NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#15

Malam itu, jamuan makan malam agensi di sebuah hotel butik bergaya Victoria terasa mencekam bagi Freya. Di antara denting gelas kristal dan tawa artifisial para aktor papan atas, Lucky duduk dengan wajah kaku.

Ketika seorang produser senior menyodorkan segelas cairan berwarna amber, Lucky menolak dengan sopan. Namun, Freya menangkap kilat penghinaan di mata orang-orang itu—seolah Lucky hanyalah boneka yang tidak punya nyali.

Freya, yang berdiri di sisi Lucky dengan masker hitamnya, tidak bisa membiarkan harga diri pria itu diinjak. Tanpa kata, ia melangkah maju, membuka maskernya hingga wajah cantiknya yang bersinar tertangkap lampu kristal, lalu mengambil gelas itu. Dalam satu tegukan mantap, ia menghabiskannya sebagai perwakilan Lucky.

Namun, saat mereka dalam perjalanan pulang di dalam mobil, suhu tubuh Freya mulai naik secara tidak wajar. Maskernya sudah ia tanggalkan di kursi mobil. Rona merah di pipinya bukan lagi karena efek alkohol biasa.

"Harusnya kau tidak meminumnya tadi, Frey," gumam Lucky sambil menatap jalanan London yang basah. "Aku tidak suka cara mereka menatapmu saat kau membuka masker. Ruangan itu... kotor."

Freya hanya mengulas senyum tipis yang terasa berat. "Aku tidak ingin kau terlihat kecil di depan mereka, Luc."

Begitu mereka menginjakkan kaki di apartemen, Freya merasa jantungnya berdegup tidak keruan. Rasa panas yang membakar mulai merayap dari perut ke seluruh pembuluh darahnya. Ia adalah seorang Montgomery; ia tahu intrik dunia malam. Ini bukan sekadar alkohol.

"Sepertinya kita dijebak, Lucky," desis Freya, tangannya mulai gemetar saat membuka jaket hoodie-nya. "Minuman tadi... ada obatnya. Aku merasa panas yang tidak wajar. Oh, shit... ini obat perangsang."

Lucky tertegun. Ia belum pernah menghadapi sisi gelap industri sesaat ini. "Obat apa? Kau sakit?"

"Keluar, Lucky! Kau harus keluar!" teriak Freya sambil berlari ke arah kamarnya. "Aku akan mandi air dingin. Ini benar-benar panas!"

Lucky mengejar, rasa bersalah menghujam jantungnya. "Maafkan aku, Freya. Ini salahku. Harusnya aku yang minum, atau kita tidak datang sama sekali. Biar aku bantu."

Di bawah kucuran air shower yang paling dingin, Freya terduduk lemas. Pakaiannya basah kuyup, menempel pada lekuk tubuhnya yang sempurna. Lucky, yang kehabisan akal dan diliputi kepanikan, ikut masuk ke bawah guyuran air. Ia mencoba membantu Freya berdiri, namun sentuhan kulit mereka justru memicu ledakan di saraf Freya.

"Sentuh aku, Luck... aku mencintaimu," bisik Freya parau. Matanya sayu, menatap Lucky dengan tatapan yang selama ini ia sembunyikan rapat.

Lucky membeku. Ia mengira kata cinta itu hanyalah efek obat yang mengacaukan kesadaran Freya. Namun, insting laki-lakinya tak bisa menolak tarikan magnetis itu. Selama satu jam pertama, Lucky berusaha keras untuk tidak melewati batas. Ia tidak ingin merusak Freya. Freya adalah dunianya, jangkarnya, asisten kesayangannya yang ia anggap suci dari segala kotornya industri.

Lucky memberikan ciuman panas untuk mengalihkan rasa sakit Freya. Tangannya yang biasanya memetik gitar kini bergerak dengan rasa bersalah namun penuh hasrat, menjelajahi tubuh Freya. Ia menggunakan mulut dan jemarinya untuk memberikan kepuasan kepada Freya, mencoba meredam efek obat itu tanpa harus melakukan "penyatuan". Ini adalah hal yang tak pernah ia bayangkan akan ia lakukan, bahkan dengan Renata sekalipun.

