Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesak yang tak Terduga
Malam sudah turun ketika pertemuan di kantor pusat akhirnya selesai. Lampu-lampu gedung Aurelia Technologies menyala terang, memantulkan cahaya ke jalanan kota yang mulai dipenuhi kendaraan pulang kerja. Setelah diskusi panjang tentang strategi bisnis dan perkembangan teknologi, salah satu direktur mengusulkan sesuatu yang lebih santai.
“Mari kita makan malam bersama,” katanya sambil berdiri dari kursinya. “Sudah lama kita tidak duduk santai setelah rapat.”
Beberapa orang langsung menyetujui ide itu. Adrian sendiri tidak terlihat keberatan. Ia hanya menoleh sedikit ke arah Alya yang masih duduk di sampingnya.
“Kamu tidak masalah?”
Alya mengangkat bahu santai. “Makan? Alya tidak pernah menolak makanan.”
Namun sebenarnya ia sedikit lelah. Seharian ia harus tampil serius, berbicara dengan orang-orang penting, dan menunjukkan sisi dirinya yang jarang ia perlihatkan pada Adrian selama ini. Itu bukan sesuatu yang sulit baginya, tetapi tetap saja menguras energi.
Mereka akhirnya pergi ke sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari gedung kantor.
Restoran itu cukup elegan, lampu kuning hangat, meja kayu besar, dan aroma makanan yang menggoda sejak pintu dibuka.
Alya duduk di kursi di samping Adrian, sementara para eksekutif lain duduk mengelilingi meja panjang. Suasana jauh lebih santai dibandingkan rapat tadi siang. Beberapa orang bahkan mulai bercanda ringan.
“Kami jarang melihat Adrian membawa seseorang ke acara seperti ini,” kata seorang pria paruh baya yang duduk di seberang meja.
“Benarkah?” Alya tersenyum kecil.
“Dia biasanya hanya datang, bicara soal bisnis, lalu pulang.”
Alya melirik Adrian dengan ekspresi setengah mengejek. “Direktur Es Batu memang begitu.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Adrian hanya menatapnya sekilas tanpa protes.
Makanan mulai dihidangkan satu per satu. Ada berbagai macam hidangan Asia modern seafood, daging panggang, sayuran tumis, hingga beberapa makanan fusion yang terlihat sangat menarik.
Alya biasanya tidak terlalu pemilih soal makanan.
Namun ada satu hal yang selalu ia waspadai.
Ia memiliki alergi cukup serius terhadap beberapa jenis bahan makanan laut tertentu.
Biasanya ia selalu bertanya lebih dulu sebelum mencoba sesuatu yang baru.
Namun malam itu suasana terlalu ramai dan santai.
Salah satu orang di meja, seorang pria bernama Daniel yang menjabat sebagai kepala personalia perusahaan, mengambil sebuah piring kecil berisi hidangan yang terlihat cukup unik.
“Alya, coba ini,” katanya ramah sambil mendorong piring itu ke arahnya.
Alya melihat hidangan itu sebentar. Bentuknya seperti dumpling kecil dengan saus berwarna keemasan.
“Ini apa?”
“Menu spesial restoran ini,” jawab Daniel. “Rasanya enak sekali.”
Alya ragu sebentar. “Isinya apa?”
Daniel tertawa kecil. “Tenang saja. Ini cuma seafood campur.”
Kata seafood membuat Alya sedikit berhenti.
Namun Daniel sudah menambahkan dengan nada bercanda, “Kalau tidak dicoba nanti menyesal.”
Beberapa orang di meja ikut tersenyum.
Alya tidak ingin terlihat terlalu cerewet di depan orang-orang yang baru ia kenal. Apalagi Daniel tampak sangat yakin dengan makanannya.
“Baiklah,” katanya akhirnya.
Ia mengambil satu potong kecil dan memakannya.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Rasanya memang cukup enak.
Namun beberapa menit kemudian Alya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Tenggorokannya terasa sedikit gatal.
Ia mengambil air minum dan meneguknya perlahan.
Adrian yang duduk di sampingnya langsung memperhatikan perubahan kecil itu.
“Kamu tidak apa-apa?”
Alya mengangguk cepat. “Tidak apa—”
Kalimatnya terhenti.
Rasa gatal di tenggorokannya berubah menjadi sensasi panas yang aneh. Napasnya mulai terasa sedikit berat.
Ia menelan ludah dengan susah payah.
