Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Bunga Karang di Hati Sang Elf
Sinar matahari pagi menyusup lewat celah gorden tebal di kamar penginapan 'Bulan Sabit Berdarah'. Debu-debu keemasan menari di udara, bermandikan cahaya yang hangat. Ajil sudah terjaga jauh sebelum fajar menyingsing. Tidur adalah sebuah kemewahan yang jarang ia nikmati. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Ami yang terbaring kaku, serta tangisan Arzan dan Dara yang bergema di stasiun bus, akan menyeretnya ke dalam mimpi buruk tanpa ujung.
Ia bangkit dari ranjang kayunya, mengusap wajahnya yang keras dengan telapak tangan. Matanya menatap ke arah cermin kusam di sudut kamar. Pantulan di sana memperlihatkan seorang pria berusia tiga puluh tujuh tahun dengan tatapan yang sepenuhnya kosong, rahang yang tegas tertutup cambang tipis, dan aura kesepian yang begitu pekat hingga cermin itu sendiri seolah enggan memantulkan bayangannya.
Ia menyentuh cincin perak berukir naga di jari telunjuk kanannya. Layar hologram biru seketika muncul di udara.
[SISTEM: Status Harian]
[Nama: Ajil]
[Level: 65]
[Kelas Guild: S (Pahlawan Legendaris)]
[Kondisi Fisik: 100% Optimal. Mana: Tak Terbatas.]
Ajil menghela napas panjang dan menutup layar itu. Peringkat Kelas S di Guild, harta berupa puluhan keping emas murni, dan kekuatan yang mampu meratakan gunung—semua itu tidak ada artinya jika ia harus sarapan sendirian di dunia yang asing ini.
Ia merapikan Setelan Malam Abadi miliknya. Kain hitam legam itu menyesuaikan diri dengan suhu pagi yang sedikit menggigit, memberikan kehangatan buatan yang nyaman. Sepatu bot tempurnya melangkah tanpa suara menuruni tangga menuju ruang makan penginapan.
Pagi ini, ia memesan menu yang sedikit berbeda dari pemilik kedai: Susu Kambing Bertanduk hangat yang dicampur dengan serbuk kayu manis, serta tiga potong Roti Madu Hutan yang dipanggang hingga kecokelatan. Ajil duduk di sudut ruangan, menyesap susu hangat yang teksturnya sangat kental dan gurih itu. Rasa manis dari madu hutan yang menetes di atas roti panggang seketika mengingatkannya pada Dara. Putrinya itu sangat menyukai segala sesuatu yang manis. Sering kali, sisa selai cokelat atau madu akan belepotan di sekitar pipi tembam Dara, membuat Ami tertawa sambil mengusapnya dengan tisu.
Mengingat hal itu, rahang Ajil mengeras. Ia mengunyah roti manis itu seolah sedang mengunyah serpihan kaca. Rasa makanan selezat apa pun di Ridokan hanya akan berubah menjadi abu pahit di lidahnya.
Setelah meletakkan sekeping perak di atas meja tanpa meminta kembalian, Ajil melangkah keluar. Pagi ini, ia tidak menuju Guild. Ia butuh membeli beberapa persediaan dasar—seperti peta benua barat yang lebih detail dan beberapa pakaian biasa untuk menyamarkan identitas jika diperlukan.
Langkahnya membawanya ke Distrik Perdagangan Bawah, sebuah area pasar yang lebih kumuh di perbatasan tembok dalam Valeria. Jalanan di sini terbuat dari tanah padat, bukan aspal batu. Bau rempah-rempah murah, kotoran hewan tarik, dan keringat para buruh kasar bercampur menjadi satu. Tenda-tenda pedagang kaki lima berjejer tak beraturan, menjual segala macam barang dari sayuran layu hingga jimat pelindung palsu.
Di atas sebuah menara lonceng tua yang tak lagi berdentang, sejauh dua ratus meter dari posisi Ajil, sesosok bayangan duduk dengan anggun di tepi atap genteng bata merah.
Erina. Sang High Elf itu mengenakan jubah hijau berkerudung yang menyembunyikan rambut perak kebiruannya, meski tak mampu menyembunyikan kecantikan absolut dari wajah pualamnya. Zirah sutra mithrilnya bergemerisik pelan tertiup angin pagi. Mata zamrudnya yang tajam setajam elang roh terus mengunci setiap pergerakan pria berjaket hitam di bawah sana.
