NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Sang Penjaga Takdir

Ekspektasi mereka hancur berkeping-keping saat kaki mereka menginjak lantai ruang utama gubuk tersebut. Alih-alih menemukan pria tua renta yang bungkuk dan kotor, mata mereka justru disuguhi pemandangan yang tak masuk akal.

Di tengah kepulan asap kemenyan yang tipis, duduk seorang pria yang tampak sangat muda—mungkin di awal usia tiga puluhan. Ia tidak memakai baju kurung hitam yang kumal, melainkan hanya kain tenun gelap yang melilit pinggangnya, memamerkan otot-otot dada dan perut yang terbentuk sempurna, kokoh bak pahatan patung perunggu.

Kulitnya yang kecokelatan berkilau di bawah temaram cahaya lilin, dan wajahnya memiliki garis rahang yang sangat tegas dengan ketampanan yang terasa "berbahaya".

Rekan-rekan kerja Colette yang tadinya ingin tertawa mendadak bungkam. Linda bahkan sempat menahan napas, matanya tak berkedip melihat sosok di depannya yang lebih mirip dewa daripada dukun.

Colette, yang sejak tadi hanya menunduk dan menghapus jejak air matanya, perlahan merasakan getaran aneh di udara. Ada rasa magnetis yang seolah memaksa dagunya untuk terangkat. Dengan perlahan, ia memberanikan diri menatap ke depan.

Dan saat itulah, dunia seakan berhenti berputar.

Pandangan Colette bertemu langsung dengan mata sang dukun. Mata pria itu tidak gelap atau buta; matanya tajam, dalam, dan seolah memiliki cahaya keemasan di dalamnya.

Di detik itu juga, suara bising rekan-rekan kantornya—suara tawa Bram, bisikan rakus Linda, dan umpatan Riko—mendadak senyap. Colette tidak mendengar apa pun lagi selain detak jantungnya sendiri.

Namun, bagi sang dukun, keadaan jauh lebih riuh.

Di telinga pria itu, ribuan bisikan gaib yang selama ini menjadi pemandunya mendadak menjerit serempak. Suara-suara itu bukan lagi membisikkan ramalan nasib atau angka-angka keberuntungan. Suara-suara itu berteriak dengan nada yang sakral:

"Berhenti... pekerjaanmu selesai di sini... Sang Pemilik Tulang Rusuk telah melangkah masuk..."

"Gadis yang tertulis dalam kitab darahmu telah datang... Takdirmu bukan lagi pada mereka yang mencari harta, tapi pada dia yang membawa duka..."

Pria itu tertegun. Tangannya yang sedang memegang dupa mendadak kaku. Selama bertahun-tahun ia melayani manusia-manusia rakus yang datang untuk meramal kekayaan, ia tahu bahwa suatu hari ia akan berhenti.

Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa "akhir" itu akan datang dalam bentuk seorang gadis yang tampak begitu hancur, pucat, dan ditertawakan oleh dunia.

Pria itu menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan badai suara gaib yang sedang berkecamuk di kepalanya.

Dada bidangnya naik-turun dengan ritme yang berat, membuat otot-otot di tubuhnya yang tercetak jelas semakin terlihat menonjol di bawah cahaya remang-remang.

Ia perlahan mengalihkan pandangannya dari Colette—walaupun seolah ada benang tak kasat mata yang terus menarik matanya kembali ke gadis itu. Ia kini menatap wajah-wajah di depannya.

Linda dan beberapa rekan wanita lainnya sudah maju paling depan. Mereka yang tadinya menghina tempat itu kotor, kini justru sibuk membetulkan kerah baju dan merapikan rambut. Linda melemparkan senyum paling manis yang ia punya, matanya menatap liar ke arah dada sang dukun yang terbuka.

"Mbah... atau sebaiknya aku panggil apa? Mas?" ucap Linda dengan nada manja yang dibuat-buat, jarinya sengaja memainkan ujung rambutnya.

"Aku mau tanya soal posisiku di kantor... dan mungkin, aku ingin tahu apakah pria setampan dirimu punya ramalan tentang jodohku?"

Di sisi lain, Bram dan Riko tidak mau kalah. Mereka merangsek maju dengan wajah yang basah oleh keringat keserakahan.

"Jangan dengarkan dia! Berapa pun maharnya, aku bayar!" seru Bram sambil mengeluarkan dompetnya yang tebal. "Cukup beri aku angka atau cara supaya bisnis sampinganku meledak bulan depan. Aku bosan jadi bawahan!"

Sang pria tampan itu menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang sangat dingin—sebuah tatapan yang biasa ia gunakan untuk melihat orang-orang yang jiwanya sudah tertutup lumpur harta.

Di matanya, manusia-manusia ini tampak sangat menjijikkan; mereka datang membawa tawa yang merendahkan seorang gadis suci, namun bersujud menyembah demi sepeser uang.

Suara-suara di kepala sang dukun kembali berbisik, kali ini lebih tajam: 'Usir mereka... mereka adalah kotoran yang mencoba menyentuh permata yang baru saja tiba.'

Pria itu menyeringai tipis, sebuah senyum sinis yang justru membuat ketampanannya terasa sangat mengancam.

Suasana yang tadinya penuh dengan rayuan dan keserakahan seketika membeku.

Pria itu melangkah maju, bayangannya yang besar menyapu lantai kayu, menelan cahaya lilin yang temaram. Aura hangat yang tadi sempat terpancar dari ketampanannya kini berubah menjadi hawa kematian yang mencekik.

Ia menatap Linda, yang tadi merayunya, dengan mata yang kini sehitam jelaga.

"Kau ingin tahu tentang jodoh dan jabatan?" pria itu berbisik, namun suaranya menggema seperti suara dari dasar sumur.

"Jodohmu adalah tanah yang basah. Dalam tiga purnama, leher yang kau hiasi dengan kalung emas itu akan tertekuk di bawah roda besi. Kau akan mati dalam kesendirian, tanpa ada satu pun orang yang sudi memungut jasadmu."

Wajah Linda memucat pasi, tangannya yang tadi merayu kini gemetar hebat.

Pria itu beralih ke arah Bram dan Riko yang berdiri mematung. "Dan kalian... yang mencari harta dari penderitaan orang lain. Perut kalian akan membusuk dari dalam, memuntahkan segala kerakusan yang pernah kalian telan. Kalian akan merangkak meminta pertolongan, namun suara kalian akan hilang, persis seperti cara kalian membungkam gadis ini."

Satu per satu, pria itu membacakan akhir hidup mereka dengan detail yang sangat mengerikan. Ia menyebutkan cara-cara kematian yang mengenaskan—kecelakaan tragis, penyakit yang menggerogoti daging, hingga kegilaan yang akan membuat mereka mengakhiri hidup sendiri.

"Tidak ada kekayaan, tidak ada kejayaan," suara sang dukun menggelegar, membuat seluruh isi gubuk itu bergetar. "Hanya ada nisan tanpa nama untuk kalian semua yang sudah berani membawa kotoran ke tempat ini."

Rekan-rekan kerja Colette yang tadi begitu sombong kini lari tunggang langgang. Mereka berdesakan keluar pintu, saling sikut dan jatuh bangun di tangga kayu demi menjauh dari pria yang mereka kira bisa memberikan keberuntungan itu. Ketakutan akan kematian yang nyata telah melenyapkan sisa-sisa alkohol di kepala mereka.

Hanya dalam hitungan detik, gubuk itu menjadi sunyi. Hanya menyisakan Jude yang terpaku di ambang pintu, dan Colette yang masih berdiri di pojok ruangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!