*Sinopsis*
Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.
Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*
Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.
Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.
90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Ke 2
Hari ke-58.
Hidup mereka pelan-pelan balik normal.
Matthias udah boleh kerja full, tapi masih ada jadwal kontrol dokter tiap minggu.
Evelyn balik ngelukis di studio lantai 3. Kadang Matthias duduk di sana, pura-pura bantu, padahal cuma bikin berantakan.
Pagi itu Evelyn bangun duluan.
Dia turun ke dapur, Nyonya Alina udah nyiapin sarapan.
“Pak Matthias masih tidur ya?” tanya Nyonya Alina sambil nyodorin teh jahe.
“Udah bangun. Katanya mau ke proyek sebentar, cek pengecoran lantai 30.”
Nyonya Alina ketawa kecil.
“Orang itu kerjaan nggak ada habisnya.”
Evelyn cuma senyum.
Dia udah biasa.
Yang penting sekarang, Matthias pulang. Selalu pulang.
Jam 10 pagi, telepon Om Dimas berdering.
Dia angkat, diem 3 detik, lalu matanya melebar.
“Baik, Pak. Saya sampaikan sekarang.”
Dia taruh telepon, langsung cari Evelyn.
“Na, Pak Matthias minta kamu ke proyek Jakarta Barat. Sekarang. Katanya ada kejutan.”
Evelyn ngernyit.
“Kejutan? Dia nggak bilang apa-apa ke gue tadi pagi.”
“Nggak tahu. Tapi dia minta kamu pakai gaun yang kemarin. Yang biru dongker itu.”
Evelyn nggak banyak tanya.
Dia ganti baju, dandan tipis, berangkat.
---
Proyek Jakarta Barat hari itu sepi.
Nggak ada suara mesin. Nggak ada pekerja.
Cuma ada karpet merah kecil dari gerbang sampai ke lantai 22.
Di ujung karpet, ada tenda putih. Lampu string nyala meski masih siang.
Evelyn jalan pelan.
Jantungnya aneh. Deg-degan kayak mau ujian.
Sampai di lantai 22, dia lihat Matthias berdiri di tengah.
Jas rapi. Rambut disisir rapi.
Di tangannya ada kotak beludru kecil.
Di sekelilingnya, ada Nyonya Alina, Om Dimas, beberapa pekerja yang dulu dia selamatkan.
Semua senyum.
Evelyn berhenti 3 langkah di depannya.
“Matthias… ini apa?”
Matthias senyum.
“Kejutan.”
Dia turun satu lutut.
Nggak peduli jahitan di perutnya masih agak nyut-nyutan.
Kotak itu dibuka.
Cincin berlian sederhana. Nggak besar. Tapi desainnya… mirip sketsa cincin yang Evelyn gambar waktu dia SMA.
Evelyn nutup mulut.
“Matthias…”
“Aku tahu kita udah menikah. Tapi itu karena kontrak. Ini… beda.”
Matthias ngangkat muka, tatap matanya langsung.
“Evelyn, mau nggak kamu nikah sama aku… beneran? Tanpa kontrak. Tanpa syarat. Cuma karena kamu dan aku mau.”
Semua orang diem.
Angin di lantai 22 berhembus pelan.
Evelyn ngerasa matanya panas.
“Lo nggak perlu lamar gue, Matthias. Kita udah sah.”
“Aku tahu. Tapi aku mau kamu milih aku lagi. Hari ini. Sekarang. Bukan karena pengacara. Bukan karena keluarga. Tapi karena kamu mau.”
Evelyn ngeliat sekeliling.
Nyonya Alina nangis.
Om Dimas cengengesan.
Para pekerja yang dulu dia tolong ngasih jempol.
Dia ngeliat Matthias lagi.
Laki-laki yang dulu dingin, sekarang matanya penuh takut ditolak.
Evelyn ngangguk.
Pelan. Tapi pasti.
“Iya.”
Matthias langsung berdiri, pasang cincin itu di jari manis Evelyn.
Pas banget.
Kayak emang udah ditakdirin.