Sejak malam di mana Ajil mengungkap alasan di balik kekuatannya yang mengerikan kepada Master Guild Leon, rasa penasaran Erina telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Jantungnya berdebar dengan ritme yang asing setiap kali melihat punggung lebar pria itu.
"Ke mana kau akan pergi hari ini, Algojo?" batin Erina, menopang dagu dengan tangan kirinya yang ramping. "Apakah kau akan kembali menumpahkan darah, atau kau hanya sedang berjalan tanpa tujuan seperti jiwa yang tersesat?".
Di bawah sana, Ajil berjalan membelah kerumunan. Orang-orang secara insting menyingkir, memberikan jalan baginya karena hawa dingin tak kasat mata yang memancar dari tubuhnya.
Tiba-tiba, dari arah ujung jalan pasar, terdengar suara gemuruh yang membuat tanah bergetar, disusul oleh suara kayu patah dan jeritan panik orang-orang.
[SISTEM: Peringatan Bahaya! Entitas Monster Liar mengamuk di zona sipil.]
[Nama: Banteng Cula Besi (Level 35)]
[Status: Terluka, Mengamuk, Kehilangan Kendali.]
Seekor monster peliharaan selundupan—seekor banteng berukuran dua kali lipat sapi normal, dengan kulit sekeras pelat baja dan sebuah cula raksasa yang bersimbah darah—telah lepas dari kerangkeng seorang pedagang pasar gelap. Monster itu berlari membabi buta, menghancurkan gerobak buah-buahan, menabrak tiang-tiang tenda, dan menyeruduk apa pun yang ada di depannya.
Para pedagang dan pembeli lari kocar-kacir, menjerit histeris. Para penjaga kota yang berpatroli di area itu terlambat bereaksi, mereka masih berada ratusan meter di belakang kerumunan yang panik.
Banteng Cula Besi itu mendengus kasar, uap panas keluar dari hidungnya. Matanya merah gelap, dipenuhi rasa sakit dari cambukan majikannya sebelumnya. Ia menundukkan kepalanya, mengarahkan culanya yang mematikan, dan berlari lurus menerjang sisa-sisa reruntuhan tenda penjual kain.
Di balik reruntuhan tenda itu, tiga orang anak jalanan berpakaian compang-camping tengah meringkuk ketakutan. Mereka adalah anak-anak yatim piatu yang sering mencari sisa makanan di pasar. Anak tertua, seorang bocah laki-laki berambut ikal bernama Caleb (8 tahun), berusaha memeluk kedua adiknya, seorang anak perempuan bernama Lia (5 tahun) dan bayi laki-laki bernama Elian (3 tahun) yang menangis pecah.
Banteng itu mengunci pandangannya pada ketiga anak tersebut. Dengan kecepatan penuh yang mampu menghancurkan tembok kastel, monster seberat dua ton itu melesat untuk meremukkan mereka menjadi bubur darah.
"TIDAAAKKK!"
jerit para ibu di kejauhan, menutup mata mereka tak sanggup melihat pembantaian itu.
Di atas menara lonceng, Erina langsung berdiri. Tangan kanannya dengan kilat meraih busur emas di punggungnya, memanggil anak panah angin suci. Namun, sebelum jari lentiknya sempat menarik tali busur, mata zamrudnya membelalak.
Di bawah sana, Ajil tidak diam.
Pada detik di mana banteng itu berjarak kurang dari tiga meter dari anak-anak tersebut, Ajil menghilang dari posisinya yang berjarak dua puluh meter. Bukan berlari, melainkan memindahkan tubuhnya dengan kecepatan God-Tier yang merobek batas dimensi ruang.
WUSSSHH!
Suara letupan udara pecah di telinga semua orang.
Ajil telah berdiri di depan ketiga anak yang meringkuk itu. Ia tidak mengepalkan tinjunya. Ia tahu, jika ia menggunakan Tinju Petir Ungu, ledakan dari kekuatan itu akan menghancurkan banteng tersebut sekaligus menerbangkan dan melukai anak-anak di belakangnya akibat gelombang kejut.
Dengan wajah tanpa riak emosi, Ajil hanya mengangkat tangan kirinya ke depan, telapak tangannya terbuka lebar menyambut cula banteng yang mematikan itu.
BLAMMMM!!!
Bumi berguncang hebat. Retakan menyebar di jalan tanah seperti jaring laba-laba raksasa. Debu dan kerikil terlempar ke udara.
