Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan Palsu - Chapter 3
**** HAPPY READING GUYS *****
Sophia mencoba menarik napas panjang, memaksa dirinya sadar pada kenyataan yang mulai terasa tidak menyenangkan.
Ia melangkah mendekati Arkan yang masih berdiri mematung di lorong rumah sakit. Namun sebelum sempat membuka mulut, lelaki itu lebih dulu berjalan melewatinya begitu saja dan menghampiri Damian yang baru selesai bicara dengan polisi.
Sophia terdiam.
Cara Arkan menundukkan kepala. Cara nada suaranya berubah lebih hati-hati. Dan tatapan hormat yang jelas terlihat di wajahnya.
Seketika semuanya terasa masuk akal.
Mereka saling mengenal.
Bukan sekadar kenal biasa.
Arkan bahkan tampak sangat menjaga sikap di depan pria menyebalkan itu.
Dan yang paling membuat dada Sophia terasa sesak… lelaki itu berpura-pura tidak mengenalnya.
Seolah mereka bukan orang yang setiap pagi sarapan bersama.
Seolah Sophia hanyalah orang asing yang kebetulan terlibat masalah dengan atasannya.
Oh.
Jadi begini rasanya dikhianati.
Sophia melipat tangan di dada sambil menahan kesal yang mulai mendidih.
“Kalau urusannya sudah selesai, aku mau pergi,” katanya tajam. “Aku masih harus kerja.”
Tatapan Damian langsung beralih padanya. Dingin. Menekan. Seolah setiap kata yang keluar dari mulut Sophia hanyalah gangguan kecil yang tidak penting.
“Anda mau lari dari tanggung jawab?” tanyanya datar.
Sophia langsung melotot.
“Mohon maaf, aku sudah tanggung jawab, tahu!” balasnya cepat. “Aku bantu kau keluar dari mobil, ikut ambulans ke rumah sakit, bahkan rela kehilangan waktu kerja!”
Damian hanya menatapnya tanpa ekspresi.
“Lalu mobil saya?”
“….”
Sophia membeku.
Kepalanya langsung dipenuhi angka-angka mengerikan.
Mobil hitam itu bahkan terlihat lebih mahal daripada seluruh isi apartemennya.
Berapa biaya memperbaikinya?
Puluhan juta?
Ratusan juta?
Jangan-jangan harga bannya saja sudah cukup untuk membeli rumah kontrakan kecil.
Wajah Sophia perlahan pucat.
Refleks, ia menoleh pada Arkan dengan tatapan memohon penuh harapan. Setelah semua kebaikan yang pernah ia lakukan, memasak, mencuci piring, bahkan menghemat pengeluaran makan lelaki itu, masa Arkan tidak mau membantunya sedikit saja?
Namun sebelum Sophia sempat bicara, Arkan lebih dulu menatap Damian hati-hati.
“Tuan Damian,” ujarnya formal. “Tuan Liam sedang mencari Anda. Seharusnya Anda sudah menghadiri pertemuan dengan putri Tuan Arthur.”
Damian terlihat tidak tertarik.
Arkan melanjutkan pelan, “Pertemuan itu penting untuk kedua keluarga.”
Sophia berkedip.
Putri Tuan Arthur?
Pertemuan keluarga?
Astaga.
Jangan bilang Damian sedang dijodohkan? Dan lebih mengejutkannya lagi, Arkan benar-benar memanggil pria arogan ini dengan sebutan formal seperti bawahan pada atasan. Sudah jelas dia Bos yang sering diceritakan Arkan.
“Tolong tenangkan Tuan Liam dulu,” lanjut Arkan. “Saya akan membereskan masalah di sini.”
Mata Sophia langsung berbinar.
Nah!
Itu baru Arkan yang dia kenal!
Setidaknya lelaki itu masih punya hati nurani untuk menyelamatkannya dari biaya perbaikan mobil.
Namun Damian malah menjawab santai, “Masalah ini belum selesai."
Ia memasukkan ponsel ke saku celana sebelum melanjutkan dingin, “Katakan pada ayah kalau saya sibuk.”
Arkan tampak menahan napas.
“Anda tahu pertemuan itu tidak bisa ditunda,” katanya pelan. “Selama Anda tidak membawa pasangan, Tuan Liam akan terus membuat pertemuan seperti ini.”
Damian menatapnya datar.
“Bosmu siapa?”
Arkan langsung menunduk sedikit. “Anda, Tuan.”
“Kalau begitu kerjakan tugasmu.”
Suasana mendadak hening.
Sophia yang sejak tadi hanya memperhatikan mulai merasa ada sesuatu yang aneh.
Arkan terlihat ragu sesaat sebelum akhirnya berkata pelan, “Tolong jangan mempersulit Sophia.”
Tatapan Damian sedikit berubah.
