NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEJUTAN INDAH

Keesokan harinya, Angkasa datang ke rumah Arum lagi, pagi-pagi sekali dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Di tangannya, ada sebuah kotak persegi panjang yang dibungkus rapi dengan kertas krem polos yang elegan. Arum yang baru saja selesai membereskan bunga di halaman, menyambut kedatangan kekasihnya itu dengan senyum cerah.

"Pagi, Mas... Kok datang pagi-pagi banget? Ada apa nih bawa bungkusan?" tanya Arum penasaran sambil mencuci tangannya di keran.

Angkasa tersenyum misterius, lalu menyerahkan bungkusan itu ke tangan Arum. "Pagi, Sayang. Ini buat kamu. Buka aja dulu."

Arum menerima bungkusan itu dengan hati-hati, lalu membukanya perlahan. Di dalamnya ada sebuah gaun berbahan halus berwarna gading lembut, modelnya simpel namun sangat anggun, jatuhnya pas dan terlihat sangat elegan. Arum mengangkat gaun itu, membelai bahannya yang lembut dengan takjub.

"Wah... Cantik banget, Mas... Ini buat aku?" tanyanya berbinar.

"Iya, khusus buat kamu. Nanti malam pakai ini ya? Aku mau ngajak kamu makan malam spesial, jadi aku pengen kamu pakai ini. Boleh kan?" pinta Angkasa lembut, menatap Arum dengan pandangan yang penuh harap, tapi sama sekali tidak memberi petunjuk sedikit pun tentang rencana besarnya nanti malam.

Arum sama sekali tidak curiga. Ia pikir ini cuma cara Angkasa menebus dua minggu kepergiannya kemarin, sekadar makan malam romantis biasa saja. Ia hanya mengangguk patuh sambil tersenyum.

"Boleh banget dong... Makasih ya, Mas. Aku pasti pakai deh nanti malam," jawab Arum polos, sama sekali tak menyadari bahwa malam ini akan mengubah seluruh hidupnya selamanya.

Malam pun tiba. Matahari sudah tenggelam digantikan langit malam yang bertabur bintang. Angkasa datang menjemput tepat waktu. Penampilan Angkasa malam ini benar-benar berbeda. Ia mengenakan kemeja berwarna senada dengan gaun yang dipakaikan Arum, rapi, wangi, dan terlihat sangat tampan serta berwibawa.

Saat Arum keluar dari pintu rumah mengenakan gaun pemberian Angkasa itu, napas Angkasa seakan tercekat sejenak. Ia terpaku berdiri di sana, menatap Arum yang berjalan mendekat. Gaun simpel itu ternyata membuat Arum terlihat luar biasa cantiknya. Wajahnya yang alami berseri-seri, rambutnya ditata indah jatuh terurai lembut di bahu, membuatnya terlihat jauh lebih anggun, lebih mempesona, dan terlihat sangat berbeda dari biasanya. Di mata Angkasa, Arum malam ini adalah wanita tercantik di dunia, bahkan jauh lebih cantik dari bintang-bintang yang bersinar di langit sana.

Angkasa menatapnya lekat-lekat, pandangannya begitu dalam, begitu memuja, dan begitu terpesona sampai lupa berkedip.

"Kenapa lihatin aku terus sih, Mas? Ada yang salah ya?" tanya Arum pelan sambil menunduk malu, jemarinya memainkan ujung gaunnya karena lagi-lagi diserang rasa salah tingkah hebat di bawah tatapan Angkasa itu.

Angkasa tersenyum lebar, mendekat lalu mengusap pipi Arum pelan. "Nggak ada yang salah sama sekali. Kamu... malam ini cantik banget, Sayang. Beneran, aku sampai takjub lihatnya. Makin bangga aku punya kamu," ucapnya tulus dan rendah.

Arum makin menunduk dalam, wajahnya memerah merona. "Mas Angkasa nih... mulutnya manis banget kalau lagi ngomong," gerutunya pelan manja, membuat Angkasa tertawa renyah.

