NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Ada orang yang menghabiskan seluruh umurnya untuk membangun dinding setinggi mungkin, hanya karena mereka mengira keselamatan berbanding lurus dengan ketebalan batu dan ketinggian menara. Namun, ada pula orang yang menghabiskan hidupnya justru untuk merubuhkan dinding-dinding itu, menyadari bahwa keamanan yang sesungguhnya bukanlah tentang tidak tersentuh oleh dunia luar, melainkan tentang kemampuan untuk merasakan angin tanpa harus meminta izin pada siapa pun. Bagi seseorang yang lahir di atas hamparan permadani, menyentuh kayu kapal yang kasar dan basah oleh air garam adalah sebuah skandal. Namun bagi Arlo Valerius, tekstur kayu tua ini terasa jauh lebih mulia daripada singgasana emas yang kini tertinggal di balik kabut debu Aethelgard.

Arlo duduk di atas papan kayu perahu nelayan yang sempit, membiarkan punggungnya bersandar pada lambung kapal yang bergetar setiap kali dihantam ombak kecil. Napasnya masih terasa berat, sisa-sisa debu kapur dari aula Sayap Utara seolah masih mengendap di paru-parunya, memberikan rasa perih yang tipis setiap kali ia menghirup udara laut yang tajam. Ia menunduk, menatap kakinya yang hanya beralas sepatu kain kusam yang sudah basah kuyup. Tidak ada lagi kaus kaki sutra, tidak ada lagi sepatu kulit mengkilap. Hanya ada kulit yang bersentuhan dengan realitas.

Tangannya yang gemetar perlahan terangkat. Ia menatap telapak tangannya sendiri di bawah cahaya fajar yang mulai menguning di cakrawala. Kapalan di sana kini bercampur dengan noda semen biru yang sudah mengering, lecet-lecet yang memerah, dan debu abu-abu yang menempel di bawah kuku. Ia mencoba mengepalkan tangan, dan rasa nyeri yang tumpul segera menjalar hingga ke siku. Arlo tersenyum kecil. Rasa sakit ini adalah miliknya. Tidak ada raja yang bisa mencabutnya, dan tidak ada putri yang bisa membelinya.

Di depannya, Kalea sedang duduk memegang dayung kayu yang panjang. Gadis itu tidak segera mendayung dengan kuat; ia membiarkan arus laut membawa mereka sedikit lebih jauh dari tebing karang. Kalea menatap Arlo tanpa berkedip. Rambutnya yang biasanya diikat rapi kini berantakan, beberapa helai menempel di pipinya yang terkena percikan air laut. Ada noda biru tua di sudut rahangnya—jejak yang sama dengan yang ditinggalkan Arlo di gerbang kayu istana.

Kalea meletakkan dayungnya di atas pinggiran perahu, menimbulkan suara klotak yang pelan di tengah kesunyian laut. Ia merogoh sesuatu dari dalam tas kain kusam yang ia dekap di pangkuannya. Sebuah kain bersih, atau setidaknya terlihat lebih bersih daripada kemeja yang dikenakan Arlo sekarang.

"Kau terlihat seperti orang yang baru saja digulung oleh reruntuhan bangunan, Arlo," suara Kalea memecah kesunyian, serak karena hawa dingin namun tetap memiliki ketajaman yang biasa.

Arlo mengangkat wajahnya, matanya yang biru kini tampak lebih cerah karena pantulan sinar matahari di permukaan laut. Ia menyeka dahi dengan punggung tangannya, namun malah membuat noda debu di sana semakin berantakan. "Aku memang baru saja meruntuhkan sebuah bangunan, Kalea. Bangunan yang namanya Aethelgard."

Kalea tidak tertawa. Ia justru merangkak perlahan di atas papan kayu kapal yang sempit, mendekati Arlo. Perahu itu sedikit bergoyang saat berat badan Kalea berpindah, membuat Arlo secara refleks memegang pinggiran kapal. Kalea berhenti tepat di depan Arlo, jarak mereka kini hanya sebatas jangkauan tangan. Bau air garam, keringat, dan sisa aroma kapur menyatu di antara mereka.

"Ulurkan tanganmu," perintah Kalea.

Arlo ragu sejenak, namun ia akhirnya mengulurkan kedua tangannya yang penuh luka dan kotor. Kalea menarik ember kayu kecil yang terikat tali di sisi perahu, menciduk sedikit air laut, lalu membasahi kainnya. Ia meraih pergelangan tangan Arlo, jemarinya yang mungil namun kuat mencengkeram kulit Arlo yang kasar.

