Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Setelah sarapan nasi pecel yang berkesan itu, Kirana tidak langsung meminta kembali ke rumah atau menuju kafe. Ia menatap Rio dengan binar mata yang sulit diartikan.
"Mas Rio, bisa antar saya ke pusat grosir di daerah Surabaya Utara?" pinta Kirana lembut.
Raditya mengangguk patuh. "Baik, Mbak Kirana."
Sepanjang perjalanan, Raditya bertanya-tanya dalam hati. Mengapa seorang putri pengusaha properti pergi ke pusat grosir besar yang biasanya penuh sesak dengan pemilik toko kelontong? Bukankah Bianca biasanya hanya mau menginjakkan kaki di mal mewah?
Sesampainya di sana, hiruk pikuk suara tawar-menawar dan deru mesin pengangkut barang menyambut mereka. Kirana turun dengan cekatan, tidak tampak risih sedikit pun dengan debu atau keramaian.
"Mas Rio, tolong ikut masuk ya. Saya butuh bantuan Mas Rio untuk membawakan barang-barang," ujar Kirana.
"Baik, Mbak," jawab Raditya singkat. Ia berjalan di belakang Kirana yang mulai mengambil sebuah troli barang berukuran raksasa—jenis troli besi yang biasa digunakan untuk mengangkut barang-barang dalam jumlah karton besar.
Raditya mengamati troli itu, lalu menatap Kirana dengan heran. "Mbak Kirana... maaf jika saya lancang, tapi Mbak mau belanja apa? Kenapa mengambil troli sebesar ini?"
Kirana menghentikan langkahnya sejenak, menoleh ke arah supirnya sambil meletakkan telunjuk di bibir, memberikan isyarat untuk menjaga rahasia.
"Begini, Mas Rio... Sebulan sekali saya rutin berkunjung ke panti asuhan dan panti jompo. Hari ini sudah waktunya. Tapi saya mohon, tolong jangan beritahukan hal ini kepada Ayah atau Mama ya? Mereka... mereka tidak perlu tahu soal ini," bisik Kirana dengan senyum yang sedikit getir.
Raditya tertegun. Pintu hatinya seolah terketuk. Ia tahu betul keluarga Adytama, terutama Mama Reva dan Bianca, sangat mementingkan citra sosial. Namun Kirana justru menyembunyikan kebaikannya. Mengapa? Apakah karena keluarganya akan menganggap ini sebagai pemborosan? Atau karena Kirana memang setulus itu?
"Baik, Mbak. Rahasia Mbak aman bersama saya," jawab Raditya mantap.
Mereka pun mulai menyusuri lorong demi lorong. Raditya tak menyangka Kirana begitu hapal dengan apa yang dibutuhkan. Kirana membeli beberapa karung beras kualitas terbaik, puluhan liter minyak goreng, berdus-dus mie instan, susu formula untuk bayi, hingga pampers untuk balita dan lansia. Tak lupa, Kirana memilih sabun mandi, sabun cuci, hingga perlengkapan sekolah anak-anak.
Total ada lima troli besar yang kini penuh sesak dengan barang-barang logistik. Raditya melongo. Sebagai seorang supir, ia mulai menghitung dalam hati. Total belanjaan ini mencapai puluhan juta rupiah.
Dari mana seorang barista kafe biasa punya uang sebanyak ini untuk berdonasi setiap bulan? batin Raditya. Kecurigaannya semakin kuat bahwa Kirana bukanlah barista biasa.
"Mbak... apa semua ini hanya untuk satu panti?" tanya Raditya saat mereka mengantre di kasir.
"Ini untuk dua tempat, Mas Rio. Satu panti asuhan yatim piatu yang menampung banyak bayi, dan satu lagi panti lansia di pinggiran kota," jawab Kirana sambil sibuk mengecek catatan di ponselnya.
Melihat ketulusan itu, sisi asli Raditya sebagai pria yang juga dermawan muncul. Ia merasa malu jika hanya berdiam diri sebagai penonton.
"Mbak Kirana... apakah saya boleh ikut menyumbang sedikit?" tanya Raditya tiba-tiba.
Kirana menatap Mas Rio dengan mata berbinar senang. "Tentu saja boleh, Mas Rio! Kebaikan itu terbuka untuk siapa saja. Mas Rio mau menyumbang apa?"
Raditya sedikit gelagapan. Ia hampir saja menyebut akan mentransfer sejumlah dana besar, namun ia segera tersadar akan penyamarannya.
"Emm... kebetulan di tempat tinggal saya banyak menampung pakaian layak pakai dan buku-buku bacaan, Mbak. Apa boleh saya kirimkan juga nanti?"
