NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: SELAMAT DATANG DI NERAKA

Gelap.

Gelap yang tidak pernah Aldric bayangkan sebelumnya. Bukan gelap malam tanpa bulan, bukan gelap ruangan tanpa lilin. Ini gelap yang hidup—gelap yang merayap di kulit, meresap ke pori-pori, memenuhi paru-paru seperti air.

Udara di sini berat. Berat dan busuk. Bau bangkai, bau darah kering, bau sesuatu yang sudah mati ribuan tahun lalu tapi tidak pernah benar-benar pergi.

Buk!

Tubuh Aldric menghantam sesuatu yang keras—batu, mungkin—dan rasa sakit meledak di sekujur tubuhnya. Ia mendengar tulangnya retak. Beberapa tulang. Mungkin banyak. Rasa sakit itu begitu luar biasa hingga ia ingin berteriak, tapi suaranya mati di tenggorokan.

HARUM.

Dunia berputar.

RASA.

Hitam.

SAKIT.

Atau mungkin merah. Atau mungkin tidak ada warna sama sekali.

Aldric tidak tahu berapa lama ia tidak sadar. Beberapa detik? Beberapa jam? Beberapa hari? Di sini, di dasar Jurang Maut, waktu terasa berbeda—seperti molase kental yang mengalir lambat, menolak untuk bergerak.

Yang ia tahu, ketika ia sadar kembali, tubuhnya tidak bisa bergerak.

Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya. Tidak bisa. Tangan kirinya? Mati rasa. Kakinya? Ia bahkan tidak yakin kaki masih menempel di badannya.

Tapi ia bisa merasakan sesuatu.

Sesuatu menjilati kakinya.

Aldric membuka mata—atau mencoba membuka mata. Satu mata terbuka. Yang satunya tertutup oleh darah kering yang mengeras. Di balik penglihatan kabur, ia melihat bayangan-bayangan.

Banyak bayangan.

Mereka berkeliaran di sekitarnya, puluhan—mungkin ratusan—makhluk dengan bentuk yang tidak masuk akal. Ada yang berkaki empat dengan tubuh manusia. Ada yang tidak berkaki sama sekali, melayang-layang di udara seperti uap hitam. Ada yang memiliki terlalu banyak mata, bersinar merah dalam gelap, semua mata itu menatapnya.

Mereka berbisik.

"Daging segar..."

"Dari atas..."

"Pangeran kecil..."

"Jatuh dari sarang..."

Aldric ingin menjerit. Ingin lari. Tapi tubuhnya tidak mau bergerak. Rasa sakit itu—rasa sakit yang luar biasa—membuatnya lumpuh total.

Salah satu makhluk mendekat. Bentuknya seperti serigala, tapi sebesar kuda, dengan tiga kepala dan lidah panjang bercabang yang menjilati udara di dekat wajah Aldric.

"Wanginya..." desisnya, suara dari tiga kepala sekaligus menciptakan harmoni mengerikan. "Enak... enak sekali..."

Makhluk lain mendekat. Yang ini lebih kecil, seperti anak kecil dengan kulit abu-abu dan mata hitam tanpa putih. Ia merangkak mendekati kaki Aldric, menjilati darah yang mengalir dari luka terbuka.

"Aku mau kaki kirinya," katanya dengan suara cempreng. "Kaki kiri punyaku."

"Aku mau hatinya!" sergah yang lain, makhluk bersayap kelelawar dengan tubuh wanita telanjang. "Hati masih berdetak! Masih hangat!"

Mereka bertengkar. Bertengkar memperebutkan bagian tubuh Aldric seperti sekelompok pemulung memperebutkan bangkai.

Dan Aldric hanya bisa terbaring, tidak bisa bergerak, tidak bisa berteriak, tidak bisa melakukan apa pun selain mendengarkan makhluk-makhluk ini membagi-bagi tubuhnya.

Ini akhirnya, pikirnya. Aku akan mati di sini. Dimakan monster. Tidak ada yang akan tahu. Tidak ada yang akan peduli.

Elara...

Bayangan Elara muncul di benaknya. Elara yang bersandar di dada Darius. Elara yang berkata, "Aku tidak pernah mencintaimu."

Liana...

Liana yang terbujur kaku dengan luka di dada. Liana yang memanggilnya "Kak" untuk terakhir kalinya.

Ayah... Ibu...

Racun. Darah. Kematian.

Dan tiba-tiba, rasa sakit itu—rasa sakit fisik di sekujur tubuhnya—terasa kecil dibanding rasa sakit di hatinya.

