Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab VIII—Hebat
Mata kuning dalam jumlah puluhan mengintai dari kejauhan dalam gelapnya gua. Mereka seakan sedang mengamati gerak gerik para grombolan manusia. Sesekali terdengar suara mendesis dari mereka, entah itu mendesis karena asa lapar atau memang seperti itulah mereka. Hingga secara tiba-tiba busur panah menancap tepat di kepala si pria setengah baya.
“AHHHGG” Serentak mereka semua berterak histeris.
Satu busur telah mereka luncurkan, untuk yang kedua kalinya busur di luncurkan kembali. Sialnya busur tersebut mengarah ke Jayendra. Ia dengan mudahnya menepis dengan daggernya.
CTANG
“Oh…mereka sekarang sedang membidikku ya” Ucapnya sambil menggerakkan badannya agar mereka tak mudah untuk mengincarnya.
Jayendra sedang menikmati busur panah yang mengarah padanya, dengan lihainya dia menangkis busur-busur tersebut. Berbeda dengan Jay, Para gerombolan masih dalam keadaan sangat panik. Ketiga perempuan di sana masih saja menjerit, menangis dan merengek untuk kembali ke dunia manusia.
Sayangnya jalan sudah terhadang oleh beberapa goblin yang sedang membawa pisau yang sedikit berkarat. Tak ada jalan keluar lagi selain melawan lalu membunuh mereka semua.
Pria berbadan besar mencoba menenangkan yang lain dengan wajah yang serius dan fokus “Tolong tenangkan diri kalian. Jika kalian ingin kembali pulang, mari kita lawan mereka bersama-sama lalu pulang bersama-sama juga dengan utuh.”
Dengan kata-kata yang di lantangkan oleh si pria besar itu, mereka semua berdiri dengan tegap memegang erat senjata seadanya yang mereka bawa.
Melihat hal itu, Jayendra kagum dengan pria berbadang besar tersebut, “Pria hebat” gumamnya sambil berlari menghindari busur panah yang menuju padanya.
Busur-busur itu tak mau berhenti mengarah pada Jay hingga membuat dirinya geram “Sialan para cecunguk ini…seberapa banyak busur yang mereka miliki” Ujarnya kesal.
Jayendra mengambil langkah untuk menghampiri mereka dengan cara berlari zig-zag cepat. Busur busur melasat tak mengenainya hingga saat goblin sudah berada ddi depan matanya pundaknya terkena salah satu busur yang terluncur.
“Mati kau…” Cemohnya sambil menebas leher salah satu goblin.
Goblin tersebut tersungkur. Jayendra melihat kearah sekelilingnya, terdapat 8 goblin yang tersisa. Tak mengambil langkah lama, ia mulai mengganas menarik lengan salah satu goblin dan menebasnya hingga kepalanya putus.
“ Sisa tujuh”
Karena jaraknya terlalu dekat maka para goblin tak dapat memanah dengan benar. Ini kesempatan untuk Jay. Ia menarik pisau berkarat itu dari pinggangnya. Sekarang dia sedang memegang dua senjata di genggamannya. Satunya Goblin Bone Sword dan satunya pisau goblin berkarat yang sebelumnya ia buat untuk membunuh boss goblin saat outbreak.
Ia mulai membantai dari mengiris lengan-lengan goblin yang ingin memanah dia lagi. Lalu menikam perut sampai menggorok mereka tanpa perasaan sedikitpun hingga mereka semua terkapar dengan tubuh yang tak utuh lalu menghilang menjadi partikel hitam.
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...----------------...
...----------------...
...[LEVEL UP]...
...Level meningkat...
...Level 7 → Level 8...
...Mendapatkan 5 point...
...EXP direset...
...----------------...
“Sudah level up saja” Ujarnya menghela nafas pendek hingga ingat kembali pada para gerombolan “Apa mereka sudah selesai ya… coba aku lihat.”
Ia kembali menghampiri para gerombolan yang sekarang tersisa 9 orang. Disana terlihat mereka masih bersikeras melawan 5 goblin. Ketiga wanita nampak terluka di bahu dan lengan mereka karena tebasan dari si goblin. Sisa enam pria mereka tentu berjuang untuk melawan para goblin tersebut.
“Apa ku bantu saja ya mereka.” Gumamnya sedikit khawatir.
“Ah bantu ajalah. Itung-itung nambah EXP” Ucapnya.
Jay berlari sekencang kencangnya lalu menebas dada salah satu goblin hingga robek dan darah hitamnya bercucuran deras. Setelah itu ia meraih leher goblin lain lalu mengoyak perut si goblin hingga isi perutnya keluar semua.
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...----------------...
Tersisa 1 goblin yang berada di hadapan 3 wanita dan 2 goblin di hadapan si pria kekar dan 2 pria lainnya.
