Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.Jejak Darah di Bawah Guyuran Hujan
Kota Glory sempat mencicipi ketenangan yang semu setelah serangkaian perombakan citra yang dilakukan oleh Keluarga Suci. Di balik layar, dinamika kekuasaan yang sejati terus bergerak tanpa henti. Di dalam ruang rahasia kediaman Keluarga Xiao yang kedap suara, Patriark Shen Hong berdiri dengan sikap membungkuk hormat, didampingi oleh dua penerus mudanya, Shen Fei dan Shen Yue. Mereka datang untuk melaporkan hasil dari tugas rahasia yang telah matang.
"Tuan Muda Xiao Xuan, seluruh agenda tersembunyi yang Anda percayakan kepada kami telah dieksekusi dengan sempurna," ucap Shen Hong dengan suara rendah yang berwibawa namun sarat kepatuhan.
Dengan satu ayunan jari, seberkas cahaya kelabu keluar dari cincin spasialnya, menjatuhkan beberapa jasad beku ke atas lantai batu. Di antara tumpukan tubuh itu, wajah Li Yunhua—salah satu petinggi Persekutuan Kegelapan—terlihat pucat dengan mata mendelik, dikelilingi oleh beberapa antek kepercayaannya yang telah kehilangan nyawa.
"Bagaimana dengan pergerakan kalian berdua?" Xiao Xuan mengabaikan jasad-jasad di lantai. Dia menyesap teh spiritualnya dengan tenang, lalu melayangkan pandangan tajamnya kepada Shen Fei dan Shen Yue dengan senyuman tipis yang sulit ditebak. Efisiensi Shen Hong dalam memangkas pion Persekutuan Kegelapan yang sudah tidak berguna ini cukup memuaskan intuisinya.
Shen Fei dan Shen Yue melangkah maju dengan kepala agak menunduk. Mereka segera membentangkan sebuah peta topografi Kota Glory di atas meja rendah. Jemari Shen Yue menunjuk ke beberapa titik pemukiman padat yang berada di lingkar luar pertahanan kota.
"Tenang saja, Tuan Muda. Sesuai perintah Anda, kami berdua telah menyelesaikan pemetaan dengan teliti," ujar Shen Yue, matanya berkilat penuh ambisi muda yang kejam. "Area-area yang kami tandai ini adalah wilayah pemukiman yang menampung populasi sekitar seratus ribu jiwa penduduk jelata dan klan-klan kecil."
"Malam ini, tidak akan ada satu jiwa pun di lokasi-lokasi ini yang dibiarkan selamat," tegas Shen Fei menimpali, suaranya dingin tanpa riak penyesalan.
Shen Hong, yang sejak tadi mengamati peta tersebut, tampak menahan napas sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara. "Tuan Muda... apakah rancangan operasi ini tidak memiliki risiko yang terlalu besar? Memicu gelombang serangan Binatang Iblis secara sengaja ke arah Kota Glory adalah perkara sensitif. Jika ada satu benang saja yang terlepas, kita bisa saja bermain api dan membakar diri sendiri."
"Senior Shen, kau terlalu cemas," Xiao Xuan meletakkan cawan tehnya tanpa menimbulkan riak suara sedikit pun, jubah hitamnya berdesir lembut seiring dengan perubahan atmosfer ruangan yang mendadak mendingin. "Aku telah memerintahkan Tetua Xiao Tian dan barisan pasukan bayangan Keluarga Xiao untuk bersiap di titik-titik krusial.
Mengenai *Pil Berserk* yang akan kita tebar, racikan khusus ini akan menguap menjadi gas yang tidak berwarna dan tidak berbau begitu menyentuh udara malam. Bahkan indra tajam sekelas Tetua Ye Mo sekalipun tidak akan mampu mengendus kejanggalannya."
Xiao Xuan berdiri, berjalan mendekati jendela rahasia yang menghadap ke arah langit malam yang mulai mendung. "Lagipula, siklus serangan Binatang Iblis melanda Kota Glory terjadi setiap satu atau dua tahun sekali. Kejadian malam ini tidak akan terlihat berbeda di mata publik.