"Wah, itu bagus sekali! Anak-anak di panti pasti senang dapat bacaan baru. Nanti saya kasih alamat lengkapnya ya, Mas," jawab Kirana dengan senyum paling manis yang pernah Raditya lihat.
Diam-diam, sambil Kirana sibuk dengan kasir, Raditya merogoh ponselnya di balik saku celana kargo. Jempolnya bergerak cepat mengirim pesan singkat kepada asisten pribadinya di kantor Mahardika Group.
To: Bram (Assistant)
Bram, siapkan 100 paket alat tulis premium, 100 set pakaian anak-anak baru, dan 50 paket suplemen kesehatan lansia. Kirimkan ke alamat yang akan saya kirimkan setelah ini. Pastikan pengirimnya anonim. Jangan sebut namaku atau perusahaan.
From : Bos Raditya (CEO MG)
Siap Bos, laksanakan!
**
Setelah urusan grosir selesai, sebuah mobil pick-up sewaan yang memuat gunungan barang mengikuti mobil tua Kirana menuju pinggiran kota. Mereka berhenti di sebuah bangunan bercat putih bersih dengan halaman yang luas dan asri. Plang namanya tertulis: Panti Asuhan Kasih Bunda.
Begitu turun dari mobil, Raditya bisa merasakan suasana yang berbeda. Tempat ini terasa sejuk, tenang, dan penuh kehangatan. Beberapa anak kecil yang sedang bermain di halaman langsung berlari menyongsong Kirana.
"Kak Kirana datang!" teriak mereka riang.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah teduh bernama Umi Bia keluar dari bangunan utama. Ia langsung memeluk Kirana dengan erat, seperti memeluk anak sendiri.
"Kirana... Masya Allah, kamu datang lagi, Nak," ujar Umi Bia penuh syukur.
"Pagi, Umi. Kabar baik?" Kirana mencium tangan Umi Bia dengan takzim. "Umi, perkenalkan, ini supir baru di rumah, namanya Mas Rio."
Raditya menunduk hormat. "Saya Rio, Umi."
Umi Bia tersenyum menatap Rio. "Terima kasih ya, Nak Rio, sudah membantu Kirana mengantar semua ini."
Barang-barang mulai diturunkan oleh para pengurus panti dan dibantu oleh Raditya. Saat Raditya mengangkut dus-dus susu ke arah dapur, ia melihat bagaimana Kirana berjongkok di tanah, memeluk anak-anak panti tanpa rasa risih sedikit pun pada debu yang menempel di dress-nya. Ia membagikan permen dan menanyakan kabar sekolah mereka satu per satu.
Sesuatu dalam diri Raditya bergetar. Selama ini, ia dikelilingi wanita-wanita yang hanya peduli pada tas bermerek dan pesta koktail. Namun di sini, ia melihat seorang wanita yang lebih kaya secara hati daripada siapa pun yang ia kenal.
Kirana kembali mendekati Umi Bia dan Rio. "Umi, maaf Kirana tidak bisa lama-lama hari ini. Kirana masih harus ke panti lansia, lalu langsung ke kafe karena ada janji dengan supplier kopi."
Umi Bia mengangguk maklum sambil mengusap bahu Kirana. "Umi mengerti, Nak. Kamu itu sibuk sekali tapi masih sempat ingat kami di sini. Jaga kesehatanmu ya, Kirana. Jangan sampai terlalu lelah."
"Iya, Umi. Kirana pamit dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Raditya pun berpamitan. Saat ia berjalan menuju mobil, ia menoleh sekali lagi ke arah bangunan panti yang hangat itu. Penyamarannya sebagai supir awalnya hanya untuk mengetahui karakter perempuan yang dijodohkan kepadanya, namun kini, ia merasa penyamaran ini membawanya menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: sosok Kirana Adytama yang sesungguhnya.
Di dalam mobil, suasana menjadi hening namun nyaman.
"Terima kasih ya, Mas Rio, sudah mau repot-repot membantu saya hari ini," ucap Kirana memecah keheningan saat mobil mulai melaju kembali.
Raditya tersenyum di balik kemudi. "Sama-sama, Mbak Kirana. Justru saya yang berterima kasih. Hari ini saya belajar banyak hal yang tidak pernah saya temui sebelumnya."
Dan aku belajar bahwa aku mungkin telah jatuh cinta pada orang yang paling tepat, orang yang memiliki hati yang begitu besar dan aku mulai berpikir untuk memutuskan siapa perempuan yang akan aku pilih, batin Raditya dalam hati.
***