lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 3
Mira menggenggam bingkai foto itu dengan tangan gemetar. Foto itu adalah kenangan dari masa sulit saat usaha "Dapur Ma" milik orang tuanya pertama kali berdiri—sebuah masa yang seharusnya tidak diketahui oleh orang asing sekelas Romano Kusuma.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Mira mulai menggeledah laci-laci lain dengan gerakan cepat dan senyap, berharap menemukan jawaban sebelum Romano kembali mengeceknya. Di balik tumpukan buku catatan mewah, ia menemukan sebuah map kulit tua bertuliskan “Nusantara Group: Proyek Pengembangan Regional 1995”.
Di dalamnya terdapat kliping koran lama tentang penggusuran lahan di pinggiran kota, dan ada nama ayahnya tercatat sebagai salah satu pemilik lahan yang menolak menjual tanahnya kepada ayah Romano saat itu.
"Jadi ini bukan sekadar cinta?" bisik Mira, matanya memanas. "Ini tentang penebusan dosa... atau penyelesaian misi yang tertunda?"
Belum sempat ia menutup map itu, pintu kamar terbuka perlahan. Mira tersentak dan menjatuhkan map tersebut ke lantai. Romano berdiri di sana, sudah mengganti kemejanya dengan jubah mandi sutra hitam. Wajahnya yang tadi dingin kini tampak sedikit lebih lembut, namun matanya langsung tertuju pada map yang berantakan di lantai.
"Kau belajar dengan cepat, Mira," ucap Romano dengan suara rendah yang menggema di ruangan sunyi itu. Ia melangkah masuk, mengabaikan jarak pribadi di antara mereka. "Aku baru saja akan memberitahumu tentang itu besok."
"Keluarga Anda yang membuat keluarga saya hancur, bukan?" tuduh Mira dengan suara parau. "Hutang itu, lintah darat itu... apakah itu semua bagian dari rencana Anda untuk menarik saya ke sini?"
Romano berhenti tepat di depan Mira. Ia tidak mencoba mengambil map itu. Sebaliknya, ia mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Mira yang basah oleh air mata, namun Mira menepisnya dengan kasar.
"Ayahku melakukan kesalahan di masa lalu," aku Romano dengan nada yang sangat tenang, seolah sedang membicarakan laporan tahunan. "Tapi aku bukan ayahku. Aku menghabiskan tiga tahun terakhir mencari keluarga kalian bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik kalian. Dan di tengah pencarian itu... aku justru menemukanmu."
Romano memajukan wajahnya, mengunci tatapan Mira. "Hutang itu nyata, Mira. Lintah darat itu bukan suruhanku. Tapi memang benar aku membiarkan mereka menekanmu sedikit lebih lama agar kau tidak punya pilihan selain datang padaku. Karena aku tahu, wanita sepertimu tidak akan pernah menerima bantuan cuma-cuma dari pria sepertiku."
"Anda gila!" seru Mira.
"Mungkin," jawab Romano tanpa penyesalan. "Tapi sekarang kau tahu kebenarannya. Kau bisa membenciku karena masa lalu ayahku, atau kau bisa menggunakanku untuk membangun kembali kerajaan bisnis keluargamu yang dulu dihancurkan. Nusantara Group punya sumber daya yang kau butuhkan. Dan aku... aku hanya butuh kau tetap berada di sisiku."
Romano berbalik menuju pintu, namun ia berhenti sejenak. "Pintu ini tidak akan kukunci malam ini. Jika kau ingin pergi, pergilah. Tapi ingat, lintah darat itu masih punya anak buah yang tidak kukontrol sepenuhnya. Di luar sana kau adalah mangsa. Di sini, kau adalah ratu."
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Mira dalam dilema yang menyiksa. Antara dendam masa lalu dan kenyataan bahwa hanya pria yang ia benci inilah yang bisa menyelamatkan masa depan orang tuanya.
Mira berdiri terpaku di tengah kemewahan yang kini terasa seperti tumpukan emas yang berlumuran air mata masa lalu keluarganya. Kata-kata Romano terus terngiang di kepalanya: Di luar sana kau adalah mangsa. Di sini, kau adalah ratu.
Ia menatap pintu yang tidak terkunci itu. Sebuah ujian. Romano sedang bermain dengan psikologinya, memberinya ilusi kebebasan padahal ia tahu Mira tidak punya tempat untuk lari.
Mira menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia tidak lari. Sebaliknya, ia memungut map kulit tua itu dan merapikannya. Jika Romano ingin menjadikannya "ratu" di sangkar ini, maka ia akan belajar bagaimana cara menggunakan mahkota itu untuk menusuk tepat di jantung kekuasaan Nusantara.
Pagi yang Berbeda
Pukul tujuh tepat, Mira keluar dari kamarnya. Ia tidak lagi memakai gaun merah marun semalam, melainkan kemeja putih bersih dan rok pensil hitam—seragam asisten yang tampak profesional namun tajam.
Romano sudah duduk di meja makan panjang, sedang membaca tablet digitalnya. Ia mendongak, matanya sedikit berkilat melihat Mira yang tampak begitu tegar.
"Kau tidak pergi," ucap Romano, sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.
"Saya tidak bodoh, Romano," jawab Mira sambil menarik kursi di hadapan pria itu. "Jika saya pergi tanpa perlindungan Anda, saya mati. Jika saya tetap di sini tanpa rencana, saya hancur. Jadi, saya memilih opsi ketiga."
Romano meletakkan tabletnya, tampak tertarik. "Opsi ketiga?"
