Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Fitnah dan Puncak Amarah
Pagi ini, SMA Garuda Kencana tidak diawali dengan ketenangan. Sejak langkah pertama Karline melewati gerbang, ia merasakan atmosfer yang berbeda. Tatapan siswa-siswi yang biasanya hanya penasaran, kini berubah menjadi tatapan mencemooh dan jijik. Bisik-bisik yang terdengar pun jauh lebih tajam dari biasanya.
"Ih, nggak nyangka ya, penampilannya aja yang tertutup, ternyata simpanan."
"Pantesan jemputannya mobil mewah, ternyata hasil jual diri."
Karline mengernyit di balik maskernya. Ia mempercepat langkah menuju mading tengah. Di sana, kerumunan siswa sedang mengerumuni beberapa lembar foto yang ditempel besar-besar. Foto itu memperlihatkan Karline yang sedang masuk ke dalam sedan hitam mewah kemarin sore. Di bawahnya, tertulis narasi kejam dengan huruf kapital: "SISWI BARU ATAU SIMPANAN OM-OM MEWAH? KEDOK DI BALIK JAKET NINJA TERBONGKAR!"
"Gimana, Karline? Foto-fotonya bagus, kan?" Suara melengking Clarissa memecah kerumunan. Ia berdiri di sana dengan tangan bersedekap, dikelilingi gengnya yang tertawa sinis. "Nggak usah sok suci pakai masker sama jaket kalau aslinya cuma simpanan buat bayar gaya hidup!"
Darah Karline mendidih. Fitnah ini sudah keterlaluan. Ia bisa menerima jika dihina aneh, tapi dituduh sebagai simpanan adalah penghinaan besar bagi harga diri dan keluarganya. Tubuhnya gemetar menahan amarah yang meledak di dada.
Sementara itu, di parkiran, Dean baru saja tiba dengan napas sedikit memburu. Bannya bocor di tengah jalan sehingga ia harus mendorong motornya ke bengkel terdekat. Ia bingung melihat kerumunan besar di depan mading.
"Ada apa sih, Ka?" tanya Dean pada Raka yang baru lari dari kerumunan.
"Kacau, De! Clarissa beneran gila. Dia fitnah Karline simpanan om-om di mading. Karline dipojokkan habis-habisan," jawab Raka panik.
Dean langsung melangkah lebar menuju mading, namun langkahnya terhenti saat melihat Karline berjalan mendekati Clarissa. Karline tidak berteriak. Ia justru mendekatkan wajahnya ke telinga Clarissa, berbisik dengan suara yang sangat rendah namun penuh ancaman.
"Kita tunggu saat pulang sekolah. Pastikan teman-temanmu tidak lari," bisik Karline.
Setelah itu, Karline berbalik dan masuk ke kelas dengan langkah tenang. Namun, siapa pun yang melihat matanya tahu bahwa itu adalah ketenangan sebelum badai besar.
Lonceng pulang sekolah berbunyi. Karline tidak langsung pulang. Ia berdiri di depan pintu kelas XII-IPS 1, menunggu Clarissa keluar. Saat sosok yang dicarinya itu muncul bersama gengnya, Karline tidak memberikan waktu untuk mereka bicara.
Sret!
Tanpa aba-aba, tangan Karline menjambak kuat rambut pirang hasil bleaching milik Clarissa.
"Aakh! Lepasin! Lo apa-apaan!" jerit Clarissa kesakitan.
Karline tidak bicara. Ia menyeret Clarissa menyusuri koridor kelas dua belas. Teman-teman Clarissa mencoba membantu, namun Karline menoleh dengan tatapan yang begitu buas dan dingin, membuat mereka mundur teratur karena ketakutan. Adegan ini bak serangan solo player di tengah markas musuh. Kakak kelas laki-laki dan perempuan keluar dari kelas mereka, mengikuti "parade" pembalasan itu dengan wajah kaget.
Sampai di depan gerbang sekolah yang luas dan sedang ramai oleh siswa yang hendak pulang, Karline menghentikan langkahnya. Dengan sentakan kuat, ia seolah melempar tubuh Clarissa ke tanah. Clarissa tersungkur di atas aspal, rambutnya berantakan dan wajahnya merah padam karena malu ditonton ratusan orang.
"Lo... lo berani-beraninya!" Clarissa bangkit, mencoba melayangkan tamparan ke wajah Karline.
Plak!
Karline lebih cepat. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Clarissa hingga kepalanya tertoleh ke samping.
"Itu untuk fitnah yang kamu tempel di mading," ucap Karline tegas.
Clarissa yang kalap mencoba menerjang lagi, namun sekali lagi...
Plak!
Tamparan kedua mendarat di pipi yang lain. "Dan itu karena kamu sudah tidak punya sopan santun sebagai manusia."
"Stop! Karline, berhenti!" teriak Arlan yang baru saja berlari dari arah ruang OSIS. Melihat sepupunya dipermalukan, Arlan langsung maju. Ia tampak sangat marah dan tangannya bergerak cepat, seolah ingin meraih bahu Karline untuk menghentikannya atau mungkin memukulnya karena emosi.
Karline sudah dalam mode siaga tinggi. Melihat gerakan agresif Arlan, ia secara refleks mengangkat kakinya.
Bugh!
Sebuah tendangan telak mendarat tepat di "aset berharga" Arlan.
Arlan seketika membeku. Wajahnya berubah pucat pasi, lalu berubah menjadi biru, sebelum akhirnya ia tumbang berlutut sambil memegangi bagian bawah perutnya dengan ekspresi yang sangat ngilu.
Di pinggir lapangan, Dean, Raka, dan Rio yang menyaksikan itu serentak memegangi bagian bawah mereka sendiri. Mereka ikut meringis, seolah bisa merasakan betapa dahsyatnya rasa sakit yang dialami Arlan.
"Aduh... ngilu banget gue ngelihatnya," gumam Rio sambil menutup mata sebelah.
Karline berdiri tegak, menatap Arlan yang mengerang tanpa suara di tanah, lalu beralih ke Clarissa yang gemetar ketakutan.
"Dengar baik-baik," suara Karline menggema di gerbang sekolah. "Sekali lagi kalian berani menyentuh hidup saya atau keluarga saya dengan fitnah murahan, saya tidak akan segan-segan membuat kalian keluar dari sekolah ini dengan cara yang lebih memalukan. Dan untuk kamu, Ketua OSIS, belajar cara jadi laki-laki yang punya integritas, bukan cuma jadi pelindung sepupu yang salah."
Setelah mengatakan itu, Karline merapikan letak maskernya yang sedikit bergeser. Ia berbalik dan berjalan dengan langkah anggun menuju mobil sedan hitamnya yang sudah menunggu. Ratusan pasang mata menatapnya dengan rasa kagum, takut, dan hormat yang bercampur aduk. Tidak ada lagi yang berani menyebutnya simpanan setelah melihat kekuatan dan keberaniannya barusan.
Dean masih terpaku di tempatnya. Ia menatap mobil Karline yang perlahan menjauh. Ada rasa bangga yang aneh menyelinap di hatinya melihat gadis itu membela diri.
"Karline.. ," bisik Dean dengan senyum tipis di wajah tampannya. "gadis yang benar-benar luar biasa."