Dalam skenario terburuk sekalipun jika ada klan besar yang mulai menaruh curiga kita tinggal melemparkan jasad-jasad Persekutuan Kegelapan di lantai ini sebagai kambing hitam yang sempurna. Dan jika mereka masih menuntut penjelasan yang lebih..." Xiao Xuan membalikkan tubuhnya, menatap Shen Hong dengan mata yang menggelap, "...kita tinggal melenyapkan siapa pun yang terlalu banyak bertanya."
Mendengar kalkulasi psikologis yang begitu dingin dan anti-naif dari pemuda di hadapannya, Shen Hong merasakan bulu kuduknya berdiri. Rasa segan bercampur takjub merayap di dadanya. "Tuan Muda sungguh memiliki visi yang teramat dalam dan banyak akal. Orang tua inilah yang rupanya memiliki pandangan yang terlalu sempit."
"Persiapkan seluruh divisi tempur Keluarga Suci malam ini," instruksi Xiao Xuan, nadanya datar namun tak terbantahkan. "Setelah badai ini mereda, struktur Pasukan Penjaga Kota pasti akan mengalami kekosongan besar. Itulah momentum emas bagi klanmu untuk mengambil alih otoritas pertahanan."
"Terima kasih atas bimbingan Tuan Muda! Kami akan segera bergerak!" jawab Shen Hong dengan rasa loyalitas yang mendadak melonjak hebat di dalam dadanya.
Meskipun status mereka kini adalah bawahan yang tunduk di bawah panji Keluarga Xiao, kenyataan menunjukkan bahwa Xiao Xuan adalah sosok pemimpin yang luar biasa royal. Pria muda itu menepati setiap janjinya; tidak mencampuri urusan internal klan secara remeh, sembari terus memasok teknik kultivasi bermutu tinggi dan pil obat spiritual secara konsisten. Bagi Shen Hong, jika di masa depan ada pihak yang berani menantang otoritas Xiao Xuan, dia sendiri yang akan berdiri di garis depan untuk mencabik-cabik musuh tersebut.
Malam itu, gumpalan awan hitam pekat menggantung rendah di atas langit Kota Glory, menumpahkan hujan deras yang jarang terjadi. Gemuruh petir sesekali membelah kegelapan, memaksa para penduduk jelata dan pengawal kota untuk mengunci pintu paviliun mereka lebih awal, tanpa menyadari bahwa pekatnya malam menyembunyikan bencana yang mengerikan.
Di tengah keheningan malam yang pekat di bawah tirai hujan yang menderu, gelombang aura merah darah menyebar di hutan perbatasan. Terpicu oleh serbuk *Pil Berserk* yang menguap bersama air hujan, lebih dari dua ratus ribu Binatang Iblis Angin-Salju mendadak mengamuk. Mata mereka menyala merah padam, menerjang barikade luar Kota Glory dengan raungan yang menggetarkan bumi, menghancurkan tembok batu dan paviliun kayu di sepanjang jalur sutra.
Di pos jaga terluar, seorang Komandan Pasukan Penjaga Kota yang berpengalaman mendadak terbangun dari tidurnya karena merasakan getaran hebat di atas tanah. Begitu dia melangkah keluar, pemandangan di depannya membuat darahnya seolah membeku—gelombang monster putih berbulu lebat sedang meruntuhkan gerbang pembatas, terpecah menjadi beberapa koloni tempur yang agresif.
"Semuanya, bangun! Ambil senjata kalian! Gelombang Yao Beast menyerbu kota!" raungnya sekuat tenaga sembari meluncurkan suar spiritual ke langit malam. Cahaya suar itu segera meredup terhantam badai hujan. Dengan napas terengah-engah, dia mencengkeram jubah pengawal pribadinya, "Cepat pergi ke Istana Penguasa Kota! Laporkan situasi ini sekarang juga! Cepat!"
Setelah pengawal itu melesat menembus kegelapan, sang Komandan membalikkan tubuh menghadap ratusan prajuritnya yang gemetar di bawah guyuran air hujan. "Saudara-saudara! Di belakang kita adalah tanah kelahiran kita! Tidak ada satu depa pun tempat untuk mundur, karena orang tua, istri, dan anak-anak kita tidur di dalam sana!
Angkat senjata kalian, bunuh monster-monster sialan ini! Istana Penguasa Kota pasti akan mencatat setiap tetes darah kalian dengan hadiah yang melimpah! Ini adalah malam untuk mengukir nama kalian dalam sejarah!"