Namun, pemandangan selanjutnya membuat seluruh pasar terdiam membisu, seolah waktu berhenti berdetak.
Ajil berdiri tegap, tak tergeser satu milimeter pun. Telapak tangannya yang berlapis Setelan Malam Abadi mencengkeram erat ujung cula besi banteng raksasa itu. Laju monster seberat dua ton yang sedang berlari dengan kecepatan penuh, dihentikan secara mutlak hanya dengan satu tangan!.
Banteng itu meraung, keempat kakinya menggaruk-garuk tanah hingga menciptakan parit, mencoba mendorong pria di depannya. Namun Ajil berdiri kokoh bagai tebing abadi.
"Tidur," desis Ajil datar.
Ajil mengaktifkan fluktuasi Gravitasi Jiwa murni dan mengalirkannya langsung dari telapak tangannya ke dalam tengkorak banteng tersebut. Tidak ada ledakan, tidak ada darah yang muncrat mengerikan. Beban gravitasi sebesar gunung langsung menekan otak monster itu, memadamkan kesadarannya dalam seperseribu detik.
Mata merah banteng itu meredup, otot-otot raksasanya melemas, dan tubuh besarnya ambruk ke tanah dengan suara debuman tumpul, mati tanpa sempat menyadari apa yang membunuhnya.
Debu perlahan menipis. Ajil menarik tangannya, mengusap debu imajiner dari sarung tangannya.
Di belakangnya, Caleb, Lia, dan Elian masih gemetar hebat. Mereka membuka mata perlahan, menyadari bahwa mereka belum mati. Di depan mereka, berdiri sesosok pria tinggi besar berbalut pakaian hitam legam, punggungnya lebar, menutupi mereka dari monster yang kini telah menjadi bangkai tak bernyawa.
Aura dingin dan mengintimidasi yang biasa menyelimuti Ajil, perlahan memudar, ditarik paksa kembali ke dalam jiwanya. Ia memutar tubuhnya, menatap ketiga anak berpakaian lusuh itu.
Melihat wajah datar Ajil dan matanya yang kelam, Caleb secara insting melindungi adik-adiknya. Rumor di jalanan mengatakan bahwa pria berjaket hitam ini adalah algojo yang lebih kejam dari iblis.
Namun, Ajil tidak mengeluarkan pedang, tidak pula membentak. Pria berhati es yang menatap para ksatria dan raja seolah mereka adalah sampah itu, perlahan menurunkan sebelah lututnya ke tanah yang kotor. Ia mensejajarkan pandangannya dengan anak-anak itu.
Lalu, sebuah keajaiban kecil terjadi. Wajah kaku dan dingin Ajil melembut. Matanya yang mati, kini memancarkan cahaya kehangatan yang begitu tulus, rapuh, dan penuh dengan kerinduan yang menyayat hati. Ia menatap wajah Caleb yang kotor oleh debu, mengingatkannya pada Arzan saat bocah itu bermain tanah di halaman belakang rumah. Ia menatap Lia yang memeluk boneka jerami kumal, mengingatkannya pada Dara.
Dengan gerakan yang sangat perlahan dan penuh kelembutan, Ajil mengulurkan tangan kanannya. Ia tidak peduli sarung tangannya akan kotor. Ia mengusap rambut ikal Caleb yang penuh debu.
"Kalian aman sekarang," ucap Ajil, suaranya yang biasa bariton dan mengancam, kini terdengar begitu pelan, berat, dan menenangkan, layaknya sebuah selimut hangat di tengah badai salju.
Lia yang tadinya menangis, perlahan menghentikan isakannya. Ia menatap pria menakutkan itu. Entah mengapa, aura pria ini terasa seperti aura seorang ayah yang melindunginya.
Ajil membuka Cincin Ruangnya secara diam-diam. Di telapak tangannya, tiba-tiba muncul tiga potong Kue Tart Kismis Merah yang ia beli secara acak di kedai tadi pagi. Ia memberikan kue-kue manis yang masih hangat itu ke tangan anak-anak tersebut.
"Makanlah," senyum Ajil mengembang tipis, sebuah senyuman sedih yang memuat jutaan kata rindu yang tak tersampaikan. "Anak-anak hebat tidak boleh membiarkan perutnya kosong setelah menangis.".
Caleb menatap kue mewah yang tak pernah ia lihat seumur hidupnya itu, lalu menatap Ajil. "T-Tuan... tidak membunuh kami?"