Melihat aksi dari Jay, salah satu wanita berteriak meminta pertolongan “Kak, tolong kami juga…”
Tanpa basa basi Jay berlari kearah mereka lalu menerjang dada goblin dengan kekuatan penuh sampai goblin tersebut terpental keras menabrak tembok gua. Tak berhenti di situ, Jayendra menghampiri goblin yang kejang kesakitan oleh tendangannya, tanpa basa-basi ia menebas leher goblin itu tanpa belas kasih.
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...----------------...
”Terimakasih kak…” Ucap salah satu wanita.
Tanpa menjawab ucapan tersebut ia segera menghampiri goblin yang tersisa karena terlihat pria kekar, pria berwajah seram dan anak remaja sedang kesulitan.
Saat ia berlari menuju mereka. Salah satu goblin melompat tinggi ingin menebas kepada si pria kekar “MENUNDUK!!” Bentak dari Jay pada si pria kekar.
Pria kekar tersebut menunduk dengan spontan, Jay mengambil langkah dengan melompat setinggi lompatan dari sang goblin lalu menancapkan kedua senjatanya ke kedua mata sang goblin.
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.2 dikalahkan...
...EXP +15...
...----------------...
“Ah terimakasih bro” ucap si pria kekar.
“Masih tersisa satu…”
”Bro boleh kah saya sendiri yang mengalahkannya?” Tanyanya dengan tatapan mata serius.
Jayendra menyarungkan kedua senjatanya kembali “Silahkan!”
”Makasih bro…”
Tanpa berlama-lama pria tersebut menyerang ke arah goblin yang tersisa, dengan tongkat baseball yang ia bawa ia mengayunkannya dengan sangat kuat dan cepat. Goblin tersebut dapat menghindarinya. Mereka saling bertukar serangan dan saling mengindarinya. Tapi yang keluar sebagai pemenangnya ialah si pria berbadan kekar, dengan badan yang penuh luka dan nafas yang hampir terputus ia memenangkan pertarungan tersebut tapi tampaknya dia juga telah naik level karena luka-lukanya juga sembuh dengan sendirinya.
Para gerombolan lain mendekati si pria kekar dengan penuh kegembiraan seakan lupa bahwa mereka masih berada dalam ambang kematian karena mereka masih berada dalam dungeon monster.
”kau hebat kak…” ucap gerombolan lain kepada pria berbadan kekar.
Dari jarak yang tak jauh dari gerombolan, Jayendra tersenyum tipis hangat melihat bahagia mereka.
Pria kekar melihat kearah Jay, lalu menghampirinya dan gerombolannya ikut serta menghampiri “Sekali lagi kami berterimakasih ke kamu bro…” Ujarnya sambil menjulurkan tangannya.
Dengan perasaan yang agak canggung jay meraih tangan pria tersebut dan menyalaminya.
“Kalau boleh tahu siapa namamu?”
“Artha Jayendra panggil aja Jay”
“Baik aku akan mengingatnya…kalau aku Rendra…cuma itu namaku jadi kau pasti akan gampang mengingatnya hahaha.” Ungkapnya sambil tertawa riang.
Jay hanya mengangguk tak berbicara apa-apa hingga pria tersebut bertanya kembali.
”Bagaimana kamu bisa sekuat itu bro? Kau mengalahkan mereka semua sendiri kan? Apalagi kau juga memiliki dua senjata aneh itu…”
“Aku hanya beradaptasi agar tetap dapat bertahan hidup di dunia yang sudah berubah ini, kalau soal senjata aku dapatkan dari membunuh para goblin”
“Jadi begitu ya, kita harus bisa beradaptasi untuk tetap hidup. Kalian dengar itu kawan-kawan” katanya dengan mata yang berapi-api menghadap kearah gerombolan.
“Kau ikut kami aja kak, ajari kami cara berburu dengan benar. Apa kau mau?” Tawar seorang gadis remaja berambut yang panjangnya sebahu.
Jay mengangguk “untuk sementara aku akan ikut kalian”
Para gerombolan itu senang tanpa ampun ada yang tersenyum tenang memegang dada, ada yang melompat-lompat dan ada yang berkata yes.
“Bagaimana kita selanjutnya bro, apa yang harus kita lakukan?” Tanya si pria kekar.
“Kita akan pergi menyusuri gua gelap ini hingga bertemu dengan goblin-goblin lagi dan membunuhnya lalu bertemu dengan boss lantai ini kemudian tentu saja membunuhnya juga.” Arah dari Jay kepada mereka.
“Apa itu tak terlalu beresiko?” Tanyanya kembali
“Bukankah kalian juga ingin bisa beradaptasi menjadi lebih kuat untuk menghadapi dunia yang telah kacau ini?” Balas Jay dengan melontarkan pertanyaan ke mereka.
Mereka semua mengangguk lalu setuju untuk pergi menyusuri gua dan perjalanan menegangkan mereka masih tetap berlanjut.