Perjalanan pun ditempuh dengan tenang dan bahagia. Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah restoran mewah yang letaknya agak tinggi, pemandangannya sangat indah menghadap ke hamparan lampu kota. Angkasa memarkirkan kendaraannya, lalu berjalan menggandeng tangan Arum masuk ke dalam. Namun, begitu melewati pintu utama, Angkasa mengeluarkan selembar kain sutra lembut dari saku jasnya.

"Sayang... Sebentar ya, tolong tutup matanya dulu sebentar. Aku mau kasih kejutan buat kamu di atas," pinta Angkasa sambil tersenyum misterius.

Arum menatap bingung tapi langsung menurut. "Kejutan? Apaan sih rahasia banget?" tanyanya sambil membiarkan Angkasa mengikatkan kain itu pelan menutupi kedua matanya.

"Nanti juga tau. Pegang lengan aku ya, pelan-pelan naik tangganya," tuntun Angkasa lembut sambil menuntun langkah Arum.

Mereka berjalan beriringan naik ke lantai atas, menuju balkon luas yang letaknya paling pojok dan privat. Angkasa sudah memesan dan memastikan tempat ini disewa khusus untuk malam ini saja. Langkah demi langkah Arum dituntun dengan hati-hati, jantungnya berdebar kencang karena rasa penasaran yang makin memuncak.

Sesampainya di tempat tujuan, Angkasa menghentikan langkahnya. Ia berdiri tepat di hadapan Arum, napasnya sedikit tercekat karena gugup namun penuh keyakinan. Suasana di sekitar mereka hening namun terasa hangat.

"Sudah sampai, Sayang. Sekarang dengarin aku ya... Nanti pas aku lepas kainnya, aku hitung sampai tiga. Pas angka tiga baru kamu buka mata kamu ya. Janji?" bisik Angkasa pelan.

"Iya... Janji," jawab Arum dengan suara bergetar karena penasaran.

Perlahan, kain penutup itu dilepas. Angkasa mulai berhitung dengan suara rendah namun jelas.

"Satu... Dua... Tiga..."

Arum membuka matanya perlahan. Seketika ia menahan napasnya. Mulutnya terbuka sedikit karena kaget, matanya membelalak tak percaya melihat pemandangan di hadapannya.

Di depannya, balkon itu berubah menjadi surga kecil yang indah. Ada satu meja bundar yang tertata rapi dengan taplak putih bersih, dihiasi dengan puluhan lilin kecil yang menyala lembut memancarkan cahaya hangat dan romantis. Bunga mawar merah segar berserakan di lantai, disusun dengan sangat rapi membentuk tulisan: WILL YOU MARRY ME? Ucapan itu terlihat begitu jelas dan menyentuh hati.

Arum belum sempat bertanya, belum sempat mengeluarkan suara karena terlalu terkejut, tapi keterkejutannya berlipat ganda saat melihat Angkasa yang tadi berdiri di hadapannya, kini sudah berlutut dengan satu kaki di lantai yang beralaskan karpet lembut.

Angkasa menatapnya dari bawah dengan pandangan yang begitu tulus, begitu dalam, dan begitu serius. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kotak beludru kecil berwarna merah hati yang sudah terbuka, menampakkan sebuah cincin sederhana namun sangat indah dan berkilauan di bawah cahaya lilin.

Air mata Arum mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia sudah mulai bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.

Angkasa menarik napas panjang, lalu mulai berbicara dengan suara yang jelas, tegas, namun bergetar karena perasaan yang meluap-luap.

"Arum Sekarwangi... Wanita yang namanya udah tertato abadi di lengan aku, wanita yang udah jadi pemilik hati aku dari dulu. Malam ini, aku siapin semua ini bukan sekadar buat makan malam biasa. Tapi aku mau bilang sama kamu, kalau niat aku sama kamu itu udah nggak bisa cuma dijalani lewat kata pacaran aja. Aku mau lebih dari itu, Sayang."

