Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pagi hari di kediaman Vino dan Alisa dimulai dengan ketegangan yang lebih halus. Meskipun permintaan maaf kaku Vino semalam sedikit mencairkan suasana, Alisa tetap menjaga jarak. Baginya, nada tinggi Vino tempo hari adalah sebuah alarm yang sulit untuk diabaikan begitu saja. Ia sedang menyesap kopi di meja makan saat ponselnya bergetar hebat di atas meja kayu tersebut.
Melihat nama pemanggilnya, Alisa hampir tersedak. Bunda Ratna.
"Halo, Bunda?" sapanya ragu.
"Alisa sayang! Bunda sudah di jalan, ya. Kebetulan Bunda habis dari rumah Tante Lastri di daerah sana, jadi Bunda pikir sekalian mampir tengok pengantin baru. Sepuluh menit lagi Bunda sampai, ya!"
"Apa? Tapi Bunda—"
Klik. Sambungan terputus. Alisa menatap layar ponselnya dengan panik. Sepuluh menit. Ia melirik ke arah guling pembatas yang masih tertata rapi di kamar atas—meskipun ia sudah merapikannya, aura "perang dingin" di rumah ini sangat kentara. Belum lagi sikap Vino yang masih irit bicara.
"Mas!" Alisa setengah berlari menuju ruang kerja Vino.
Vino mendongak dari tumpukan berkasnya, alisnya bertaut melihat kepanikan di wajah istrinya. "Ada apa?"
"Bunda. Bunda mau ke sini. Sepuluh menit lagi sampai," ucap Alisa dengan napas terengah.
Vino terdiam sejenak, lalu segera berdiri. Ia adalah seorang perwira yang terlatih menghadapi situasi darurat, dan baginya, kunjungan mertua adalah salah satu jenis keadaan darurat tingkat tinggi dalam sandiwara pernikahan ini.
"Bi Ijah!" Vino memanggil asisten rumah tangganya. "Tolong pastikan semua jejak... perbedaan pendapat kami hilang. Masukkan guling tambahan ke dalam lemari. Sekarang."
Bi Ijah yang mengerti maksud sang majikan segera berlari ke atas. Sementara itu, Vino menatap Alisa. Ia mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Alisa bisa mencium aroma sabun mandi dan maskulinitas yang kuat.
"Dengar," bisik Vino, suaranya rendah namun tegas. "Bunda tidak boleh tahu soal kesepakatan satu tahun kita. Dia tidak boleh tahu kalau aku membentakmu, atau kalau kita tidur dengan pembatas. Untuk satu jam ke depan, kita adalah pasangan paling bahagia di Jakarta. Mengerti?"
Alisa menelan ludah. "Tapi Mas... aku tidak pandai berakting."
"Lakukan saja apa yang aku lakukan," perintah Vino.
Tepat saat itu, bel rumah berbunyi. Mang Asep membukakan gerbang, dan mobil Bunda Ratna masuk ke halaman. Vino segera melingkarkan lengannya di pinggang Alisa. Alisa tersentak, tubuhnya menegang seperti papan.
"Rileks, Alisa. Kamu seperti sedang dipeluk patung," bisik Vino di telinganya.
"Mas terlalu keras memegangku," balas Alisa melalui gigi yang terkatup.
Pintu depan terbuka, dan Bunda Ratna masuk dengan senyum paling lebar yang pernah Alisa lihat. "Anak-anak Bunda! Ya ampun, aura pengantin baru memang beda ya, segar sekali!"
Vino segera maju, menyalami tangan Bunda Ratna dengan sangat sopan—sisi menantu teladan yang muncul seketika. "Selamat pagi, Bunda. Maaf kalau rumahnya agak berantakan, kami baru saja selesai sarapan."
"Ah, tidak apa-apa nak. Namanya juga anak muda," Bunda Ratna beralih memeluk Alisa, lalu menatap keduanya bergantian. Matanya yang tajam mulai menyelidik. "Tapi kok wajah Alisa agak pucat? Kamu tidak kurang tidur, kan, Sayang?"
Vino tertawa kecil—sebuah suara yang terdengar sangat asing bagi Alisa. Ia menarik Alisa lebih dekat ke pelukannya. "Mungkin karena Alisa terlalu rajin membantu di rumah sakit, Bunda. Saya sudah bilang padanya untuk istirahat, tapi dia dokter yang sangat berdedikasi."
