Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang ke pusat kota
Hwang zin memakai jubah hangat, berjalan ke depan dengan langkah ringan. Jalanan kota terasa licin dan basah karena lelehan salju.
Udara hari ini lebih dingin dari kemarin.
Hwang zin pergi ke toko kacang-kacangan untuk membeli kacang kenari. saat melihatnya datang bos toko segera menyambutnya." Anak kecil apa yg kamu cari?"
"Paman beri aku kacang kenari 3.kilo dan apa kamu memiliki goji berry?" Ucapnya sambil melihat-lihat barang-barang yg di panjang.
Pemilik toko mengangguk,dan mengambil timbangan." Ada berapa yg kamu inginkan?"
"2 kilo saja..." Ucapnya. Pemilik toko dengan cekatan menimbang yg dia pesan.
"Kacang kenari 12 sen dan goji berry 15 sen total 27 sen...." Ucap bos itu sambil mengemasnya dalam keranjang bambu yg dibawa oleh Hwang Zin.
Hwang zin segera menghitung uang dan memberikannya, berterima kasih,Dia mengambil keranjang itu dan pergi ke toko lain.
Dia sebenarnya bingung ingin membeli apa lagi, pasalnya semuanya sudah ada ditoko nya,bahkan sejenis susu yg mahal disini dia memilikinya.
Jadi Hwang zin hanya berkeliling untuk melihat apa dia menemukan hal yg menarik.
Sekarang pukul 8 pagi. Tapi tak begitu banyak orang yg berkeliling mungkin karena hari semakin dingin padahal ini masih awal musim.
Hwang zin lelah berjalan dan memutuskan untuk pergi ke pusat kota dengan gerobak kereta, rumah dengan pasar berjarak 15 menit dari rumahnya.
Jdi dia berjalan sebentar lagi sebelum menemukan pangkalan gerobak yg akan menuju ke pusat ibukota.
Hwang zin menyewa seharga 5 koin untuk sekali perjalanan. Ini harga yg tak mahal atau murah tapi itu harus berdesakan dengan banyak orang.
Tapi untungnya gerobak hari ini hanya ada 6 orang termasuk dirinya yg pergi ke pusat kota.
Hwang zin duduk dengan tenang ditempatnya,dia menaruh keranjang bambu di pahanya. Ada 2 bibi dalam kereta yg duduk bersebrangan dengan nya.
Posisinya dipojok luar dan disamping nya ada pria tua dan anak berusia 5/6 tahun. Dan seorang pemuda dengan pakaian seperti sarjana duduk diserang bersama dengan 2 ibu-ibu itu.
"Feng lin kamu harus belajar dengan giat,ayahmu sudah melakukan banyak hal agar kamu bisa pergi ke ibu kota,jangan melakukan hal bodoh selama kamu di akademi...." Bini berbaju hijau menoleh pada pemuda itu dengan nada agak tajam.
"Bibi aku mengerti.." jawab pemuda itu dengan patuh namun matanya memiliki sedikit rasa lelah.
Bibi berbaju kuning hanya menghela nafas merasa kasihan pada anak itu.".... Kakak ipar berhenti menekan anak itu,dia sudah mengerti...."
".....Dia harus tau! Saat disana tak akan ada lagi yg bisa memanjakannya seperti orang tuanya dirumah,aku hanya tak ingin dia mendapatkan masalah....apa itu salah?"tanyanya menoleh pada wanita disebelah dengan wajah dingin.
Bibi itu mengigit bibirnya."..aku hanya tak ingin Xiao lin terbebani dengan kata-kata mu, bagaimana dia-"
"Kau hanya terlalu memanjakannya, sebagai ibunya kau tak pernah menegurnya dengan benar...!"potong bibi itu dengan wajah jelek.
Wanita itu yg tak lain adalah ibu pemuda itu hanya bisa menunduk sedih.
Pemuda itu melihat ibunya dimarahi hanya bisa mencengkram lututnya. Namun tak berani mengatakan apapun.
Hwang zin melihat ke arah jendela yg terbuka tak berniat ikut campur.
Anak kecil yg melihat keduanya bertengkar tanpa sadar menyembunyikan wajahnya pada lengan kakeknya.takut.