Arkan melanjutkan hati-hati, “Dia cuma gadis biasa. Hidup sendiri. Tidak punya siapa-siapa.”
Sophia langsung menoleh cepat. Untuk pertama kalinya sore itu, ia merasa sedikit terharu. Ternyata Arkan masih membelanya. Namun rasa haru itu hanya bertahan tiga detik.
“Kalau begitu beri dia uang,” ujar Damian enteng. “Suruh dia mencicil beserta bunganya.”
“….”
“….”
Sophia dan Arkan sama-sama kehilangan kata-kata.
Pria ini benar-benar tidak punya belas kasih.
Damian melirik Sophia sekilas. “Kau bekerja?”
Sophia mengangguk lesu.
“Gajiku cuma cukup buat makan.” Ia menghela napas dramatis. “Aku bahkan harus berhemat buat beli daging.”
“Oh.”
Hanya itu jawaban Damian.
OH?
Sophia nyaris tersedak emosi. Dan lebih parahnya lagi, setelah mengatakan itu Damian langsung berjalan pergi begitu saja. Sombong. Menyebalkan. Tidak manusiawi. Namun tepat saat Sophia membayangkan tabungannya melayang demi memperbaiki mobil mahal itu, naluri bertahannya langsung bangkit.
Tunggu. Dia belum kalah. Dengan langkah cepat Sophia menyusul Damian.
“Tuan!” Tanpa pikir panjang ia menarik tangan pria itu.
Gerakan Damian langsung berhenti. Tatapannya turun perlahan ke tangan Sophia yang mencengkeram lengannya.
Sophia buru-buru melepaskan pegangan itu sambil tersenyum kikuk.
“Hehe… maaf.”
Damian tidak menjawab.
Sementara di belakang mereka, Arkan sudah terlihat seperti ingin menghilang dari muka bumi.
Sophia menelan ludah pelan.
“Oke… jadi…” Ia tertawa kecil canggung. “Aku sering dengar dari Arkan kalau keluargamu suka memaksa kamu punya pasangan.”
Arkan langsung menutup wajahnya dengan satu tangan.
Sophia melanjutkan nekat, “Dan… yah… aku bisa mengerti kenapa itu sulit.”
Tatapan Damian menyipit tipis.
Sophia buru-buru menambahkan, “Maksudku, bukan jelek! Tapi… kepribadianmu agak… hm…”
“Lanjutkan,” potong Damian tenang.
Sophia langsung tersenyum lebar.
Nah. Berarti dia tertarik.
“Aku punya solusi.”
Namun sebelum ia sempat bicara lebih jauh, Arkan langsung membekap mulutnya panik.
“Bos, Anda tidak perlu mendengar omong kosongnya.”
“Mmphh!”
Sophia memberontak kesal.
Damian justru terlihat tertarik.
“Biarkan dia bicara.”
Arkan langsung menegang.
Sophia segera melepaskan tangan Arkan dari mulutnya lalu berkata penuh semangat, “Aku sering baca novel tentang perjodohan.”
“…” Damian diam mendengarkan.
“Biasanya kalau tokoh cowoknya terus dipaksa menikah…” Sophia menunjuk Damian percaya diri. “Mereka menyewa pasangan palsu.”
Hening.
Sophia tersenyum bangga.
“Nah! Jadi Tuan tinggal pura-pura tunangan selama beberapa waktu. Keluargamu pasti berhenti mengganggu.”
Arkan diam-diam mencubit pinggang Sophia.
“Aduh!”
Sophia melotot kesal.
“Apa?! Ini ide bagus!”
Arkan tertawa kaku pada Damian. “Saya akan bicara pada Tuan Liam, jadi Anda tidak perlu—”
“Dia bisa melakukannya.”
Kalimat Damian membuat keduanya membeku.
Sophia berkedip.
“…Apa?”
Damian menatapnya lurus. “Anda yang akan menjalankan rencana itu.”
Dunia Sophia seperti berhenti sesaat.
Damian melanjutkan santai, “Satu tahun.”
“S-satu tahun?!”
“Anda akan bekerja sebagai tunangan palsu saya sampai keluarga saya berhenti curiga.” Nada suaranya begitu tenang, seolah sedang membicarakan cuaca. “Sebagai gantinya, utang kerusakan mobilmu dianggap lunas.”
Sophia mematung.
Otaknya mencoba mencerna situasi ini perlahan. Tunggu dulu. Jadi… Dia akan bekerja selama setahun. Menjadi tunangan pria menyebalkan ini.
Tanpa gaji.
Dan semua itu hanya demi membayar mobil sialan tersebut?
Wajah Sophia langsung berubah.
Astaga.
Apa dia baru saja dimanipulasi oleh orang kaya?
B e r s a m b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah (^^)