Alisa terpaksa tersenyum lebar hingga pipinya pegal. "Iya, Bunda. Mas Vino juga sangat perhatian, kok. Dia bahkan memasakkan nasi goreng untukku tadi malam, katanya resep dari Bunda."
"Oh ya? Wah, beruntungnya kamu, Al," Bunda Ratna tampak puas.
Sandiwara berlanjut di ruang tengah. Vino menunjukkan sisi yang belum pernah Alisa lihat: ia bisa menjadi sangat hangat, humoris, dan penuh perhatian. Ia bahkan tak segan-segan mengambilkan air minum untuk Alisa atau mengusap kepala Alisa dengan lembut saat Bunda sedang bercerita. Sentuhan-sentuhan kecil itu membuat kulit Alisa meremang. Ia tahu itu bohong, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong bahwa perlakuan itu—jika saja nyata—akan terasa sangat menyenangkan.
Setelah dua jam penuh ketegangan akting, Bunda Ratna akhirnya pamit pulang. Begitu mobil merah itu menghilang di balik gerbang, Vino segera melepaskan rangkulannya di bahu Alisa. Suasana hangat itu menguap seketika, digantikan oleh keheningan yang canggung.
Vino berdehem, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. "Akting yang bagus."
"Mas juga," sahut Alisa, menggosok bahunya yang terasa kaku. "Aku tidak tahu Mas bisa tertawa seakrab itu."
Vino tidak menanggapi pujian terselubung itu. Ia berjalan menuju meja makan, mengambil sebuah amplop cokelat besar yang tadi ia bawa dari kantor.
"Ada satu hal lagi yang harus kita bicarakan terkait sandiwara ini," kata Vino.
Alisa mengerutkan kening. "Apa lagi?"
"Sabtu ini, ada acara pertemuan rutin di Polda. Sebagai istri perwira, kamu diwajibkan ikut dalam kegiatan Bhayangkari," Vino meletakkan amplop itu di depan Alisa. "Di dalamnya ada seragam merah muda yang sudah disiapkan. Aku harap kamu bisa mengosongkan jadwalmu di rumah sakit."
Alisa membelalakkan mata. "Seragam pink itu? Mas, aku ini dokter bedah. Aku punya jadwal operasi. Apa aku benar-benar harus ikut?"
Vino menatap Alisa dengan tatapan "perwira"-nya yang dingin. "Ini bukan sekadar arisan, Alisa. Ini adalah bagian dari kehidupan yang kamu pilih saat menerima perjodohan ini. Istri seorang polisi adalah bagian dari institusi. Jika kamu tidak hadir tanpa alasan yang sangat mendesak, itu akan mempengaruhi citraku di depan pimpinan."
"Citra? Jadi ini semua hanya soal citra Mas?" suara Alisa mulai meninggi sedikit, rasa kesalnya kembali muncul.
"Ini soal tanggung jawab," koreksi Vino. "Sama seperti aku yang harus bersandiwara di depan Bundamu, kamu juga harus bersandiwara di depan rekan-rekanku. Di sana, kamu bukan cuma Dokter Alisa, tapi Nyonya Davino Narendra."
Alisa menghela napas panjang, merasa kepalanya mulai berdenyut. "Jam berapa?"
"Pukul sembilan pagi. Aku akan mengantarmu. Dan Alisa... tolong perhatikan sikapmu di sana. Istri-istri pejabat di sana sangat jeli melihat kejanggalan."
"Aku mengerti," sahut Alisa pendek. Ia mengambil amplop itu dan berjalan menuju tangga.
Hari Sabtu tiba dengan rasa was-was yang luar biasa bagi Alisa. Ia berdiri di depan cermin, menatap dirinya yang mengenakan seragam Bhayangkari berwarna merah muda lengkap dengan lencananya dan sebuah papan nama bertuliskan Ny. Alisa Davino. Warna itu sangat kontras dengan jas putih dokter yang biasa ia kenakan.
Vino mengetuk pintu kamar, masuk dengan seragam PDU (Pakaian Dinas Upacara) yang membuatnya tampak sepuluh kali lebih mengintimidasi namun juga sangat tampan. Ia berhenti sejenak saat melihat Alisa.
"Pas di tubuhmu," gumam Vino.
"Aku merasa seperti permen karet raksasa," keluh Alisa, merapikan roknya.
Vino mendekat, tangannya terulur untuk merapikan kerah baju Alisa yang sedikit terlipat. Jarak mereka begitu dekat hingga napas Vino menerpa dahi Alisa. "Kamu cantik. Jangan terlalu banyak mengeluh, itu tidak bagus untuk wajahmu." Ucap Vino tanpa tidak sadar.
