Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelah juga : 16
Intan menghela napas panjang, lama-lama lelah juga, pertahanan dirinya runtuh sudah. Tak mau sampai menarik rasa curiga rekan kerja, ia masuk ke dalam rumah, mengunci pintu depan lalu ke kamarnya.
Di atas kasur ranjang cukup untuk dua orang, pikirannya berkelana, menelaah banyak hal. Perkataan pria paling menyebalkan, mengena di hatinya.
Letih dibuat sendiri, beban batin juga tak berkurang, Intan memejamkan mata guna mengurangi rasa pusing mulai mendera.
.
.
“Jadi ini para ninja sawit itu?” Anggara Pangestu sedang dalam mode gagah – rambut klimis diikat satu, kemeja polos kancing tiga paling atas tak dikaitkan, menatap empat pria memakai penutup wajah dijadikan topi, berpakaian serba hitam, dan alas kaki sepatu pergi ke ladang.
“Iya, juragan muda.” Sarwanto mengangguk, dia dan tim para pengawas perkebunan berhasil membekuk pencuri tandan sawit matang yang tengah beraksi di pagi hari, kebetulan hari ini adalah hari libur.
Dari keempat pria, ada satu orang berperawakan tinggi kurus, dan dia mendapatkan perhatian lebih dari putra pemilik kebun sawit ratusan hektar.
“Dengan badan sebesar lidi, apa tak terbang kau tersapu angin?”
Sosok yang baru ditanyai menggeleng, menjawab takut-takut. “Fisik awak memang terlihat ringan, tapi aslinya berat beban dosa. Jadi, sangat membantu diri ini tetap menjejak tanah apabila ada angin mengamuk.”
Anggara suka istilah itu, dia pura-pura berwajah garang, memainkan trik demi keuntungan pribadinya.
“Saya bisa saya mengampuni kalian, tapi tentulah tak cuma-cuma, harus ada imbalannya?”
"Maaf, pak. Saya tak ada uang sama sekali. Nekat mencuri, karena terpaksa demi pengobatan anak pasca kecelakaan motor. Saya butuh uang banyak untuk operasinya,” ungkap pria berbadan sedang, penampilan berantakan, tidak terurus.
“Bukankah ada kartu bagi orang tak mampu untuk berobat gratis?” Anggara sedikit merasa iba, terlebih melihat tangan pria tengah menangis dalam diam itu penuh goresan luka, ujung kuku hitam.
“Sayangnya saya tak mendapatkan keistimewaan itu, Pak. Walaupun gratis, biasanya juga memerlukan biaya tidak sedikit, ada saja obat tambahan tidak termasuk dalam pengobatan bebas biaya.” Ia menunduk, duduk bersimpuh di lantai keramik hunian mewah lantai dua bersama tiga pria lainnya.
“Kalian boleh pulang, kalau sudah berhasil melaksanakan tugas dariku. Tak sulit, sangat mudah, malah.” Anggara menjelaskan tentang keinginannya.
Para pencuri tandan sawit saling lirik, sorot mata mereka mengatakan hal sama. Permintaan pemilik kebun sawit sungguh tidak masuk akal.
Namun, dikarenakan tidak punya pilihan, takut dijebloskan ke penjara, mereka pun terpaksa menerima.
Anggara mengode Sarwanto, sang asisten langsung tanggap, menyuruh keempat pria tadi berdiri.
“Eh … kau yang sedikit tampan tapi masih kalau jauh dariku, siapa namamu?” tanyanya kepada pria yang tadi mengatakan alasan mengapa dia jadi pencuri, demi operasi anak mengalami patah tulang.
“Syahrul, Pak.”
“Nama sama alur hidup mirip sangat, pantas berkelok-kelok jalanmu. Ya sudah, aku cuma mau mengabsen saja.” Telapak tangannya bergerak-gerak mengusir.
Anggara berjalan mendekati empat sepeda ontel yang bagian belakang penuh buah tandan berduri berwarna kemerahan sudah matang. Kendaraan para pencuri disandarkan pada pohon pinang.
Bergegas pemuda banyak akal mengeluarkan ponsel, lalu mengambil foto bagian depan, tidak memperlihatkan hasil curian para ninja.
“Kendaraan klasik, berkekuatan Samson, sudah teruji ketangguhannya. Kerbau saja kalah kuat, dan limited edition …. termasuk barang antik bernilai jual tinggi,” sebelum diunggah ke story whatsApp, terlebih dulu dia membebaskan satu-satunya nama di privasi.
