"Sepuluh tahun lalu, Alvin Alexander dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Dunia melupakannya, dan keluarganya menghapus jejaknya."
Namun, kenyataan jauh lebih dingin. Bocah lima tahun itu tidak mati. Ia diselamatkan dan ditempa oleh Revan,seorang pemimpin mafia kejam,menjadi sebuah senjata tak kasat mata yang mematikan. Kini, Alvin kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengemis kasih sayang yang telah hilang, melainkan untuk mengamati dari dekat runtuhnya sebuah memori.
Di rumah lamanya, posisi Alvin telah digantikan dengan sempurna oleh Levin, si anak angkat. Bahkan sang kakak, Christy, menatapnya tanpa mengenali sepasang mata adik kecilnya dulu. Sementara foto-fotonya telah dibuang ke tempat sampah, Alvin memilih mengenakan seragam putih-abu-abu dan duduk tenang di barisan tengah kelas 10-2, menyembunyikan identitas aslinya sebagai The Quiet Predator.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Phantom Student
Helaan napas panjang lolos dari bibir seorang remaja laki-laki berseragam putih abu-abu. Ia berdiri terpaku di depan gerbang kokoh bertuliskan SMA Taruna Cemerlang yang terpampang gagah menyambut pagi. Matanya menatap lekat untaian huruf itu, seolah memastikan bahwa tempat yang berdiri di hadapannya saat ini benar-benar nyata, bukan sekadar mimpi.
Bisa balik juga akhirnya ke keluarga gue. Hampir aja hilang selamanya, batinnya sembari mulai melangkah santai melewati gerbang.
Sambil berjalan, jemarinya bergerak, menghitung pelan. Satu, dua, tiga... hmmm, hampir sepuluh tahun.
Sepuluh tahun adalah waktu yang sangat lama bagi seorang anak yang dinyatakan hilang setelah kecelakaan mobil tragis waktu itu. Sebuah keajaiban besar ia bisa kembali ke pelukan keluarganya, meskipun respons pertama yang ia dapatkan adalah tatapan ngeri—seolah-olah mereka sedang melihat hantu yang bangkit dari kubur.
Namun, pemuda itu tahu persis, keajaiban itu tidak datang cuma-cuma. Ada andil dari orang-orang berdarah dingin yang menyelamatkannya. Gue beruntung banget bisa diselamatin sama Om Moriarti, Revan, Om Badra, dan om-om mafia lainnya. Kalau bukan karena pelatihan gila mereka, gue nggak bakal ada di sini sekarang.
"Eh, itu siapa, sih? Baru lihat, deh," bisik seorang siswi di dekat mading, menyenggol lengan temannya.
"Iya, ya? Ganteng banget, tinggi lagi. Anak baru kali, ya?" timpal siswi lain dengan mata yang tidak lepas dari sosok pemuda itu.
Suasana pagi di SMA Taruna Cemerlang memang sedang ramai-ramainya. Siswa-siswi berlalu-lalang, memadati koridor dan halaman depan. Kehadiran sang murid baru tentu langsung mencuri perhatian. Sementara para siswi berbisik kagum, beberapa siswa laki-laki justru melempar tatapan sinis dan menyelidik, dipenuhi rasa penasaran sekaligus intimidasi yang sulit diartikan.
Namun, pemuda itu sama sekali tidak peduli. Dunianya terlalu luas untuk sekadar terusik oleh tatapan remaja sekolahan. Setelah puas memandangi sekeliling, ia mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam yang melingkar di sana.
Wah, bentar lagi bel masuk, nih.
Ia tersenyum tipis. Hari Rabu. Hari pertama baginya untuk kembali menginjakkan kaki di institusi pendidikan formal. Sembari merapikan letak tasnya, ia menggantungkan sebuah harapan sederhana di dalam hati.
Gue harap, ini jadi awal kehidupan baru gue yang tenang. Jauh dari candaan horor dan pelatihan mematikan yang tiap hari dikasih sama om-om 'horor' itu.
Pemuda itu melangkah mantap melewati gerbang, memasuki area dalam SMA Taruna Cemerlang—sekolah paling elit dan bergengsi di seantero ibu kota. Sambil berjalan tenang, matanya mengagumi sekeliling. Lapangan upacaranya begitu luas, lingkungannya bersih tanpa noda, dan pepohonan hijau tertata rapi menciptakan suasana yang sangat asri.
Menariknya, dari pelantang suara yang terpasang di setiap langit-langit lorong, mengalun instrumen lagu nasional yang syahdu.
Wow, gumam pemuda itu dalam hati, benar-benar terkesan. Asri banget di sini. Tenang, bahkan masuk sekolah pun disambut lagu nasional.
