi luar untuk Naura Azzahra. (Arkan menggunakan kamar mandi dalam kamar utama).

> * **Pukul 22.00:** Batas akhir kebisingan. Suara televisi, musik, atau panggilan telepon dilarang keras melebihi tingkat kekerasan 15 desibel.

> * **Poin Khusus:** Handuk basah tidak boleh ditinggalkan di atas kasur atau gantungan baju kamar lebih dari dua jam. Harus langsung dipindahkan ke area jemur belakang.

>

"Lima belas desibel? Kamu mau aku menonton televisi dengan menggunakan bahasa isyarat?" Suaraku meninggi, tidak habis pikir dengan isi kepala pria di depanku ini. "Dan apa-apaan ini? Kamu bahkan menghitung gramasi detergen yang harus digunakan untuk setiap kali mencuci pakaian? Kamu ini CEO atau mandor pabrik tekstil?"

Arkan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami hingga aku terpaksa mendongak untuk tetap bisa menantang matanya. Aroma parfum *ambergris*-nya yang tajam langsung mengepung indra penciumanku.

"Saya tidak menoleransi kekacauan sekecil apa pun di dalam properti saya, Naura. Rumah ini adalah tempat saya beristirahat dari tekanan korporasi di luar sana. Jika kamu tidak bisa mengikuti ritme dan aturan main yang saya buat, silakan angkat kaki sekarang juga. Dan kamu bisa menjelaskan sendiri pada ibumu kenapa pernikahan ini batal sebelum dimulai."

Ancaman itu menghantam ulu hatiku. Selalu kondisi Ibu yang dijadikan kartu as untuk mengunciku. Aku mengepalkan tinju di sisi tubuh, menahan dorongan kuat untuk mencakar wajah simetrisnya yang menyebalkan itu.

"Oke. Aku terima tantanganmu, Tuan CEO Gila Kontrol," bisikku tajam, tepat di depan wajahnya hingga jarak kami hanya tersisa beberapa sentimeter. "Tapi jangan pernah salahkan aku kalau manajemen risikomu yang agung ini gagal total karena ada variabel alam yang tidak bisa kamu prediksi dengan rumus Excel bodohmu ini."

"Saya selalu memprediksi segala hal dengan akurat, Naura."

"Kita lihat saja nanti."

Malam harinya, apartemen itu terasa seperti medan perang yang dingin. Setelah makan malam yang canggung—di mana Arkan menghabiskan waktu sepuluh menit hanya untuk mengkritik potongan bawang bombay-ku yang katanya tidak simetris—pria itu langsung mengunci diri di dalam ruang kerjanya. Dari balik celah pintu, aku bisa melihatnya tenggelam di balik tumpukan berkas laporan keuangan kuartal perusahaan yang tebal.

Sebelum masuk ke kamar tamu, aku melintasi meja bar dapur bersih. Di sana, tergeletak ponsel kerja khusus milik Arkan. Ponsel pintar dengan casing kulit hitam kaku yang diletakkan sejajar dengan garis tepi meja—sangat khas penderita obsesif-kompulsif terhadap keteraturan.

Sebuah ide jahat bin ajaib mendadak melintas di kepalaku. Aku melirik ke arah koridor ruang kerja Arkan. Aman. Tidak ada tanda-tarian dia akan keluar dalam waktu dekat.

Dengan gerakan secepat kilat, kusambar ponsel itu. Untungnya, aku tahu pin cadangannya dari bisik-bisik sekretarisnya di kantor dulu yang pernah mengeluh karena harus mengganti sandi ponsel dengan tanggal berdirinya Mahardika Group. *Bip, bip, bip, bip.* Terbuka.

Aku langsung membuka aplikasi pengaturan suara dan kontak. Kucari kontak ayahnya, Om Surya. Dengan senyum kemenangan yang melebar di bibir, kuubah nada dering khusus untuk panggilan Om Surya menjadi lagu dangdut koplo klasik dengan tabuhan kendang yang sangat berisik dan menghentak-hentak. Tidak lupa, kunaikkan volume deringnya hingga ke tingkat paling maksimal yang bisa memecahkan gendang telinga.

