Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 4
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam. Dalam jarak yang begitu mengikis ruang, Inara bisa melihat bayangan dirinya sendiri di manik mata hitam Mahesa yang pekat. Ada binar penuh luka, keputusasaan, dan sisa-sisa cinta yang bodoh di mata Inara. Dia berharap, setidaknya ada satu percikan kemanusiaan atau keraguan di mata suaminya setelah mendengar pertanyaan yang mengemis itu.
Namun, Mahesa justru mematung. Tatapannya yang sempat mendalam perlahan berubah menjadi seringai dingin yang amat sinis. Pria itu mengulurkan tangan kanan, jemarinya bergerak menyentuh dagu Inara, lalu beralih mengusap pipi istrinya dengan gerakan yang sangat lembut. Namun terasa seperti belaian malaikat maut bagi Inara.
"Melihatmu sebagai istriku?" bisik Mahesa, suaranya pelan, berat, namun penuh racun yang mematikan.
Secara tak terduga, cengkeraman lembut di pipi Inara berubah menjadi rabaan kasar yang menuntut. Mahesa tiba-tiba memiringkan kepalanya dan meraup bibir Inara dalam sebuah ciuman.
Jantung Inara mencelos. Untuk satu detik yang naif, dia mengira ada keajaiban. Namun detik berikutnya, rasa sakit yang nyata menghantamnya. Ciuman pertamanya itu sama sekali tidak memiliki kehangatan. Itu bukan ciuman seorang suami yang digerakkan oleh gai-rah atau cinta, melainkan sebuah penyerangan yang kasar, dingin, dan penuh intimidasi. Mahesa menciumnya seolah ingin membuktikan suatu hal, menuntut kepatuhan mutlak dari seonggok barang yang telah dibelinya.
Inara mengerang sakit di sela tautan bibir mereka, memukul dada bidang Mahesa karena pasokan oksigennya mulai menipis dan ulu hatinya terasa diaduk-aduk oleh aroma jasmine yang menguar kuat dari tubuh pria itu. Dulu dia membayangkan bisa bermesraan dengan Mahesa. Tapi kini rasanya sakit, walau sebagian hatinya masih mencintai suaminya yang baji-ngan ini.
Saat Mahesa akhirnya melepaskan tautan itu secara kasar, Inara terengah-engah dengan bibir yang memerah dan sedikit berdarah akibat gigitan kecil yang sengaja Mahesa berikan.
Mahesa mengambil sapu tangan dari saku celananya, lalu mengusap bibirnya sendiri di depan mata Inara, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
"Bagaimana? Apa rasanya seperti seorang istri? Bukankah kamu menginginkan itu dariku?" tanya Mahesa dengan nada meremehkan yang luar biasa. Dia melemparkan sapu tangan itu begitu saja ke lantai.
"Dengar, Inara. Tubuhmu, wajah cantikmu, atau air matamu sama sekali tidak memiliki nilai di mataku. Aku bisa saja menyentuhmu malam ini, memperlakukanmu layaknya 'istri' di ranjang untuk memenuhi tuntutan Mama agar segera mendapatkan cucu. Tapi tahu kenapa aku tidak pernah sudi melakukannya selama satu tahun ini?"
Mahesa maju satu langkah lagi, membuat Inara terdesak hingga punggungnya membentur tiang tangga kayu yang keras.
"Karena setiap kali aku melihat wajahmu, aku hanya melihat selembar kertas tagihan utang. Menjijikkan. Menyentuhmu hanya akan membuatku ingat betapa liciknya ayahmu yang memanfaatkan rasa iba kedua orang tuaku demi menyelamatkan bisnisnya yang busuk. Jadi, jangan pernah mengemis agar aku melihatmu sebagai wanita, karena bagiku, kamu tidak lebih dari sekadar mesin pencetak citra baik di depan media dan keluargaku."
Plak!
