NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Umpan di Balik Sandiwara Baru

Keesokan paginya, suasana di dalam penthouse tidak lagi dipenuhi oleh keraguan yang mencekam, melainkan oleh ketegangan strategis yang dingin. Pukul enam pagi, Randi sudah berdiri di ruang tengah dengan laptop terbuka dan beberapa perangkat perekam suara berspesifikasi militer yang diletakkan di atas meja kaca.

Devan telah kembali ke setelan jas formalnya—bukan lagi pria rapuh yang kemarin malam menumpahkan trauma masa lalunya. Sisi CEO-nya yang tak kenal ampun telah mengambil alih kendali penuh. Ia berdiri di dekat jendela besar, mendengarkan penjelasan Randi dengan saksama.

"Kami telah memasang alat penyadap dan pelacak sinyal berlapis pada ponsel Nona Anya, Pak," kata Randi, jarinya menunjuk ke arah grafik frekuensi di layar laptop. "Jika si penelepon misterius itu menghubungi kembali untuk menagih janji pembatalan pernikahan, tim siber kita butuh waktu minimal empat puluh detik untuk mengunci koordinat menara pemancar seluler yang digunakannya. Masalahnya, mereka menggunakan enkripsi berlapis."

Anya duduk di sofa, menggenggam cangkir kopinya yang masih mengepul. "Jadi, aku harus membuat mereka percaya bahwa ancaman mereka berhasil? Aku harus berpura-pura panik dan membatalkan pernikahan ini?"

Devan berbalik, melangkah mendekati Anya dan berlutut di hadapannya, menggenggam jemari wanita itu dengan kelembutan yang kontras dengan aura dinginnya. "Hanya di depan publik dan jaringan komunikasi, Anya. Kita harus memancing tikus ini keluar dari lubang persembunyiannya. Jika mereka mengira rencana mereka berhasil, mereka akan menurunkan kewaspadaan dan membuat pergerakan langsung untuk memastikan kau benar-benar pergi."

Anya menarik napas dalam-dalam, mengangguk mantap. "Aku mengerti. Apa langkah pertamanya?"

"Hari ini, kau tidak akan ikut denganku ke kantor," ucap Devan, matanya berkilat penuh perhitungan. "Kau akan pergi ke butik pengantin utama di pusat kota dengan pengawalan ketat Randi. Di sana, kau harus menunjukkan ekspresi tertekan di depan para staf. Aku juga sudah menginstruksikan tim humas untuk sengaja membocorkan dokumen pembatalan reservasi *ballroom* ke salah satu jurnalis independen yang biasa menjadi mata-mata faksi hitam lama. Dalam hitungan jam, rumor tentang keretakan hubungan kita akan menjadi konsumsi publik."

Pukul dua siang, rencana Devan mulai berjalan dengan presisi korporat yang kejam. Berita utama di beberapa portal gosip bisnis mulai menayangkan tajuk utama yang provokatif: "Pernikahan Megah Pewaris Alfarezel Terancam Batal? Asisten Pribadi Terlihat Meninggalkan Butik dengan Air Mata."

Anya duduk di dalam mobil Mercedes-Benz yang diparkir di area tersembunyi tidak jauh dari butik. Ia menatap layar ponselnya yang tergeletak di atas jok kulit. Sesuai prediksi Devan, si penelepon misterius tidak akan membuang waktu setelah melihat umpan bertebaran di media.

Drrr... Drrr... Drrr...

Ponsel itu kembali bergetar. Layar menampilkan tulisan yang sama "UNKNOWN NUMBER".

Randi, yang duduk di kursi kemudi, langsung menekan tombol rekam pada perangkat di dasbor dan memberikan isyarat jempol kepada Anya. Waktu dimulai: 40 detik.

Anya menggeser layar, mengangkat telepon tersebut dengan napas yang sengaja dibuat memburu dan tidak stabil, akting yang sempurna dari seorang wanita yang sedang berada di ambang kehancuran psikologis.

"H-halo?" ucap Anya, suaranya bergetar hebat.

"Pilihan yang sangat bijaksana, Nona Anya Anandita..." Suara digital yang terdistorsi itu kembali terdengar, membawa hawa dingin yang akrab melalui pelantang suara. "Aku melihat berita sore ini. Kau benar-benar menyayangi nyawamu rupanya. Kau sudah membatalkan reservasi gedung itu."

"Aku sudah melakukan apa yang kau minta!" seru Anya, setengah berteriak untuk mengulur waktu, matanya melirik ke arah layar laptop Randi yang sedang memproses pelacakan. Detik ke-18. "Aku sudah meminta Devan untuk menghentikan ini semua. Aku tidak ingin mati seperti Clara! Sekarang, tolong tinggalkan aku dan ibuku sendiri!"

Suara di seberang telepon tertawa rendah, sebuah suara statis yang menyakitkan telinga. "Tentu saja, setelah semuanya selesai dengan bersih. Tapi aku tidak bodoh, Anya. Aku tahu Devan Alfarezel adalah pria yang licik. Aku butuh bukti nyata bahwa kau benar-benar meninggalkan Jakarta malam ini. Datanglah sendirian ke Stasiun Gambir pukul sembilan malam. Di loker nomor 14, ambil tiket kereta menuju Surabaya yang sudah kusiapkan. Jika kau tidak naik ke kereta itu, gaun pengantinmu yang berikutnya akan menjadi kain kafanmu."*l

Detik ke-35. Di layar laptop Randi, grafik pelacakan berkedip merah secara agresif, mencoba mengunci titik koordinat terakhir sebelum sinyal terputus.

"Baik! Aku akan pergi! Aku akan mengambil tiket itu!" jawab Anya, air mata fiktifnya kini terdengar sangat meyakinkan. "Tapi berjanjilah kau tidak akan mengganggu keluargaku lagi!"

"Sampai jumpa di stasiun, Anya..."

Klik.

Sambungan terputus tepat pada detik ke-39. Ruangan di dalam kabin mobil mendadak senyap. Anya menoleh ke arah Randi dengan wajah yang kini kembali tenang dan dingin. "Bagaimana, Randi? Apakah kita berhasil mendapatkannya?"

Randi menatap layar laptopnya dengan dahi yang berkerut dalam, sebelum akhirnya sebuah senyuman penuh kemenangan terukir di wajah kuyu sang asisten. "Kita berhasil mengunci areanya, Nona. Sinyal itu bukan berasal dari menara seluler acak, melainkan dari sebuah perangkat pemancar portabel yang aktif di dalam area kompleks pemakaman tua tempat... makam Clara berada."

Anya tertegun. Pengirim teror itu ternyata berada di tempat peristirahatan terakhir mantan tunangan Devan. Tempat itu bukan sekadar lokasi acak, melainkan simbol kebencian yang murni.

Randi segera menghubungi Devan menggunakan jalur komunikasi terenkripsi. "Pak Devan, lokasi sudah terkunci. Target berada di area pemakaman Clara."

Di seberang telepon, suara Devan terdengar sangat dingin, sedingin badai salju yang siap menghancurkan apa pun yang dilewatinya. *Siapkan tim keamanan elit kita, Randi. Kita akan pergi ke sana sekarang juga. Malam ini, hantu yang membayangi hidupku selama enam tahun ini akan benar-benar aku lenyapkan dengan tanganku sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!