11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pemburuan
Sebagai seorang ksatria yang dilatih belasan tahun lamanya di padepokan yang sunyi dan penuh disiplin, Yuse sama sekali tidak mau bergerak sembarangan atau bertindak buta. Ia tahu betul, kalau mereka nekat menyerang langsung ke sarang utama Padepokan Lintis Bumi, itu sama saja dengan menyerahkan nyawa sendiri secara sukarela. Sehebat apa pun pedang yang diayunkan, tidak akan ada gunanya kalau musuh datang dari segala arah, bersembunyi di balik bayangan, atau menyerang menggunakan racun yang tak terlihat mata.
Sambil terus berjalan menyusuri jalan setapak di tengah hutan lebat menuju kota perbatasan, langkah ketiganya perlahan melambat. Jalan yang mereka lalui penuh dengan akar pohon tua yang menonjol ke permukaan tanah, sementara dedaunan kering berderak halus setiap kali terinjak. Udara pagi masih terasa lembab dan segar, bau tanah basah bercampur dengan aroma wangi daun pinus terasa menenangkan di sekitar mereka. Dari kejauhan terdengar suara elang bersahut-sahutan tinggi di angkasa, pertanda mereka sudah mulai mendekati wilayah yang lebih terbuka.
Yuse menarik napas panjang untuk menenangkan pikirannya, lalu menoleh ke arah kedua gadis yang berjalan di sampingnya. Wajahnya terlihat sangat serius dan fokus, tapi matanya menyala terang—tanda sebuah rencana brilian baru saja matang sempurna di dalam kepalanya.
“Lintis Bumi itu bukan sekadar kelompok pendekar biasa,” buka Yuse pelan namun tegas, suaranya cukup rendah agar hanya bisa didengar oleh Brisa dan Cindy saja. “Mereka adalah aliran hitam besar yang punya ratusan murid, tapi yang paling berbahaya bukan jumlah pasukannya. Yang paling berbahaya adalah jaringan mata-mata dan kaki tangan mereka yang tersebar rapi di setiap kota, desa, dan jalan perbatasan. Kalau kita datang dengan tampilan sebagai pendekar atau terlihat mencolok, mereka pasti langsung waspada. Nama dan wajah kita bahkan mungkin sudah masuk daftar buruan mereka sejak insiden di kereta kuda kemarin.”
Brisa mengangkat satu alisnya tinggi, langkahnya tetap datar dan dingin meski diam-diam tangannya sudah mulai meremas gagang belati yang tersembunyi di balik jubahnya.
“Terus apa maksudmu? Kau mau kita mundur dan menyerah begitu saja?”
“Tentu saja tidak,” jawab Yuse cepat tanpa ragu. “Justru sebaliknya. Kita tidak boleh yang mengejar mereka, tapi kita harus membuat mereka yang datang mengejar kita. Kita pancing mereka keluar dari sarang persembunyiannya. Dan caranya adalah dengan menggunakan apa yang paling mereka inginkan lebih dari nyawa mereka sendiri.”
Cindy yang sejak tadi diam menyimak tiba-tiba menoleh cepat, matanya membesar penuh keterkejutan sekaligus pengertian.
“Maksudmu… kitab Janma Manunggal?”
Brisa pun ikut melirik Yuse, kali ini ada sedikit rasa penasaran yang mulai muncul di balik tatapan dinginnya. Kekakuan di wajahnya sedikit mencair, digantikan minat yang makin tumbuh.
“Kau mau jadikan buku itu sebagai… umpan?”
“Tepat sekali,” Yuse mengangguk tegas. Ia berhenti sejenak berdiri di bawah naungan pohon besar yang rindang, lalu menatap lurus ke arah Cindy. “Kita akan jadikan kitab itu sebagai daya tarik utama. Mereka sudah gila-gilaan menginginkannya. Kalau sampai terdengar kabar kalau kitab itu ada di tangan kita dan sedang kita bawa bepergian, mereka pasti tidak akan bisa diam. Mereka bakal bergerak sendiri datang menghampiri kita.”
Cindy menelan ludah pelan. Tangannya refleks meraba tas kecil di pinggangnya, tempat kitab tua itu disimpan dan dilindungi rapat-rapat.
“Tapi… bukannya itu terlalu berbahaya? Kalau sampai mereka benar-benar berhasil merebutnya dari tangan kita?”