"Saya akan bekerja untukmu. Saya akan menjadi asisten yang paling setia yang pernah kau miliki. Tapi sebagai imbalannya, kau harus mengajariku cara menjalankan bisnis. Aku ingin membangun kembali 'Dapur Ma' bukan sebagai warung kecil, tapi sebagai pesaing di bawah naungan Nusantara."
Romano terdiam sejenak, lalu tawa rendahnya pecah. "Menarik. Kau ingin menggunakan kekayaanku untuk menghancurkan dominasi masa lalu ayahku? Aku suka keberanianmu, Mira."
Pengejaran di Medan Perang
Pengejaran Romano kini berubah bentuk. Jika sebelumnya ia mengejar dengan kemewahan fisik, kini ia mengejar dengan stimulasi intelektual. Di kantor, Romano memperlakukan Mira dengan disiplin tinggi, namun di balik pintu tertutup, ia memberikan akses ke data-data rahasia perusahaan yang tidak diketahui siapa pun.
Namun, ketegangan baru muncul saat seorang pria dari masa lalu Mira muncul di lobi kantor. Arkan, teman masa kecil Mira yang kini menjadi pengacara muda yang ambisius, datang dengan membawa dokumen hukum.
"Mira? Apa yang kau lakukan di sini?" Arkan menatap Mira dengan cemas, lalu melirik ke arah Romano yang berdiri di kejauhan, mengawasi mereka seperti elang yang siap menyambar.
"Dia bekerja untukku, Pengacara," suara Romano menginterupsi, dingin dan posesif. Ia berjalan mendekat dan tanpa ragu meletakkan tangannya di pinggang Mira, sebuah klaim kepemilikan di depan umum.
Arkan menatap tangan Romano dengan geram. "Mira, ibumu mencarimu. Dia bilang kau tidak pulang semalam. Dan aku tahu tentang hutang itu. Aku bisa membantumu secara hukum, kau tidak perlu menjual dirimu pada orang seperti dia."
Suasana di lobi Nusantara Group seketika membeku. Para karyawan menahan napas. Mira merasakan cengkeraman tangan Romano di pinggangnya mengeras.
Mira merasakan ketegangan yang merambat dari jemari Romano di pinggangnya. Ia tahu, satu langkah salah di sini bisa menghancurkan segalanya—rencana besarnya untuk memulihkan nama baik keluarga, atau nyawa Arkan yang sedang bermain api dengan penguasa Nusantara.
Mira menarik napas panjang, lalu perlahan namun pasti, ia melepaskan tangan Romano dari pinggangnya. Romano sempat mengerutkan kening, namun Mira tidak menjauh. Ia justru berdiri di antara kedua pria itu.
"Arkan, terima kasih sudah peduli," ucap Mira dengan suara tenang, namun sorot matanya tajam. "Tapi aku tidak sedang menjual diriku. Aku sedang bekerja. Pak Romano adalah atasanku, dan apa yang terjadi dengan hutang keluargaku adalah urusan profesional yang sedang kami selesaikan."
Arkan terbelalak, tidak percaya. "Tapi Mira, dia menyanderamu! Aku bisa melihatnya dari cara dia menatapmu!"
"Dia tidak menyanderaku, Arkan. Dia memberiku kesempatan yang tidak bisa diberikan oleh firma hukum manapun," jawab Mira tegas. Ia menoleh ke arah Romano, menantang mata elang itu. "Benar kan, Pak Romano? Bahwa hubungan kita murni profesional dan Anda menghargai integritas saya sebagai asisten?"
Romano terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. Ia melangkah maju, melewati Mira hingga kini ia berhadapan langsung dengan Arkan.
"Kau dengar itu, Pengacara Muda?" suara Romano rendah namun penuh ancaman. "Mira tahu persis apa yang dia lakukan. Jadi, daripada kau membuang waktu mengurusi asisten pribadiku, lebih baik kau urus dokumen hukum yang kau bawa itu. Dan jangan pernah lagi menginjakkan kaki di gedung ini tanpa janji temu."
Arkan ingin membalas, namun dua petugas keamanan bertubuh besar sudah berdiri di belakangnya. Dengan kepalan tangan yang erat, Arkan akhirnya mundur, namun ia sempat membisikkan sesuatu pada Mira sebelum pergi. "Aku tidak akan menyerah, Mira. Aku tahu ada yang tidak beres."
Setelah Arkan menghilang dari lobi, Romano berbalik menatap Mira. Suasana lobi kembali hening, para karyawan pura-pura sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Pilihan yang cerdas, Mira," bisik Romano, kini kembali mendekat hingga ia bisa membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Mira. "Tapi aku tidak suka kau menyentuh tanganku hanya untuk melepaskannya demi pria lain."
"Itu bagian dari kesepakatan, Romano. Saya tidak akan membiarkan Anda menjadikan saya tontonan di depan umum," balas Mira dingin.
"Mungkin di depan umum kau bisa bersikap seolah-olah kita asing," Romano menarik napas dalam, aroma melati dari rambut Mira seolah memabukkannya. "Tapi di dalam ruanganku nanti, ada dokumen pengembangan 'Dapur Ma' yang sudah kusiapkan. Kau akan belajar bahwa untuk menjadi ratu, kau harus berhenti bersikap kasihan pada masa lalumu."
Romano melangkah pergi menuju lift pribadi, meninggalkan Mira yang kini menjadi pusat perhatian. Mira tahu, ia baru saja membakar jembatan kembalinya ke kehidupan normal, dan pengejaran Romano kini telah memasuki babak baru: persaingan antara ambisi, dendam, dan perasaan yang mulai tumbuh di tempat yang salah.