Dia langsung peluk Evelyn.
Erat.
“Terima kasih… karena milih aku lagi.”
Evelyn balas peluk.
“Gue milih lo tiap hari, Matthias. Dari hari lo bangun di ICU.”
Tepuk tangan meledak.
Nyonya Alina langsung narik Evelyn buat peluk.
“Alhamdulillah… akhirnya beneran.”
Om Dimas ngelus dada.
“Gue kira mau pingsan. Deg-degan.”
Matthias ketawa pelan.
Dia nggak lepasin tangan Evelyn.
“Gue mau pesta kecil. Malam ini. Di rumah. Cuma keluarga. Nggak ada wartawan.”
Evelyn mengangguk.
“Deal. Tapi lo nggak boleh kerja dulu. Dokter bilang istirahat.”
“Untuk hari ini aja. Janji.”
---
Malamnya, mansion terang.
Lampu taman nyala. Meja panjang diisi makanan buatan Nyonya Alina.
Nggak ada dekorasi berlebihan.
Cuma ada keluarga, dan rasa yang nggak bisa dibeli uang.
Matthias pidato singkat.
Dia nggak jago ngomong. Tapi hari ini, suaranya nggak gemetar.
“Terima kasih karena udah mau jadi istriku. Beneran.
Aku nggak janji hidup kita bakal gampang. Tapi aku janji, aku nggak akan jalan sendirian lagi.”
Evelyn berdiri.
Dia nggak siap pidato. Tapi dia ngomong juga.
“Gue dulu takut sama pernikahan. Takut sama lo.
Tapi lo bikin gue ngerti… cinta itu bukan soal sempurna.
Cinta itu soal milih orang yang sama, tiap hari, meski lo tahu dia punya cacat.”
Mereka cium pipi.
Nggak berlebihan.
Tapi cukup buat bikin Nyonya Alina nangis lagi.
---
Jam 11 malam, tamu pulang.
Mansion balik sepi.
Evelyn dan Matthias duduk di balkon lantai 40.
Angin malam dingin.
Cincin di jari Evelyn berkilau kena cahaya bulan.
“Lo serius nggak takut gue bosan?” tanya Evelyn pelan.
Matthias senyum.
“Gue lebih takut gue bosan kalau nggak sama kamu.”
Evelyn ketawa kecil.
“Cheesy banget.”
“Buat kamu, aku bisa lebih cheesy.”
Mereka diem.
Ngeliatin Jakarta di bawah.
Ramai. Berisik. Tapi rasanya jauh.
“Matthias,” panggil Evelyn.
“Hmm?”
“Gue senang lo lamar gue lagi.”
“Aku senang kamu bilang iya.”
Matthias tarik tangan Evelyn, cium cincin itu pelan.
“Ini bukan akhir, Evelyn.”
“Lalu apa?”
“Ini awal. Beneran.”
Evelyn sandar di bahunya.
“Gue siap.”
Malam itu mereka tidur lebih cepat.
Nggak ada laptop. Nggak ada email.
Cuma ada mereka berdua, dan janji yang nggak perlu ditulis di kertas.
---
Keesokan paginya, foto lamaran itu bocor.
Entah siapa yang upload.
Tapi caption-nya cuma satu:
_“Mereka menikah karena kontrak. Sekarang mereka menikah karena cinta.”_
Komentar 99% positif.
“Akhirnya happy ending.”
“Gue nangis liat video itu.”
“Matthias Virel ternyata romantis juga.”
Evelyn lihat, lalu matiin ponsel.
Dia nggak butuh validasi orang lain lagi.
Yang dia butuh, ada di sampingnya.
Matthias lagi bikin sarapan. Gosong dikit.
Evelyn ketawa.
“Lo serius mau racunin gue?”
“Ini cinta dalam bentuk gosong.”
Evelyn ambil garpu.
“Gue terima.”
Mereka makan bareng.
Nggak ada kontrak.
Nggak ada batas waktu.
Cuma ada pagi, kopi, dan tangan yang saling genggam.
---
Bersambung....