Alisa tertegun. Apakah itu pujian atau sekadar instruksi operasional? Ia tidak sempat bertanya karena Vino sudah berbalik menuju pintu.
Sesampainya di gedung pertemuan Polda, Alisa disambut oleh puluhan wanita berseragam serupa. Suasana di sana sangat teratur namun penuh dengan politik terselubung. Sebagai istri dari salah satu perwira muda berprestasi, Alisa langsung menjadi pusat perhatian.
"Oh, ini istrinya Nak Davino? Dokter ya? Cantik sekali," sapa seorang wanita paruh baya dengan sanggul yang sangat rapi—istri dari atasan Vino.
Alisa tersenyum sopan, mencoba mengingat semua instruksi Vino. "Terima kasih, Ibu. Mohon bimbingannya, saya masih sangat baru di sini."
Selama pertemuan, Alisa harus mendengarkan berbagai laporan kegiatan sosial dan arahan. Ia merasa sangat asing, namun ia mencoba bertahan demi "misi" satu tahun mereka. Namun, tantangan yang sebenarnya muncul saat sesi ramah tamah.
Beberapa istri perwira muda lainnya mulai berkumpul mengelilingi Alisa.
"Jeng Alisa, pasti repot ya punya suami seperti Mas Davino? Dia kan orangnya sangat serius dan dingin. Di rumah apa dia romantis?" tanya salah satu dari mereka dengan nada ingin tahu.
Alisa melirik ke arah Vino yang sedang berdiri di sudut ruangan bersama Alvin dan rekan-rekan lainnya. Vino sedang menatapnya, seolah sedang memantau apakah Alisa akan melakukan kesalahan.
"Mas Davino memang serius kalau soal pekerjaan," jawab Alisa dengan nada yang diatur sedemikian rupa agar terdengar manis. "Tapi di rumah, dia adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Dia punya caranya sendiri untuk menunjukkan perhatiannya."
Iya, dengan menaruh handuk basah di kasur, batin Alisa pedas.
"Wah, hebat ya. Kabarnya kalian dijodohkan ya? Tapi melihat tatapan Mas Davino pada Jeng tadi, sepertinya dia sangat mencintai istrinya," timpal yang lain.
Alisa hanya bisa tersenyum simpul, meskipun hatinya merasa sesak. Mencintai? Pria itu bahkan tidak tahu apa warna favoritnya.
Selesai acara, saat mereka berjalan menuju parkiran, Vino tampak sedikit lebih santai. "Kamu melakukannya dengan baik. Ibu Kombes memujimu tadi."
"Terima kasih. Bisakah kita pulang sekarang? Kakiku sakit memakai sepatu ini," ucap Alisa lelah.
"Kita mampir makan siang dulu. Anggap saja ini... bonus karena sudah bersikap kooperatif," kata Vino.
Meskipun ia berkata seperti itu, suasana di dalam mobil tetap saja terasa profesional. Tidak ada percakapan romantis, tidak ada pegangan tangan. Mereka hanyalah dua orang rekan kerja yang sedang menjalankan sebuah proyek bernama pernikahan.
Alisa menatap ke luar jendela, melihat jalanan Jakarta yang macet. Ia menyadari bahwa hidupnya kini terbelah menjadi tiga bagian: Dokter bedah yang mandiri, istri polisi yang harus tunduk pada aturan Bhayangkari, dan wanita yang terjebak dalam rumah dingin bersama pria penuh rahasia.
Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan dalam sandiwara ini, terutama saat ia mulai menyadari bahwa di balik seragam merah muda itu, ada rasa tanggung jawab yang mulai tumbuh—bukan pada institusi, tapi pada pria kaku yang kini mengemudi di sampingnya. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Satu tahun, Alisa. Ingat, ini cuma satu tahun.
Tanpa mereka sadari, di kejauhan, seseorang sedang memotret mobil mereka dari dalam sebuah van hitam. Sebuah pesan terkirim ke sebuah grup rahasia: "Target sudah masuk ke dalam lingkaran. Mulai tahap dua."
Bahaya bukan lagi sekadar ancaman pesan singkat, tapi mulai menyentuh dunia formal mereka. Dan sandiwara romantis ini mungkin adalah satu-satunya pelindung yang mereka miliki sebelum badai yang sesungguhnya menghantam.
Bersambung