Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sagara
"Untuk korban terakhir, Ghaffar tau bang. Tapi Ghaffar rasa, pelaku ada hubungannya dengan pelaku pembunuhan berantai korban sebelumnya. Karena penunggu di danau ini bilang, pembunuh korban terakhir memiliki jimat pelindung. Dan dia juga berbeda, dengan orang yang melempar mayat sebelumnya." jawab Ghaffar
"Jadi danau ini ada penunggunya?" tanya bang Abraham, Ghaffar mengangguk
"Setiap tempat, pasti ada penunggunya bang. Hanya saja, ada yang memang hanya menempati. Ada pula, yang memang punya niat jahat. Salah satunya penunggu di sini, ia mempunyai niat jahat. Ingin banyak arwah, yang menemaninya tinggal di sini. Meski itu juga, karena ada dorongan menjadi jahat tentunya." bang Abraham mengangguk paham
Semenjak bergaul dengan adik angkatnya, ia jadi tau adanya arwah jahat dan baik. Arwah jahat, terlahir karena dendam yang di bawa mati. Arwah baik, karena memiliki penyesalan dan urusan yang belum selesai. Walau bisa saja arwah baik, menjadi jahat. Karena saat ia mencari kebenaran, ternyata ada hal yang membuatnya marah.
"Lalu... bagaimana dengan penunggu di sini, kalo liat tempatnya sedang di obrak-abrik gini? Apa ga ngamuk dia, ntar malah kaya ditempat-tempat angker Ghaff. Orang yang ganggu tempatnya, di buat sakit atau kesurupan." tanya bang Abraham, Ghaffar tertawa kecil
"Tenang bang, Ghaffar sudah membantunya untuk pulang. Dia juga kasihan sebenarnya, mati dengan cara tragis. Tersesat di sini, karena dendamnya pada pelaku. Tanpa ia tau, bila ibunya sudah membalaskan dendamnya. Haaaahhhh..." jawab Ghaffar, ia menghela nafas.
Ghaffar pun menceritakan tentang Ratih, bang Abraham sungguh marah mendengarnya. Bagaimana bisa ada pria se brengsek dan se bajingan itu, bahkan ia kalah bila harus di bandingkan dengan binatang. Kasihan binatangnya, bila pria itu dui sebut salah satu dari mereka. Karena manusia di ciptakan dengan akal dan pikiran, tidak dengan binatang. Apa pelaku memang tidak bisa berpikir, karena sudah terhalang oleh nafsu.
"Terkadang abang juga suka takut, kalo menyukai lawan jenis Ghaff." ucap bang Abraham, membuat Ghaffar langsung bergeser menjaga jarak.
"Ck... ga gitu artinya Ghaff, bukan berarti abang jadi suka sesama. Ngaco kamu, ga mungkin kan abang jadi eke." Ghaffar tertawa lepas, melihat bang Abaham seolah memiliki rambut panjang dan menyampirkan nya di belakang telinga. Bang Abraham tersenyum, melihat Ghaffar tertawa lepas seperti ini.
"M-Maaf, apa ada Ghaffar di sini?" tanya seseorang, dengan suara bergetar. Pria itu melihat ada belasan korban, yang tengah di evakuasi dari danau. Di hatinya, ia bisa menebak. Bila adiknya, adalah salah satu dari para mayat itu.
Ghaffar dan bang Abraham menoleh, lalu Ghaffar mengangguk.
"Saya Ghaffar, apa kakak.... kakaknya Sagara?" tanya Ghaffar
Pria yang mungkin, usianya di bawah bang Abraham beberapa tahun itu mengangguk. Ghaffar bisa melihat, bila pria itu merasa terpukul. Antara percaya dan tidak, bila kabar tentang adiknya adalah benar.
Ghaffar menoleh ke arah Akbar, Sagara yang masih menempati tubuh Akbar menangis.
'Kak Aloy' panggilnya, membuat bang Abraham dan kakanya Sagara menoleh. Terutama kakaknya, hanya adiknya yang memanggil dia seperti itu.
"Kamu... kamu..." pria yang di panggil Aloy, menggelengkan kepala tak percaya. Bukan tak percaya, namun lebih ke TIDAK INGIN PERCAYA.
"Sagara" ucap kak Aloy dengan suara berbisik, tangisannya pun pecah. Tambah lagi, saat tim evakuasi... mengangkat tubuh adiknya ke daratan.
"SAGARA... HWAAAAAA... ADEEE... YA ALLAH, SAGARA" teriaknya, lagi-lagi Moon yang ada di dalam tubuh Damar menangis. Melihat kak Aloy, menangis keras karena kehilangan. Kak Aloy duduk di samping jenazah sang adik, benar... itu adalah adiknya, karena di pergelangan tangannya menggunakan jam pemberiannya.
