Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Berlian Hitam Bangkit
Langit Jakarta malam itu tidak benar-benar gelap.
Lampu-lampu kota menyala seperti jutaan titik cahaya yang tersebar tanpa aturan, membentuk lautan gemerlap di bawah langit yang berat dan dingin.
Di balik kaca gedung Rafardhan Group, Arsen Rafardhan berdiri sendirian.
Tangannya di saku celana, jasnya terbuka, dan pandangannya mengarah jauh ke bawah—ke kota yang selalu ia anggap sebagai papan permainan.
Di atas meja kerjanya, berserakan dokumen kontrak yang baru saja ditandatangani hari itu.
Nama itu kembali muncul.
Anya Clarissa.
Arsen menatap satu lembar dokumen lebih lama dari seharusnya.
“Terlalu rapi…” gumamnya pelan.
Tidak ada kesalahan.
Tidak ada celah.
Tidak ada jejak emosional.
Seseorang seperti itu tidak cocok dengan profil “gadis beasiswa biasa”.
Baskoro berdiri di belakangnya, ragu sebelum berbicara.
“Tuan, tim intelijen kita menemukan sesuatu yang aneh.”
Arsen tidak menoleh. “Lanjutkan.”
“Ada aktivitas enkripsi tingkat militer yang menutupi seluruh data digital Anya Clarissa. Riwayat sekolah, data keluarga, bahkan catatan medisnya.”
Arsen mengernyit kecil.
“Siapa yang melakukan itu?”
Baskoro menelan napas.
“Identitas peretasnya… Cyber Onyx.”
Suasana ruangan langsung berubah.
Ketukan jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya.
Arsen akhirnya berbalik.
“Cyber Onyx?” ulangnya pelan.
Nama itu bukan sembarang nama.
Di dunia bisnis global, itu seperti bayangan yang tidak punya bentuk—hanya dampak.
Server runtuh tanpa jejak.
Data hilang tanpa trace.
Dan tidak pernah ada yang tahu siapa di baliknya.
“Kenapa mereka mengurus seorang siswi SMA?” suara Arsen lebih rendah sekarang.
Baskoro menggeleng pelan. “Kami tidak menemukan motifnya, Tuan.”
Arsen menatap kembali ke dokumen di meja.
Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Anya sebagai target.
Tapi sebagai misteri.
Sementara itu, di jalanan kota yang lebih rendah, sebuah mobil van hitam melaju tanpa suara.
Di dalamnya, Anya Clarissa duduk santai, mengganti kacamata bulatnya dengan gerakan lambat.
Transformasi itu terjadi lagi.
Dingin.
Tajam.
Tidak ada jejak gadis sekolah yang gemetar tadi pagi.
“Arsen mulai menyentuh area yang tidak seharusnya,” kata Tulus sambil mengetik cepat di tablet.
Anya menatap layar kecil di tangannya.
“Dia sudah sampai di Cyber Onyx?”
“Ya. Tapi kita masih aman. Semua jalur sudah kita tutup.”
Anya bersandar.
“Dia cepat,” ucapnya pelan. “Tapi belum cukup cepat.”
Tulus melirik sekilas. “Kalau dia terus menggali…”
Anya memotong. “Biarkan.”
“Queen?”
Anya tersenyum tipis.
“Orang seperti Arsen tidak berhenti hanya karena disuruh berhenti. Dia harus merasa menang dulu… sebelum jatuh.”
Keesokan paginya di SMA Wijaya.
Selene tidak datang sendirian.
Ia membawa suasana.
Dan masalah.
Koridor sekolah sudah ramai ketika Anya melangkah masuk seperti biasa. Namun kali ini, sesuatu berbeda.
Tatapan murid-murid tidak lagi sekadar meremehkan.
Ada rasa ingin tahu.
Dan sedikit ketegangan.
Selene berdiri di depan papan pengumuman OSIS, dikelilingi beberapa siswi lain.