Belum ada satu menit, ponsel pria bercelana jeans, sepatu boot, sudah berbunyi.
Donatur dilarang ngatur; Harga berapa?
Anggara membalas cepat, mempermainkan harga diri bapak kandungnya; Bapak Kafka mana mungkin sanggup beli, uang recehan tapi berlagak berduit.
Ponsel pintar itu meraung-raung, dapat dibayangkan olehnya – wajah papa Kafka seperti Hulk. Begitu di terima, langsung diteriaki.
“Kau kira papa mu ini kere? Membeli organ dalam sekalian perbuluan mu, papa sanggup. Katakan berapa harganya!”
“Eits … tenang Pa. Jangan marah-marah, nanti cepat tua, terus kalau jalan sama bunda, dikira orang kakek sama cucunya _”
Suara diujung sana langsung menyela. “Astaghfirullah. Semoga saja papa nanti masuk surga lewat jalur istighfar karena punya anak spesial macam kau, Anggara!”
“Masya Allah, terima kasih sangat atas pujiannya papaku,” godanya sengaja.
Nada papa Kafka melembut, dia sadar diri, takkan bisa mengalahkan putra satu-satunya ini. “Nak, berapa harga sepeda tadi?”
“Dua puluh juta, barang langka itu, pa. Bisa buat nostalgia bersama bunda, mengenang masa lalu yang tak seru karena nggak ngajak aku,” cara promosinya memang beda.
“Baiklah, papa tutup dulu sambungannya ya putranya bunda Selina. Baik-baik di sana, jangan kebanyakan gaya. Percuma, yang ada nanti dilirik kawanan Monyet,” balasnya, lalu cepat-cepat mematikan ponsel supaya tidak mendengar hal menyakitkan hati.
Anggara mengangkat kedua bahunya, sama sekali tidak masalah. Masih banyak waktu menaikan tekanan darah ayahnya.
Ting.
Dibukanya sebuah foto bukti transferan. Dua puluh juta rupiah, harga sepeda milik salah satu pencuri sawit, yang sebenarnya cuma barang rakitan, tidak lebih dari empat ratus ribu rupiah.
“Hidup itu harus berguna bagi orang lain, menolong yang lemah. Menodong si kaya. Memang hebat kali kau Anggara. Mana dermawan, baik budi, tampan sangat lagi, paket lengkap lah. Calon papa kebanggaan putra dan putrinya.” Anggara senyum-senyum sendiri, lalu merogoh saku celana, mengeluarkan kunci motor trail, siap masuk ke perkebunan memeriksa para pengawas.
***
Pada sore hari, bidan berpakaian dinas, baru saja pulang dari desa sebelah, melakukan pemeriksaan ke salah ibu muda pasca melahirkan.
Intan Rasyid membunyikan klakson, lalu berhenti ketika dihadang empat motor menghalangi jalan utama.
Satu persatu para pengendara turun dari motor trail hitam, mereka menggunakan penutup kepala, cuma terlihat bagian mata dan alis.
“Serahkan barang berhargamu, kalau tidak ….” Pisau lipat dikeluarkan dari dalam jaket kulit mengkilap.
Bukannya takut, Intan Rasyid turun dari atas motor trail merah menyala. Kendaraan yang cocok digunakan pada kawasan perkebunan.
“Kalau aku tak mau memberikan, kau mau apa?” sudut matanya melirik dua sosok lain, mulai turun dari atas motor.
Tangan kanan Intan masuk ke dalam saku celana, mengambil jarum suntik berisi obat bius hewan, senjata andalannya.
Salah satu dari empat pria tersebut berhenti melangkah, dia seperti orang dilema berat, badannya tremor melihat alat suntik.
Sementara ketiga sosok berbadan tinggi, lumayan tegap, sama-sama menekan tombol pisau lipat. Ujung tajam pun teracung ke wanita berekspresi tenang, sedikitpun tidak terlihat ketakutan.
“Kenapa ragu? Katanya mau merampok, ayo maju!” Tas selempang diletakkan pada stang motor, Intan mengambil ancang-ancang.
Pria paling pinggir sebelah kiri, mengayunkan kaki mantap seraya mengacungkan benda tajam.
Priiiitttt!
Priiittt!
“Woy! Hei! Berhenti! Skenarionya tak macam itu! Berhenti ku bilang!”
.
.
Bersambung.
aku mewekkkk part ini😭😭😭😭😭
gak tega intan disakitin
apa tidak terbalik?
secara Lanira putrinya Wahyuni, kakak dari ibunya Intan (Mutia)
serasa kurang mlu tiap baca 🤣🤣