Langkah kakinya membawa dia melintasi sebuah pembatas area. Ketika melirik ke sebelah kiri, ia menyadari sesuatu. Wah, ternyata satu kompleks sama SMP-nya juga, ya? Sekolah ini bener-bener berkelas. Kak Christy emang keren kalau milih sekolah.
Sebuah senyuman tipis sempat terukir di wajahnya. Namun, senyum itu seketika sirna, digantikan oleh sorot mata yang meredup saat ia teringat bagaimana ketus dan dinginnya perlakuan Christy, kakak kandungnya sendiri, sejak ia kembali ke rumah.
Kriiiing! Kriiiing!
Suara bel panjang memutus lamunannya, berdering beberapa kali memecah keheningan pagi. Detik berikutnya, suasana yang tadinya santai berubah tertib. Ratusan siswa dan siswi mulai bergerak serentak menuju lapangan, membentuk barisan-barisan yang rapi.
Pemuda itu menghentikan langkahnya di tepi lapangan, memperhatikan pergerakan massa di sekelilingnya. Wah, pada baris. Ada apel pagi, ya? batinnya menebak-nebak. Ia mencoba mengingat kembali instruksi yang ia terima sebelum berangkat. Kata Kak Christy... gue masuk kelas 10-2.
Di tengah kerumunan siswa yang sibuk mencari barisan kelas masing-masing, pemuda itu tampak mencolok. Hanya dia satu-satunya murid yang masih menggendong ransel di punggungnya, alih-alih meletakkannya di kelas terlebih dahulu. Tak heran jika pasang mata para siswi kembali mencuri pandang ke arahnya, saling menyenggol lengan temannya sambil berbisik tertahan. Namun, ia tidak memedulikan semua kasak-kusuk itu.
Matanya yang jeli mulai memindai seragam para murid. Ia memperhatikan detail bordiran yang tertera di dada kanan setiap siswa: ada nama mereka, dan tepat di bawahnya, tertulis kelas masing-masing.
Oh, ada nama sama ruang kelasnya juga, toh, gumamnya memahami aturan atribut di sekolah baru ini.
Di barisan lapangan, setiap kelas kini sudah mengelompok. Para ketua kelas berdiri paling depan, dengan sigap dan lantang merapikan barisan masing-masing. Setelah menemukan papan penanda kelasnya, pemuda itu berjalan santai ke arah sana dan mengambil posisi di barisan paling belakang kelas 10-2.
Meskipun berdiri di pojok paling belakang, ia tidak bisa menyembunyikan kehadirannya. Berbeda dengan murid lain yang berdiri santai atau bersandar lelah, pemuda itu berdiri dengan sikap sempurna—tenang, tegap, dan penuh wibawa, sebuah gestur tubuh yang tanpa sadar melekat erat akibat bertahun-tahun menjalani pelatihan berat bersama para mafia.
Sikap tubuhnya yang atletis dan tatapannya yang lurus ke depan seketika mencuri perhatian. Bukan hanya siswi-siswi dari kelas 10-2 saja yang mulai melirik dan salah tingkah, bahkan murid perempuan dari barisan kelas sebelah pun mulai mencuri-curi pandang, terpesona oleh aura misterius sang murid baru.
Apel, ya? gumam pemuda itu dalam hati. Apel apa, sih, kira-kira? Wah, nggak enak banget jadi anak baru, cuma bisa diam begini.
Enggan ambil pusing, ia mendongak, menatap hamparan langit pagi. Arahan dari kepala sekolah yang menggema lewat pelantang suara hanya lewat begitu saja di telinganya. Baginya, langit hari ini jauh lebih menarik—begitu tenang dan cantik, layaknya lukisan abstrak mahakarya Tuhan yang membentang luas.
Namun, lamunan indahnya seketika pecah saat sebuah pengumuman mengejutkan terdengar. "Hari ini, kita akan mengadakan razia mendadak!"
Seketika itu juga, keheningan apel buyar. Desas-desus langsung menjalar di antara barisan siswa dan siswi.
Alah... baru juga hari pertama masuk, udah ada razia aja, gerutu pemuda itu di dalam hati.
Saat pandangannya kembali ke bumi, mata tajam pemuda itu menangkap sesuatu yang ganjil. Tepat di depannya, ada seorang cowok yang masih menggendong ransel tampak sangat gelisah. Keringat dingin mulai terlihat di pelipisnya. Fokus pemuda itu langsung terkunci pada cowok tersebut.