Dengan moral yang terbakar oleh keputusasaan, sang Komandan memimpin pasukannya menerjang gerombolan monster Angin-Salju. Namun, karena buruknya cuaca dan sabotase senyap yang dilakukan faksi Xiao di beberapa titik komunikasi, butuh waktu hampir satu jam penuh bagi pesan darurat tersebut untuk akhirnya menembus gerbang Istana Penguasa Kota. Ketika perintah mobilisasi umum akhirnya diturunkan, malam telah berubah menjadi ladang pembantaian yang sunyi.
Pada saat faksi gabungan Keluarga Xiao dan Keluarga Suci tiba di medan perang dengan formasi tempur yang teratur, pemukiman di lingkar luar telah lumat. Puluhan ribu pengawal kota dan warga sipil yang terjebak di dalam rumah mereka telah binasa, menyisakan kurang dari satu dari sepuluh bagian yang masih bertahan di balik reruntuhan.
Xiao Xuan melangkah maju di barisan paling depan. Jubah hitamnya tampak melekat erat pada tubuhnya yang tegap akibat guyuran hujan. Dengan satu hentikan batin yang kuat, dia melakukan fusi spiritual dengan *Roh Iblis Naga Leluhur* miliknya. Sisik-sisik emas gelap yang mistis tumbuh di sepanjang lengannya, dan sepasang mata naganya memancarkan kepunahan yang mutlak.
*Bum!*
Xiao Xuan melesat bagai kilat hitam, langsung mendarat di titik terpadat dari kerumunan Binatang Iblis Angin-Salju. Setiap ayunan tangannya memancarkan gelombang energi naga yang meremukkan tulang dan membekukan darah monster-monster tersebut dalam sekejap. Baginya, mahluk-mahluk liar ini terlalu lemah untuk menahan intuisinya yang tajam. Di sisi lain medan perang, pasukan Keluarga Suci yang dipimpin oleh Shen Hong bertempur dengan keganasan yang luar biasa di garis paling depan, sengaja membiarkan diri mereka terluka demi menciptakan narasi kepahlawanan yang dramatis di mata publik.
Setelah pertempuran berdarah yang menguras energi itu berlangsung selama satu hari satu malam penuh, kabut merah akhirnya menipis. Seluruh dua ratus ribu Binatang Iblis Angin-Salju berhasil ditumpas hingga tak bersisa. Melalui aksi heroik yang diatur dengan matang ini, Keluarga Suci berhasil mengukir prestasi gemilang di mata masyarakat, memenangkan kembali simpati mendalam dari para korban yang selamat.
Di tengah puing-puing bangunan yang masih mengepulkan asap dan anyir darah yang membaur dengan aroma tanah basah, Xiao Xuan berdiri tegak sembari melepaskan wujud fusinya.
[ Sistem Penjahat Takdir: Ding! 🩸 Sebuah simfoni kematian yang teramat megah, Tuan Rumah! Selamat, manipulasi gelombang monster ini berjalan tanpa cela. Hadiah: 300.000 Poin Penjahat telah ditambahkan ke dalam akumulasimu. Ditambah dengan poin perencanaan takdir sebelumnya, total tabungan spiritualmu kini menyentuh angka fantastis: 3.000.000 Poin! 🪙🔥 Sebuah harga yang teramat murah untuk menukar nyawa para figuran jelata, bukan? 😉* ]
Mendengar suara gaib itu, ekspresi Xiao Xuan tetap sedingin es, tanpa ada riak penyesalan sedikit pun di dalam matanya yang gelap. Catatan logistik pasca-pertempuran menunjukkan bahwa Kota Glory menderita kehilangan lebih dari 300.000 korban jiwa malam itu.
Namun bagi seorang Xiao Xuan, angka kematian itu hanyalah sebuah konsekuensi logis dari sebuah transisi kekuasaan yang besar. Jangankan tiga ratus ribu jiwa penduduk yang tidak dia kenal; bahkan jika angka itu harus berlipat ganda demi mengamankan fondasi kekuasaannya dan melindungi putri kecil serta orang-orang yang dia sayangi dari ancaman masa depan, jemarinya tidak akan pernah bergetar satu inci pun saat menggeser bidak kematian tersebut. Sifat anti-naif dan kekejaman dewasanya telah tertanam begitu dalam di balik jubah hitam yang dia kenakan.