Oh tidak.
Alya langsung menyadari apa yang terjadi.
“Aku…”
Tangannya gemetar ketika ia mencoba mengambil gelas air lagi.
Adrian langsung menoleh penuh perhatian.
“Alya?”
Alya mencoba berbicara, tetapi suaranya keluar sangat pelan.
“Alergi…”
Wajah Adrian langsung berubah.
“Apa yang kamu makan?”
Alya menunjuk piring kecil tadi dengan tangan yang mulai lemas.
Beberapa orang di meja ikut menyadari situasi itu.
Daniel yang tadi memberikan makanan itu langsung berdiri dengan wajah panik. “Apa? Kamu alergi?”
Alya mencoba menjawab, tetapi napasnya semakin pendek. Tenggorokannya terasa seperti menyempit.
Matanya mulai berair.
Adrian langsung berdiri dari kursinya.
“Alya, lihat aku.”
Ia memegang bahu Alya dengan lembut tetapi tegas.
“Napas pelan.”
Namun kondisi Alya memburuk dengan sangat cepat. Bibirnya mulai pucat, dan tubuhnya terasa semakin lemah.
Beberapa detik kemudian kepalanya terkulai ke depan.
“Alya!”
Ia pingsan.
Suasana restoran langsung kacau. Beberapa orang berdiri dari kursi mereka, sementara Daniel terlihat benar-benar pucat.
“Ya Tuhan… aku tidak tahu…”
Namun Adrian tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya mengangkat tubuh Alya dengan cepat dan hati-hati seperti seseorang yang sudah sangat fokus pada satu tujuan.
“Rumah sakit,” katanya tegas.
Nada suaranya dingin.
Dingin sekali.
Namun semua orang di sana bisa merasakan sesuatu yang lain di balik nada itu.
Amarah.
Daniel berdiri terpaku beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan suara gemetar, “Aku… aku benar-benar minta maaf… aku tidak tahu dia alergi…”
Adrian berhenti sebentar dan menoleh kepadanya.
Tatapannya tajam.
“Sekarang bukan waktunya.”
Ia kembali berjalan keluar restoran sambil membawa Alya di pelukannya.
Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit terdekat. Adrian memegang Alya dengan hati-hati di kursi belakang sambil terus berbicara pelan padanya.
“Alya… dengar aku.”
Ia menyentuh pipi gadis itu dengan lembut.
“Kamu tidak apa-apa.”
Namun napas Alya masih terdengar berat.
Sesampainya di rumah sakit, Adrian langsung membawa Alya masuk tanpa menunggu terlalu lama. Para perawat segera mengambil alih ketika mereka melihat kondisi Alya yang jelas menunjukkan reaksi alergi parah.
“Anaphylactic reaction,” kata salah satu dokter dengan cepat.
Mereka segera memasang oksigen dan membawa Alya ke ruang perawatan darurat.
Adrian berdiri di luar ruangan dengan tangan terkepal. Untuk pertama kalinya sejak orang-orang mengenalnya, beberapa karyawan yang ikut datang melihat ekspresi wajahnya yang benar-benar tegang.
Daniel berdiri tidak jauh dari sana dengan wajah pucat.
“Aku benar-benar minta maaf…” katanya lagi dengan suara kecil.
Namun Adrian tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan.
“Dia harus dirawat,” katanya. “Reaksinya cukup berat.”
“Apakah dia baik-baik saja?” tanya Adrian cepat.
Dokter mengangguk.
“Kami sudah menstabilkan pernapasannya. Tapi untuk berjaga-jaga dia harus diopname malam ini.”
Adrian menghela napas panjang.
Ketika akhirnya ia diizinkan masuk ke kamar rawat, Alya sudah terbaring di tempat tidur dengan selang oksigen kecil di hidungnya. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya sudah jauh lebih stabil.
Adrian duduk di kursi di samping tempat tidur.
Ia memperhatikan Alya dalam diam.
Beberapa menit kemudian mata Alya perlahan terbuka.
Pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Adrian yang duduk di sampingnya.
“Alya,” kata pria itu pelan.
Alya berkedip pelan.
“Kita di rumah sakit?”
“Iya.”
Alya menghela napas lemah.
“Maaf…”
Adrian mengerutkan alis. “Untuk apa?”
Alya menatapnya dengan mata setengah terbuka.
“Merepotkan kamu…”
Adrian menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.
“Kamu tidak pernah merepotkan.”