Mereka mati. Semua mati. Karena aku. Karena aku tidak bisa melindungi mereka. Karena aku lemah. Karena aku bodoh yang percaya pada cinta palsu.

Air mata mengalir dari matanya yang satu—satu-satunya yang bisa menangis. Air mata asin bercampur darah, jatuh ke batu di bawahnya.

Para monster itu berhenti bertengkar.

Mereka menoleh. Semua mata—ratusan mata merah, hitam, kuning—menatapnya.

Dan mereka tertawa.

"Dia menangis!"

"Pangeran kecil menangis!"

"Tangisannya enak! Wangi sekali!"

Mereka mendekat lagi. Kali ini lebih dekat. Lidah-lidah panjang mulai menjilati air mata Aldric, menjilati darahnya, menjilati kulitnya.

Aldric memejamkan mata.

Biarlah. Biar mereka memakanku. Setidaknya rasa sakit ini akan berakhir.

Tapi takdir berkata lain.

"BERHENTI."

Satu kata. Hanya satu kata. Tapi kata itu membuat seluruh makhluk di dasar jurang membeku.

Suara itu datang dari suatu tempat di kedalaman—suara yang dalam, berlapis-lapis, seperti seribu orang berbicara bersamaan dalam satu napas. Suara yang membuat tulang-tulang Aldric bergemeretak, membuat jantungnya berdetak lebih kencang, membuat darahnya—darah yang tersisa—mendidih.

Para monster itu mundur. Bukan mundur biasa, tapi mundur ketakutan. Mereka merunduk, bersembunyi di balik batu, terbang menjauh, menghilang ke dalam celah-celah gelap.

Dalam hitungan detik, tidak ada satu pun makhluk yang tersisa di sekitar Aldric.

Kosong.

Sunyi.

Hanya suara napas Aldric yang tersengal-sengal.

Lalu, dari kegelapan, dua titik merah muncul.

Mata.

Dua mata merah menyala, masing-masing sebesar kepalan tangan manusia, melayang di tengah kegelapan. Mereka mendekat perlahan, dan seiring mendekatnya mata itu, sesosok tubuh mulai terbentuk dari bayangan di sekitarnya.

Tubuh itu besar—sangat besar. Tingginya mungkin mencapai sepuluh meter jika berdiri tegak. Tapi ia tidak berdiri tegak. Ia membungkuk, merangkak, merayap seperti ular raksasa dengan lengan dan kaki manusia. Kulitnya hitam pekat, seperti batu bara yang terbakar jutaan tahun. Di beberapa tempat, kulit itu retak, memperlihatkan api merah membara di dalamnya.

Di punggungnya, sayap—sayap kelelawar raksasa yang robek di sana-sini—terlipat rapat.

Di kepalanya, tanduk—puluhan tanduk melingkar seperti mahkota neraka.

Makhluk itu menunduk, mendekatkan wajahnya—wajah yang hampir manusiawi, tapi dengan rahang terlalu lebar dan gigi terlalu tajam—ke hadapan Aldric.

Napasnya panas. Panas seperti api. Tapi tidak membakar. Hanya... hangat.

"Kau," suara itu berkata lagi. "Kau berbeda."

Aldric tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tapi suaranya mati.

Makhluk itu menatapnya dengan mata merah menyala. Matanya—matanya aneh. Tidak seperti monster tadi yang hanya melihat daging, makhluk ini... melihat sesuatu yang lain.

"Kau jatuh dari atas," lanjutnya. "Tapi kau tidak mati. Jatuh dari ketinggian itu, manusia biasa pasti hancur berkeping-keping. Tapi kau... kau masih utuh. Hanya patah tulang. Luka-luka."

Ia mengendus Aldric. Napas panas itu menyapu seluruh tubuh.

"Dan darahmu... darahmu berbeda. Wanginya..." Matanya menyipit. "Seperti seseorang yang pernah kukenal. Ribuan tahun lalu."

Makhluk itu menarik diri sedikit, masih menatap Aldric dengan rasa ingin tahu.

"Siapa namamu, anak manusia?"

Aldric berusaha bicara. Tenggorokannya kering, penuh debu dan darah. Tapi ia memaksakan diri.

"Ald... Aldric..."

"Aldric." Makhluk itu mengulang namanya, seolah mencicipi setiap suku kata. "Aldric Veynheart. Putra Aldous Veynheart. Cucu Varian Veynheart. Cicit—"

"Kau... kau tahu keluargaku?" bisik Aldric, terkejut.