Suara itu bukan tamparan tangan Inara ke pipi Mahesa. Melainkan suara hati Inara yang hancur berkeping-keping, lebih hancur dari gelas yang dia pecahkan malam sebelumnya. Harga dirinya malam ini tidak hanya diinjak, tetapi telah diludahi oleh pria yang selama setahun ini dia layani dengan sepenuh hati. Kenapa dia harus mencintai pria baji-ngan ini?
"Mas... cukup..." lirih Inara, suaranya nyaris habis, tenggelam dalam rasa perih yang menjalar di seluruh dadanya.
"Aku belum selesai," potong Mahesa kejam. Dia menegakkan tubuhnya, kembali memandang Inara dari atas ke bawah dengan tatapan superior.
"Besok pagi, aku ingin berkas laporan keuangan proyek Pak Hadi sudah ada di mejaku jam tujuh. Dan ingat, akhir pekan ini di hotel, bersiaplah memakai gaun terbaikmu. Clarissa juga akan datang ke hotel yang sama karena ada pertemuan bisnis susulan dengan kolega lain. Jadi, pastikan wajah menyedihkanmu itu tidak merusak pemandangan kami. Paham?"
Tanpa menunggu jawaban, Mahesa berbalik dan melangkah menaiki tangga dengan santai. Langkah kakinya terdengar begitu tegas dan berkuasa, meninggalkan Inara yang perlahan merosot ke lantai marmer yang dingin.
Sunyi yang Menyiksa
Inara memeluk lututnya di bawah temaram lampu ruang tengah. Dadanya terasa begitu sesak, hingga fisiknya mulai menolak untuk menahan beban emosi yang terlalu masif. Rasa mual yang sedari tadi dia tahan akhirnya berujung pada rasa perih yang membakar lambungnya. Dia belum makan apa pun sejak siang, dan stres ini mulai memicu penyakit fisiknya.
Dia menatap sapu tangan yang dibuang Mahesa di lantai. Di sana ada noda lipstik tipis miliknya yang bercampur dengan sedikit darah dari bibirnya yang robek.
"Ayah... kenapa Ayah melakukan ini padaku?"
"Ibu... andai Ibu bisa bicara, tolong suruh Inara pergi. Inara sudah tidak kuat!"
Inara ingin membenci ayahnya, namun dia tidak bisa. Dia juga tidak bisa meninggalkan Mahesa karena mesin ventilator dan seluruh obat-obatan dosis tinggi yang menjaga ibunya tetap bernapas di ICU saat ini dibayar oleh rekening pria kejam itu.
Dia terjebak. Menjadi tawanan di dalam sangkar emas, menjadi istri pajangan yang bibirnya dicium dengan kebencian, dan menjadi bawahan yang terus diperas tenaganya. Di atas segalanya, hal yang paling menyakitkan bagi Inara adalah kenyataan bahwa di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih mencintai Mahesa. Pria yang baru saja membuang harga dirinya ke tingkat yang paling rendah.
Semakin hari perlakuan Mahesa semakin ka-sar dan berlebihan padanya semenjak kedatangan Clarissa. Mantan istri yang meninggalkan dia dua tahun lalu. Sebelum dirinya menikah dengan Inara. Entah apa alasannya, jangankan bercerita. Mengobrol santai dengan Inara saja tak pernah Mahesa lakukan. Dari awal pernikahan, Mahesa sudah membangun benteng dan tembok yang sangat tinggi dan kokoh di antara mereka.
"Apa yang harus Inara lakukan ayah, ibu ... Hati Inara sakit sekali!" bisik Inara pelan dengan air mata yang terus mengalir. Dia menyentuh bibirnya yang berda-rah dan terasa semakin perih juga bengkak. Ciuman pertama yang tak akan pernah dia lupakan. Apalagi dari suami yang menciumnya tanpa perasaan. Sesak, perih. Bukan seperti ini yang dia inginkan. Jika Clarissa sudah datang, kenapa Mahesa masih mempertahankan dirinya? Untuk semakin menyakiti dia?
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