Angkasa menatap manik mata Arum yang sudah mulai berkaca-kaca itu lekat-lekat.

"Aku mau serius sama kamu. Aku mau kamu jadi istri aku, pendamping hidup aku selamanya. Aku mau kamu nemenin aku sisa umur aku, nemenin aku dalam suka maupun duka, susah maupun senang. Aku mau kita bangun rumah tangga sama-sama, saling jagain, saling ngertiin, dan saling mencintai sampai tua nanti. Arum... Maukah kamu menerima lamaranku? Maukah kamu jadi istri aku?"

Detik itu juga, air mata Arum tumpah deras membasahi pipinya. Tangis haru, bahagia, dan terkejut bercampur jadi satu. Ia menatap laki-laki yang berlutut di hadapannya itu, laki-laki yang sangat ia cintai, laki-laki yang sudah menemaninya melewati banyak hal, laki-laki yang sabar dan tulus padanya. Ia mengangguk sekuat tenaganya, bahunya berguncang hebat menahan isak tangis bahagia.

"Mau... Mas, aku mau... Aku mau banget jadi istrimu... Aku mau nemenin kamu selamanya..." jawab Arum di sela tangisnya, suaranya terdengar sangat lirih tapi sangat jelas dan penuh kepastian.

Wajah Angkasa seketika bersinar terang oleh kebahagiaan yang meluap. Senyum paling lebar dan paling indah terukir di bibirnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena bahagia, ia mengambil cincin itu, lalu memasangkannya perlahan ke jari manis tangan kanan Arum. Cincin itu melingkar pas, seolah memang sudah ditakdirkan untuk bersatu.

Angkasa segera berdiri, lalu tanpa ragu lagi ia menarik tubuh Arum masuk ke dalam pelukannya yang paling erat dan paling hangat. Ia memeluk gadisnya itu seolah takkan pernah melepaskannya lagi, membiarkan Arum menangis bahagia di dadanya, sementara Angkasa sendiri juga menahan bulir-bulir air mata kebahagiaannya yang hampir jatuh.

"Makasih, Sayang... Makasih udah mau terima aku. Kamu bikin aku jadi laki-laki paling bahagia sedunia," bisik Angkasa di telinga Arum, mengecup puncak kepalanya berulang kali dengan penuh rasa syukur.

Saat mereka masih berpelukan dan saling menumpahkan rasa bahagia itu, tiba-tiba dari arah samping dan balik tiang-tiang penyangga, terdengar suara riuh rendah sorakan gembira dan tepuk tangan yang meriah.

"HUWAAAAH!! SELAMATTT!!"

Arum menoleh kaget sambil masih terisak bahagia. Di sana, tersembunyi di balik dekorasi dan tanaman hias, ada Pak Bimo dan Bu Saras yang tersenyum haru sambil bertepuk tangan, matanya pun berkaca-kaca bangga melihat putrinya dilamar oleh laki-laki yang baik.

Di sebelah mereka, ada Intan yang melompat-lompat heboh sambil bertepuk tangan keras sekali, matanya banjir air mata bahagia. Dan tak ketinggalan, ada Dewa sahabat baik Angkasa yang tertawa lebar sambil menepuk-nepuk tangannya, ikut bersorak mendukung sahabatnya.

Ternyata... mereka semua ada di sana. Mereka semua sudah tahu rencana Angkasa, mereka semua sudah membantu menyiapkan semuanya, dan mereka semua ada di sana untuk menyaksikan momen paling bersejarah dalam hidup Arum dan Angkasa.

Arum menatap mereka satu per satu, lalu kembali menatap Angkasa yang tersenyum jahil namun penuh kasih sayang padanya. Malam itu, di bawah langit berbintang, di bawah cahaya lilin, dikelilingi orang-orang terkasih, kisah cinta mereka yang manis kini resmi berubah menjadi janji suci menuju pelaminan.

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!