Saat kain basah itu menyentuh lecet di sela-sela buku jari Arlo, pria itu tersentak dan sedikit menarik tangannya. Rasa perih dari garam laut yang masuk ke luka terbuka terasa seperti disengat ribuan lebah.

"Diam," bisik Kalea tanpa menoleh. "Air garam ini akan membersihkan lukamu sekaligus mencegahnya membusuk. Kau tidak ingin tangan pahlawan rakyatmu ini berubah menjadi hitam karena infeksi, kan?"

Arlo menggertakkan giginya, menahan napas sampai dadanya terasa sesak, namun ia membiarkan Kalea terus mengusap luka-lukanya. Ia memperhatikan gerakan tangan Kalea. Begitu teliti, begitu hati-hati, persis seperti saat gadis itu memoles ukiran singa di aula. Kalea tidak menatap wajah Arlo; ia sangat fokus pada setiap inci kulit yang ia bersihkan, seolah-olah tangan Arlo adalah karya seni terbaru yang harus ia selamatkan dari kerusakan.

"Kenapa kau kembali, Kalea?" tanya Arlo, suaranya kini lebih rendah, menyatu dengan suara deburan ombak yang menghantam lambung perahu. "Aku memberikanmu kebebasan agar kau bisa menjauh dari tempat ini sejauh mungkin. Solandis seharusnya menjadi tempatmu memulai hidup baru, bukan tempatmu menunggu seorang pria yang sudah kehilangan segalanya."

Kalea berhenti menggosok sejenak. Ia tetap memegang tangan Arlo, jempolnya mengusap lembut bagian kulit Arlo yang tidak terluka. Ia akhirnya mendongak, menatap langsung ke dalam mata Arlo. "Kebebasan itu tidak ada artinya jika aku harus terus memikirkan apakah pangeran bodoh yang menyelamatkanku masih bernapas atau sudah digantung di menara."

Ia kembali membersihkan sisa noda semen di kuku Arlo. "Dan aku tidak kembali hanya untuk menjemputmu. Aku kembali untuk memastikan bahwa koin perunggu yang kuberikan padamu benar-benar kau jaga. Kau tahu kan, itu adalah upahku bekerja lembur selama seminggu?"

Arlo tertawa pelan, sebuah tawa yang berakhir dengan batuk kecil karena debu di tenggorokannya. Ia meraba saku celananya, mengeluarkan koin perunggu yang kini sudah bersih dari debu karena terkena air laut tadi. Ia meletakkan koin itu di telapak tangan Kalea. "Aku menjaganya lebih baik daripada aku menjaga mahkotaku sendiri."

Kalea menerima koin itu, menatapnya sebentar, lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya sendiri. Ia kembali membasahi kainnya, kini beralih ke wajah Arlo. Dengan sangat lembut, ia menghapus noda debu di pipi Arlo, di bawah matanya, dan di keningnya. Arlo bisa merasakan kehangatan dari napas Kalea yang menyapu kulit wajahnya. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, jauh lebih cepat daripada saat ia berhadapan dengan pasukan Helena tadi.

"Helena pasti akan mencarimu sampai ke ujung dunia," gumam Kalea saat kainnya menyentuh rahang Arlo. "Dia bukan tipe wanita yang akan membiarkan penghinaan seperti ini berlalu begitu saja. Kau sudah merusak martabatnya di depan seluruh benua."

"Biarkan dia mencari," Arlo memejamkan matanya, menikmati sentuhan kain basah di wajahnya. "Dia mencari seorang pangeran. Dan pangeran itu sudah tidak ada. Dia sudah tenggelam di katedral kemarin."

Kalea menjauhkan tangannya setelah merasa wajah Arlo sudah cukup bersih. Ia duduk kembali di atas tumitnya, memperhatikan Arlo yang kini terlihat lebih segar namun tetap tampak sangat kelelahan. "Lalu sekarang apa? Kita tidak bisa terus berada di perahu kecil ini. Kapal-kapal Solandis itu... mereka tidak akan menunggu selamanya."

Arlo membuka matanya, menoleh ke arah kapal-kapal perang besar yang kini mulai mengecil di kejauhan, sedang mengarahkan haluannya menuju laut lepas. "Mereka akan menunggu kita di titik pertemuan di balik Pulau Karang. Jenderal Marcus sudah mengatur semuanya dengan utusan Solandis. Mereka butuh aliansi dagang yang baru, dan dekrit yang kubuat memberikan mereka akses eksklusif ke pelabuhan selatan tanpa pajak kerajaan. Itu lebih dari cukup untuk membuat mereka melindungiku."