Namun, bagi Freya, efek obat itu perlahan mulai luntur, berganti dengan kesadaran yang tajam. Ia melihat wajah Lucky yang berada begitu dekat dengannya. Pikirannya melayang pada foto Renata dan Arthur yang baru saja ia lihat. Ia tidak akan membiarkan Lucky jatuh kembali ke tangan wanita pengkhianat itu.

"Sentuh aku sepenuhnya, Luck," mohon Freya, jemarinya mencengkeram bahu Lucky. "Aku tidak akan marah. Aku tidak akan menuntut apa pun. Aku tahu hatimu untuk Renata, tapi biarkan malam ini aku memilikimu. Kumohon..."

Lucky menatap mata Freya. Ada kejujuran yang menghancurkan di sana. "Frey, aku tidak bisa..."

"Kau bisa, Lucky. Aku tidak akan meminta lebih," potong Freya.

Dan malam itu, di bawah sisa-sisa air yang menetes, pertahanan terakhir Lucky runtuh. Penyatuan itu terjadi dengan penuh kelembutan sekaligus rasa sakit. Lucky terkejut luar biasa saat menyadari bahwa ia adalah pria pertama bagi Freya. Rasa bersalah menghujamnya telak. Di tengah desahan dan keringat diranjang Hangat Milik Freya, Lucky membisikkan kata maaf dan terima kasih berulang kali di telinga Freya karena telah menyerahkan segalanya untuknya.

"Aku mencintaimu, Luck," bisik Freya di sela napasnya yang memburu.

Lucky terdiam sejenak, wajahnya terkubur di leher Freya. "Aku menyayangimu, Frey. Sangat menyayangimu."

Hanya kata "sayang", bukan "cinta".

Pagi hari di London disambut dengan sinar matahari yang pucat. Apartemen itu terasa sangat sunyi, lebih sunyi dari biasanya.

Freya terbangun lebih dulu, tubuhnya terasa pegal, namun hatinya jauh lebih berat. Ia melihat Lucky yang masih tertidur di sampingnya, memeluknya dengan protektif bahkan dalam mimpi. Freya segera bangkit, mengenakan jubah mandi dengan gerakan cepat. Ia tidak bisa menatap Lucky saat ini. Ia merasa telah mencuri sesuatu yang bukan miliknya, namun ia juga tidak menyesal karena ia telah mengikat Lucky dengan caranya sendiri.

Ketika Lucky terbangun, kecanggungan itu terasa begitu nyata hingga seolah bisa dipotong dengan pisau. Lucky duduk di tepi ranjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Frey... soal semalam..." Lucky memulai dengan suara serak.

Freya, yang sedang memunggungi Lucky, menjawab dengan nada yang sangat profesional—nada asistennya. "Lupakan saja, Luc. Itu efek obat. Kau hanya membantuku. Aku sudah bilang aku tidak akan menuntut apa-apa."

Lucky berdiri, mendekati Freya dan memegang bahunya. "Tapi aku merusakmu, Frey. Kau... kau masih perawan, dan aku—"

"Aku yang memintanya, Lucky. Anggap saja itu bagian dari tugasku untuk menjagamu tetap aman dari skandal semalam," potong Freya dingin, meski hatinya menjerit. Ia segera memakai maskernya, menutupi wajah cantiknya yang kini tampak kuyu. "Cepat mandi. Renata akan menelepon sebentar lagi untuk menagih janji makan siangmu."

Lucky terdiam. Perubahan sikap Freya yang begitu cepat kembali ke mode asisten membuatnya merasa kehilangan. Ia ingin memeluk Freya, ingin mengatakan sesuatu yang lebih dari sekadar "sayang", tapi bayangan Renata dan rasa bersalahnya membuat lidahnya kelu.

Freya melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Pagi itu, sarapan sudah tersaji di meja, namun tidak ada obrolan hangat. Hanya suara denting sendok dan kegelisahan yang menggantung. Freya Montgomery baru saja menyerahkan segalanya, namun ia menyadari bahwa meski ia telah memiliki tubuh pria itu, hati Lucky masih menjadi milik wanita yang sedang berselingkuh di belakangnya.

"Satu per satu, Renata," gumam Freya di dapur sambil meremas laporan tentang Arthur. "Kau akan kehilangan dia, sebagaimana aku kehilangan harga diriku malam ini."

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!