Kukembalikan ponsel itu ke posisi semula, tepat di milimeter yang sama agar tidak menimbulkan kecurigaan si perfeksionis. Aku melangkah ke kamar tidur tamu dengan perasaan menang yang membuncah di dada. Satu sama, Pak Bos.

Pukul satu dini hari. Tenggorokanku terasa sangat kering dan panas, efek samping dari menu tumis ayam sore tadi yang tampaknya diberi garam terlalu banyak oleh Arkan. Aku membuka pintu kamar tamu dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.

Malam ini aku hanya mengenakan piyama satin tipis berwarna merah muda dengan potongan di atas lutut—satu-satunya pakaian tidur bersih yang tersisa karena daster longgar favoritku belum sempat kupindahkan dari rumah Tebet. Udara dingin dari koridor apartemen langsung menyergap kulit lenganku yang terbuka, membuat bulu kudukku berdiri seketika.

Suasana apartemen gelap gulita, hanya diterangi oleh temaram lampu kota Jakarta yang menembus jendela kaca raksasa di ruang tengah. Namun, siluet sesosok tubuh yang duduk di sofa panjang membuat langkah kakiku terhenti seketika di ambang pintu.

Arkan ada di sana.

Dia duduk bersandar dengan kepala menengadah menatap langit-langit apartemen yang tinggi dan sepi. Kemeja tidurnya terbuka pada dua kancing teratas, memperlihatkan tulang selangkangnya yang kokoh di bawah cahaya bulan. Di tangan kanannya, ada sebuah gelas berisi cairan bening. Matanya yang tajam tampak sayu dan lelah, dengan lingkaran hitam tipis yang menghiasi bagian bawah kelopak matanya.

Pria ini menderita insomnia kronis. Sinopsis hidupnya tidak berbohong. Di balik kesuksesan dan kekuasaannya yang absolut di kantor, dia adalah pria kesepian yang tidak bisa menutup mata saat malam tiba.

"Sedang apa kamu berkeliaran jam segini?"

Suara Arkan memecah keheningan malam, terdengar lebih rendah, serak, dan berat dari biasanya. Dia bahkan tidak menoleh ke arahku, tetap menatap lurus ke langit-langit beton di atasnya.

"Minum," jawabku singkat, melangkah cepat menuju dispenser di sudut dapur tanpa memedulikan kehadirannya.

Namun, saat aku membalikkan badan setelah meneguk segelas air dingin hingga tandas, aku tersentak. Arkan sudah berdiri tepat dua langkah di belakangku. Gerakannya begitu senyap tanpa suara, serupa hantu yang muncul dari kegelapan. Mata elangnya tidak lagi menatap kosong, melainkan terkunci sepenuhnya pada penampilanku. Pandangannya turun secara perlahan, menelusuri piyama satin tipis yang mencetak siluet tubuhku dengan jelas di bawah temaram cahaya lampu dispenser.

Udara di sekitar kami mendadak terasa pekat, berat, dan berubah panas, mengalahkan embusan AC sentral yang sedari tadi menusuk kulit. Genggamanku pada gelas kaca di tangan mengerat.

"Pakaian macam apa itu?" suara Arkan merendah hingga ke titik terendah, bergetar kecil dengan intonasi yang terasa sangat berbahaya di telingaku. "Kamu sengaja melanggar protokol kesopanan di rumah ini untuk memancing perhatian saya, Naura?"

Aku mendongak, memaksakan diri untuk menantang tatapan matanya meski jantungku mulai bertalu tidak karuan di dalam rongga dada seperti ada konser musik cadas di sana. Jarak kami begitu dekat, hingga aku bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh tegapnya.

"Memancing katamu? Ini apartemenku juga untuk satu tahun ke depan berdasarkan kesepakatan kita. Aku berhak memakai pakaian apa pun yang membuatku nyaman saat tidur. Kalau kamu merasa terganggu, itu artinya pikiranmu sendiri yang kotor dan mesum, Pak Bos!" ujarku berani, walau suaraku sedikit bergetar di ujung kalimat.