Kalea mengambil dayungnya kembali, mulai mendayung dengan gerakan yang teratur untuk mengarahkan perahu mereka mengikuti arus. "Kau benar-benar menggunakan hukum kerajaan untuk menghancurkan kerajaan itu sendiri. Kau memang pangeran yang sangat licik."

"Aku hanya belajar dari yang terbaik," Arlo menatap punggung Kalea yang bergerak maju mundur seiring gerakan dayung. "Aku belajar bahwa untuk membangun sesuatu yang baru, kita tidak bisa hanya menambal retakannya. Kita harus merubuhkan seluruh dindingnya dan mulai dari fondasi."

Hening kembali menyelimuti mereka selama beberapa menit. Matahari kini sudah naik sepenuhnya, mengubah warna air laut dari abu-abu menjadi biru tua yang jernih. Di belakang mereka, daratan Aethelgard kini hanya tampak seperti garis hitam yang tipis di cakrawala. Asap dari Sayap Utara sudah tidak terlihat lagi, namun Arlo tahu bahwa getaran dari tindakannya akan terasa selama bertahun-tahun di sana.

Arlo bergerak sedikit, mencoba meluruskan kakinya yang terasa kram. Tangannya secara tidak sengaja menyentuh pita biru yang ia ikat di pergelangan tangannya. Ia menatap pita itu, teringat bagaimana ia merasa sangat kesepian di menara sebelum burung merpati itu datang.

"Pita ini..." Arlo mengangkat tangannya, memperlihatkan kain biru itu pada Kalea. "Ini yang membuatku bertahan semalam. Saat aku merasa semua rencana hukumku tidak akan berguna, pita ini mengingatkanku bahwa ada seseorang yang menungguku di luar dinding itu."

Kalea tidak menoleh, namun Arlo bisa melihat telinganya yang sedikit memerah. "Itu hanya pita bekas dari kapal nelayan ayahku. Jangan terlalu sentimental."

"Bagimu mungkin hanya pita bekas," Arlo beranjak dari posisinya, kini ia duduk di tengah perahu, lebih dekat dengan Kalea. "Tapi bagiku, ini adalah satu-satunya hal yang lebih berharga daripada semua permata di mahkota ayahku. Ini adalah tanda bahwa aku tidak lagi sendirian."

Kalea menghentikan dayungannya, membiarkan perahu mereka terombang-ambing sebentar. Ia menoleh perlahan, menatap Arlo dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada keraguan di matanya, namun juga ada sesuatu yang jauh lebih dalam—sebuah rasa yang telah tumbuh di antara debu kapur dan ancaman eksekusi.

"Kau tahu kan, hidup di Solandis tidak akan mudah, Arlo?" suara Kalea melembut. "Di sana kau bukan siapa-siapa. Kau harus bekerja. Kau harus berkeringat. Kau tidak akan punya pelayan yang membawakanmu kopi di pagi hari."

Arlo meraih tangan Kalea yang sedang memegang gagang dayung. Tangan itu kasar, penuh kapalan, dan memiliki noda cat yang sulit hilang. Arlo menggenggamnya erat, merasakan kekuatan dari jari-jemari gadis itu. "Aku sudah belajar cara menggosok lantai, Kalea. Aku sudah belajar cara memahat batu. Dan aku sudah belajar cara makan roti yang keras. Aku tidak butuh pelayan. Aku hanya butuh seseorang yang berani mengatakan padaku jika warna cat yang kupilih itu sampah."

Kalea menatap tangan Arlo yang menggenggam tangannya. Ia tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ia membalikkan telapak tangannya agar ia bisa membalas genggaman Arlo. "Warna biru yang kau pilih untuk gerbang itu... itu sebenarnya tidak terlalu buruk."

Arlo tersenyum lebar, senyum yang mencapai matanya dan menghapus sisa-sisa ketegangan dari wajahnya. "Benarkah?"

"Hanya sedikit lebih baik daripada putih mutiara pilihan Helena," Kalea mengedikkan bahu, mencoba kembali ke gaya bicaranya yang ketus, namun ia tidak bisa menyembunyikan binar di matanya.

Perahu nelayan itu terus melaju, membelah buih-buih ombak yang putih. Di kejauhan, Pulau Karang mulai terlihat—sebuah formasi batu raksasa yang menonjol dari laut, tempat kapal Solandis sedang menanti. Arlo merasa setiap meter yang mereka lalui adalah satu jengkal lagi jarak yang ia buat dengan masa lalunya yang menyesakkan.