Makhluk itu tersenyum. Senyuman yang mengerikan—terlalu lebar, terlalu banyak gigi.

"Aku tahu banyak hal, Aldric Veynheart. Aku hidup di sini selama... ribuan tahun? Puluhan ribu? Aku lupa. Waktu di sini berjalan aneh." Ia menjentikkan jari—cakar—panjangnya. "Tapi yang pasti, aku tahu darah Veynheart. Karena darah Veynheart—darah kakek buyutmu—yang mengurungku di sini."

Aldric terbelalak. "Kakek buyutku... mengurungmu?"

"Varian Veynheart. Raja Agung, katanya." Makhluk itu tertawa. Tawanya mengerikan—seperti batu bergesekan, seperti gunung runtuh. "Ia mengalahkanku dalam pertempuran, lalu membuangku ke sini. Ke jurang ini. Penjara yang sempurna. Tidak ada yang bisa keluar. Tidak ada yang bisa masuk. Hanya monster dan para pembuang."

Ia mencondongkan tubuh lagi, mendekat.

"Tapi kau... kau masuk. Kau jatuh. Mungkin takdir. Mungkin kebetulan. Mungkin kutukan." Matanya berbinar. "Atau mungkin... kesempatan."

"Apa... apa maksudmu?"

Makhluk itu tidak menjawab. Ia malah mengamati tubuh Aldric yang hancur. Matanya bergerak dari kepala hingga kaki, menghitung setiap luka, setiap patahan tulang.

"Kau akan mati," katanya datar. "Luka-lukamu terlalu parah. Dalam beberapa jam, monster-monster itu akan kembali, dan mereka akan memakammu hidup-hidup. Kau akan mati di sini, sendirian, tidak dikenal, tidak diratapi."

Aldric diam. Ia tahu itu benar. Ia bisa merasakan hidupnya merambat keluar dari setiap luka di tubuhnya.

"Atau..." Makhluk itu menjeda, menciptakan ketegangan. "Kau bisa hidup."

"Bagaimana?"

"Aku bisa menyelamatkanmu." Mata merah itu berbinar. "Aku bisa menyembuhkan lukamu. Memberimu kekuatan. Kekuatan yang tidak pernah kau bayangkan. Kekuatan untuk bertahan di sini. Kekuatan untuk... kembali ke atas."

Kata terakhir itu—kembali ke atas—membuat jantung Aldric berdetak kencang.

Kembali ke atas. Kembali ke istana. Kembali ke...

Darius. Elara. Paman Edric.

"Tapi ada harga," lanjut makhluk itu. "Tidak ada yang gratis di sini, anak manusia."

"Apa... apa harganya?"

Makhluk itu tersenyum lebar. Senyum yang paling mengerikan dari semuanya.

"Kemanusiaanmu."

Aldric diam.

"Aku akan mengubahmu menjadi sesuatu yang bukan manusia. Sesuatu yang lebih. Sesuatu yang kurang. Kau akan tetap bisa berpikir, tetap bisa merasakan—tapi perasaanmu akan berbeda. Kebahagiaan? Tidak akan kau rasakan lagi. Cinta? Hanya akan menjadi kenangan pahit. Yang tersisa hanyalah..." Ia menjeda, "... dendam. Dendam murni. Bahan bakar paling kuat di dunia ini."

Aldric membayangkannya. Hidup tanpa kebahagiaan. Hidup tanpa cinta. Hidup hanya dengan dendam.

Tapi lalu ia membayangkan yang lain.

Liana. Liana yang mati dengan boneka kelinci di sampingnya. Liana yang memanggilnya "Kak" untuk terakhir kalinya.

Ayahnya. Yang diracun di kursinya sendiri, menunggu putranya datang.

Ibunya. Dengan belati di dada, mata terbuka lebar.

Dan Elara. Elara yang bersandar di dada Darius. Elara yang berkata, "Aku tidak pernah mencintaimu."

Dendam.

Ya. Dendam adalah satu-satunya yang tersisa.

"Kau mau... kau mau membantuku membalas?" tanya Aldric, suaranya serak.

Makhluk itu tertawa. Tawa panjang yang menggema di seluruh jurang.

"Membantumu membalas? Anak manusia, aku tidak peduli dengan balas dendammu. Aku hanya ingin keluar dari sini. Dan kau—kau adalah kunciku."