“Itulah sebabnya kita harus pegang kendali penuh atas semua yang terjadi,” jawab Yuse sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh keyakinan—senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya. “Kita tidak akan membawa kitab yang asli. Kita akan buat salinan atau replika yang bentuknya mirip persis sama. Biar mereka terkecoh dan mengira itu barang asli. Sementara kitab yang asli tetap aman tersimpan baik di sisimu, Cindy.”
Yuse lalu duduk di atas batu besar di pinggir jalan, memberi isyarat agar mereka berdua juga berhenti dan duduk di sebelahnya. Angin hutan berdesir pelan melewati dedaunan, seolah ikut mendengarkan rencana yang akan diuraikannya.
Dengan tenang dan terstruktur, Yuse membagi rencananya menjadi tiga langkah taktis yang jelas. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar ringan, tapi penuh bobot dan perhitungan matang.
Penyamaran di Kota Bastan
“Begitu kita masuk ke wilayah kota perbatasan Bastan nanti, Cindy… kau tidak boleh terlihat sedikit pun seperti seorang putri kerajaan,” jelas Yuse sambil menatap gadis itu lekat-lekat. “Rambut emasmu yang indah, pakaian sutra yang mewah, caramu bicara dan berjalan—semuanya terlalu mencolok dan mudah dikenali. Kau harus menyamar jadi gadis biasa saja. Boleh jadi anak pedagang, pembantu rumah tangga, atau sekadar pengembara miskin. Pakai baju yang agak lusuh, kotor sedikit tidak apa-apa. Semakin tidak menarik perhatian orang, semakin aman dirimu.”
Cindy mengangguk pelan sambil membayangkan dirinya dengan wajah penuh debu dan baju kusam. Rasanya agak memalukan dan aneh, tapi demi keberhasilan rencana ini, ia rela melakukan apa saja.
“Sementara itu Brisa,” lanjut Yuse menoleh ke arah gadis berambut perak itu, “kau harus menyembunyikan rambutmu yang berwarna perak itu dengan rapat. Warna itu terlalu khas dan langka. Sekali saja ada orang yang melihatnya, berita tentang ‘gadis berambut perak dari Desa Angin’ bakal menyebar ke seluruh penjuru kota dalam waktu kurang dari sehari. Tutupi dengan tudung atau kain jubah tebal sampai tidak terlihat sedikit pun, dan usahakan jangan banyak bicara. Kalau perlu, pura-pura saja jadi orang bisu supaya tidak menarik perhatian.”
Brisa hanya mendengus pelan sambil melipat tangannya di dada. “Memang aku jarang bicara sia-sia. Jadi itu bukan masalah buatku.”
Menyebarkan Kabar Palsu
“Setelah penyamaran kita selesai dan terlihat meyakinkan, aku akan masuk ke pasar gelap atau kedai minuman terbesar dan paling ramai di kota itu—tempat di mana para pendekar bayaran, pedagang informasi, serta kaki tangan Lintis Bumi biasanya berkumpul dan mencari mangsa,” kata Yuse sambil menggambar garis-garis pola di atas tanah menggunakan sebatang ranting kecil.
“Di sana, aku akan sengaja memamerkan replika buku itu. Tidak perlu terang-terangan, cukup diam-diam tapi pastikan ada yang melihatnya. Aku akan berbisik-bisik kepada beberapa orang yang kelihatannya haus uang atau suka membawa kabar, bilang kalau ada pendekar muda yang sedang membawa kitab kuno yang sangat berharga dan penuh rahasia, serta sedang mencari pembeli dengan harga tertinggi. Kabar semacam itu bakal menyebar sendiri lebih cepat daripada api yang membakar hutan di musim kemarau.”
Cindy menatap wajah Yuse dengan tatapan kagum yang makin dalam. “Kau… benar-benar memikirkan semuanya sampai sedetail itu ya? Tidak ada satu pun yang terlewat.”
Yuse hanya mengangkat bahunya santai. “Kalau kita tidak cerdas mengatur langkah, nanti kita yang akan mati konyol sia-sia.”
Menjebak dan Memeras Informasi
“Dan bagian yang paling penting,” suara Yuse tiba-tiba menjadi lebih rendah dan berat, “kita hanya perlu menunggu. Aku yakin tidak butuh waktu lama, para mata-mata Lintis Bumi pasti langsung terpancing dan bergerak sendiri untuk merebut buku itu dari tangan kita. Mereka tidak akan mau melewatkan kesempatan emas sebesar ini.”