Ia menoleh ke arah Aethelgard untuk terakhir kalinya. Istana itu sekarang tampak sangat kecil, seperti mainan batu yang bisa hancur kapan saja. Ia tidak merasa sedih. Ia tidak merasa kehilangan. Ia justru merasa kasihan pada ayahnya yang kini mungkin sedang duduk di atas tahtanya, sendirian, dikelilingi oleh dinding-dinding yang ia pikir bisa melindunginya padahal sebenarnya hanya memenjarakannya.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Kalea.

"Tentang singa itu," Arlo menjawab pelan. "Aku menuliskan kata 'Mereka' di bawah kakinya sebelum aku pergi."

"Mereka?"

"Ya. Agar siapa pun yang masuk ke aula itu nanti tahu, bahwa keindahan tempat itu bukan milik Raja, bukan milikku, tapi milik orang-orang seperti kau dan ayahmu. Milik tangan-tangan yang bergetar karena lelah namun tetap tidak berhenti memahat."

Kalea terdiam sejenak, lalu ia mendesah panjang. "Kau benar-benar pangeran yang terlalu banyak bicara, Arlo."

"Dan kau adalah tukang cat yang terlalu galak," balas Arlo cepat.

Kalea tersenyum—sebuah senyum yang murni, tanpa ada beban ketakutan lagi. Ia kembali mendayung dengan semangat baru. Cahaya matahari pagi kini menyinari punggung mereka, memberikan rasa hangat yang menenangkan di tengah angin laut yang dingin.

Saat mereka mendekati sisi lain Pulau Karang, sebuah kapal perang besar dengan layar biru laut terlihat sedang membuang sauh. Di atas geladaknya, beberapa pelaut terlihat sedang memberikan isyarat dengan bendera. Kapal itu tampak sangat kokoh, sebuah benteng yang bergerak di atas air, siap membawa mereka menjauh dari jangkauan Helena.

"Kita sampai," bisik Kalea.

Arlo berdiri di atas perahu, menjaga keseimbangannya saat kapal Solandis mulai menurunkan tangga tali untuk mereka. Ia menatap ke atas, ke arah para pelaut yang menatapnya dengan rasa ingin tahu. Ia tidak lagi peduli bagaimana penampilannya sekarang. Ia hanya ingin menginjakkan kaki di atas sesuatu yang akan membawanya menuju masa depan yang ia pilih sendiri.

Sebelum ia memanjat tangga, Arlo berbalik ke arah Kalea. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri. "Siap untuk meninggalkan debu kapur ini selamanya, Elara?"

Kalea menerima tangan Arlo, berdiri dengan mantap di atas perahu yang bergoyang. "Debunya mungkin hilang, Valerius. Tapi noda di tanganmu itu... kurasa kau butuh waktu seumur hidup untuk membersihkannya."

"Aku tidak keberatan," Arlo menarik Kalea mendekat, sejenak membiarkan dahi mereka bersentuhan di tengah terpaan angin laut. "Aku tidak keberatan menghabiskan seumur hidupku dengan noda ini, asalkan kau yang ada di sampingku saat aku mencoba mencucinya."

Kalea menatap Arlo cukup lama, lalu ia tertawa pelan. "Naiklah ke atas, Arlo. Kau mulai bicara seperti penyair picisan istana lagi."

Arlo tertawa, lalu ia mulai memanjat tangga tali dengan gesit, diikuti oleh Kalea di belakangnya. Begitu kakinya menyentuh geladak kapal Solandis, Arlo merasakan sebuah getaran yang berbeda. Bukan getaran tembok yang akan runtuh, melainkan getaran mesin dan layar yang siap menerjang ombak.

Ia berdiri di tepi kapal, menatap laut yang kini membentang luas tanpa batas di depannya. Arlo melepaskan pita biru di pergelangan tangannya, memegangnya sebentar, lalu membiarkannya terbang terbawa angin laut yang kencang. Pita itu menari-nari di udara sebelum akhirnya jatuh dan menghilang di antara buih ombak yang putih.

Perang di Aethelgard mungkin baru saja dimulai. Helena mungkin sedang menyusun pasukannya. Tapi di atas kapal ini, di antara buih dan garam, Arlo Valerius telah memenangkan pertempuran yang paling sulit: pertempuran melawan dirinya sendiri.

Ia bukan lagi "Satu Menit Sebelum Mahkota". Ia adalah pria yang telah melampaui mahkota itu, dan ia tidak pernah merasa sehebat ini dalam hidupnya.

Arlo berjalan menuju kabin kapal, bahunya bersinggungan dengan bahu Kalea. Mereka tidak bicara, namun tangan mereka saling bertautan erat, sebuah janji yang tidak perlu diucapkan di depan altar katedral mana pun. Retakan itu kini telah menjadi samudera, dan mereka siap untuk berlayar di atasnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!