Dengan gerakan kikuk, si cowok bertas ransel diam-diam merogoh saku celananya sembari melirik cemas ke kiri dan ke kanan. Mata pemuda itu menyipit. Hmm, apa itu? batinnya menebak.
Ketika si cowok bertas ransel melihat beberapa guru BK mulai berjalan memeriksa barisan, kepanikannya makin memuncak. Hmp, mungkin tuh anak bawa rokok, makanya panik setengah mati, tebak pemuda itu lagi.
Benar saja. Detik berikutnya, si cowok dengan cepat mengeluarkan sebungkus rokok dan menyembunyikannya di balik telapak tangan. Matanya bergerak liar, mencari target di sekitarnya.
Wah, wah... mau ngapain nih anak? gumam pemuda itu, mulai tertarik dengan drama di depannya.
Si cowok bertas ransel kemudian melangkah pelan, mendekati seorang siswa bertubuh agak gemuk yang sedang memakai jaket cokelat. Dengan pura-pura akrab, ia menepuk bahu kiri si cowok berjaket cokelat lalu merangkulnya—sebuah trik klasik untuk mengalihkan perhatian. Si cowok berjaket yang polos sama sekali tidak menaruh curiga. Di tengah obrolan singkat itu, dengan gerakan cepat, si cowok bertas ransel menyelinapkan bungkus rokok tersebut ke dalam saku jaket cokelat itu, lalu kembali ke barisannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Melihat aksi licik "lempar batu sembunyi tangan" itu, pemuda didikan mafia ini tidak tinggal diam. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung melangkah maju mendekati si cowok berjaket cokelat.
Ia menepuk bahunya pelan. "Eh, maaf," ucap pemuda itu dengan nada seramah mungkin. "Ketua kelas 10-2 mana, ya?"
Si cowok berjaket cokelat menoleh. Menyadari wajah asing di depannya, ia menjawab dengan ramah, "Ooh, lo anak baru, ya?"
Pemuda itu mengangguk mantap. Si cowok berjaket cokelat kemudian mengalihkan pandangannya ke depan sambil menunjuk sebuah posisi. "Di sana..."
Tepat pada detik ketika perhatian si cowok berjaket teralih ke arah telunjuknya, tangan pemuda itu bergerak secepat kilat. Dengan keahlian tangan (sleight of hand) yang luar biasa, jemarinya merogoh saku jaket cokelat itu, menarik keluar bungkus rokok, dan menyembunyikannya di balik telapak tangannya sendiri tanpa menimbulkan gerakan yang mencurigakan.
"Ooh, iya. Terima kasih, ya," ucap pemuda itu tenang, tersenyum ramah.
Setelah sukses merebut barang bukti, pemuda itu berjalan santai mendekati si cowok bertas ransel yang kini sedang asyik mengobrol, merasa dirinya sudah aman dari razia. Dengan langkah yang nyaris tanpa suara, pemuda itu melewati sisi cowok itu. Saat berpapasan, tangan pemuda itu bergerak dengan presisi tinggi—memasukkan kembali bungkus rokok tersebut tepat ke dalam kantong jaring di samping ransel si cowok, tempat yang biasa digunakan untuk menaruh botol minuman.
Untuk memastikan misinya sempurna, pemuda itu sengaja menegurnya. "Bro, ketua kelas 10-2 siapa, ya?"
Si cowok bertas ransel menoleh, menatap pemuda itu dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang meremehkan. "Siapa lo?!" jawabnya ketus dan sombong.
"Ooh, nggak apa-apa," jawab pemuda itu santai, sama sekali tidak terpancing.
Ia berbalik dan berjalan kembali ke posisinya di barisan paling belakang. Sambil melangkah, sebuah senyuman tipis yang penuh arti terukir di wajahnya. Tengil amat tuh anak. Rasain lu sebentar lagi, kekehnya dalam hati.
Namun, di balik kepuasan kecilnya berhasil membalas si cowok tengil, pemuda itu tidak menyadari satu hal. Di barisan lain yang tak jauh dari sana, ada seorang gadis yang sejak awal tidak melepaskan pandangannya. Gadis itu memperhatikan setiap detail gerakan super cepat sang pemuda dari awal sampai akhir dengan mata terbelalak.
Kedua tangan gadis itu meremas satu sama lain, tampak sangat tegang. Jantungnya berdegup kencang saat sebuah nama melintas di benaknya.
Apa mungkin... itu dia? gumam gadis itu lirih, menatap punggung sang pemuda dengan tatapan penuh kerinduan sekaligus tidak percaya.
misalnya kek gini.
"akhirnya saya/aku balik juga ke kota."
cuma ngasi saran saja. 🙏
terima banyak,udah baca karya saya