Ia menjelaskan. Panjang lebar. Tentang kutukan kakek buyut Aldric. Tentang darah Veynheart yang bisa membuka segel penjaranya. Tentaranya yang terperangkap di jurang selama ribuan tahun, menunggu kesempatan.

"Jadi begini kesepakatannya," kata makhluk itu akhirnya. "Aku akan memberimu kekuatan. Cukup untuk bertahan di sini. Cukup untuk tumbuh kuat. Kau akan tinggal di sini, belajar dariku, menjadi muridku. Dan ketika kau sudah cukup kuat untuk kembali ke atas—kau akan membuka segel ini. Membebaskanku."

"Dan setelah itu?"

"Setelah itu, kau bebas membalas dendam. Aku bebas pergi. Kita tidak akan bertemu lagi." Ia mengulurkan tangannya—cakar panjang yang bisa meremukkan batu. "Setuju?"

Aldric menatap tangan itu. Tangan monster. Tangan iblis.

Ia ingat tangan ayahnya yang hangat saat memeluknya.

Ia ingat tangan ibunya yang lembut saat mengusap demamnya.

Ia ingat tangan Liana yang mungil saat meraih boneka kelinci.

Ia ingat tangan Elara yang...

Tidak. Ia tidak mau mengingat tangan Elara.

"Kemanusiaanmu," kata makhluk itu lagi. "Itu harganya."

Aldric menarik napas panjang. Udara busuk memenuhi paru-parunya.

"Setuju."

Makhluk itu tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah ada.

"Bagus."

Lalu ia menyentuh dada Aldric.

Dan dunia meledak.

Rasa sakit.

Bukan rasa sakit biasa. Bukan rasa sakit patah tulang atau luka terbakar. Ini rasa sakit yang merambat di setiap sel, setiap urat, setiap serat keberadaan Aldric.

Ia merasa tubuhnya terbakar dari dalam.

Ia merasa darahnya mendidih.

Ia merasa tulang-tulangnya patah dan tumbuh lagi—patah dan tumbuh lagi—berulang-ulang.

Ia merasa sesuatu yang asing merasuk ke dalam jiwanya, menggeser sesuatu yang lama, sesuatu yang hangat, sesuatu yang manusiawi.

Ayah... Ibu... Liana...

Wajah-wajah mereka melintas di benaknya. Lalu memudar. Lalu menghilang.

Elara...

Wajahnya bertahan lebih lama. Matanya yang hijau. Senyumnya yang manis. Tangannya yang hangat.

Lalu senyum itu berubah. Menjadi senyum dingin. Senyum saat ia bersandar di dada Darius.

"Aku tidak pernah mencintaimu."

Wajah Elara menghilang. Berganti dengan wajah Darius yang tersenyum puas. Berganti dengan wajah Paman Edric yang licin.

Lalu semua menghilang.

Yang tersisa hanya gelap. Gelap yang hangat. Gelap yang nyaman. Gelap yang...

"Selamat datang di hidup barumu, Aldric Veynheart."

Suara makhluk itu menggema di seluruh tubuhnya.

"Selamat datang di neraka."

Aldric membuka mata.

Dunia terlihat berbeda.

Semuanya lebih tajam, lebih jelas, lebih terang meskipun di tempat gelap. Ia bisa melihat setiap retakan di batu, setiap butir debu di udara, setiap makhluk yang mengintai dari kejauhan—dan ia bisa melihat ketakutan di mata mereka.

Ia mengangkat tangannya.

Tangan itu... berbeda. Masih berbentuk tangan manusia, tapi kulitnya lebih pucat, hampir abu-abu. Di punggung tangannya, urat-urat hitam terlihat jelas, berdenyut dengan irama aneh.

Ia menyentuh wajahnya. Terasa sama. Tapi ia tahu, di dalam, ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang hilang.

Apa yang hilang?

Ia mencoba mengingat. Mengingat hangatnya pelukan ibunya. Mengingat tawa Liana. Mengingat...

Tidak ada.

Ia tahu itu pernah ada. Tapi ia tidak bisa merasakannya lagi. Seperti membaca buku tentang kebahagiaan—tahu kata-katanya, tapi tidak mengerti artinya.

Kemanusiaanku.

Makhluk itu—Varyn the Silent, begitu ia memperkenalkan diri—duduk di sampingnya, mengamati dengan mata merah berbinar.

"Bagaimana perasaanmu?"

Aldric menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak takut. Tidak ada rasa takut yang tersisa. Tidak ada yang tersisa.

"Aneh," jawabnya jujur. "Tapi... baik-baik saja."