Melihat ini pria tua melihat ketiga dengan agak tak enak dipandang."... Jika kalian ingin bertengkar,pulang saja dirumah atau ditempat lain,jangan mempermalukannya didepan orang lain...."
"Apa urusanmu ini urusan keluarga ku!" Jawab bibi itu dengan wajah mencibir.
Pria tua itu mengerutkan keningnya.".. jangan memarahi anak-anak didepan umum,itu akan membuatnya merasa malu,kau sudah tua apa kau bahkan tak mengerti hal ini?"
Pemuda itu melirik pria tua itu dengan rasa terimakasih,lalu melihat pada bibi yg meledak.
".......Memangnya kenapa jika aku memarahinya! Dia hanya hidup dari uang adikku tanpa bekerja selama ini sedangkan anak ku harus banting tulang membantu pamannya di ladang!"
Ternyata ini hanya rasa dari kecemburuan.
"Kau bisa saja menyekolahkan anakmu kenapa kau harus marah pada anak adikmu?tak masuk akal..."pria tua itu mendengus jijik.
Wajah bibi itu memerah,marah."..... Apa yg kamu tau!aku hanya janda dengan 1 putra! Hidupku lebih buruk dari budak! Dari aku remaja Aku bekerja dari pagi ke sore untuk menghidupi adikku......!"
".....Tapi apa yg kudapat! Aku menikahkannya dengan keluarga baik-baik! tapi sejak dia memiliki keluarga aku kakak dan ibu baginya hanya bisa menjadi pekerja untuk nya...!"teriaknya dengan mara merah,memukul dadanya dengan putus asa.
Wajah ibu dan anak itu memucat.
kenyataan memang seperti itu, ayahnya adalah yatim pintu, ayahnya hidup dibesarkan oleh Bibi dan suaminya.
Bibi menikahkan ayahnya dengan mahar 3 koin perak yg sangat besar bagi mereka orang yg tinggal dipinggiran kota Hu.
Bibi hamil dan melahirkan seorang putra ,yg lebih tua 5 tahun' darinya. Lalu pamannya meninggal saat berburu karena digigit ular.
Jadi wanita itu berjuang membesarkan anaknya seorang diri, sedangkan ibunya juga sedang hamil dia Waktu itu ,jadi Bibi dan ayahnya hanya bekerja di ladang yg ditinggalkan oleh orang tua mereka.
Saat dia lahir Bibi bahkan memotong ayam untuk ibunya,dia sangat baik pada mereka,namun kebaikan bibi seperti menjadi hal yg biasa bagi ayah' nya.
Jadi kadang ayahnya tanpa malu-malu Meminta apapun pada bibi tanpa perduli bahwa wanita tua itu seorang janda dengan 1 putra memiliki cukup makanan atau tidak.
Tapi bibi sangat baik pada ayahnya,karena baginya ayahnya adalah satu-satunya kerabatnya.
Jadi dia memberikan semua apa yg ayahnya minta,mulai dari pakai yg lebih baik dari putra bibinya dan membujuk bibi dengan banyak uang untuk mengirim dirinya bersekolah.
Sedangkan sepupunya harus bekerja diladang diusianya yg masih muda. Dia semakin merasa malu atas tindakan ayahnya yg menempatkan nya diposisi sulit.
" Apa dia pernah berfikir,bahwa kakaknya sudah membuatnya hidup begitu lama,lahir tanpa orang tua aku membesarnya seorang diri sampai dia berusia 30 tahun woo.... woo...."Dia menangis dengan tersedu-sedu.
Membuat pria tua itu merasa tak enak,namun dia tak tahu harus berkata apa lagi.
Ibu pemuda itu menangis dan memeluk kakak iparnya menenangkannya."Kakak ipar maaf...jangan menangis..."
Pemuda itu juga berbalik untuk memegang tangan kapalan bibinya,tangan ini lah yg sebenarnya sudah memberinya makan selama ini.
Dia melihatnya dengan wajah tegas." Bibi maafkan aku...aku akan belajar dengan giat dan akan membuatmu bangga...!"
Paman Kusir hanya bisa menghela nafas, orang-orang kadang seperti ini, kita tak bisa memanjakan siapapun jika tidak,hanya ada kata masalah yg akan didapatkan dikemudian hari.