Jam tangan yang ia berikan pada adiknya, sebagai kado ulang tahun dua bulan yang lalu.
Kak Aloy langsung menarik tubuh Saraga, yang sudah tak bernyawa ke dalam pelukannya. Tak peduli basah, tak peduli dengan wajah dan tubuhnya yang membengkak karena sudah lama di dalam air. Banyak orang yang juga ikut menitikkan air mata, termasuk dengan kak Arimbi. Ia juga di tugaskan, menjadi ahli forensik di kasus ini.
Padahal kak Arimbi, sering sekali melihat hal seperti ini. Melihat anggota keluarga, yang tak terima dengan kepergian anggota keluarga lainnya. Bahkan ia pun sudah pernah mengalaminya, saat tak terima dengan kepergian adik bungsunya. Rasa sakit itu nyata, rasa sakit yang takkan pernah terlihat lukanya. Namun paling sakit rasanya, dan itu... TAKKAN PERNAH HILANG, sampai kapan pun.
Ini baru satu, belum dengan anggota keluarga korban lainnya. Meski Ghaffar sudah tau siapa, namun mereka tak bisa memanggil keluarganya sembarangan tanpa ada bukti konkrit. Hanya saja, kak Aloy... Sagara sendiri yang memintanya, Ghaffar tentu mengabulkan keinginannya sebelum dia kembali.
"YA ALLAH DE, KENAPA HARUS KAMU YANG MENGALAMI HAL INI??! KENAPA BUKAN KAKAK SAJA??" ucap kak Aloy, Ghaffar menghembuskan nafas panjang. Ia pun pernah merasakan, apa yang di rasakan kak Aloy saat ini.
"Maaf pak, kami harus segera membawa korban ke rumah sakit. Karena keluarga korban sudah ditemukan, kami tidak perlu melakukan autopsi untuk identifikasi korban." ucap salah satu rekan kak Arimbi, setelah memberikan waktu beberapa menit pada kak Aloy.
"A-apa... Apa bisa langsung di bawa pulang saja?" tanya kak Aloy dengan suara serak, rekannya kak Arimbi menatap kak Abraham.
"Kami akan mengantarnya, menggunakan mobil ambulance." jawab kak Abraham, setelah berpikir cukup lama.
"Terima kasih... Terima kasih..." ucap Kak Aloy, seraya membungkukkan punggungnya berkali-kali.
Ghaffar menatap Sagara, yang ada di dalam tubuh Akbar.
"Pergilah" ucap Ghaffar, membuat kak Abraham dan kak Aloy bingung. Namun tak lama...
BRUGH
"Loh??? Kenapa Akbar rebahan di tanah, Ghaff?" tanya kak Abraham, membuat Ghaffar dan kak Arimbi menatap malas abang mereka.
.
.
WUSSHHH
Terasa angin berhembus cukup kencang, namun terasa begitu lembut. Menerpa wajah seorang wanita paruh baya, yang tengah duduk di sisi ranjang putra ketiganya. Ia mengusap sayang, bantal yang biasa di gunakan putranya.
"Kamu dimana nak? Apa tidak rindu ibu?" gumam wanita itu, seraya menitikkan air mata.
"Ibu rindu nak, sudah berhari-hari kamu tidak pulang." ucapnya lagi, seraya memeluk bantal tersebut.
Sagara menatapnya, dengan tatapan sendu.
'Ibu...'
DEG
Perlahan, wanita yang di panggil ibu itu menoleh. Air matanya kembali membasahi pipi, saat melihat putranya berdiri tak jauh dari ranjang.
"Saga... Putra ibu, kamu pulang nak." ucap ibunya Sagara, dengan suara bergetar.
'Bu... Maafkan Saga, bu.' ucap Sagara, sang ibu menggelengkan kepalanya. Ia bangun dari duduknya, melangkah pelan menghampiri putranya.
Berharap ini semua bukan mimpi, seandainya ini mimpi. Ia berharap, untuk jangan segera bangun.
NYESS
Terasa begitu dingin, saat tangan sang ibu menyentuh pipi putranya.
"Putraku...
...****************...
Buat semua pembaca setia aku, aku minta do'a nya. Buat Najandra Shaqeel Al-yafi binti Yadi Suryadi, 22 bulan. Sampai sekarang masih koma, karena kejang selama 30 menit. Mengakibatkan kurangnya asupan oksigen ke otak, dokter bilang ananda mengalami Infeksi Selaput pada Otak.
Saat ini masih di ruang ICU, mohon bantu do'a supaya ananda segera diberikan kesembuhan. Aamiin ya Allah🤲
Sebelumnya, terima kasih banyak🙏
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