Arkan melangkah maju satu tapak lagi. Gerakan agresifnya mengurung tubuhku sepenuhnya di antara dada bidangnya dan pinggiran meja bar granit yang dingin. Kedua tangannya bertumpu di sisi kiri dan kanan pinggangku—tidak menyentuh kulitku, tetapi menutup seluruh jalur bagiku untuk meloloskan diri.

"Jangan pernah bermain api dengan saya, Naura Azzahra," desisnya tepat di depan bibirku. Napas hangatnya yang beraroma mint menerpa wajahku, membuat seluruh saraf di tubuhku menegang kaku. "Kamu tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh seorang pria yang kurang tidur selama tiga hari berturut-turut saat dihadapkan pada gangguan... seperti ini."

Aku menelan ludah dengan susah payah. Sisi dominan dan obsesifnya yang biasa kulihat di ruang rapat kantor kini berpindah ke ruang domestik, menciptakan *sexual tension* yang begitu kuat hingga rasanya satu percikan kecil saja bisa meledakkan seluruh tempat ini. Lidah pedas yang biasanya menjadi senjataku mendadak kelu tak berfungsi.

Tepat ketika ketegangan di antara wajah kami mencapai puncaknya hingga hidung kami hampir bersentuhan, sebuah bunyi elektronik memecah kesunyian malam dengan sangat kasar.

*Pip-pip-pip-bip.*

Suara dari panel digital pintu utama apartemen. Seseorang di luar sana sedang memasukkan kode akses masuk.

Aku dan Arkan membeku seketika dalam posisi intim kami. Kepala Arkan menoleh cepat dengan sentakan tajam ke arah pintu lobi apartemen yang berada beberapa meter di samping area dapur bersih. Kerutan dalam kembali muncul di antara kedua alisnya.

*Klik.*

Pintu besi tebal itu berayun terbuka dari luar. Lampu koridor gedung yang terang benderang langsung merangsek masuk, menyinari sesosok wanita bertubuh sintal yang berdiri anggun di ambang pintu. Wanita itu mengenakan gaun malam desainer berwarna merah menyala yang melekat ketat di tubuhnya, dibalut mantel bulu mahal di pundaknya. Sepasang stiletto-nya mengetuk lantai marmer dengan irama yang sangat percaya diri. Rambut gelombang panjangnya yang sewarna cokelat madu tergerai indah, membingkai wajah cantiknya yang tampak sedang mengerucut sebal.

"Arkan, Sayang... kamu kok ganti password pintunya sih? Untung saja sidik jari lamaku belum kamu hapus dari sistem memori pintunya," suara manja, berlagak kekanak-kanakan, namun sangat familier itu menggema keras di dalam apartemen yang sunyi.

Wanita itu melangkah masuk tanpa permisi, lalu dengan sekali sentak menyalakan sakelar lampu utama ruang tengah.

*Ctaakk!*

Cahaya terang benderang seketika menerangi seluruh sudut ruangan, termasuk menerangi kami berdua yang masih berada dalam posisi sangat mencurigakan di depan meja bar dapur—Arkan yang sedang mengurung tubuhku, dan aku yang hanya mengenakan piyama satin tipis kurang bahan berwarna merah muda.

Mata wanita itu membelalak sempurna saat pandangannya jatuh pada pemandangan di depannya. Bibir berlipstik merah tebalnya terbuka lebar karena syok. Tas tangan Hermes tiruan edisi terbatas di cengkeramannya merosot begitu saja, jatuh menghantam lantai marmer dengan bunyi keras.

"Arkan... siapa perempuan murahan yang tidak punya urat malu ini?!"

Mantan tunangan Arkan telah kembali dari luar negeri. Dan perang domestik di apartemen ini resmi naik tingkat menjadi kiamat jilid dua yang siap menghancurkan segalanya.

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!