Varyn tertawa.

"Baik-baik saja. Manusia selalu bilang baik-baik saja padahal dunia mereka runtuh." Ia menggeleng. "Tapi kau bukan manusia lagi, Aldric. Setidaknya, tidak sepenuhnya."

Aldric bangkit. Tubuhnya bergerak ringan, tanpa rasa sakit. Luka-lukanya sudah sembuh total, bahkan bekasnya pun tidak ada. Tulang-tulangnya terasa kuat, lebih kuat dari sebelumnya.

Ia mengepalkan tangan. Kekuatan mengalir di urat-uratnya—kekuatan gelap, kekuatan asing, tapi kekuatan.

"Pertama-tama," kata Varyn, "kau harus tahu di mana kau berada."

Ia mengangkat tangannya, dan tiba-tiba, dinding-dinding jurang menyala dengan api hijau. Cahaya itu menerangi sekeliling, memperlihatkan pemandangan yang membuat Aldric terkesima.

Jurang Maut bukan sekadar jurang.

Itu adalah dunia bawah tanah yang luasnya tak terbayangkan. Di kejauhan, ia bisa melihat kota-kota yang terbangun dari batu dan tulang. Sungai-sungai lava mengalir di antara lembah-lembah gelap. Makhluk-makhluk terbang melintas di atas kepala, ribuan jumlahnya.

"Ini adalah dunia para pembuang," jelas Varyn. "Manusia yang jatuh, monster yang lahir, roh yang tersesat—semua tinggal di sini. Dan di sini, hanya satu hukum yang berlaku: yang kuat berkuasa, yang lemah mati."

Ia menatap Aldric.

"Kau lemah sekarang. Sangat lemah. Meskipun sudah kuberi kekuatan awal, kau masih bayi di sini. Monster-monster tadi lari karena takut padaku, bukan padamu. Begitu mereka tahu kau tidak di bawah lindunganku, mereka akan kembali."

"Apa yang harus kulakukan?"

Varyn tersenyum. Senyum yang puas.

"Bertahan hidup. Belajar. Tumbuh kuat. Dan suatu hari... keluar."

Ia menunjuk ke suatu tempat di kejauhan—ke arah langit-langit gua yang tidak terlihat ujungnya.

"Di sana, ribuan mil di atas kita, ada dunia yang kau tinggalkan. Keluargamu yang mati. Musuh-musuhmu yang hidup. Dan wanita yang mengkhianatimu."

Nama Elara muncul di benak Aldric. Untuk sesaat, ada sesuatu yang berdenyut di dadanya. Sesuatu yang hangat. Tapi segera padam, berganti dengan dingin.

"Tapi untuk mencapai itu, kau harus melewati ini dulu." Varyn membentangkan tangannya, melingkupi seluruh jurang. "Neraka ini. Dan percayalah, Nak, neraka ini tidak ramah pada pendatang baru."

Ia berbalik, mulai berjalan ke dalam kegelapan.

"Ikut. Aku akan mengajarkanmu hal pertama yang harus kau pelajari di sini."

Aldric mengikuti. Langkahnya mantap, tidak goyah.

"Hal apa?"

Varyn menoleh. Mata merahnya berbinar dalam gelap.

"Cara membunuh."

Mereka berjalan melewati lorong-lorong batu yang berkelok-kelok. Di dinding-dinding, lukisan-lukisan kuno terukir—lukisan pertempuran antara manusia dan monster, antara dewa dan iblis. Beberapa di antaranya bergerak—seperti hidup—mata mereka mengikuti setiap langkah Aldric.

Dari waktu ke waktu, Varyn berhenti, menjelaskan sesuatu.

"Itu Netharim," katanya, menunjuk sekelompok makhluk bersayap yang terbang di kejauhan. "Mereka pemakan bangkai. Tidak berbahaya jika kau masih hidup. Tapi jika kau terluka... mereka akan mengerumunimu seperti lalat."

Lalu, "Itu Gholam." Makhluk batu setinggi tiga meter, berjalan lambat di antara bebatuan. "Mereka bodoh, tapi kuat. Bisa kau manfaatkan jika kau pintar bicara. Atau kau hindari jika tidak ingin hancur."

Aldric mengamati semua dengan saksama, menyimpan setiap informasi di benaknya. Pikirannya terasa lebih tajam sekarang—mampu menyerap banyak hal sekaligus.

Mereka berhenti di sebuah tebing yang menghadap ke lembah luas. Di bawah, ribuan makhluk bergerombol—semacam pasar, tapi dengan barang dagangan yang mengerikan: daging, tulang, bahkan budak-budak manusia yang dirantai.