Kereta berhenti pintu masuk gerbang,Pria tua dan cucunya turun, sebelum pergi dia menoleh ke belakang pada Wanita baya yg selesai menangis.
"......maaf,kamu adalah ibu dan kakak yg baik,orang tua mu pasti akan selalu menjagamu...."pria tua itu mengangguk pada mereka sebelum pergi dengan cucunya.
Wanita tua yg mendapat permintaan maaf tertegun, sebelum menghapus air mata diwajahnya , mendengus dengan kaku.
Lalu sebuah bungkusan kertas minyak diserahkan padanya, wanita tua itu mendongak,ibu dan anak itu juga terkejut lalu menoleh melihat pemilik tangan.
Pemuda itu sangat tampan, pakaian juga nampak bersih dan rapi,dia tersenyum padanya.".. bibi apa kamu mau...?"
Wanita tua itu melihat bahwa kantong kertasnya tak besar tapi sepertinya itu penuh,jadi mengulurkan tangannya untuk mengambilnya."Ini.... terimakasih..."
"... Sama-sama.." balas Hwang zin lembut. Lalu dia melihat bahwa Bibi itu membagi apa yg diberikan pada adik iparnya dan keponakannya.
Awalnya keduanya menolak,namun wanita itu memarahi mereka dan berkata dia tak akan menghabiskannya sendiri.
Hwang zin sadar,bibi ini hanya tak pandai mengatakan perasaannya, kata-katanya mungkin terdengar tajam dan menuntut tapi dalam hatinya dia hanya mencemaskan keponakannya.
Kereta berhenti tepat didepan alun-alun,paman kasir meminta mereka untuk berkumpul disini saat sore hari.Mereka mengangguk turun dari kereta dan pergi berpencar.
Hwang zin baru pertama kali datang ke ibu kota ,hidup di pinggir gerbang kota yg jarang hampir 2 jam perjalanan membuatnya engga untuk main ke pusat kota.
Tempatnya lebih ramai,banyak pedagang kaki lima yg menjual berbagai macam makanan,juga banyak toko dan kedai seperti restoran yg memiliki bangunan bertingkat
Hwang zin berjalan dipinggir melihat-lihat pada barang yg dijual. Kebanyakan sama dengan pasar digerbang kota hanya saja disini lebih banyak dan berbagai variasi.
Dia berjalan' -jalan sampai pada ujung pasar tanpa sadar,lalu melihat gerbang yg menuju wilayah Istana Kaisar.
Gerbang itu tinggi dengan lebih dari 4 Penjaga yg berjaga,orang yg masih kebanyakan memakai kereta kuda dan kuda.
" Minggir...!" Teriak suara kasar ,Hwang zin yg sudah di pinggir masih terdorong oleh orang-orang dan menjatuhkan keranjang bambu nya.
Kereta yg dipimpin 3 pria berpakaian hitam melintas dengan angkuh menunju gerbang istana luar, meninggal debu dibelakang.
"......" Hwang zin melihat keranjang bambu yg berisi kacang dan Goji berry diinjak-injak oleh kereta kuda.
Dia menoleh dengan kesal ke arah gerbang dimana kelompok itu dihentikan oleh penjaga.
"....Kami datang untuk bertemu dengan pangeran ke 3! Tolong beri jalan...!"penjaga didepan turun dari kuda dan menemui penjaga istana.
"Maaf tapi kamu harus memperlihatkan tanda pengenal mu...."ucapnya dengan wajahnya tenang.
Penjaga itu melihat dengan tersinggung."Apa kau tidak tau siapa yg ku bawa dia adalah -"
"......Oke cukup! Apa kau kan terus berteriak dan membiarkan semua orang mendengarnya!"Bentak suara dengan nada berat didalam kereta.
Wajah penjaga memucat. Dia berbalik dan meminta maaf,lalu menyerahkan token pada penjaga gerbang dengan mengertakan giginya.
Penjaga itu memeriksanya sesaat.Lalu menoleh pada rekan-rekan untuk membuka gerbang."Buka gerbangnya....!"
Penjaga itu mengambil token dan kembali ke kudanya untuk memimpin kereta masuk,lalu gerbang kembali ditutup.
Hwang zin berdiri ditempat,melihat bahwa semua barangnya hancur tak ada yg bisa diselamatkan.
Dia menghela nafas,berbalik untuk pergi dari sana.