Ajil terkekeh pelan, sebuah suara yang sangat jarang keluar dari tenggorokannya. Ia mengusap sisa air mata di pipi Caleb.
"Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, Nak," ucap Ajil dengan kelembutan yang absolut. "Keberanian sejati adalah ketika tangan dan lututmu bergetar hebat karena ketakutan, namun kau tetap merentangkan kedua lenganmu untuk melindungi orang-orang yang berdiri di belakangmu. Ayah ibumu di alam sana pasti sangat bangga memiliki pahlawan kecil sepertimu.".
Mendengar kata-kata itu, pertahanan Caleb runtuh. Anak laki-laki berusia delapan tahun yang harus berpura-pura tegar demi adik-adiknya itu, langsung menubruk dada Ajil. Ia memeluk pria berjaket hitam itu erat-erat dan menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala ketakutan dan beban hidupnya. Lia dan si kecil Elian ikut memeluk kaki Ajil.
Ajil terdiam. Tubuhnya kaku sesaat, sebelum akhirnya kedua tangannya yang kuat membalas pelukan anak-anak itu. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan wajahnya terbenam di antara bahu kecil mereka. Ia menghirup aroma matahari dan debu dari rambut mereka, membayangkan bahwa ia sedang memeluk Arzan dan Dara. Di balik jaket hitam pembantainya, hati sang algojo menangis dalam diam.
Di atas menara lonceng, busur emas di tangan Erina terjatuh, berdenting pelan beradu dengan genteng bata.
Sang High Elf itu jatuh terduduk, menyandarkan punggungnya ke pilar batu lonceng. Napasnya terengah, dadanya naik turun dengan cepat. Kedua tangannya terangkat menutupi mulutnya yang terbuka karena takjub. Air mata bening mengalir deras dari mata zamrudnya, membasahi pipi pualamnya tanpa bisa ia hentikan.
Ia telah melihat banyak sisi Ajil. Sisi algojo yang membantai monster tanpa belas kasihan. Sisi pendendam yang menekan Ksatria Kelas A dengan gravitasi. Sisi pria dingin yang menolak kekuasaan di depan Master Guild.
Tapi pemandangan di bawah sana... pria monster yang rela berlutut di tanah kotor, tersenyum rapuh, mengusap air mata anak-anak yatim piatu, dan memeluk mereka layaknya ayah mereka sendiri... pemandangan ini menghancurkan Erina hingga ke inti jiwanya.
Semua pria yang meminang Erina di masa lalu hanya menjanjikannya mahkota, kekuasaan, dan lautan permata. Mereka memamerkan otot dan sihir mereka untuk membuktikan bahwa mereka pantas bersanding dengan High Elf tercantik di dunia. Namun, tak satu pun dari pria-pria arogan itu yang rela berlutut di lumpur pasar demi menghibur anak jalanan yang menangis.
Hanya Ajil. Hanya pria dengan mata mati dan hati hancur ini yang memilikinya.
"Aku... aku telah jatuh padamu," isak Erina pelan di tengah kesendiriannya di atas menara, wajahnya merona merah padam, bibirnya menyunggingkan senyuman paling bahagia yang pernah ia rasakan selama berabad-abad hidupnya. "Aku tidak peduli seberapa dingin kau menolak dunia, Ajil. Aku tidak peduli kau berasal dari dimensi mana. Luka di hatimu... biarkan aku yang menyembuhkannya.".
Di bawah sana, para penjaga kota akhirnya tiba. Kerumunan orang mulai mendekat, bersorak memuji sang Pahlawan Kelas S yang baru saja menyelamatkan pasar dari bencana.
Mendengar riuh rendah manusia dewasa, wajah Ajil kembali mengeras. Kehangatan di matanya seketika padam, digantikan oleh dinding es yang tak tertembus. Ia melepaskan pelukan anak-anak itu, berdiri tegap, dan merapatkan kerah jaketnya. Tanpa menoleh ke arah para penjaga yang membungkuk hormat atau orang-orang yang bersorak mengelu-elukannya, Ajil berjalan menembus kerumunan, kembali menjadi dewa kematian yang tak tersentuh.
Ia tidak tahu bahwa di atas langit Valeria, tatapan penuh cinta yang begitu murni dan bergelora dari seorang peri abadi, terus mengikuti setiap jejak langkahnya, bersumpah untuk meruntuhkan dinding es di hatinya suatu saat nanti.