"Pasar Hitam," kata Varyn. "Tempat kau bisa membeli apa pun—senjata, informasi, bahkan nyawa. Tapi hati-hati. Di sini, kau bisa dijual sebelum sempat membeli."

Aldric menatap pemandangan itu. Di antara para monster, ia melihat beberapa manusia—lelaki dan perempuan dengan mata kosong, tubuh kurus kering. Budak.

Aku bisa seperti mereka, pikirnya. Jika aku tidak setuju dengan tawarannya. Jika aku memilih mati.

Tapi ia tidak memilih mati. Ia memilih hidup. Hidup untuk balas dendam.

"Varyn."

"Ya?"

"Apa kau tahu... apa yang terjadi di atas? Apa mereka... apa mereka baik-baik saja?"

Varyn menatapnya lama. Matanya yang merah seolah bisa membaca isi hati Aldric—meskipun hati itu sudah mati.

"Kau ingin tahu tentang Darius? Tentang Elara?"

Aldric diam. Tapi diamnya adalah jawaban.

Varyn tersenyum—bukan senyum mengejek, tapi senyum pengertian.

"Darius Veynheart sekarang menjadi Pangeran Mahkota. Ia dipuja rakyat sebagai pahlawan yang menyelamatkan istana dari kerusuhan. Paman Edric menjadi penasihat utamanya."

Ia berhenti, seolah menimbang-nimbang apakah akan melanjutkan.

"Dan Elara..."

Jantung Aldric—yang sudah mati—berdetak sekali. Hanya sekali.

"Elara akan dinikahi Darius dalam sebulan. Pernikahan besar. Seluruh kerajaan diundang."

Aldric tidak bereaksi. Wajahnya batu. Matanya kosong.

Tapi di dalam—di tempat yang paling dalam, di sudut yang tersisa—sesuatu menjerit. Menjerit kesakitan.

Jeritan itu cepat padam. Ditelan kegelapan.

"Mereka bahagia," lanjut Varyn. "Sangat bahagia. Seolah kau tidak pernah ada."

Aldric mengangguk pelan. Lalu berbalik, meninggalkan tebing.

"Kapan kita mulai belajar?" tanyanya datar.

Varyn tersenyum puas. Murid ini—murid yang tepat. Yang hatinya sudah mati, yang hanya menyisakan dendam.

"Sekarang."

Malam pertama di neraka.

Aldric duduk di sebuah gua kecil—sarang sementara yang diberikan Varyn. Di luar, suara-suara aneh terdengar—raungan, jeritan, bisikan. Dunia bawah tidak pernah tidur.

Ia memandangi tangannya yang pucat. Urat-urat hitam berdenyut pelan. Kekuatan itu—kekuatan asing—mengalir di tubuhnya, membuatnya terasa... berbeda.

"Kau tidak akan pernah bisa kembali menjadi manusia," kata Varyn dari kegelapan. "Ingat itu."

"Aku tahu."

"Dan kau tidak akan pernah bisa mencintai lagi. Atau tertawa. Atau merasakan kebahagiaan."

"Aku tahu."

Varyn diam. Lalu, "Apa yang kau rasakan sekarang?"

Aldric menatap kegelapan di luar gua. Matanya yang abu-abu—kini sedikit bercahaya merah di tengahnya—menatap kosong.

"Kosong," jawabnya. "Kosong total."

Tapi itu bohong.

Di dalam—jauh di dalam, di tempat yang tidak bisa dijangkau Varyn—masih ada sesuatu. Masih ada nyala kecil. Masih ada luka.

Luka itu bernama Liana.

Luka itu bernama Ayah.

Luka itu bernama Ibu.

Dan luka itu bernama Elara.

Suatu hari, bisiknya dalam hati. Suatu hari aku akan kembali. Dan mereka akan merasakan apa yang aku rasakan sekarang.

Kosong.

Hampa.

Mati.

Di luar, angin bawah tanah bertiup dingin. Membawa bisikan-bisikan dari masa lalu. Membawa janji-janji yang mungkin tidak akan pernah terpenuhi.

Di atas, ribuan mil dari sini, seorang wanita dengan rambut merah api sedang bersiap untuk pernikahan barunya. Ia tersenyum di depan cermin, tapi matanya—mata hijau zamrud itu—kosong.

Kosong seperti hati Aldric.

Kosong seperti jurang yang memisahkan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!