Yuse mengepalkan tangannya erat-erat di udara, matanya menyala penuh tekad.
“Saat mereka keluar dari persembunyian dan menyergap kita di tempat yang sepi, saat itulah giliran kita bertindak. Aku dan Brisa akan menangkap mereka hidup-hidup. Kita tidak perlu membunuh mereka. Yang kita butuhkan bukan nyawa mereka, tapi informasi yang ada di kepala mereka. Kita harus tahu di mana letak markas rahasia utama mereka, bagaimana jalur patroli mereka, dan yang paling penting… siapa sebenarnya sosok bertopeng misterius yang mengendalikan semua ini dari balik layar.”
Mendengar nama ‘sosok bertopeng’ itu, mata Brisa langsung menyipit tajam. Dadanya terasa panas membara seketika. Dialah orang yang paling ia cari—orang yang ia yakini sebagai dalang utama di balik kehancuran Desa Angin dan kematian seluruh keluarganya. Kalau rencana Yuse berhasil, ini bukan cuma soal menangkap musuh, tapi juga langkah pertama untuk membalas dendam yang sudah ia pendam lama.
Cindy mendengarkan setiap kata dengan mata yang makin berbinar-binar, makin kagum dan bangga melihat betapa hebatnya pemikiran taktis pria yang ia kagumi ini. Jantungnya berdebar kencang bukan karena takut, tapi karena rasa percaya dan keyakinan yang makin kuat.
“Wah… ini ide yang luar biasa brilian, Yuse!” serunya tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya. “Aku setuju sepenuhnya. Dengan cara begini, kitalah yang pegang kendali atas segalanya, bukan mereka. Untuk pertama kalinya aku merasa… kita benar-benar punya peluang besar untuk menang.”
Brisa hanya mendengus pelan seolah biasa saja, tapi sudut bibirnya yang kaku perlahan terangkat sedikit ke atas. Itu adalah senyum tipis yang sangat jarang terlihat—tanda ia juga setuju dan kagum dengan rencana itu.
“Ide yang lumayan bagus untuk ukuran ksatria yang dulu polos banget,” celetuk Brisa sedikit mengejek, tapi nadanya tidak seketus dan sedingin biasanya. “Tapi ingat, kalau nanti kita berhasil tangkap mata-mata mereka, jangan harap aku bakal bersikap lembut atau sopan. Aku bakal pastikan mereka bicara jujur sebelum napas mereka habis. Aku butuh tahu semua yang berhubungan dengan Desa Angin.”
Yuse tersenyum kecil, lalu berdiri tegak sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Cindy bangun dari tanah.
“Bagus. Kalau begitu tidak ada lagi waktu untuk dibuang. Kita harus sampai di kota Bastan sebelum matahari tenggelam nanti.”
Dengan rencana yang sudah matang sempurna di kepala mereka, ketiganya kembali melangkah maju dengan langkah yang jauh lebih cepat dan mantap. Jalan setapak sempit di tengah hutan perlahan berubah menjadi jalan tanah yang lebih lebar dan ramai. Dari kejauhan, menara kayu serta atap genteng rumah-rumah penduduk kota perbatasan Bastan mulai terlihat jelas di kaki cakrawala. Asap tipis dari tungku pandai besi mengepul naik ke langit biru, menandakan kehidupan yang sibuk dan riuh di dalam sana.
Kota itu terkenal sangat ramai, bising, penuh pedagang, pengelana, dan pendekar dari berbagai penjuru negeri—tempat yang paling sempurna untuk menyembunyikan diri di antara keramaian… sekaligus tempat yang paling sempurna untuk memasang jebakan mematikan bagi musuh.
Yuse menatap ke arah gerbang kota yang makin dekat, matanya menyipit tajam penuh semangat berburu.
“Tunggu saja Bastan… kita datang. Bersiaplah kalian semua, karena hari ini kalian bakal bertemu dengan umpan yang kalian inginkan, tapi tidak akan pernah bisa kalian telan.”
Angin bertiup kencang membawa debu jalanan beterbangan, seolah menjadi pertanda bahwa permainan besar dan perburuan sesungguhnya akhirnya telah resmi dimulai. Kali ini, merekalah pemburunya.