Begitu melihat Anya, ia langsung tersenyum.
Senyum yang tidak pernah berarti baik.
“Eh, anak beasiswa,” panggil Selene keras.
Anya berhenti.
Tapi tidak menoleh.
Selene melangkah mendekat.
“Aku dengar kamu sekarang sering diperhatikan Arsen?”
Suara di sekitar mereka mulai mengecil.
Anya tidak menjawab.
Selene tertawa kecil.
“Jangan geer. Dia cuma kasihan sama orang kayak kamu.”
Lalu—
Brak.
Buku Anya ditabrak dari tangannya.
Jatuh ke lantai.
Beberapa murid terkejut, tapi tidak ada yang bergerak.
Anya perlahan menunduk, mulai mengambil bukunya satu per satu.
Tenang.
Terlalu tenang.
Selene membungkuk sedikit, berbisik.
“Posisimu tetap sama. Kamu cuma bayangan.”
Namun sebelum Selene bisa melangkah pergi—
“Cukup.”
Suara itu.
Semua orang membeku.
Arsen.
Ia berdiri di ujung koridor.
Tangannya di saku, ekspresinya datar.
Tapi matanya tidak seperti biasa.
Lebih tajam.
Lebih fokus.
Lebih… mengamati.
Selene langsung berubah ekspresi.
“Arsen, dia yang—”
“Aku bilang cukup.”
Langkah Arsen pelan.
Tapi setiap langkah terasa berat.
Ia berhenti tepat di depan Anya.
Anya masih berlutut, memegang bukunya.
Kepalanya sedikit tertunduk.
Namun di balik itu, pikirannya bekerja cepat.
Terlalu dekat.
Arsen terlalu dekat.
Arsen menatapnya lama.
Bukan seperti tadi.
Bukan sekadar dingin.
Tapi seperti sedang mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik wajah itu.
“Kenapa kamu selalu jadi pusat masalah?” tanya Arsen akhirnya.
Anya mengangkat wajah sedikit.
Ekspresi lemah kembali aktif.
“Saya… tidak bermaksud, Kak…”
Arsen tidak langsung menjawab.
Matanya turun ke buku di tangan Anya.
Lalu kembali ke wajahnya.
Ada jeda.
Satu detik.
Dua detik.
Dan untuk pertama kalinya—
Arsen sedikit ragu.
“Jangan sering sendirian,” katanya akhirnya.
Kalimat itu tidak terdengar seperti perintah.
Lebih seperti peringatan.
Lalu ia berbalik dan pergi.
Meninggalkan koridor yang sunyi.
Selene berdiri kaku, tidak percaya.
Namun yang lebih mengejutkan bukan itu.
Tapi cara Arsen tidak lagi melihat Selene sebagai ancaman utama.
Melainkan… Anya.
Sore harinya.
Anya kembali ke gang seperti biasa.
Transformasi selesai.
Di dalam mobil van, Tulus sudah menunggu.
“Arsen mengubah pola,” lapor Tulus.
Anya melepas kacamata.
“Bagaimana?”
“Dia mulai memusatkan perhatian pada kamu, bukan insiden.”
Anya diam sejenak.
Lalu tersenyum kecil.
“Bagus.”
Tulus menoleh. “Bagus?”
Anya menatap jendela.
“Semakin dia fokus padaku… semakin jauh dia dari kebenaran yang sebenarnya.”
Di gedung Rafardhan Group malam itu.
Arsen berdiri di depan layar besar.
Di sana terpampang ulang data Anya Clarissa.
Dan satu file lain yang tidak bisa ia buka sepenuhnya:
Cyber Onyx – Access Denied
Arsen mengepalkan tangan.
“Semakin kamu disembunyikan,” gumamnya, “semakin aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya.”
Di luar jendela, kota tetap bergerak.
Tapi di dalam kepala Arsen, satu hal mulai terbentuk:
ini bukan lagi sekadar investigasi.
Ini perang.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